THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 36


__ADS_3

♥ BELONG TO ME ♥ Milikku ♥ #2


****************


Selamat membaca.....


*******


“Christ apa kamu masih mengawasi, Prita?.” John sedang menghubungi orang suruhannya.


“Tidak Tuan.” Jawab pria yang dipanggil Christ itu. “Tuan bilang saya sudah tidak usah mengawasi lagi Nona Prita setelah saya mengantarkan mobilnya.”


“Oh ya sudah.” Sahut John.


“Apa anda ingin saya mengecek keberadaan Nona Prita sekarang?.”


“Kamu sedang beristirahat, Christ.”


“Saya sudah cukup beristirahat, Tuan.”


“Baiklah. Jika memang memungkinkan, tolong kamu lihat Prita apa dia masih berada di kafe atau tidak. Saya coba menghubunginya barusan tapi tidak bisa.” Ucap John pada orangnya yang bernama Christ itu.


“Baik Tuan, saya akan mengecek titik gps Nona Prita sekarang.”


“Oke. Tolong ya Christ. Saya sedang bersama beberapa teman soalnya saat ini. Sinyal didalam sini rasanya sedikit susah.” Ucap John lagi.


“Baik Tuan.” Sahut Christ. “Akan saya infokan tentang keberadaan Nona Prita pada Tuan nanti.”


“Oke, Christ. Kabari saya via pesan jika kamu kesulitan menghubungi saya.”


“Baik Tuan.”


**


“John!.” Panggil salah seorang pria yang menghampiri John.


“Yap?.” Sahut John.


“Lagi apa sih lo?.”


“Hanya menelpon sebentar.”


“Udah selesai?.” Tanya teman John itu.


“Sudah.”


“Ayo lah, masuk. Para wanita sudah menanyakan lo, terutama si Emy.”


“Ck!. Malas gue sebenarnya kalau ada dia.” Ucap John. “Risih ditempel terus sama dia.!.”


“Yah lumayan buat celupan lo malam ini.”


John dan temannya itu terkekeh.


“No, Man. Dia masa lalu lah..”


“Ya hitung – hitung lo nostalgia ranjang sama mantan.”


“Sialan lo, Den!.” Sahut John cepat.


“Tapi kayaknya si Emy kasih sinyal – sinyal mau balik sama lo, John.” Ucap temannya John lagi.


“Honestly, No. ( Jujur gue ga mau ) gue ga punya ketertarikan lagi pada wanita itu. Dia masa lalu.” Ucapnya sambil terkekeh. ‘Masa depan gue si Prita. Hanya dia aja yang gue mau!.’ Batin John bermonolog.


“Ya udah kita masuklah.”


“Okay.”


**


Sementara itu ditempat lain...


“Lah lo kok balik lagi kesini, cun?.” Diana sedikit terkejut dan heran melihat Prita kembali datang ke apartemennya. “Lo bukannya mau balik ke rumah orang tua lo?.”


“Ga jadi. Gue mau have fun ini malem.”


“Ke?.”


“Tristan ajak ke Leon. Ada temennya yang ngajak nongkrong disana katanya.” Ucap Prita. “Dan Tristan ga punya partner jadi dia ajak gue.”


Diana manggut – manggut. “Nanti lo pulang kesini?.”


“Nanti gue kabarin lah. Lo mau ikut ga?.”


“Ogah amat gue ngintilin elo. Gue juga mau kopi darat sama gebetan baru gue!.”


“Dapet kenalan cowok dari mane lagi lo?.” Ucap Prita seraya bertanya sambil memilah milih baju dilemari Diana.


“Ada deh....”


Prita geleng – geleng malas. “Eh Na, jumpsuit overall gue yang biru backless ada disini kan ya?.”

__ADS_1


“Ada. Lo cari aja itu di gantungan.”


“Oh iya ini dia.” Prita menemukan pakaian yang ia cari, dan langsung mengeluarkannya dari dalam lemari Diana.


Ia pun langsung bersiap – siap, begitu juga Diana yang sama – sama punya janji diluar.


