THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 266 – TENTANG NATHAN


__ADS_3

KILAS BALIK


SEPENGGAL CERITA CINTA NATHAN


( Bagian 2 )


Selamat membaca....


 


“Mau ngapain?”


Itu Kevia yang bicara, saat Nathan menyambanginya Kevia di kelasnya.


Kevia sudah masuk sekolah hari ini dan Nathan melihatnya.


Nathan tak langsung pulang saat bel pulang sekolah berbunyi dan semua temannya undur diri, termasuk sang


kekasih yang hari ini sedikit diabaikan Nathan dan akhirnya ngambek pulang duluan.


Nathan menunggu sekolah sedikit sepi, setidaknya di sekitar kelas Kevia. Seolah Nathan paham tentang


gadis itu, yang Nathan tahu, Kevia seringnya keluar dari kelas dan sekolah jika sekolah sudah benar – benar hampir sepi.


Nathan tak tahu alasannya, aneh memang menurutnya. Padahal itu cewe saat Nathan mendatangi Kevia untuk


pertama kalinya, dia hanya duduk saja di kursinya, kadang terlihat melamun dengan pandangan kosong.


Sama seperti saat ini, Kevia juga sedang duduk menyandarkan punggungnya dikursi saat Nathan masuk ke


kelasnya.


Nathan sudah berniat menemui Kevia, setelah sebelumnya berpikir keras, bergulat dengan gengsi, karena hati


mengarahkannya untuk menemui si Kevia ini.


“Mau cekik gue lagi?. Ngadu apa lagi cewe lo?”


“Lo ga masuk tiga hari, apa karena waktu itu?”


Nathan menjawab pertanyaan Kevia dengan pertanyaan juga. Membuat gadis itu sejenak menatapnya sembari


membereskan peralatan sekolahnya yang beberapa masih berserakan diatas mejanya.


“Ada yang cedera serius?”


“Kenapa? Takut gue laporin?”


“Engga”


“Terus kenapa lo tiba – tiba nanya? Jangan bilang lo mulai perhatian sama gue. Sorry, gue ga minat!”


Yang kemudian langsung disanggah Nathan, namun tidak dengan ucapan yang ketus dan bahasa yang kasar.


“Jangan kepedean, gue hanya tanya” Ucap Nathan setengah ketus.


“......”


“Jawab, lah”


“Apa yang harus gue jawab?” Jawab Kevia yang membuat Nathan merasa sebal pada gadis yang bersikap masa


bodoh dengannya itu yang sekarang sudah berdiri dan memakai tas ranselnya.


“Ya pertanyaan gue tadi”


“Yang mana?”


“Hish!” Nathan mendengus. “Ngeselin lo ya?. Gue tanya baik – baik, jawaban lo ngeyel” Ucap Nathan dengan sebal.


Tambah sebal, karena Kevia berjalan begitu saja melewatinya tanpa menjawab apa – apa.


“Asli sok kecakepan banget!” Kata Nathan.


“Memang gue cakep! Dari lahir juga gue cakep! Makanya teman – teman lo banyak yang sudah nembak gue!”


“Serah!”


“Mata lo katarak kalau bilang gue jelek!”


“Wah!”


Nathan menunjukkan wajah tak percaya melihat gadis bernama Kevia yang menurut Nathan menyebalkan orangnya. Mulutnya asal, pedenya selangit. Baru kelas dua pula.


“Mau nembak gue lo?”


“Idih Pede!”


“Ngikutin gue terus?”


“Gue mau pulang! Kesini Cuma mau mastiin lo ga kenapa – napa!” Nathan dengan sewotnya.


“Cieeee perhatian nih ye, jangan – jangan suka beneran lo ya sama gue? ...”


Oh ya ampun, Nathan spechless rasanya. Si Kevia ini pedenya luar angkasa. “Najis banget!” Sanggah Nathan dengan cepat.


“Halah bilang aja iya, suka malu – malu”


Memilih tak menyahut, Nathan malas menanggapi.


“Dah awas gue mau balik! Nyesel gue datengin lo!”


