THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 130


__ADS_3

🌠   L’ATTESO  🌠    Yang Dinanti


******************************************


Selamat membaca ..


Save House


‘Kak, kami bertiga tadi udah ke Crotone, dan sama seperti beberapa tempat sebelumnya, Nihil!. Sekarang udah di Viterbo and this is our last hope to find Lucca ( dan ini harapan terakhir untuk bisa menemukan Lucca ) tanya tentang Andrew dan yang lainnya.’ Suara Fania terdengar di alat komunikasi yang terhubung dengan Ara di save House.


Ara manggut – manggut sendiri. “Ya sudah kalau begitu, aku harap kita benar – benar dapat titik terang disana.” Ucap Ara.


‘Iya, Kak.’ Sahut Fania. Dan kemudian terdengar suara Vladimir juga.


‘Aku rasa, kita harus mematikan atau meninggalkan alat komunikasi kita.’ Ucap Vla dalam Bahasa. ‘Coba lihat, para penjaga itu. If they allowed us to in ( Jika mereka mengijinkan itu untuk masuk ), they will check everything inside us with a detector ( mereka akan mengecek kita dengan alat pendeteksi ). Dan kita akan sangat bermasalah jika mereka menemukan alat komunikasi ini.’


“Benar juga.”


‘Ya udah Kak Ara, gini aja. Kami akan mematikan alat komunikasi kita. Coba Varen lacak titik GPS yang sekarang dari satelit. Bisa kan dia?.’ Ucap Fania seraya bertanya.


“Oke, sebentar.” Ara pun berbicara dengan Varen. “Iya akan dicoba oleh Varen, Sweety.” Ucap Ara setelah mendapat jawaban berupa anggukan dari putranya yang kelewat pintar itu.


Sejenak belum ada suara lagi dari Fania.


‘Kak, tapi setelah gue pikir – pikir lagi, lebih baik gue buang deh ini alat komunikasi yang gue dan Michelle pakai sekarang. Mungkin harus dihancurkan juga. Penjagaan yang disini ketat banget kayaknya. Mereka megang M4, gue yakin mobil dan badan kita pasti dicek pake alat pendeteksi.’ Ucap Fania. ‘Dan andainya mereka menemukan alat komunikasi, mereka bisa aja bilang kita bawa penyadap de el el. Dan kita bertiga bisa dianggap penyusup atau bahkan musuh.’


Fania berkata panjang lebar.


“Tapi Sweety .... jika kalian membuang alat komunikasi kalian dan menghancurkannya, bagaimana komunikasi kita nantinya?.” Ucap Ara yang mulai cemas. “Varen juga belum selesai mendapatkan titik dan gambar jelas kalian dari satelit.” Sambung Ara.


Fania kembali terdiam sebentar.


‘Gue yakin Varen akan bisa mendapatkan titik dan gambar gue bertiga dengan jelas dari satelit Kak.' Sahut Fania tak lama. ‘Vla pasti bisa menemukan cara untuk komunikasi kita nanti. Yang jelas sekarang, biar bagaimanapun kami bertiga harus bisa ketemu Lucca.’


‘Kak Fania benar, Kak Ara. Yang penting adalah kami harus bertemu dulu dengan Lucca.'


Michelle bersuara.


“Tapi aku khawatir pada kalian ... kami semua pasti khawatir tentang apa yang akan terjadi pada kalian.” Sahut Ara. "Tanpa alat komunikasi, kami akan berada dalam kekhawatiran yang teramat sangat."


‘Udah sampe sini Kak, udah sejauh ini. Masa mau mundur atau membuang sia – sia semua usaha kita untuk


mengetahui bagaimana nasib Kak Reno dan yang lainnya.’ Ucap Fania.


Kini gantian Ara yang terdiam. “Baiklah, Sweety..... aku percaya pada kalian bertiga. Tapi tolong segera hubungi kami secepatnya setelah kalian mendapatkan sesuatu dari sana.” Ucap Ara kemudian.


‘Pasti, Kak..’


“Tolong, jaga diri kalian baik – baik.” Ucap Ara pelan.


‘Kami akan berusaha Kak.’ Sahut Fania. ‘Oh iya Kak Ara.'


“Kenapa Sweety?..”


‘Just in case ya Kak..’


“Jangan bicara begitu, tolong.” Ara memotong cepat ucapan Fania.


