
♦ MIRACLE ANDREA ♦
Part 2 (Bagian Dua)
*************************
Selamat membaca.....
**************************
“Ya Allah Drea.. kok sampai begini?.”
“Kak Jo.” Arya menyapa Nathan. Dan Nathan langsung dengan cepat menghampirinya.
Nathan meraup kasar kerah seragam Arya. “Lo! Lo gue suruh jagain dia selama disekolah karena BG nya tunggu di luar Arya!. Kenapa lo sampe kecolongan dan si Drea sampai begini?!.” Ucap Nathan geram sambil melotot pada Arya.
“Jo!.” Sony mencoba melepaskan tangan Nathan dari kerah seragam adiknya. Mengingatkan kalau mereka sedang berada di ruangan Kepala Sekolah dan ada Pak Rizal si Kepsek serta beberapa guru yang bersamanya.
“Iya Kak, sorry. Tadi pagi juga gue anter dia sampe kelas. Tanya tuh Drea. Gue tadi langsung sarapan ke kantin, jadi gue ga tau kalo si Tasya sama temen – temennya itu nyamperin ke Drea sampe ke kelasnya.”
“B*go lo!.” Nathan menepak kepala Arya. “Pasti itu salah satu cewe lo kan? Makanya dia ganggu si Drea?!.”
Nathan masih mencecar Arya, tanpa memperdulikan Kepala Sekolah dan guru – guru yang ada yang sepertinya juga agak sungkan menegur Nathan. Sungkan menegur salah satu keturunan dari keluarga yang menjadi donatur terbesar sekolah tersebut. Sementara Sony, kakak Arya hanya bisa geleng – geleng saja.
Andrea hanya memperhatikan Nathan yang sedang memarahi Arya. Namun Andrea diam saja.
“Aduh ..” Arya mengusap kepalanya. “Ya ampun bukan Kak! Piala bergilir gitu gue sih ogah!.” Arya menyanggah tuduhan Nathan.
“Lo lihat tuh adek gue! Dia pasti shock gara – gara dibully sampai ancur – ancuran gitu!. Sampe diem bengong begitu!.” Ucap Nathan lagi masih geram pada Arya. Arya menoleh sebentar pada Andrea.
**
Waktu sebelumnya ....
BRUAK!!
“AAA!!! .....”
Pekikan yang terdengar memilukan terdengar setelah satu bangku yang didorong dengan sekuat tenaga menghantam kaki belakang seorang siswi wanita yang sedang berjalan ke arah luar kelas.
DUAK!
Siswi wanita yang kakinya terkena hantaman keras sebuah kursi yang mirip dengan kursi anak kuliahan dengan meja yang tertempel itupun langsung terjerembab kedepan dan kepalanya menghantam pinggir meja guru yang berada di depan ruang kelas.
“TASYA!..” Kedua teman siswi yang jatuh kemudian nampak pingsan itu langsung mendekati teman mereka yang bernama Tasya itu, yang tadi sudah mencibir, menghina dan merundung Andrea sampai menuangkan Spaghetti ke atas kepala Andrea.
Dan kini siswi yang merupakan kakak kelas Andrea ini nampak tak sadarkan diri. Namun Andrea tak ambil perduli.
‘Salah sendiri.’ Batin Andrea.
“Andrea ..”
Teman – teman sekelas Andrea berkata pelan menyebut nama Andrea, sampai melongo tak percaya dengan apa yang sudah si Culun itu lakukan barusan. Andrea yang selalu ceria dan ceriwis meski penampilannya bak kutu buka dan anak aneh, namun ia supel dan baik hati, suka merelakan PR nya di kerubutin teman sekelas sampe bukunya lecek.
Namun Andrea yang sedang mereka lihat saat ini bak dua orang yang berbeda, berwajah sama, namun kepribadiannya berbanding terbalik dengan yang selama ini mereka lihat.
Andrea yang sekarang, yang memang berwajah masam saat datang, kini wajah itu bukan lagi masam, melainkan ketat dan dingin, sambil menatap tajam ke arah tiga kakak kelasnya berada sekarang, Lalu mengelap kacamatanya dan memakainya lagi.