Nathan mendorong pelan bahu Kevia, lalu berjalan mendahuluinya.


“Awas... nanti jatuh cinta lo sama gue...”


Nathan menunjukkan jari tengahnya tanpa berbalik.


**


“Via ...” Para cowok kelas tiga di tim basket sedang menggoda cewe yang namanya disebut dan baru saja masuk ke kantin dengan temannya yang lain.


Yang dipanggil menoleh, tersenyum dengan cantiknya. Lalu melengos lagi dan berbicara pada seorang penjaja kantin. Membayar, lalu menunggu di meja paling ujung kantin, jauh dari tempat Nathan dan teman – temannya berada.


‘Halah sok jaim! Pencitraan!’


Nathan juga ada bersama teman – teman satu timnya di klub basket yang kumpul di kantin saat istirahat tiba.


“Tambah cakep dari hari ke hari itu si Kevia perasaan gue anjirrr!! ...”


Sony dengan pujiannya. Membuat Nathan memutar bola matanya malas.


“Cakep tapi nyebelin!”


“Heyyy kapten Jo jangan sembarangan bicara andah!”


Fans garis keras Kevia, teman satu timnya Nathan menyanggah ucapan kapten timnya.


“Dari sisi mata angin mane si Kevia nyebelin?. Si Via itu, dahlah cakep, sopan, roknya aja sampe betis. Tapi


tetep aje dia terang banget bak bintang kejora. Lo ga liat tadi, teduh banget itu senyumnya?. Ga banyak omong ga banyak tingkah!”


“Ho oh beda banget sama si Celisa!”


“Ck! Diem lo!”


“Emang iya! Lo aja yang buta karna cinta sama si Celisa! Dipelet kali lo sama dia!”


“Gila! Mana ada!”


“Ya kali! Soalnya lo kek cinta mati sama si Celisa? Padahal banyak banget yang sebel sama dia!”


“Udah diam lo ah!”


“Ini juga mau diem! Mau fokus mandangin si Kevia juga gue!” Timpal Sony, teman Nathan yang paling dekat dengannya.


“Serah!”


‘Heh, emang jaim kan tuh dia. Sok – sok cool depan orang – orang. Padahal aslinya nyebelin mampus!’


Nathan menggerutu dalam hatinya, namun sesekali juga ia melirik ketempat dimana Kevia berada.


***


“Lo ga nganter si Celisa?”


“Ada rapat Osis katanya”


“Rumah si Sony nyok ah! Mabar kitaaaaa!”


“Ayolah!”


“Nebeng gue Jo!”


“Kebiasaan!”


“Kapten Jo kan bae?!”


“Dah ayo, panas nih!”


“Motor lo dimana?”


“Di rumah Pak RT!”


“Duh ilah cuco meong deh ah Kapten Jo kalo lagi judes!”


“Udah tau di parkiran pake nanya!”


“Iya iya. Ya ud kita kemon”


***


Di parkiran sekolah....


“JO!”


Seorang siswa memanggil Nathan dan nampak berjalan cepat dan tergesa seolah nampak sengaja mengejarnya.

__ADS_1


“Hem?” Sahut Nathan dengan santainya sambil memasukkan kunci motornya ke lubang starter.


“Si Celisa ribut Jo!” Ucap si siswa yang mendatangi Nathan dan membuat Nathan tak jadi menyalakan motornya.


“Ribut sama siapa?”


“Kevia!” Ucap si siswa tersebut.


Sony dan dua teman Nathan yang tadinya ingin pergi bersama pun langsung tatap. “Hah mulai lagi deh tuh cewe lo cari – cari masalah!” Celetuk Sony.


“Maksud?” Nathan meletakkan kembali helmnya diatas motor dan bergegas pergi ketempat si pacar yang katanya


lagi ribut.


“Ya ini kelakuan cewe lo!”


“.....”


“Si Celisa kan gini kalo udah ngerasa terancam. Ga boleh ada yang lebih dari dia, pasti langsung dirusuhin! Amit deh!”


“Masa begitu?!”


Mereka sudah berjalan cepat.


