
♦ UNBELIEVEABLE ♦ Sukar Dipercaya
******
Selamat membaca ....
“Ja ... di .. ini semua ....?.” Ucap John terbata.
John dan Prita masih terkesima. Shock sih lebih tepatnya. Ia masih terpaku di tempatnya, melihat pada si Kajol yang mukanya datar tanpa dosa, si Donald Bebek yang ga kelar – kelar ketawa geli bersama Jeff dan Dewa. Michelle yang terkekeh juga samanya belom kelar. Papa Herman dan Mama Bela yang juga ikutan terkekeh pada akhirnya bersama Michelle dengan Andrea yang berada didekat mereka.
“Kalian .....” John menunjuk pada lima orang tersangka utama dan pada orang yang diduga seribu persen adalah otak dari semua yang sudah terjadi tadi. “Kalian semua kurang ajar!!!!!...”
Lima orang yang ditunjuk John kompak terdiam.
“Ngahahahahahaha ....” Sedetik doang kali diamnya. Kemudian tertawa terbahak – bahak tanpa akhlak.
PROK .... PROK ... PROK ....
Belum selesai rasanya geram, kesal dan keterkejutannya John, tapi suara tepuk tangan yang entah dari mana membuatnya menoleh ke arah dimana Michelle berada.
Andrew, Fania, Jeff dan Dewa membiarkan John yang masih terpaku ditempatnya. Masih syok sibule koplak romannya.
“BRAVO!!!!! ....”
Suara Reno membuat John pada akhirnya menoleh pada mereka yang kini sudah berada di ruang tengah.
“Eh Priwitan, udeh selesai sutingnye!.” Mama Bela coba mengangkat tangan putri bungsunya itu. "Sian bener dah lo dikerjain si Kajol ampe begini."
“Prita...” Pandangan John tertuju pada Prita yang sedang ditegur mama Bela. Gadis itu nampak sudah merosot ditempatnya berdiri.
“Ini ... apa ... apaan ...?.” Prita masih lemas.
“KAJOL SUPEEERBBBB!!!!.”
Suara Reno terdengar lagi. Tepuk tangan yang sepertinya berasal dari sebuah benda pun terdengar lagi. John dan Prita mendengar, tapi belum melihat penampakannya.
“Prita ....” John membantu Prita untuk duduk diatas sofa.
“Minum nih!.” Fania menyodorkan minuman digelas miliknya pada Prita.
“Hebat! Hebat!. Menantu Mom yang satu ini memang luar biasa.”
‘Mom? ...’
John dan Prita sama – sama terheran – heran dalam hati mereka. Tadi suara tepuk tangan, suara Reno yang kencang dan terdengar begitu antusias, sekarang suara Mom terdengar berikut gelakan dan kekehan yang juga belum hilang, selain dari mereka yang bersama John dan Prita sekarang.
John dan Prita saling tatap.
“Yang sudah terjadi tadi? ....” John bersuara. “Ya Tuhan ... semua itu hanya .... hanya..”
“Oh God John .... (Oh Tuhan John ....).” Andrew masih terkekeh geli sambil menyeka air matanya lagi saking geli. “Lo ... lo harus lihat wajah bodoh lo tadi ... hahahahaha...” Si Donald Bebek tergelak lagi.
Jeff dan Dewa pun masih ngekeh dengan gelinya seperti Andrew. Mereka berdua sampai menutup wajah mereka sendiri.
“Kalian semua benar – benar ya! Gila!. Lo lagi Fania!. Ini sudah kesekian kali lo buat gue hampir kena serangan jantung tau ga lo?!.”
“Baru hampir kan?.”
“Really!. (Sumpah!). Gue menyesal ga ikut ke Indo!.” Suara Reno terdengar lagi, lalu kakak ganteng terkekeh geli juga.
“Tapi puas kan kalian, dapat pertunjukkan bagus?....” Michelle yang masih menyisakan kekehannya itu nampak berbicara didepan laptop yang ada diatas meja. John langsung menghadapkan laptop padanya.
Sementara Prita masih termangu, masih sedang mengatur nafas dan degup jantungnya. Menggeleng tak percaya pada semua orang disitu kecuali John.
