THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 182


__ADS_3

  PUSING PALA ABANG 


 


Selamat membaca .....


 


Massachusetts, USA


‘Hubungi Drea sekarang apa ya?.’


Varen melirik jam tangannya saat dia sudah menyelesaikan satu mata kuliah dan sudah keluar dari ruang kelasnya.


“Hei Varen!.”


Varen langsung menoleh ketika ada sebuah suara yang memanggilnya. Varen pun langsung mengangkat tinggi tangannya pada orang yang memanggil barusan.


‘Nanti sajalah gue menghubungi Drea kalau begitu.’ Varen membatin dan teman yang memanggilnya kini sudah mendekati Varen bersama satu orang lainnya.


“Let’s go to Trident, I’m kinda hungry!. (Ayo ke Trident, gue agak lapar!).” Teman yang memanggil Varen itu mengajaknya ke sebuah Cafe yang tak jauh dari kampus mereka.


Varen nampak berpikir sejenak. “Why don’t we go to my Apt?. We need to discuss about the next step if Mr. Aaron refused our proposal. (Kenapa ga ke Apartemen gue aja?. Kita harus membicarakan tentang langkah yang lain jika Tuan Aaron menolak proposal kita).”


Varen mengusulkan.


“I’ll order lunch for us. (Sekalian nanti gue pesankan makan siang untuk kita).” Ucap Varen.


“Okay!.”


**


“Why you turn off your comment field at IG?. (Kenapa lo mematikan kolom komentar lo di IG?).” Tanya seorang teman wanita Varen.


“Lazy to read some disturbing unimportant comments. (Malas untuk melihat beberapa komen tidak penting yang mengganggu).”


“Blame God who give you that perfect shape of face. (Salahkan Tuhan yang memberimu wajah begitu sempurna).”


“Agree. Young, Handsome and rich yo?.. (Setuju. Muda, Tampan dan kaya yo? ..).”


“You guys talk too much!. (Ngomong aja kalian!).” Sahut Varen atas candaan tiga temannya itu.


“Hahahaha ..” Tiga teman Varen itupun tertawa dan tak lama mereka pun sampai di Apartemen Varen.


**


“Mister Aaron said he will call me this noon to give his answer. (Tuan Aaron bilang dia akan menghubungiku siang ini untuk memberikan jawabannya).”


Varen mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan meliriknya sebentar.


“Here, hold it. I want to go to change. Just answer if there’s any calls and you guys order anything for our lunch. (Ini, pegangin. Gue mau ganti baju dulu. Jawab aja kalau ada panggilan dan kalian pesanlah apapun untuk makan siang kita).”


“Okay!.”


**


“Where the hell is he?! ( Dimana dia sialan?! ).”


‘Eh?.’ Varen mendengar suara seseorang yang ia hafal betul.


Ia langsung menutup pintu kamar dalam Apartemennya cepat – cepat.


“.........”


“Who?. (Siapa?).”


“His sister, I guess.... ( Adiknya, kurasa ) ....”


“Ya you right, I recognize her face. (Oh iya lo benar, gue kenal wajahnya). But she looks upset. (Tapi sepertinya dia kesal)” Tiga orang teman Varen itu sedang kasak – kusuk tentang cewe yang wajahnya terpampang di layar ponsel Varen.


“Where the hell Varen is?! ( Dimana Varen?! ). Are you deaf, damned girl?! You should never offhand Varen’s phone! ( Apa lo tuli, cewek sialan?! Lo seharusnya jangan sembarangan mengangkat telponnya Varen! ).”


Tiga teman Varen itu langsung tersentak kaget saat mendengar cewe yang ada disebrang ponsel itu berbicara dengan nada suara yang agak tinggi dengan raut wajah yang amat sangat tak bersahabat.


“Varen .... “


Teman Varen yang satu – satunya wanita itu dan nampak gugup untuk menjawab, tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Varen sudah tiba dan meraih ponselnya.


‘Astagaaa..’ Varen membatin “Andrea???!!!!....” Varen menatap tiga temannya itu. “Sorry ..”


Tiga teman Varen mengangkat jempol mereka pada Varen dan Varen pun mengkode kalau ia akan menerima panggilan di kamarnya.


**


“Kamu kenapa kasar begitu sih?! ....”

__ADS_1


“Dia itu sudah kurang ajar main terima ponsel Abang! ....”


“Drea! Jaga bicara dan sikap kamu! Dia itu teman Abang!. Kenapa kamu kasar begitu?. Abang ga pernah mengajarkan Andrea untuk tak sopan pada orang lain seperti itu. Dan Abang tak suka!. Dia itu teman satu tim Abang, dan memang Abang yang menitipkan pesan padanya untuk menerima panggilan .... kamu apa – apaan sih!.” Varen mencerocos pada Andrea dan memang nampak sedikit kesal pada Andrea yang rada judes itu kalau ia merasa tak suka.