‘Kak, dengerin gue.’ Sambung Fania. ‘Kita semua ga tau apa yang bisa terjadi pada kami bertiga disini. Kami juga berharap semua berjalan lancar dan selamat. Bisa mendapatkan sebuah kejelasan tentang Kak Reno dan yang lainnya dan bisa kembali pulang supaya bisa kumpul lagi.’


Fania menjeda ucapannya sebentar.


‘Tapi seandainya hal buruk terjadi, paling lama satu minggu Kak Ara. Kalau Kak Ara tidak mendapatkan kabar dari kami selama itu. Aku dan Michelle titip mereka yang di Save House pada Kak Ara.... jika dalam satu minggu kami tak memberi kabar, bawa mereka keluar dari Save House. Pastikan kalian hidup dengan baik, ya?.’


“Sweety..”


‘Janji ya Kak? Kak Ara akan menjaga mereka semua untuk kami?.’ Suara Fania terdengar sedikit lirih. ‘Kak Ara janji ya?. Agar semua ini ga sia – sia. Setidaknya masih ada keluarga kita yang selamat dan hidup dengan baik. Ya?.’


Fania setengah memohon.


‘Please ..?.’


“Kak Ara janji akan menjaga mereka, semampu yang Kak Ara bisa.”


Suara Ara terdengar lirih.


“Tapi setidaknya, kalian berusahalah untuk selamat ya?. Berjanjilah....” Pinta Ara. “Untuk kami, untuk Andrea dan Mika terlebih lagi.”

__ADS_1


‘Kami janji Kak. Akan sekuat tenaga berjuang disini agar bisa berkumpul dan menjalani hidup bersama kalian lagi.’ Sahut Michelle.


‘Ya sudah ya Kak, kami mau bergerak. See ya! ( Sampai ketemu! ).’


“We love you! .. ( Kami mencintaimu! .... ) ..”


****


 “D!!!..” Fania histeris. Entah nyata atau tidak, rasanya ia tak perduli. Suara seperti suara Andrew yang parau itu terasa begitu dekat ditelinga Fania. Halusinasi itu terasa begitu nyata untuknya. “Jangan pergi, D ..... jangan pergi lagi .. meski Cuma bayangan tetaplah disini.. jangan tinggalin aku..”


Tubuh yang nampak rapuh itu terangkat tanpa disadari oleh pemiliknya. Tangan kekar yang tadi menangkap tubuhnya agar tak terjatuh kini sudah menggendongnya. Membawa wanita yang menangis pilu itu dalam gendongannya. Yang kian terisak kencang dengan wajah tertempel didada bidang yang terbalut kaos berwarna gelap.


“Jangan pergi lagi, D....”


Fania masih terisak kencang dan luruh. Sosok yang masih dikira hanya halusinasinya itu tanpa sadar ia peluk erat, sangat erat. Air matanya yang tumpah itu membuat kemeja tempat wajahnya tertempel itu kian basah.


“Heart....” Suara itu terdengar getir dan bergetar sambil mendekap Fania dengan sangat erat dalam pangkuannya yang kini sudah berada disofa. “Ini aku Heart, ini aku ....”


Suara bariton yang dalam itupun terdengar lirih dengan terisak seiring airmata yang juga tumpah dari mata sosok yang memeluk Fania itu.


“Maafkan aku.... maafkan aku, Heart .... maaf, sudah membuat kamu seperti ini....”


Tubuh kekar itu juga nampak bergetar dengan Fania dalam pangkuannya. Yang masih melingkarkan dengan sangat erat dan ketat kedua tangannya di belakang tubuh kekar itu. Fania masih terisak didadanya, bahu wanita yang nampak begitu rapuh itupun juga masih bergetar kuat.


“Heart....” Ucap si pemilik suara Bariton yang dalam itu sambil mencoba membuat Fania menatapnya.  Namun Fania tetap mengetatkan pegangan tangannya dibelakang tubuh seseorang yang mendekapnya itu.


Mata Fania makin terpejam, ia menggeleng dengan cepat saat tubuhnya sedikit ditarik seolah agar ia melepas


pegangannya pada tubuh yang harumnya ia rindukan itu. “Kamu ga boleh pergi lagi!.” Fania punya ketakutannya sendiri, takut jika pegangannya terlepas, tubuh, suara dan harum yang seakan begitu nyata itu hilang.


“Heart ...” Suara bariton yang dalam namun kini terdengar serak itu berucap lagi. “Fania... My Lovely Fania .... Buka mata kamu. Lihat aku... aku disini, Heart ....”


