THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 192


__ADS_3

⭐ SUNGGUH ANEH TAPI NYATA ⭐


 


 


Selamat membaca ....


⭐⭐⭐⭐⭐⭐


“Anak – anak belom pada bangun?.” Tanya Ene Bela pada mereka yang sedang bersamanya di ruang makan.


“Sepertinya selepas Shubuh berjamaah tadi, mereka tidur lagi.” Daddy Dewa yang menyahut. Ene Bela pun manggut – manggut.


“Mendingan dibangunin dulu gih itu mereka. Biar pade nyarap dulu abis itu serah dah kalo mau tidur lagi.”


“Nah tuh si Abang.”


“Pagi ..”


“Pagi ..”


“Drea mana, Bang?.”


“Masih mandi, tadi aku ke kamarnya.”


“Semalam tidur jam berapa Bang?.”


Daddy Jeff bertanya,


“Semalam Dad liat setengah sebelas kamu masih berenang?.”


“Oh...”


“Tumben malam – malam kamu berenang, Bang?. Bukannya kamu ga suka berenang saat malam?.”


“Iseng saja, Pi.” Sahut Varen. ‘Terpaksa itu juga. Daripada gue khilaf seranjang sama si Little Star.’ Batin Varen. “Oh iya ngomong – ngomong Pop.” Tanyanya pada Poppa yang asik suap – suapan dengan si Momma.


“Kenapa?.”


“Drea tidak di skors dari sekolah karena berkelahi kan, Pop?.”


“Tentu saja tidak. Kan sudah aku katakan padamu, bukannya?. Lagipula apa mereka berani menskors putriku?.” Sahut Poppa. “Lagipula bukan sepenuhnya kesalahan Drea. Dia hanya membela diri. Masalah mereka yang dipukuli Drea sampai babak belur seperti itu, ya salah para siswi dan siswa yang mencoba mengganggu Andrea.”


“Babak belur?.” Tanya Varen. “Bukannya dua orang kakak kelas perempuannya itu hanya luka ringan?. Yang satu


bukannya keburu pingsan?. Dan yang satu hanya ditampar Andrea bukan?.”


“Yang pertama menyerangnya pingsan karena kepalanya terantuk meja guru, akibat jatuh karena Andrea mendorongnya dengan kursi.” Jawab Poppa.


“Hah?.” Varen sedikit terkejut.


“Tapi tetap saja, dahinya itu harus dijahit karena pinggiran meja guru yang tajam.” Timpal Daddy Jeff. “Yang satu memang ditampar Drea, tapi bukan hanya sekali. Itupun kalau menurut cerita Nathan dari teman – teman sekelasnya Drea yang menyaksikan dia ditendang terlebih dahulu oleh Drea, lalu saat ia tumbang Drea menyerangnya dengan tamparan berkali – kali sekaligus menduduki tubuh kakak kelasnya itu.”


Varen membuka mulutnya.


“Apa?. Masa Drea sampai begitu?.” Abang nampak tak percaya.


“Anak – anak itu yang sudah keterlaluan, mengganggu Drea sampai menuangkan Spaghetti ke kepalanya. Jika


mereka bukan anak – anak, sudah ku masak mereka menjadi irisan daging untuk saos Spaghetti Bolognaise.”


“Oh iya Kak Jeff, itu yang kemarin dirawat di RS udah pada keluar apa masih disana?.”


“Jangan bilang kamu mau menengok mereka, Heart. Aku tak ijinkan. Enak saja. Masih bagus aku biarkan hidup karena orang tuanya hendak mencium kakiku. Jika tidak, akan ku hancurkan hingga tanpa sisa karir politik ayahnya, dan bisnis keluarga anak yang satunya. Dan yang satu lagi akan kukirim ke Afrika, biar jadi santapan para singa.”


“Mereka bocah lah, D. Jangan kejam – kejam amat.”


“Mereka bukan anak lima tahun, Heart. Jika sekarang saja mereka sudah sanggup menindas orang seperti itu, kelak mereka akan menjadi sampah masyarakat. Dan daripada menambah jumlah sampah masyarakat yang sudah banyak,  lebih baik aku kurangkan sejak awal.” Ucap Andrew sedikit kesal.