Tak ada sahutan dari Andrea.


“Kamu bisa bicara dan bertanya dengan sopan padanya!. Jangan kasar begitu ..."


Klik!


Panggilan Video dari Andrea itupun diputuskan secara sepihak oleh Andrea tanpa ba-bi-bu lagi.


“Drea!.” Seru Varen. “Hish!..”


Varen hendak menghubungi balik tapi kemudian ada panggilan telpon yang masuk ke ponselnya. Panggilan dari seorang Investor yang memang sudah ditunggu Varen dan teman – temannya itu. Varen buru – buru mengangkat panggilan telpon tersebut lalu berjalan keluar dari kamar untuk kembali pada tiga temannya yang ada di ruang tamu Apartemennya.


Lalu mereka bersama – sama berbicara di saluran telpon dengan si pemanggil.


**


Varen melirik arloji dipergelangan tangannya saat tiga temannya tadi sudah pulang.


‘Drea sudah tidur belum ya?.’ Varen membatin.


Ia kemudian masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya disana sembari memegang ponselnya dan melihat – lihat laman aplikasinya.


“Abang dimana?.”


“Abang sibuk banget apa?.”


“Abaaanggggg!!!.”


Varen menyunggingkan senyum saat membaca chat Andrea yang masuk sejak pagi tadi sepertinya. Yang belum sempat ia lihat dan baca karena ada kuliah pagi dan Varen mematikan ponselnya selama perkuliahan berlangsung.


Varen mengecek jam terakhir Andrea aktif diaplikasi chat tersebut. Dan terakhir Andrea aktif adalah saat Varen memarahinya dan Andrea memutuskan panggilan dengan tiba – tiba. Varen mengecek rentetan status, dan nama Andrea tidak ada diupdate status terbaru. Aneh, karena biasanya Andrea itu sering menulis segala macam kalau ia sedang kesal. Hanya status terakhir Andrea yang bertuliskan kalau ia mau makan Toppoki.


Varen mencoba menghubungi Andrea. Tiga kali mencoba dan hanya nada sambung yang terdengar ditelinganya. ‘Sudah tidur mungkin.’ Varen juga mengecek grup keluarga. Tapi sepi, sepertinya semua orang sedang sibuk karena tidak ada obrolan terbaru sejak kemarin di grup keluarga.


Varen kembali membuka nomor kontak Andrea dan mengetik sebuah pesan dalam chat pribadinya dan Andrea.


“Little Star”


Centang satu.


“Ck. Dimatikan lagi nih ponselnya. Ngambek pasti ini dia gara – gara gue marahi tadi.”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam Abang Sayang..”


“Lo dimana?. Berisik banget!.”


“Biasalah anak muda.. kayak ga tau aja.”


“Gue kira lo di rumah.”


“Kenapa memang, Bang?.”


“Gue mau tanya Andrea sudah tidur atau belum?. Ponselnya ga aktif kayaknya.”


“Haha .. di ambekin lo ya?.”


“Ya udah. Berisik banget! Pulang cepat lo!.”


“Iya Iya Abangku Sayang, bentar lagi juga gue mau pulang. Eh iya Bang, itu cewe yang dipostingan lo, pacar lo Bang?.”


“Hah mau tau aja lo!. Bigos!. Dah Bye!.”


Varen pun langsung mematikan panggilan telponnya pada Nathan dan akhirnya terlelap meski hari masih agak sore. Namun Varen merasa agak lelah dan tidurnya memang kurang sejak kemarin.


**


Jam delapan malam waktu setempat di tempat Varen berada. Varen bangun dan mengambil wudhu serta lanjut beribadah.


“Ngambek beneran ini kayaknya.” Gumam Varen saat ia sudah selesai melakukan ibadah dan meraih lagi ponselnya mengecek chat yang ia kirimkan ke ponsel Andrea yang ternyata masih centang satu. Kurang lebih sudah jam lima subuh waktu Jakarta pikir Varen, jadi ia mencoba menghubungi Nathan lagi dan sialnya ponsel si Tan – Tan kali ini tidak aktif.


Varen berdecak sebal. Ingin menghubungi salah satu Daddy yang ada di Kediaman Utama, tapi rasanya sungkan kalau menelpon mereka dijam segini, kecuali jika ada hal yang mendesak. Varen membawa ponselnya keluar dari kamar dan menuju dapur minimalis di apartemennya untuk membuat sesuatu karena ia sedikit merasa lapar.


**


Dua sudah jam berlalu, Varen meng gelesor malas di sofa ruang santainya. Mengecek lagi jalur pribadinya dengan Andrea dalam sebuah aplikasi, namun tanda centang satu itu belum juga berubah.