Sebuah belaian dan kecupan terasa lagi – lagi begitu nyata dan suara itu terdengar berikut hembusan yang terasa hangat menyentuh kepala dan wajahnya.


“Aku disini.. buka mata kamu, hem?.”


Fania perlahan membuka matanya, meski belum menggeser sama sekali wajahnya dari sesuatu yang nampak seperti dada bidang seorang pria. Satu pegangannya ia lepas perlahan sambil takut – takut untuk menggerakkan jari – jarinya pada sesuatu dimana ia sedang menyembunyikan wajahnya itu. Fania masih terisak, namun tak se histeris dan sekencang sebelumnya, hanya bahunya masih nampak sedikit bergetar.


“Don’t cry, Mrs. Snowman.. ( Jangan menangis, Nyonya Snowman ) ....”


“Don’t cry no more, hem? ( Jangan menangis lagi, ya? ) ... It’s me ( Ini aku ) ... your Snowman ( Snowman –


mu ) ... Donald Bebeknya Fania .... your D ( D – nya kamu ) ....”


Belaian lembut yang bergerak perlahan diwajah Fania begitu terasa, begitu nyata untuknya.


“D – D ..? ....” Ucap Fania terbata dan pelan sambil benar – benar memastikan pandangannya.


Wajah tegas dengan rahang yang kokoh namun bermandikan air mata itu mengangguk pelan sambil tersenyum.


“Iya Heart ... ini aku ....” Tubuh Fania ditegakkan dengan perlahan sambil wajahnya kini dalam tangkupan dua tangan kokoh. “Ini aku, Donald Bebeknya Fania.....”


Satu kecupan lembut mendarat dibibir Fania yang juga basah dengan air mata. Kecupan yang menyadarkan Fania,


kalau itu rasanya bukan halusinasi lagi. Nyata, amat terasa. Kecupan dari satu – satunya bibir pria yang pernah menyentuhnya. Bibir yang sama, kecupan yang sama. Hembusan nafas hangat yang sama.


Tangan Fania terjulur ke wajah yang sedang menatapnya teduh saat ini. “D ... aku ga sedang bermimpi kan ini?...”


Wajah dihadapannya yang masih tersenyum itupun menggeleng, terpejam sejenak merasakan sentuhan jemari


Fania diwajahnya.


“Lihat aku baik – baik....” Tangan Fania yang terjulur membelai wajah dengan garis rahang yang tegas namun


nampak begitu cemas, itu diraih dengan lembut seiring ia mengecup telapak tangan wanita yang masih terlihat linglung itu. “Ini aku, Heart .. ini benar – benar aku....” Andrew tersenyum sambil membelai wajah dan membetulkan rambut Fania yang berantakan.


“D !!!! ...”


Fania kembali histeris dan langsung lagi melingkarkan kedua tangannya kebelakang leher Andrew, memeluknya erat dan ketat.


Andrew pun sama. Ia memeluk Fania dengan eratnya. Menyalurkan rindu selama kurang lebih sepuluh hari tak


bertemu, tanpa tahu kabar masing – masing.


Andrew merengkuh tubuh wanita tercintanya yang bergetar kuat lagi seperti tadi, namun ia tak bicara. Membiarkan Fania meluapkan semua yang ia rasa dalam tangisnya. Andrew menyandarkan kepalanya pada kepala Fania yang tersembunyi diceruk lehernya sambil mengelus – elus punggung Fania secara perlahan.


**

__ADS_1


“D.. ini beneran kamu, kan?. Aku bukan sedang mimpi atau halusinasi kan?. Kamu ga boong kalau ini benar – benar kamu, kan?.” Cecar Fania dengan tangannya yang terus saja menyentuh dan membelai wajah Andrew.


“Iya Heart, ini aku....”


“Aku pikir kamu sudah meninggalkan aku, D.... aku pikir kamu sudah pergi dan aku ga akan bisa ketemu kamu lagi....”


“Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Heart ....” Andrew menangkup wajah Fania dengan satu tangan, sambil membelainya pelan. “Maaf, sudah membuat kamu menderita seperti ini .... tak akan aku lepas, meski kamu ingin melepas.. ingat?.”


Fania mengangguk.


“Kami hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjemput kamu, Michelle, Ara, Prita, Jihan, Mom, anak –


anak dan yang lainnya. Tak pernah bermaksud untuk membuat kalian semua bersedih, khawatir dan menderita seperti ini .... Maaf.... kami tak sampai berpikir....”