“Ya tapi kan mereka sudah dapat ganjarannya juga, Pop.”


Nathan langsung menyambar saat ia sudah datang bergabung ke ruang makan. Dan langsung duduk disamping


Varen. “Tunggu – tunggu, kalian ini sedang membicarakan apa sih?. Lalu tadi Momma bilang mereka yang di Rumah Sakit itu siapa?.” Varen masih belum paham. “Yang kepalanya dijahit, memang banyak jahitannya?. Lalu yang ditampar dan ditendang Drea?. Apa separah itu Drea menendangnya hingga harus dirawat?.”


“Lah emang kamu belom tau, Bang?.”


“Tahu apa Ne?. Ya kemarin sempat tanya sekilas ke Drea, dia cerita soal tiga orang yang menyerangnya, lalu ribut dengan dua orang.” Sahut Varen pada Ene Bela.


“Lah, emang kamu belum liat pidio nya si Drea gebukin itu bocah – bocah bader, yang pada mau nge - royok die?.


Laki lagi!.”


“Video apa Kek?.”


“Benar kamu belum melihat, Bang?. Gamma dan Gappa saja sudah melihatnya semalam. Memang hebat cucu Gamma itu. Baddaaass....”


Mereka yang berada di ruang makan pun terkekeh mendengar celetukan Mom. Varen menggeleng. “Mana sini aku


mau lihat videonya?.” Pinta Varen.


“Kasih lihat Than.” Ucap Daddy Dewa.


“Nih!.” Nathan pun merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel miliknya, mencari video perkelahian Andrea dengan beberapa kakak kelasnya yang memang sengaja ia simpan dan belum sempat ia hapus,  meski sudah dia kopas ke laptopnya buat kenang – kenangan kalo kata Nathan.


“This can’t be true.... ( Ini semua tidak mungkin)..”


“Itu asli tanpa teknik komputer. Coba itu Little Star lo, dah macem Lara Croft versi remaja. Bagus dia ga pegang Samurai waktu itu, kalo engga dia sudah seperti Beatrix Kiddo di film Kill Bill dan gue rasa sudah ke tebas semua itu kepala mereka.”


“Oh My God ..... ( Oh Tuhan ) ...”


Varen sampai menutup mulutnya saking dia tak percaya kalau Andrea lah gadis yang terlihat sedang memukuli beberapa siswa tanpa ampun. Bahkan terakhir dia melihat kalau Andrea sempat memukul Arya juga.


“Ya Allah, Little Star...”


“Tapi biar gimana keren juga si itu si Cute Girl.” Celetuk Nathan.


“Keren kepala lo!.” Varen spontan menoyor kepala Nathan.


“Yah keren emang untuk ukuran anak seumur si Drea bisa melawan empat cowok gitu, dan dia Cuma kena luka gores sama tulang jarinya yang pada lecet gara – gara nampolin itu mereka.”


“Seharusnya Poppa tidak pernah mengajarinya kick boxing sedari dulu.”

__ADS_1


Varen melirik malas pada si Poppa yang kemudian menatapnya balik.


“Hey, bocah tengik, jika dia tidak menguasai kick boxing, maka yang berada di Rumah Sakit bukan berandalan


itu melainkan Andrea sendiri karena dia tidak mampu melawan. Dan tanganku ini sudah berlumur darah mereka yang sudah menyakiti anakku bahkan mungkin darah orang tuanya juga.”


“Ini semua karena kalian sering menyebutnya Xena The Warrior Princess. Apa kalian tahu ucapan itu adalah doa?!


...” Varen menatap malas pada mereka yang ada bersamanya saat ini, yang kemudian terkekeh melihat rona wajah Varen yang nampak sebal, sedikit ngeri juga setelah melihat video perkelahian Andrea.


“Udeh makan dulu deh ah. Jangan ribut pagi – pagi. Ngomong – ngomong si Drea lama emen mandi kaga kelar – kelar.”


“Satu jam paling cepat Andrea kalau mandi sih.” Celetuk Nenek Yuna.