__ADS_1
‘Apa – apaan?!.’ Batin John tak percaya seiring dengan wajah terkejutnya melihat keluarganya yang di London sedang berada dalam satu frame duduk manis bak sedang nobar. “Selama kejadian tadi kalian semua terhubung dalam telfon?! ...” John berbicara pada Dad, Mom, Reno dan Ara di layar laptop.
“Damned John, Andrew benar, you’re so stupid you know? (Lo memang bodoh tau ga sih?). Hahaha .....” Jeff
masih mem - buli si bule koplak yang wajahnya sempat pias.
John menggeleng – geleng. Benar - benar tak habis pikir denga apa yang terjadi barusan.
“Orang, kalo sudah gila ....” Dewa bersuara. Kekehannya masih tertahan. “Dan .... gila karena cinta ... saking takut ga dapet restu si Naomy .... sampai dia ga sadar, kalau kita pasang kamera .... hahaha .....” Dewa menunjuk ke satu arah yang memang ada kamera yang lampu merahnya masih menyala dan berdiri cantik disanggah tiang.
“Apa?!.” John membulatkan matanya, belum habis shocknya. Ia dibuat terperangah lagi dengan kamera yang sepertinya masih dalam posisi on itu. “Kalian rekam kejadian tadi?!.”
“Rekam?.” Celetuk Jeff. “Even better, John. (Bahkan lebih, John), Hahahahahaha...”
“Kami dapat pertunjukkan Live Drama yang sangat bagus, John...” Suara Ara terdengar dari laptop dan wanita itu juga terdengar terkekeh kemudian. “R, benar....... kami sangat menyesal tidak ikut ke Indo ...”
“APA?!.” Sudah! John benar – benar takjub dengan keluarganya ini. Dia sampai bingung harus marah, sedih atau bangga pada keluarga yang kekompakannya itu kadang diluar batas normal.
Jeff menekan tombol remote. Dan wajah – wajah yang tadi ada dilaptop kini sudah berpindah ke smart TV canggih
yang dibelikan Andrew untuk Keluarga Cemara.
“I’m so proud of you John, seriously. (Aku sangat bangga padamu, John. Sungguh).” Suara Dad pun terdengar, tapi yah seperti yang lainnya ia pun juga masih terdengar terkekeh.
“Even you Dad.... (Bahkan kau juga ikut – ikutan Dad....).” John memijat – mijat pelipisnya sambil menggeleng pelan.
“Even ... even those tears (Bahkan.... bahkan air mata lo tuh), Very original! (Sangat asli!). Hahaha ...”
Si Donald Bebek masih belom kelar juga ketawa.
“Gue, sudah berusaha sekuat tenaga John, untuk ikut merasa sedih melihat lo tadi ... tapi ... gue ga bisa .... Hahaha ....”
Kakak ganteng nan cool itu sudah tak sanggup menjaga sikapnya. Tak sanggup untuk tak tergelak geli.
“What a Live Show!. (Benar – benar siaran langsung yang menakjubkan!).”
“Tapi dari semuanya, akting kamu yang paling super amazing Fania!.” Mom berseru. “Dan kalian semua juga sama amazing nya. Mom tak bisa berkata – kata lagi.” Wanita itu nampak tertawa sambil menyeka pelupuk matanya.
“Saluuuuttt.” Reno ikut berseru dan ia nampak berdiri. “Terimalah standing applause kami.” Ucap Reno lagi sambil bertepuk tangan. Ia sudah berdiri diikuti Dad, Mom dan Ara yang juga berdiri dan tepuk tangan.
“Aku spechless, Sweety. (Tak sanggup lagi berkata – kata, Sayang). Hebat lah si Kajol aktingnya memang.”
“Ini sih nih Donald Bebek nih.” Sahut Fania sambil memukuli suaminya itu yang masih nampak terkekeh ga kelar juga. “Ga bisa ditahan dulu ketawanya sebentar lagi kek, biar ada acara berlutut gitu.”
“Hahaha. Aku benar – benar sudah tak tahan Heart. Perut aku sudah sakit menahan tawa....”
‘Bener – bener dah ini orang – orang ngerjain si John sama si Prita sampe kayak gitu. Sian beut dah ah ini bocah dua...’ Batin Papa Herman yang hanya senyum – senyum sambil geleng – geleng.
“Kalian nih, Ya Tuhaaannn!!! ....”
“Ambil hikmahnya ya Prita. Setidaknya sekarang kamu tahu betapa laki – laki ini mencintai kamu.” Celetuk Andrew. Masih terkekeh pastinya.