“Yeh, lo kan udah sering kita kasih tau tapi lo menolak tau!. Kan gue bilang lo tuh dipelet sama si Celisa. Dimata lo kan dia ga ada salahnya!” Kata Ilham, salah satu teman Nathan yang bersamanya.


“Sikap dia sama lo itu fake! Lo aja yang bego! Dia tuh sok bae depan lo doang Jo!”


“Komplenan anak – anak, cewe – cewe khususnya tentang si Celisa tuh banyak! Cuma ya mereka takut sama lo. Si


Celisa ngadu macem – macem kan lo pasti ngamuk! Padahal faktanya suka beda, tapi lo percaya aja sama si Celisa!”


Membuat Nathan yang akhirnya berjalan cepat sambil juga berpikir. Masa iya pacarnya begitu?. Celisa kan baik,


Cuma memang manja aja yang berlebihan. – Menurut Nathan.


***


“Lo ga kapok – kapok ya udah gue bilang jangan coba deketin Jo!”


“Siapa juga yang deketin cowo lo?!”


“Ga usah ngeles lo! Ada yang liat lo jalan sama Jo waktu masih di sekolah dan sekolah udah sepi! Ngapain coba?! Godain Jo kan lo pasti?! Nawarin Te-te lo jangan – jangan!”


“Sorry, gue bukan lo!”


“AN-J*G!!!”


**


“CEL!” Nathan berseru kencang. Tadi sempat terperangah hingga terpaku ditempatnya. Matanya melihat semua, mendengar betapa kasar mulut sang pacar yang selama ini nampak lembut dihadapannya.


Semua siswa - siswi yang ada didekat pacarnya Nathan itupun segera menoleh. Termasuk Kevia yang memutar bola matanya malas. Celisa nampak terkejut melihat Nathan yang tahu – tahu ada dibelakangnya, saat dia tengah mengangkat tangannya pada Kevia.


“Jo? ....”


“Apa – apaan ini?!”


Celisa langsung menghampiri Nathan yang juga berjalan mendekatinya.


“Jo.... hiks!”


Celisa langsung bergelayut di lengan Nathan yang sempat mengangkat satu alisnya.


“Dia dorong aku lagi tadi, tau ga?. Makanya aku mau membela diri. Iya kan Da?”


Celisa mengadu lalu minta dukungan pada seorang temannya. Di detik yang sama Nathan tahu, kalau ucapan


teman – temannya itu benar adanya tentang Celisa. Bukan hoax.


Palsu. Sikapnya Celisa didepan Nathan. Sepalsu aduan yang keluar dari mulutnya tentang apa yang terjadi antara Celisa dan Kevia barusan. Jelas – jelas Nathan lihat dan dengar Celisa mencecar Kevia dengan tuduhan, lalu mengeluarkan umpatan hampir melayangkan pukulan.


Ah sialan. Itu hati Nathan.


Nathan terdiam memandangi Celisa. Kemudian menggelengkan kepalanya. “Sayang, kamu percaya kan sama aku?” Cicit Celisa sok manja.


“Engga!”


Celisa langsung terdiam memandang Nathan dengan wajah yang dibuat terluka. Sementara Nathan memberikan


pandangan tajam pada pacarnya itu. “Jahat banget kamu sayang? Kan aku pernah bilang, dia iri sama aku, suka sama kamu, mau merebut kamu dari aku ... hiks!...” Celisa menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Didetik yang sama Kevia kemudian beranjak dari tempatnya, mungkin hendak kembali mengambil peralatan ke


kelasnya.


“Ayo” Ucap Nathan.


“Iya Sayang” Celisa menyahut manja. "Ayo"


Namun Celisa kemudian menganga sembari menatap tak percaya.


“Gue anter lo pulang”


Pada Nathan yang ternyata tak bicara pada Celisa, melainkan pada Kevia, yang pergelangan tangannya sudah


dipegang Nathan.


“Sayang! Jo! Apa – apaan sih?!” Rengek Celisa namun Nathan mengabaikan. “JO!”


“Diam!”


Nathan mengangkat telunjuknya pada sang pacar.


“Kita putus mulai sekarang!”


