THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 104


__ADS_3

💢💢💢💢💢💢 DISTURBANCE 💢💢💢💢💢 Gangguan


****************************


Selamat membaca ......


Adjieran Smith’s Private Mansion, London, England


“Selamet ye Kak Ren, Kak Ara.” Bayi kedua Reno dan Ara sudah lahir kedunia. Bayi mungil berjenis kelamin perempuan ini adalah harapan Reno dan Ara yang berharap punya seorang anak perempuan karena tidak tahan dengan keimutan si Miracle Andrea, putri semata wayangnya Fania dan Andrew yang kini telah berusia empat tahun kurang lebih.


“Thank you ya Little F..”


Reno merangkul adik kesayangannya itu.


“This is your little sister, Andrea ( Ini adik perempuan kecilmu, Andrea ). She’s beautiful right, like you, hem? ( Dia cantik kan, seperti kamu, hem? ).”


“I love you Little Sister ...”


Semua orang tersenyum melihat Andrea yang nampak gemas pada adiknya Varen itu, dan sekaligus akan menjadi seperti adiknya juga.


“Boleh aku gendong, Mom?.”


“Oke, My Prince ... Be careful ( Hati – hati ), hem?.” Ara memberikan adiknya Varen itu pada sang kakak. Reno pun membantu memegangi.


“Mudah – mudahan anak gue lahir sepasang.” John mengelus perut Prita yang sudah membuncit itu.


“Aamiin!!!!!....” Sahut semua orang yang sedang bersamanya.


“I wish, I also get a a baby girl ( Gue harap, gue juga dapat anak perempuan ).”


Kini semua orang mengaminkan ucapan Jeff.


‘Gue kapan ya bisa hamil anak kedua?.’ Batin Fania dalam senyumannya.


“Sabar ye Kak, nanti juga bakal sampe giliran lo dapet adeknya Andrea ...” Ucap Prita yang seperti paham apa yang sedang dipikirkan sang kakak.


Fania tersenyum dan mengangguk.


“Iye, Priwitan. Ini juga itungannya anak gue udah banyak .... tuh anak pertama gue yang ganteng, nih si incess, tuh juga pangeran kedua kaga kalah ganteng ama si Varen. Tuh anak ayank jutek juga. Belom lagi calon adeknya Nathan, ama calon anak lo nih dua biji!.” Cerocos Fania yang mengabsen para krucil dikeluarga mereka. “Banyak pan anak gue?!.”


“Haha, iya!.”


“Ga kebayang ramenya keluarga ini bakalan ya?.”


Seluruh anggota keluarga yang kini sudah berada di Mansion pun mengiyakan dengan antusias.


Valera yang berarti berani menjadi pilhan nama untuk anak kedua Reno dan Ara. Memilik arti yang sama dengan arti nama Andrea yang menjadi harapan agar kedua putri cantik keluarga itu dapat tumbuh menjadi perempuan yang berani seperti para Ibu mereka yang berani, kuat dan tegar.


Valera Cerys Aditama Smith menambah kebahagiaan di tengah – tengah Keluarga Adjieran Smith.


***


Noted :Kalo tanya kenapa ada Aditama-nya itu nama belakang keluarganya kakak ganteng ya. Fans BSS pasti inget dah kisahnya, iya khaaaan???.


***


Jakarta, Indonesia


Hari terus berganti


Kandungan Prita dan Jihan juga sudah bertambah usia. Dua Ibu hamil itu sering menghabiskan waktu berdua untuk sekedar saling mengunjungi di rumah masing – masing, atau menghabiskan waktu di Rumah Utama bila sedang janjian menginap disana terlebih jika dua J sedang sibuk di kantor. Atau bahkan menginap bersama di rumah Keluarga Cemara.


Prita dan Jihan sedang berjalan – jalan disebuah Mal di daerah Jakarta. Dua orang pengawal pribadi juga berada tidak jauh dari kedua ibu hamil tersebut. Dua J, sama seperti para Pangeran Adjieran Smith lainnya memang sangat over protektif juga selain posesif pada istri – istri mereka.


Mencegah hal – hal yang tidak diinginkan menimpa orang – orang yang mereka cintai dan kasihi.


“Prita, aku ke toilet dulu ya?.”


“Iya Kak... mau aku temenin?.” Prita menawarkan.


“Halah, Cuma ke toilet aja Kok.”


Prita terkekeh. “Ya udah, aku tunggu disana ya, Kak?.” Prita menunjuk ke sebuah toko pakaian bayi dan Jihan pun mengangguk lalu memisahkan diri dari Prita.