“Susuripris, wahai keluargaku yang blaem – blaem...” Andrea pun muncul nampak segar, menyapa mereka yang berada di ruang makan dengan suara yang dia buat bak si cute girl adenya si nopal. “Apakah kalian merindukanku...??.”


“Kirain tenggelem di bathtub.”


“Ih, Mommah ju – lid ... “ Sahut Andrea pada sang Momma mengikuti gaya incess yang viral entuh. Baru beberapa bulan menetap di Indonesia, segala hal yang pernah viral di negeri para netizen ini sudah ia cari tahu.


Entah apa faedahnya buat si Drea. Biarlah, asal die bahagia. Tapi yang jelas kalau urusan meniru orang lain, dalam artian suara, mimik muka sampai gerak tubuh, Drea memang jagonya. Nah kadang suka gokil – gokilan juga bareng si Nathan bahkan sering membuat video unfaedah berdua.


Para Mommies dan Daddies, berikut para kakek dan nenek, paling hanya bisa ngekeh aja dengan kelakuan anaknya s Donald Bebek dan si Kajol satu itu. Dan parahnya kadang malah dicopas sama para krucil yang masih pada bocah.


“Bisa ga kalo ngomong badan lo ga usah ikutan gerak?.” Celetuk Nathan.


“Heeiiii si Tan – Taaaannnn-hhhh .... ja-mpmh.....” Mulut Andrea keburu dibekap Nathan sebelum dia melanjutkan lagi kalimat dengan suara si cute girl yang idung sama muka plus matanya ada disatu tempat.


“Duduk! Makan! Diam!.” Nathan langsung mendudukkan Andrea sembari mencengkram kedua bahu gadis itu meski tidak kuat, pada kursi yang tadi didudukinya dan langsung menyumpal mulut cempreng Andrea dengan selembar roti tawar.


Nathan mendapat kepretan dari Varen. “Jangan kasar!.” Ucap Varen.


Nathan meringis, karena kepretan si Abang lumayan perih. “Ya ampun Bang, kepretan lo udah kayak kepretan ibu – ibu komplek. Perih amat.”


Varen hanya melotot padanya.


“Lagian mulut berisik banget pagi – pagi.”


“Tapi Tan – Tan sayang akuh kan, hiya hiya hiya..” Ledek Andrea.


“Diem ga lo!. Geli gue denger lo ngomong begitu tau ga?!.”


“Nah elo yang ngasih tau gue itu animasi aneh!.”


“Ya ga usah lo ikutin juga!.”


“Lucu abisnya, haha!!! .... 🎵Yang tulus mencintaimu kau.. hingga yang merasuki mu entah apa..🎵”


“Beleh!....” Ucap Nathan pada kelakuan Andrea yang masih menirukan si cutie itu tambah lagi lirik lagu yang dinyanyikan terbalik. Kemudian malah Andrea dan Nathan ngakak berdua. Varen hanya geleng – geleng saja. Biasanya pagi hari Varen di Massachusetts begitu damai dan tentram, bahkan kicauan burung kadang terdengar.


“Sesama orang beleh ga usah saling ngatain!.” Celetuk Momma.


“Hahahaha! ...”


“Udeh makan – makan! Tawa Bae!. Kering entar itu gigi.”


Tapi sekarang, suara kicauan burung itu terganti dengan suara kicauan para anggota keluarganya yang suaranya


ga bisa pelan kalo ngomong. Ga pernah ada keheningan saat makan. Ada aja yang dibahas dan selalunya membuat mereka tertawa pada akhirnya. Terlebih jika Ake, Ene, berikut Momma dan Mami sudah disatukan, burung juga malas berkicau rasanya kalau sudah mendengar suara mereka berempat.


“Buka dikit Joss!.”


“Hahahaha! ...”


“Ada lagi tau yang lagi viral !.”


“Apaan?.”


“Tuh Mami bisa tuh niruin!.” Celetuk Nathan sambil menunjuk Mami Prita yang memang sama gesreknya dengan si


Momma.


“🎵Yamet Kudasi, Yamet Kudasi. Bang Yameet Parake Dasi...🎵”


Mami Prita yang kadang urat malunya suka putus itu pun mempraktekkan lagu yang lagi viral di Tok – Tok itu lengkap dengan gaya dan mimik muka yang mengundang tawa.