“APA?!” Celisa terperangah dengan kagetnya.


“Mulai sekarang, lo, jauh – jauh dari gue! Cewe munafik!”


“JOOO!! ..” Rengek Celisa dengan kencangnya.


Nathan langsung berlalu setelah memutuskan Celisa secara sepihak.


“Jo,....” Terbersit senyum di wajah Celisa karena Nathan kembali mendekatinya.


Celisa pikir Nathan akan membujuknya, karena selama ini memang Nathan selalu membelanya. Tak perduli


walau ia salah, toh tidak akan pernah dianggap salah oleh Nathan, karena Celisa seringnya memutar balikkan fakta, dan bodohnya Nathan percaya. Sialan! - Hati Nathan yang sadar.


“Lo jangan pernah ganggu si Kevia lagi, atau lo berurusan sama gue!”


Sekarang tidak lagi. Nathan sudah melihat aslinya Celisa tadi. Sudah Iyuh sama cewe yang sejak kelas dua


berstatus pacarnya hingga beberapa menit yang lalu, sebelum kata putus Nathan ucapkan dengan lantang.


“Jo....”


Lirihan Celisa yang kini nangis beneran, Nathan abaikan. Kini Nathan hendak mengejar Kevia, diikuti tiga


temannya yang sempat melirik sambil tersenyum miring pada Celisa.


***


Nathan dan kawan – kawan sudah sampai di kelas Kevia. Cewe itu juga sudah memakai tas ranselnya hendak


pulang, dengan seorang teman cewenya.


“Gue anter!” Nathan berdiri dihadapan Kevia.


“Kan tadi gue bilang apa?. Ga usah, makasih.” Sahut Kevia “Sekarang permisi”


“Gue maksa!”


“Hak lo! Tapi gue ga terima”


“Ck!”


“Iya Via, kamu dianter Jo aja, ya?”


Sony sok imut membantu membujuk Kevia, sementara dua temannya cengengesan ga jelas pada Nathan,


setelah melempar tatapan dengan Sony. Biar ada bahan buat di cie – ciein.


“Makasih. Tapi ga usah. Aku bisa pulang sendiri”


“Lo pakai supir?”


“Iya supir taksi” Sahut Kevia malas.


“Ck!”


Nathan kembali berdecak, namun tetap mengikuti Kevia yang sudah berjalan dengan menggandeng teman cewe


yang bersamanya tadi.


“Pepet terus”


“Jangan kasih kendor udeh. Cocok udah pangeran sekolah sama putri dari kayangan”


“Kendor dikit gue yang maju nih!”


Bisik – bisik tetangga, eh bisik bisik tiga teman Nathan yang ikut berjalan bersamanya mengikuti Kevia dan


temannya dibelakang mereka. “Diam ga lo bertiga?!”


Ketiga teman Nathan kompak terkekeh bersama.


***


“Ih, apaan sih!” Itu suara Kevia yang langkahnya dijegal Nathan saat sudah sampai diparkiran sekolah.


“Gue bilang lo gue anter! Budeg ya?!”


“Gue bilang gue ga mau, elo tuh yang budeg!”


“Hish nih orang! Harusnya lo seneng gue mau repot – repot anter. Yang mau ada diposisi lo nih, hampir cewe satu sekolahan!”

__ADS_1


“Bodo!”


“Cepat ih! Pakai nih helm!”


“Ogah! Awas!”


“Sama aku aja deh yuk Kevia” Teman Nathan yang bernama Ilham menawarkan.


“Iya makasih, tapi ga usah. Permisi sekali lagi” Sahut Kevia.


“Via, gue duluan ya?. Udah dijemput tuh gue!” Teman Via berbicara.


“Oh, iya udah sana”


Teman Kevia pun undur diri dari hadapan gadis itu, Nathan dan tiga temannya.


“Ih Apaan sih?!” Kevia memekik, karena pergelangan tangannya kembali dipegang Nathan. “Iiihhh!!!” Kevia berontak kala Nathan memakaikan nya helm cadangan yang selalu ia bawa. Tapi Nathan memegangi helm yang sudah ia pasangkan ke kepala Kevia itu.