**


‘Dih, hape gue mana?. Ck. Ketinggalan di kamarnya si Diana nih kayaknya.’ Prita membatin karena tak menemukan ponselnya dalam clutch bag yang ia bawa.


“Kenapa, babe?.” Tanya Tristan dan Prita sebenarnya agak sedikit kurang nyaman dengan Tristan yang memanggilnya ‘Babe’ barusan.


“Hape gue kayaknya ketinggalan di apartemennya Diana.”


“Oh, mau aku puter balik?.”


“Ga usahlah.”


“Oke.” Sahut Tristan. “By the way Prita, malam ini kamu cantik banget.”


Prita tersenyum.


“Thanks.”


**


‘Tuan, saya coba menghubungi Tuan tadi tapi sulit tersambung. Nona Prita sudah keluar dari kafe Nyonya Fania sejak beberapa jam yang lalu. Titik GPS nya ada di apartemen temannya yang bernama Diana, Tuan.’


Sebuah pesan masuk ke ponsel John yang kini sedang dibaca oleh laki – laki itu.


‘Ish ini anak, katanya mau pulang ke rumah Keluarga Cemara.’ John melirik arlojinya.


“Mau kemana sayang?.”


“Sorry Em, I want to make a call ( Sorry Em, aku mau menelpon dulu ).” John berdiri dari duduknya dan segera mencari tempat yang tidak terlalu bising dan sinyalnya stabil untuk melakukan panggilan.


John berusaha menghubungi Prita.


‘Lagi ngapain sih itu anak?.’ Batin John menggerutu karena sudah dua kali coba menghubungi Prita tapi panggilannya tidak terjawab. ‘Ck!.’


Trrriiiinnng ...


Ponsel John berdering tak lam ia selesai dari mencoba menghubungi ponsel Prita.


“Ya Christ?.”


“Tuan, saya baru saja mengecek apartemen temannya Nona Prita yang bernama Diana. Menurut resepsionis apartemen, mereka berdua pergi tapi tidak bersama. Nona Prita pergi bersama seorang pria.”


“Apa?!.”


‘Tristan ..!.’


Tangan John mengepal geram.


“Temukan Prita sekarang, Christ!.” Perintah John.


“Baik Tuan.”


‘Berani – berani ganggu milik gue!.’


****


Perhatian beberapa mata para kaum Adam yang tak sengaja memandang kearah saat Prita memasuki sebuah tempat yang siang lebih nampak seperti restoran dan memang sebuah restoran yang jika malam lebih terasa sebuah klub, di kawasan Jakarta Selatan, lumayan teralihkan.


“Wow, lucky me. ( Aku memang beruntung ). Membawa kamu malam ini, Prita.”


Tristan berbicara ditelinga Prita karena suara musik cukup bising didalam tempat tersebut meski malam belum larut.


“Kenapa gitu?.”


“Tuh buktinya mata mereka memandang iri ke aku.”


Tristan menunjuk dengan kepalanya ke beberapa pria yang ada didekat mereka.


Prita menoleh sebentar kemudian terkekeh. “Resiko kalo jalan sama cewe cakep kayak gue.” Ucap Prita pede sambil terkekeh.


“Hahaha, iya.” Sahut Tristan. ‘Dan penampilan kamu yang lumayan menggoda juga membuat mereka tak tahan. Termasuk aku.’


“Yuk ah. Mana temen – temen kamu?.”


“Yuk.” Tristan meraih pinggang Prita dan mereka berjalan ke salah satu sudut dimana ada sofa panjang dan meja yang sudah dipenuhi dengan berbagai macam minuman.


“Hei, Tristan.”


Teman – teman Tristan menyapa laki – laki itu dengan senyuman lebar, lalu melirik Prita.


“Wow. Gila lo Tris, dapet yang begini dimana?.” Celetuk salah seorang teman Tristan.


Tristan terkekeh dan Prita tersenyum ramah.


“Kenalin lah!.”