“Maaf Nyonya Jihan, and mau kemana?.”


Salah seorang pengawal pribadi mereka menghentikan Jihan sejenak, karena Jihan dan Prita berjalan ke arah yang berlawanan. “Aku hanya ingin ke toilet, Omar. Apa kamu juga akan menemaniku didalam sana?.”

__ADS_1


“Mohon maaf atas ketidak nyamanan anda, saya hanya bertanya.” Ucap pengawal pribadi yang bernama Omar itu. Yang notabene sebenarnya adalah pengawal pribadi kepercayaan Andrew di Indonesia.


Namun jika Andrew dan Fania sedang tidak berada di Indonesia, anggota keluarga yang lain dipersilahkan saja jika ingin memakai jasa Omar oleh Andrew.


“Silahkan Nyonya. Saya akan menunggu disini.”


Omar membukakan pintu toilet untuk Jihan yang kemudian geleng – geleng dan tidak langsung masuk. “Omar ...” Ucap Jihan.


“Ya Nyonya Jihan?.” Sahut Omar sopan. “Mau saya pegang kan tas anda?.”


“Ini Mal terbuka untuk umum, begitupun toilet ini ....” Ucap Jihan. “Kalau kamu berdiri disitu, orang lain yang akan menggunakan toilet ini akan merasa terganggu ... Jadi lebih baik kamu agak minggir sedikit kesana deh...”


“Maafkan saya Nyonya Jihan, saya hanya menjalankan tugas untuk menjaga anda serta bayi dalam perut anda.”


“Dari situ kamu juga bisa melihat ke arah pintu toilet ini, kan?.” Ucap Jihan lagi.


“Baiklah Nyonya.”


Jihan pun masuk ke dalam toilet wanita setelah Omar berdiri ditempat yang tadi ditunjuk Jihan.


***


Jihan sudah menyelesaikan urusannya di toilet wanita dan ia sudah membuka pintu toilet untuk keluar.


Bruk!


“Hey! Apa kau tidak punya mata!.”


Omar sudah mendekati Jihan yang sedikit terhuyung karena tertabrak oleh seorang wanita yang nampak akan masuk ke dalam toilet.


“Ah, maaf! Maaf! Saya ga sengaja .... maaf ya ....”


Wanita yang menabrak Jihan nampak merasa bersalah dan meminta maaf dengan sedikit membungkukkan tubuhnya pada Jihan dan Omar. “Ga apa – apa kok mbak.” Ucap Jihan setelah ia sempat meringis karena punggungnya terantuk di pinggiran pintu toilet.


“Lain kali hati – hati!.”


Omar nampak tidak senang. “Omar...”


“Maafkan saya Nyonya Jihan, tapi wanita ini bisa membahayakan anda dan bayi anda karena kecerobohan nya.”


“Iya Nyonya Jihan.”


“Sekali lagi saya minta maaf, saya beneran ga sengaja ...”


“Ga apa – apa, Mbak.. Mari ....”


“Iya.”


Jihan pun pergi dari toilet untuk menyusul Prita, dengan kawalan Omar yang sempat melirik sinis pada wanita yang


tadi menabrak Jihan di depan toilet wanita.


***


“Prita, kamu laper ga?.”


“Baru aku mau ajak Kak Jihan makan.... harap maklum deh nih dua biji soalnya didalem sini.” Sahut Prita yang sudah bersama Jihan di toko pakaian bayi dan menyelesaikan pembayaran dari barang yang sudah mereka pilih.


“Ya udah, yuk.”


“Cus.”


***


Jihan dan Prita sudah berada dalam salah satu restoran yang berada di dalam Mal yang mereka sambangi. Dua


bodyguard mereka yang pada akhirnya mau juga mengambil tempat tak jauh dari kedua bumil itu pada akhirnya menuruti perintah dua Nyonya Muda mereka agar mereka ikut duduk, sehingga tidak membuat Jihan dan Prita menjadi perhatian pengunjung yang lain.


‘Itu cewe siapa ya? ... perasaan dari tadi sering ngelirik kesini? ......’


Tatapan Prita tertuju pada seorang wanita yang duduk diujung meja searah pandangannya.


‘Siapa ya?.’


Prita juga sesekali melirik pada wanita yang sering ia dapati curi – curi pandang kearahnya dan Jihan, namun kemudian seperi pura – pura membuang muka dengan melihat ponsel atau ke arah lain jika wanita itu tertangkap seperti sedang memperhatikan dia dan Jihan.