“PANGGIL THEO!.” Teriak salah seorang teman Tasya yang membantu Tasya untuk disandarkan ditembok dalam kelas Andrea. “CULUN SIALAN!.”
“Kalian yang mulai.” Ucap Andrea pelan.
“EMANG KURANG AJAR LO!.”
PAKK!
Andrea menangkis tangan teman Tasya yang berjalan dengan wajah geram kearahnya sambil mengangkat tangannya.
DUAK!
Kaki Andrea yang menggunakan sepatu berwarna hitam itu mendarat dengan cukup keras diperut teman Tasya yang mencoba menyerangnya barusan. Hingga siswi itu terhuyung hingga jatuh terduduk di lantai kelas.
“Argh ..”
Siswi itu merintih, dan ia berusaha bangkit kembali.
“AN**NG!.” Siswi itu mengumpat kasar.
PLAK!
“Mulut dijaga!.” Andrea tak membiarkannya bangkit. Kini ia sudah menduduki perut siswi salah seorang teman Tasya, sebelum siswi itu sempat bangkit karen Andrea sudah keburu mendorong tubuh serta langsung mendudukinya. Telapak tangan Andre pun sudah mendarat dipipi siswi tersebut, dengan satu tangan Andrea mencengkram kuat kedua tangan siswi tersebut hingga ia tak mampu melawan.
PLAK!
PLAK!
“Karena teman lo itu pingsan, jadi lo yang wakilkan ini tamparan.” Ucap Andrea datar namun tangannya bergerak cepat menampar pipi siswi dibawahnya hingga empat kali.
PLAK!
PLAK!
“Ampuuun..” Siswi itu akhirnya menyerah kalah dengan merintih bahkan sudah menangis dengan pipi yang nampak merah, mungkin bengkak sebentar lagi.
“Andrea..” Teman – teman sekelas Andrea memanggil namanya lagi saat melihat kakak kelas mereka sudah hampir tak berdaya dibawah Andrea. “Udah Drea..” Mereka mengingatkan tapi takut untuk melerai bahkan mendekat. Andrea pun bangkit.
Sementara kakak kelas yang barusan ditampar berkali – kali oleh Andrea masih telentang ditempatnya dengan memegangi perut dan pipinya sambil merintih.
“YA AMPUN TASYA!!!.”
Seorang murid laki – laki datang dengan teman Tasya yang tadi berlari keluar, berikut beberapa murid laki – laki dan perempuan lain dibelakang mereka, yang sepertinya adalah teman – teman Tasya dan siswa yang sedang berjongkok sambil mencoba membangunkan Tasya yang kepalanya nampak benjol dan sedikit berdarah.
__ADS_1
“INI KERJAAN DIA TUH!!! ..”
Teman Tasya yang memanggil siswa bernama Theo itu langsung menunjuk kearah Andrea dengan suara yang kencang.
“BAWA TASYA KE UKS CEPET!.”
Siswa bernama Theo itu memberi perintah dan tiga orang temannya langsung menggotong Tasya.
“WOY!!! .”
Siswa yang tadi berjongkok disamping Tasya kemudian berdiri dan menunjuk Andrea yang menoleh malas padanya. Dan dua siswa dan siswi lain membantu teman Tasya yang terkulai merintih di lantai tak jauh dari Andrea.
“KURANG AJAR LO YA BERANI LO BIKIN TASYA SAMPE PINGSAN! CULUN SIALAN!.” Wajah siswa bernama Theo itu nampak sangar menatap dan menunjuk Andrea yang bergeming ditempatnya.
“Dia yang mulai duluan.”
“DIEM LO!!.” Theo sudah mengangkat tangan dan menggerakkannya untuk melayangkan tamparan diwajah Andrea.
SET!
Andrea menangkis dan menahan satu tangan Theo yang hendak melayangkan tamparan padanya itu. “Jangan ganggu gue.”
“BA**SAT!.” Theo mengangkat tangannya yang satu lagi.