Mencoba lagi menghubungi Nathan tapi masih belum aktif sepertinya itu ponsel si Tan – Tan. “Hish!.” Varen menggerutu kesal.


Pada akhirnya ia pun memutuskan untuk menghubungi para Daddies yang ia ketahui sedang berada di Kediaman Utama di Jakarta.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum ..” Varen menyapa dengan salam.


“Wa’alaikumsalam..” Suara Daddy Dewa dari sebrang ponsel. “Aduuuh Abaang ...”


Setelah tidak berhasil menghubungi Mami dan Papi serta Nathan, Varen akhirnya menghubungi Daddy Dewa karena pria itu baru saja menyapa semua orang di grup keluarga.


“Kenapa Dad?.” Varen sedikit heran.


“Eh Bang, Itu yang dipostingan cewe kamu?.”


“Ck! Bukanlah!.”


“Beneran, bukan?.”


“Bukan Daad ..”


“Little Star sudah tahu kalau itu bukan cewe kamu?. Kan kamu tahu sendiri itu Drea kayak apa ke kamu. Ga boleh Abangnya deket – deket cewe lain.”


“Kemarin aku sudah kasih tahu kalau Frida itu teman satu tim dalam bisnis yang sedang aku bangun, tapi dia keburu ngambek gara – gara aku marahi.”


“Kamu?... Marahi Drea?.”


“Ya habis dia bicara kasar pada teman – teman aku. Aku ga enaklah sama mereka. Nah dari tadi sore aku coba hubungi Drea tapi ga bisa – bisa, chatnya juga Cuma tercentang satu belum berubah sampai sekarang.” Cerocos Varen. “Aku cek post di IG nya juga belum ada postingan terbaru. Tumben biasanya pagi – pagi dia kan sudah kerajinan menyapa para followernya.”


“Haish, Abang .. Abang .. pantas aja si Drea ngamuk semalam.” Ucap Daddy Dewa.


“Ngamuk?.”


“Yap!.”


“Ngamuk bagaimana Dad?.”


“Ponselnya dia lempar menghantam Televisi di kamarnya.”


“Hah?!.”


“Makanya chat kamu hanya centang satu. Itu ponsel sudah tak berbentuk.”


“Astagfirullaahhhh ....” Varen terdengar setengah frustasi dia sampai menutup mulutnya. “Masa sampai begitu sih, Dad??.”


“Ya gara – gara kamu marahi dia kali. Selama ini kan ga pernah. Malah kamu yang seringnya nge belain Drea kalau Poppa sama Momma marahi dia.”


“Haduuhhh Drea... Drea ..” Ucap Varen yang tak habis pikir kalau Andrea sampai melemparkan ponselnya ke Televisi. “Dad dimana ini?. Sambungkan aku dengan Drea.”


“Dad masih di kamar, baru mau turun. Kesiangan.” Sahut Daddy Dewa. “Tapi sepertinya dia sudah berangkat ke Sekolah sih. Tapi ga tahu deh nih, Drea sekolah apa engga hari ini.” Sambung Daddy Dewa. “Coba Dad lihat sekalian Dad turun. Mau kamu matikan dulu ini panggilan?.”


“Aku tunggu saja Dad. Biar kalau Drea masih ada, Dad bisa langsung berikan ponsel Dad padanya agar aku bisa langsung bicara.”


Varen memijat pelipisnya.


‘Ya ampun Little Star.’


“Okay.”


**


“......”


“Bang.” Panggil Daddy Dewa, setelah Varen seperti mendengarnya bicara dengan seseorang


“Ya Dad?.”


“Barusan Adis bilang Drea sudah berangkat ke Sekolah.”


“Oh, ya sudah. Paling engga dia mau berangkat ke Sekolah. Mungkin ngambeknya ga terlalu berlarut – larut.”


“Kapan mau kesini?.”


“Mungkin satu atau dua bulan lagi, Dad. Aku selesaikan urusan bisnis yang baru aku rintis dulu ini.”


“Ga mau kesini, membujuk itu Little Star kamu?.”


“Kalau dekat aku sudah kesana sejak semalam, Dad.” Sahut Varen dan terdengar kekehan kecil dari sebrang telpon.


“Ya sudah kalau begitu.” Ucap Daddy Dewa dan kemudian Varen memutuskan panggilan telponnya.


“Little Star ... kenapa kamu jadi temperamental begini sih?..” Gumam si Abang yang lagi - lagi memijat pelipisnya.


 


Siapin jantung ya Abaaanggggg .. mungkin akan ada kabar lebih mencengangkan nanti ..


**


To be continue..

__ADS_1


Sekroolll ke bawah.. hari ini emak bae, ditambahin dua episode sekaligus


__ADS_2