“Kok maksa? Jangan – jangan lo beneran suka sama gue?”


“Kalo iya?”


***


Sejak kejadian Nathan antar Kevia pulang, mereka memang ga langsung jadian. Tapi Nathan suka ngajak Kevia


jalan yang seringnya dijawab dengan penolakan, berujung Kevia mengiyakan kalau Nathan sudah melakukan pemaksaan.


Seperti hari ini, Nathan ngotot ngajak malem mingguan padahal pacar bukan.


Yang selalunya diawali dengan cibiran dari Kevia dan berujung perdebatan, tapi akhirnya Kevia luluh juga kalau Nathan menyerah pasrah untuk mengakhiri perdebatan,


“Itu bokap lo?”


Nathan bertanya kala sudah selesai malam mingguan dan kini ia sudah mengantar Kevia pulang. Seorang pria yang mungkin seumur Daddynya sedang berada diteras rumah, kala Nathan masuk ke dalam pekarangan rumah Kevia.


“Huumm. Ayah biologis gue”


“Tinggal bilang iya aja itu bokap lo. Segala pake bahasa ayah biologis! Lebay!”


“Bodo!” Sahut Kevia ketus seperti biasa, lalu membuka sabuk pengamannya.


“Gue ga ditawarin turun nih?”


“Turun – turun aja. Mampir silahkan, engga lebih bagus!”


Nathan mendengus tapi akhirnya turun juga. Biar ga pacaran kan dia abis bawa anak gadis orang meski ga diapa – apain juga dan anak gadis yang dibawa nyebelin bukan main, tapi anehnya Nathan tak merasa terganggu.


Cuma nge-mol, makan, nonton, pulang. Dan bapak si gadis kebetulan memang ada di teras rumah seperti memang


sengaja menunggu anaknya. Nathan cukup mendapat didikan soal etika. Jadilah ia turun untuk sekedar menyapa.


***


“Sayangnya Papa sudah pulang?”


Benar dugaan Nathan itu ayahnya Kevia, yang tersenyum pada anaknya, kemudian melirik Nathan dan tersenyum juga padanya dengan ekspresi yang ramah.


“Hm” Kevia menyahut seperti itu pada sang ayah yang memeluk dan mengecup pucuk kepala anaknya. Nathan


sedikit merasa aneh pada Kevia, kok ayahnya keliatan sesayang itu padanya, tapi Kevia nampak begitu acuh pada sang ayah.


“Ini pacar Via?”


Papa Via bertanya, pada anaknya juga menoleh pada Nathan yang tersenyum padanya hendak bersalaman.


“Kalo iya kenapa, kalo bukan juga kenapa?”


Kevia dengan ketusnya bicara pada sang ayah, membuat Nathan sedikit tidak suka.


“Bukan Om, saya hanya temannya”


Nathan berkata dengan sopan, mengulurkan tangan yang disambut dengan baiknya oleh papanya Kevia. “Pacar juga ga apa – apa” Sahut papanya Kevia.


“Orangnya kan bilang teman, kok maksa bilang pacar sih anda?” Nathan terperangah, mendengar ucapan Kevia,


ketus, sinis pula pada sang papa.


‘Ini si Kevia apa – apaan sih?’


Nathan membatin.


“Papa kan hanya tanya, Via”


Papanya Kevia menjawab dengan lembutnya, mengelus kepala putrinya.


“Ada cowo antar aku anda tanya dia siapa? Waktu anda bawa ular berbisa itu ke rumah, ada sebelumnya anda


tanya saya?” Kevia memandang sinis pada papanya. Membuat Nathan kini malah jadi salah tingkah.


Papanya Kevia nampak menghela nafasnya, lalu tersenyum kembali mengelus kepala sang putri.


“Ajak masuk ya temannya?” Papanya Kevia berkata dengan sabarnya.


“Aku langsung pulang aja Om”


Nathan memilih untuk tidak jadi mampir, karena merasa aura antara Kevia dan sang Papa itu kok kayaknya ga enak.