“Masih syok lu Priwitan?.” Timpal Mama Bela yang ikut mesam – mesem.
“Tau ah!.” Si Priwitan kesal setengah mati. “Kak Fania, lo bener – bener ya ...” Prita menatap sinis pada sang kakak yang sering hilang akhlak, bahkan ekspresi mukanya sekarang seperti tanpa dosa.
“Cinta lo pada Prita gue beri two thumbs up!. (Dua jempol!).” Celetuk Jeff sambil mengangkat dua jempolnya pada Prita. “Tapi wajah bodoh lo, memang engga banget! Hahaha ...”
“Gue udah ga tahu deh, harus ngomong apa sama kalian....”
John mengangkat tangannya sambil kepalanya geleng – geleng lagi.
“Keren kalian. Kalah Romeo dan Juliet juga.” Celetuk Reno. “Thank you guys untuk Live Show yang super menakjubkan tadi!.”
__ADS_1
Prita dan John hanya bisa saling tatap.
“Lo berdua ga ada rencana bikin adegan minum racun gitu?. Kalo ada gue minta bibi ambilin baygon nih.” Celetuk si Kajol cekikikan.
“Unbelievable!. (Benar – benar sukar dipercaya!).” Ucap John sambil menggelengkan kepalanya lagi. ‘Kadang gue bersyukur tapi sepertinya gue juga bisa mengutuk diri gue sendiri memiliki orang – orang seperti mereka sebagai keluarga gue .....’
****
Flashback on
‘Hm ..... ini Rojali sama Juleha mau macem – macem sama gue. Segala back street lagi dibelakang gue. Gue kerjain lo berdua. Panggil nama gue kebalik kalo gue ga bisa bikin itu dua orang kejer – kejer.’
“Kamu ga benar – benar marah pada John dan Prita kan, Heart?.”
“Heeemmmm marah sih engga, kecewa sedikit karena telat dapet info dari mulut mereka sendiri. Tapi ga apalah. Aku juga tau si bule koplak emang cinta sama si Priwitan udah lama. Si Priwitan juga ga bisa menghilangkan cintanya ama Kak John.”
“Tapi ...?.”
“Tapi ... harus ada shock therapy lah!.”
Fania sudah memasang wajah liciknya.
“Tell me!. (Kasih tau!).”
Andrew juga menampakkan seringai liciknya.
Dan sepasang suami istri itupun menyusun rencana dengan matang.
“Hahahaha aku sudah tak sabar untuk segera sampai ke Indo.”
Flashback off
****
“Kenapa lo berdua liatin gue kayak gitu?. Mau marah???? ....” Ucap Fania mesam - mesem sambil melirik pada John dan Prita.
“Gue, rasanya mau mencekik elo, Jol.” Sahut John.
“Waaahhh, cari ribut die!.” Celetuk Fania.
“Sshhh udah Kak John! Ga usah dilayan si kakak!. Gila nanti kita!.” Timpal Prita kesal.
“Hahahahahahaha!!!!.”
Tawa kepuasan pun kembali menggema lagi dari orang – orang selain John dan Prita.
‘Ya Allah, tolong Prita dan Kak John ya Allah .... jangan sampe kami ikutan gila Ya Allah .....’ Batin si Priwitan. ‘Kenapalah gue punya kakak se - gesrek dia.’
****
To be continue ...
Mohon maap ye, kalo emaknya queen selaku othor suka iseng sama ceritanya.
Fans nya Bukan Sekedar Sahabat mah paham pasti yak, othor yang atu ini suka membuat sesuatu yang kadang tak terduga. Hehehehehe. Othor sok beut iye ...
Don’t worry, Insya Allah, Novel ini ga cepet kelar. Mudahan bisa mengulang sukses seperti BSS.
Mohon maaf buat segala kekurangan sampai dengan episode ini, maaf juga kalau kurang memuaskan reader yeeee. Emak tetep berusaha untuk menghadirkan bacaan yang menghibur.
Ma aciiiihhh untuk dukungan para reader yang luar biasah. Karena kalian kontrak Novel ini cepet lulusnya, dan sudah mendapat kontrak resmi dari platform ini.
Makasih yang tak terhingga pokoknya.
__ADS_1
😚 Salam sayang 😚
Emaknya Queen