“🎵Ara Kimochi, Ara Kimochi. Bang Ara Pareke Peci...🎵”


“Hahahahahahaha! ...”


‘Astagfirullahal’adzim ...’


Varen hanya geleng – geleng saja.


**


“Little Star ..”


Varen memanggil Andrea yang sedang melakukan hobi anehnya itu di kolam renang. Sementara Nathan sedang


memegang menjaga penghitung waktu dijam tangannya.


“Andrea..”


“Biarin aja sih Bang, orang dia mau mecahin rekornya sendiri itu.”


“Lo nih ya, bukannya larang dia melakukan hal – hal aneh macam begitu. Malah dibiarkan saja. Heran gue sama


orang – orang dirumah ini yang membiarkan dia melakukan hal bodoh macam begitu.”


“Ya elah Baang ... lo kayak baru kenal si Drea aja. Mana bisa dilarang sih dia?. Dia itu Cuma takut sama Poppa. Nah si Poppa aja ngebiarin die ngelakuin hobi anehnya itu, siapa tau si Drea jadi Agen MI – 10 katanya. Emang gokil si Poppa kan kadang – kadang. Anak sebelas tahun dia ajarin kicboxing sama Muaythay, mana bocah cewe lagi. Lo tau si Drea bisa Parkour?.”


“HAH?!.”


“Dia pernah manjat ini rumah dengan tangan kosong asal lo tau.”


‘Apalagi ini Ya Tuhaan..’ Batin Varen. “Poppa tahu?.”


“Tahu. Malah sebelum lo datang si Poppa nyuruh si Drea Parkour dia mau lihat kemampuan anaknya.”


“Benar – benar si Poppa, bukannya dilarang. Ga khawatir apa kalau Drea kenapa - napa?.”


“Sekarang si Poppa sudah woles sama si Drea. Dia itu macam Momma, rasa ingin tahu dan kenekatannya besar. Salah lo lama – lama jauh dari dia. Selain Poppa kan dia nurutnya sama lo.” Ucap Nathan lagi. “Wuih!.”

__ADS_1


“Kenapa?.”


“Udah tembus rekornya nih dia.” Sahut Nathan. “Woy Drea!. Rekor lo sebelumnya udah nyampe nih!.”


Tapi Andrea masih kaku ditempatnya dengan posisi telungkup.


“Woy Cute Girl!.”


“Little Star!.”


“Wah mati beneran jangan – jangan tuh si Drea..” Celetuk Nathan asal membuat Varen menepak kepalanya dengan cepat.


“ANDREA!.” Seru Varen dengan kencang. Namun tubuh Andrea bergeming.


Byuuurrrr! ....


Varen menceburkan dirinya yang masih berpakaian lengkap itu karena panik.


“Cilukbaa.....” Tiba – Tiba Andrea membalikkan badannya setelah Varen meraih tubuhnya. “Panik  nih ye...”


“Astagfirullahal’adzim Andreaaa ...! ...” Varen geregetan.


“Tenang Abaang .. aku kan punya insang..”


‘Ugh Andreaa! .. kalau Abang gelap mata. Sudah Abang bawa ke kamar biar sesak nafas sekalian!.’ Gerutu Varen


dalam hatinya saat Andrea melenggang menuju tangga kolam renang dan kemudian naik tanpa dosa, sementara dirinya masih berada di dalam kolam.


“Sepot jantung kan lo?. Baru berapa hari lo Bang, gimana gue?. Ada aja kelakuan nya setiap hari, kalo ga bikin kesel bikin jantung orang merosot.” Ucap Nathan saat Varen sudah naik dari kolam renang sembari memberikan handuk pada Varen sambil cekikikan yang sedang memperhatikan Andrea berjalan ke kamar bilas dengan hotpant dan tanktop yang basah.


**


“Mamah sama Papah pulang dulu ye, besok restoran yang di Sumbek mau ada yang boking soalnye.”


“Ya udah besok Fania bantuin lah.” Ucap Fania kala ia dan anggota keluarga yang lain menemani Mama Bela dan


Papa Herman menuju mobil untuk mengantar mereka pulang ke Bekasi. “Boleh kan, D.”