“Kamu mau pesan apa. Prita?.”

__ADS_1


“Ini aja Kak, minumnya jus mangga.”


Prita menunjuk sebuah gambar dibuku menu, lalu kembali lagi melirik pada wanita yang tadi ia perhatikan.


‘Mungkin dia kenal gue atau Kak Jihan?. Tapi ragu mau negor kita orang? ... tapi siapa ya? ... Mukanya asing buat gue......’


Prita masih bertanya – tanya dalam hatinya.


Tapi Prita sama sekali tak menaruh curiga. Lalu ia terlibat obrolan santai dengan Jihan setelah menyuruh dua pengawal pribadi mereka itu juga ikut memesan makanan dan minuman.


‘Eh, kemana itu cewe yang tadi? ....’


Prita mengendikkan pelan bahunya lalu mengobrol lagi dengan Jihan sambil menyantap makanannya.


***


Jihan dan Prita berpisah di lobi Mal, karena mereka menggunakan mobil yang berbeda.


‘Itu kayak cewe yang tadi resto?.’


Pandangan Prita tertuju pada sebuah sedan yang ada menyelingi mobilnya dan Jihan yang disupiri oleh para bodyguard mereka itu. Jihan sudah terlebih dulu masuk kedalam mobilnya karena petugas Vallet terlebih dahulu mengantarkan mobil Jihan. Baru kemudian petugas Vallet yang lain mengantarkan mobil Prita setelah ada mobil lain didepannya.


Prita kembali mengendikkan bahunya lalu langsung masuk ke dalam mobil dan pergi untuk mengarah ke Rumah Utama, karena John yang memintanya untuk tinggal disana sampai hari kelahiran tiba, sementara hari ini Jihan pulang ke rumah pribadinya dan Jeff.


Didalam mobil, entah kenapa Prita teringat pada wanita yang nampak memperhatikannya dan Jihan di restoran,


lalu wanita itu kembali ia lihat berada dibelakang mobil Jihan.


Namun Prita sulit untuk mengenali siapa wanita tersebut.


‘Gue kayaknya sih ga kenal. Tapi kenapa rasanya waktu di restoran tadi itu cewe merhatiin gue dan Kak Jihan banget???? ...’


Prita sedikit penasaran.


‘Temennya Kak Jihan apa ya?..... hum.... entahlah...’


***


Esok hari ...


Bandung, Jawa – Barat, Indonesia


Jeff sedang berada di Bandung saat ini, ia sedang berada di salah satu gedung yang merupakan investasi pribadi miliknya. “Mister Jeff!...”


“Ya?. Ada apa, Ar?.”


“Ini ada titipan untuk anda.”


Salah seorang staff Jeff memberikan sebuah amplop coklat pada Bosnya itu. Jeff menerimanya lalu membolak – balik kan map coklat yang polos seutuhnya. “Who sent this? ( Siapa pengirimnya? ).”


“Entah Sir. Tadi resepsionis memberikan pada saya dan hanya bilang kalau ada seseorang yang menitipkan itu di lobi saat kita rapat tadi. Dan orang yang memberikan amplop tersebut berpesan agar ini langsung diberikan ke tangan anda.”


“Sebaiknya kamu ajarkan lagi pada resepsionis, untuk mencatat dengan jelas jika ada kiriman seperti ini.”


“Baik Tuan, akan saya lebih perhatikan kinerja para resepsionis kedepannya.”


“Ya sudah. Kamu boleh pergi.”


“Baik Mister Jeff. Apa anda ingin saya pesankan makan siang?.” Tanya staff pria Jeff itu sebelum pergi.


“Tidak perlu, Ar. Saya akan  beberapa menit lagi disini, lalu saya akan segera kembali ke Jakarta.”


“Baiklah Mister Jeff, saya permisi kalau begitu.”


Jeff mengangguk lalu kemudian membuka amplop yang diberikan oleh staffnya tadi.


Ada kertas putih pelapis lagi yang membungkus seperti beberapa lembaran foto didalamnya. Wajah Jeff berubah serius saat membaca tulisan dikertas putih pelapis itu.


“YOU DON’T DESERVE TO BE HAPPY!!! ( KAU TIDAK BERHAK BAHAGIA!!!!! ).”


***


To be continue ...


Hmmm .... ada apakah gerangan?


Betewe aniwe buswe, Cung, yang masih inget ceritanya kakak ganteng yang berganti nama belakang, hiya hiya.

__ADS_1


__ADS_2