“Kak Reno?. Mana.. D... Kak John, Kak Jeff, Kak Dewa, Dad...?.”


“Kami disini, Little F ...”


Sebuah belaian lain yang juga sering Fania rasakan terasa lembut di rambutnya berikut suara yang juga amat


sangat dikenalnya. “Kak Reno!! ....” Fania berdiri dari pangkuan Andrew dengan cepat, hingga sedikit oleng dan Andrew memeganginya agar Fania tak terjatuh.


“Maafin gue, hem? ..” Reno langsung memeluk erat tubuh adik kesayangannya yang kini nampak rapuh itu. Mata


Reno pun sudah basah, berikut suaranya yang juga terdengar sedikit parau. Fania terisak lagi sambil memeluk erat kakak ganteng kesayangannya itu dengan perasaan haru dan bahagia. “Maaf ya, Little F.. maaf... hingga lo sampai sesulit ini..”


“Kajol ....” Dua suara lain yang juga Fania kenal sudah berada didekatnya kini, serta wajah dengan senyuman yang nampak cemas sambil membelai kepala dan lengan Fania.


“Kaaakkk John!.” Seru Fania pada John lalu memeluknya antusias, John pun memeluk Fania erat. “Kaakk Jeff!.” Ia juga berseru dan memeluk Jeff sama antusiasnya seperti pada John dan Jeff pun sama memeluk Fania dengan sambil mengelus pelan punggung wanita yang sudah seperti adik baginya dan John.


“Naomy ....” Dewa yang tadi berdiri dengan berpelukan dengan Michelle juga menghampiri Fania.


“Kak Dewaa!...” Seru Fania lagi yang juga memeluk Dewa dengan antusias, Dewa juga memeluknya. “Jangan


pergi lagi.... gue mohon....” Lirihnya setelah semua orang yang begitu ia dan para wanita Adjieran Smith rindukan kini sudah ada dengan nyata dihadapannya.


Andrew sudah kembali mendekati Fania dan merengkuhnya bersama Reno yang kemudian membawa Fania untuk


duduk. Dua J pun ikut mendekati Fania, juga Michelle, Dewa dan Vla yang akhirnya ikut duduk bersama saling berdekatan. “Sudah ya, jangan menangis lagi....” Ucap Reno sembari membelai kepala Fania.


“Dad ..... mana? ....”


“Dad sedang beristirahat, sesaat sebelum kamu siuman.” Sahut Andrew.


“Dad sakit?.”


“Tekanan darahnya sedikit tinggi. Ia begitu mengkhawatirkan kalian sejak harus berada disini untuk sementara waktu. Tadi sudah dicheck dokter, dan kini Dad sedang beristirahat. Tapi setidaknya ia sudah cukup tenang setelah bertemu dengan Michelle dan tahu kalau Mom dan yang lainnya baik – baik saja.”


“Syukurlah kalau Dad, tidak apa – apa.”


“Lebih baik kita semua beristirahat. Kamu, Michelle dan Vla pasti sudah sangat lelah, kan?.”


Fania mengangguk pelan menjawab ucapan Andrew.


“Sekali lagi gue mohon .. jangan pernah lagi pergi tanpa kata..... jangan pernah lagi membuat gue, Michelle, Kak Ara, Prita, Jihan, Mom, menjadi seperti ini.. kami hancur, apa kalian tahu ..?. Jika bukan karna anak – anak .. mungkin.... kami semua sudah bunuh diri.. karna kami ga sanggup menanggung beban yang membuat kami sulit


bernafas ini ....”


“Sstt .. sudah ya?. Semua ini akan segera berlalu, Heart .. kita semua akan kembali berkumpul lagi seperti dulu.”


“Maaf ya?. Kami semua benar – benar minta maaf membuat kalian harus berada dalam waktu yang sulit belakangan ini....”


“Sebentar lagi... hanya tinggal sedikit lagi ... gue, Dewa, Andrew, R, John dan Dad, akan pulang bersama lo dan Michelle, menjemput keluarga kita .. dan berkumpul lagi seperti semula.” Jeff berjongkok didepan Fania.


Fania mengangguk sembari tersenyum tipis. “Janji?.”


“Janji!.”


**


To be continue ....


Bahagiakah kalean sekarang wahai para reader emak nyang blaem - blaem? ....


Apa hati, jantung dan perasaan kalian sudah normal sekaraang??....


Wkwkwkwk....

__ADS_1


__ADS_2