__ADS_1


Tristan lalu memperkenalkan Prita pada semua orang yang ada disalah satu sudut meja dalam klub tersebut. Beberapa pria dan wanita yang Prita rasa adalah teman – teman Tristan, dan mereka pun menyambut Prita dengan baik, hingga gadis itu dapat dengan mudah berbaur. Selain Prita memang orang yang supel seperti kakaknya.


“Lo ga minum, Prita?.” Celetuk salah seorang cewe dimeja tersebut, disela mereka ber haha hihi.


“Hmm, gue pesen dulu deh kalo gitu.” Sahut Prita yang langsung berdiri dari duduknya.


“Kamu mau kemana, Babe?.” Tanya Tristan yang ikutan berdiri.


‘Ish, serasa udah jadi cowok gue aja ni orang.’ Batin Prita bermonolog yang merasa dirinya sedikit merasa risih dengan panggilan dan sikap Tristan saat ini padanya, yang lagi – lagi merangkul pinggangnya mesra. “Gue mau ke bar dulu.”


“Kamu mau dipesenin apa?. Biar aku yang ke bar, aku ga rela kamu dideketin cowo lain nanti.”


‘Lah, gue mah cewe bebas.’


Prita membatin lagi.


“Aku mau memilih sendiri.”


Tristan tersenyum.


“Ya udah ayo. Sama aku.”


“Oke.”


***


“Tequila?.” Tristan menawarkan satu jenis minuman saat ia dan Prita sudah berada dimeja bar.


Prita menggeleng.


“Classic cocktail aja.”


“Oke.”


Tristan kemudian langsung memesan minuman yang diinginkan Prita juga memesan minuman untuk dirinya sendiri pada seorang Barista.


“Satu classic cocktail and satu absinthe.”


Barista yang melayani orderan Tristan pun mengangguk.


“Prita.” Tristan menatap pada Prita saat pesanan mereka sudah jadi dan diletakkan diatas meja bar depan mereka.


“Ya Tris?.” Prita menyahut dan menoleh pada Tristan sambil meraih minumannya.


Tristan tersenyum dan menggenggam satu tangan Prita.


‘Eh?.’


“Aku serius Prita, tentang perasaan aku kekamu.” Tristan mendekatkan dirinya lagi pada Prita.


“Soal itu ya ..”


“Please, beri aku kesempatan. Kita coba ya?.” Tristan membelai wajah Prita dengan tangannya.


‘Ini dia mau cium gue?.’


**


“Temukan Prita sekarang, Christ!.” Perintah John.


“Baik Tuan.”


‘Berani – berani ganggu milik gue!.’


John lalu kembali ketempat tadi dia berkumpul bersama teman – temannya setelah memutuskan panggilan dengan


Christ. Ia lebih dulu menghampiri beberapa teman prianya yang sedang berdiri didekat reling kaca sambil mengobrol dengan tawa lebar seperti sedang membahas sesuatu.


“Guys, sepertinya gue pamit untuk pergi duluan.” Ucap John pada teman – temannya itu.


“Ayolah John, masa baru sebentar lo sudah mau balik?.” Celetuk salah seorang temannya.


“Ada hal penting yang harus buru – buru gue urus.”


John berbicara pada salah seorang temannya itu, sambil melirik dua temannya yang lain sedang cengengesan dan memandang kesatu arah.


“Ngapain itu mereka?. Senang banget kayaknya. Dapat calon mangsa yang lagi diincar?.” Ucap John sambil terkekeh.


“Yoi. Cakep sih kayaknya kalau dari sini. Tapi bodinya yang lebih nampak nyata.” Teman John menyeringai Jahil.


“Kayak apa sih?.” John penasaran. ‘Gue yakin masih bagus body si Prita.’


**


“Liat dulu, tuh!.”


‘Ga akan tergoda gue dengan wanita lain. Hanya Prita seorang udah.’ Batin John. ‘Prita ....’


“Tuh!.” Salah satu teman John merangkulnya sambil menunjuk saat wajah gadis itu tak lagi menyamping.


‘Prita....?!!!.’

__ADS_1


*


To be continue ...*


__ADS_2