“Ga sopan loh, kalau langsung pulang. Masuk dulu. Yuk” Ajak papanya Kevia pada Nathan.


Nathan mengangguk, tak enak menolak. Sementara Kevia sudah masuk duluan kedalam rumah.


***


“Silahkan duduk” Papanya Kevia mempersilahkan.


“Makasih Om” Ucap Nathan sopan.


“Nama kamu siapa?”


“Jonathan Om”


“Oh. Yuk duduk Jonathan”


“Ngapain?” Nathan lagi – lagi terperangah dengan sikap Kevia yang ditujukan pada sang Papa.


Via yang sudah duduk sambil mensedekapkan tangannya, berkata begitu ketus pada sang Papa yang sudah duduk


disampingnya. “Via, apaan sih?” Nathan berbisik disamping Kevia.


“Saya tanya, anda ngapain ikut duduk disini sih?. Temen saya kan dia, bukan temen anda?”


“Vi! Apa – apaan sih!”


Pada akhirnya Nathan tak tahan melihat Kevia yang dimatanya nampak kurang ajar pada sang Papa.


“Maaf, Om” Nathan serba salah, ga enak juga terkesan membentak seorang anak didepan papanya. Tapi Kevia


sudah cukup kurang ajar dimata Nathan.


“Ga apa Nak Jonathan, sudah biasa kok. Via memang judes, tapi sebenarnya baik kok. Iya kan sayang?”


Yang ditanya tak menjawab. Nathan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


‘Via kenapa sih?. Kok begini sama papanya?. Padahal kayaknya papanya ini sayang banget ke dia’


“Mas...” Seorang wanita cantik datang dari arah dalam rumah. Pikir Nathan itu pasti mamanya Kevia, membuat Nathan langsung berdiri dari duduknya. “Eh, ada tamu”


“Malam Tante” Nathan mengulurkan tangannya.


“Awas hati – hati kegigit ular berbisa!”


‘Apalagi ini?’


Nathan membatin lagi. Bertanya – tanya sendiri ada apa dengan Kevia  dan orang tuanya. Kevia seolah benci sekali, meski si Papa nampak begitu sabar dan amat menyayanginya.


“Via, kamu bisa ga sekali aja hargai aku sebagai mama kamu, setidaknya dihadapan orang lain?” Ucap wanita


yang Nathan kira adalah mama Kevia.


“Liv, sudahlah” Papanya Via bersuara. Berdiri dari duduknya.


“Berapa harga kamu memang?” Kevia yang berkata. "Waktu suami mama saya beli kamu berapa harganya?"


‘Astagaaa!’ Nathan terperangah lagi sampai mendelikkan namanya.


“Via... jangan begitu bicaranya”


Papanya Via kini menatap putrinya.


“Kenapa memang?. Tadi bilang minta dihargai, ditanya berapa malah sewot gimana sih?” Ucap Kevia lagi dengan


datar namun matanya menatap tajam pada wanita yang nampaknya sedang hamil itu.


“Via sudah”


“Lihat Mas, anak kamu, ga ada sopan – sopannya sama orang tua!”


“Siapa yang anda sebut orang tua, hah?!” Via berdiri tiba – tiba nampak ada sejumput emosi dimatanya. “Siapa


yang lo sebut orang tua wanita ular?!” Memekik dan menunjuk – nunjuk kemudian pada wanita yang tadi mengadu pada sang papa.


“Via”


“VI!”


Papanya Kevia dan Nathan sama – sama bersuara bersamaan. Nathan sampai juga berdiri dari duduknya.


“Sudah dong Via, ga enak sama nak Jonathan kan?”


“Heh? Ga enak?”


Kevia terkekeh sinis.


“Waktu anda berselingkuh dibelakang mama kalian enak – enak aja. Waktu mama mati terus ga lama kalian nikah pun saya lihat anda enak – enak aja, enak banget malah kan? Sampai – sampai itu calon anak ular dan suami ga ada akhlak ada diperut itu perempuan!”


Ah ya Tuhan, Nathan mau pulang saja.

__ADS_1


***


To be continue ...


__ADS_2