“Bolehlah, Heart. Nanti aku jemput. Besok mau menemani dulu ini Varen ke R Corp dan Perusahaan Smith yang berada di Jakarta.” Sahut Andrew.


“Ya udeh ya kami pamit dulu. Ren entar kalo mau pulang ke sono ke Amrik telpon Ake sama Ene, dateng kek kesono.” Ucap Papa Herman pada si cucu paling tua.


“Iya Ake, nanti sebelum kembali ke Massachusetts Varen sempat kan datang ke rumah Ake dan Ene.” Jawab


Varen sembari salim pada Ake dan Ene nya itu.


“Oh iya Drea, entar kalo libur sekolah nginep di Bekasi ye, entar Ake ajarin jurus rawa ronteg!.”


“Elah gaya banget aki - aki. Duduk lama – lama aje udah encok, gegayaan mo ngajarin si Drea rawa ronteg. Bisa juga kaga si Papah.” Celetuk Prita. “Inget umur. Noh kulit dah pada kisut.” Timpal Prita lagi sambil cekikikan, diikuti oleh yang lain.


“Ye, kaga tau aje. Papah turunan si Pitung ini.”


“Au ah! Udeh cepetan pulang ntar keburu malem, ampeg!.” Canda Fania.


“Ya udeh ye, Assalamu’alaikum!.”


“Wa’alaikumsalam!.”


**


“Apa itu Rawa Ronteg?..” Tanya Varen pada Momma, saat mobil Ake dan Ene nya sudah keluar dari Kediaman


Utama mereka.


“Orang bule kaga tau Rawa Ronteg yak?.”


“Pernah dengar saja sepertinya. Ilmu bela diri?.”


“Ajian Sakti Mandraguna!.”


“Apa itu Mom?.”


Gantian Andrea yang bertanya.


“Mysticism ( Ilmu Batin ).” Sahut Fania sembari mereka berjalan masuk.


“Semacam ilmu kekebalan tubuh seperti di Pencak Silat?.”


“Iyes. Tapi lebih hebat lagi.”


“Hebatnya?.”


“Katanya sih, orang yang punya itu ilmu masih bisa hidup meski kepalanya terpenggal.”


“Wooow.. Aku mau pelajari itu ilmu ah!. So cool ( Keren Sekali ).” Andrea nampak antusias sambil mendekati sang Momma dan Mami yang sedang bercerita pada Varen dan yang lain juga ikut mendengarkan.


“Nah loh!. Besok dia bukan lagi latihan mati di air nih ya.” Celetuk si Nathan. “Besok minta beli golok nih bocah yang ada.”


“Jangan aneh – aneh Little Star!.” Varen langsung menyela dan Andrea langsung mencebik.


“Tapi kan bagus kalau aku punya ilmu itu...” Celetuk Andrea.


‘Heemm berabe dah nih kalo si Drea ambil serius omongan nye si Papah.’ Batin Mami Prita.


“Bagus dari mananya?.” Sela si Abang setengah sewot.


“Baguslah! Nanti kan aku bisa jadi Penguasa ..”


Andrea menegakkan tubuhnya, menghadap mereka yang sudah duduk – duduk santai di ruang tamu.


“Obey Me, Or Fight Me! ( Patuhi aku,  atau Lawan Aku! ). Hohohohoho ...”


‘Apakah Drea perlu kubawa ke Psikiater?.’


Varen membatin sambil memandangi Andrea dengan pandangan serius.


“Ah, aku jadi ga sabar mau belajar ilmu yang tadi Ake bilang!. Lucu kali ya, kalau aku menenteng kepala aku sendiri, lalu berjalan - jalan?.”


“Yang ada lo jadi hantu jeruk purut, Juleha!.”


‘Benar – benar harus di bawa ke Psikiater sebelum Drea menjadi Psikopat.’ Varen membatin lagi.


**

__ADS_1


To be continue..


Scroll ke bawah iye readers emak yang blaem – blaem, emak kasih dua episode soalnye bakalan sibuk beberapa waktu ke depan. Asek dah.


__ADS_2