“Gue bilang jangan ganggu gue.”
BUGH!
DUAK!
Sreeeeettt ...
Satu pukulan berikut tendangan yang cepat dari Andrea sukses mendarat di hidung dan perut Theo. Membuat siswa itu terhuyung ke belakang sembari merasakan dan memegang hidungnya yang kemudian mengeluarkan darah. “BRENGSEK!.”
Rok Andrea pun nampak sobek dipinggirnya.
Theo nampak tak terima. Wajahnya makin terlihat sangar dan memerah karena marah.
Theo kembali lagi hendak menyerang Andrea, sudah tak memperdulikan lagi kalau Andrea itu perempuan, akibat Theo merasa malu karena dipukul dan ditendang Andrea dihadapan para siswa yang lain, termasuk teman – temannya.
Kakak kelas seangkatan Arya yang Andrea tahu kelompoknya bersebrangan dengan kelompok Arya. Salah satu siswa sombong atas status sosialnya. Tengil dan suka merendahkan orang lain. Sama itu kek si Tasya.
Theo dengan cepat bergerak untuk memukul Andrea dengan tangannya yang kini terkepal.
“I SAID, LEAVE ME ALONEE!! .... ( GUE BILANG JANGAN GANGGU GUEEE!!.. ).”
Andrea pada akhirnya berteriak. Nampak kesal, wajahnya yang datar kini sudah berubah nampak singit, sedikit bengis berikut rona merah di wajah putihnya, yang menandakan kalau Andrea sudah cukup tak senang sekarang.
Dan siswa - siswi yang mendengar teriakan Andrea itu kemudian berkumpul untuk melihat dan mencari tahu apa yang terjadi.
BUGH!
Satu pukulan melayang lagi dari tangan Andrea yang sudah terkepal kuat. Theo dipukulnya lagi lebih kencang dan bertenaga dari sebelumnya.
Membuat Theo lagi – lagi terhuyung dengan lebih keras hampir jatuh ke lantai, namun ia bertahan dengan satu lututnya.
Grep!
“AKAN GUE TUNJUKIN SAMA LO SIAPA YANG BERKUASA DISINI!.”
“Don’t... Ever.. Dare... To Touch Me! .. ( Jangan.... Pernah..... Berani .. Menyentuh Gue! )....”
DUAAAKK!!
Andrea memutar tangannya, posisi berganti dia memegang kedua tangan siswa yang memeganginya lalu mengayunkan tubuh keduanya hingga bertubrukan dengan keras.
“ARRRGH!!!!!....” Dua siswa itu pun langsung ambruk ditempatnya sembari memegangi kepala mereka dan memekik kesakitan. Theo sampai tercengang, berikut teman sekelas Andrea dan beberapa siswa lain yang berkumpul untuk menonton.
Andrea sudah berdiri diambang pintu kelasnya. Teman sekelas Andrea juga sudah ada yang berhambur keluar kelas dan sisanya berada didalam kelas merapat ke tembok. Nampaknya mereka Syok melihat si Culun sebar – bar dan sekuat itu.
Wajah ceria nan penuh senyum yang biasa dilihat teman – teman sekelas Andrea itu menghilang entah kemana.
“HEY KALIAN BERHENTI!!!..”
Sebuah suara ibu – ibu nampak terdengar berteriak dari arah kantor yang terletak didepan bagian gedung sekolah. Wanita yang nampaknya seorang guru itu setengah berlari menuju tempat keributan.
Grep!
Rambut Andrea yang dikuncir itu tiba – tiba dicengkeram kuat dari belakang hingga kepalanya tersentak. Theo menjambak rambut Andrea dari belakang selepas Andrea mengadu kedua tubuh temannya.
Andrea sedikit kaget namun begitu, tak terdengar suara mengaduh dari mulutnya.
Grasp!.
Andrea tak kaget lama – lama karena kedua tangannya dengan cepat meraih tangan Theo yang menjambak rambutnya sekaligus mencengkeramnya kuat.
Meski Andrea baru berusia sekitar lima belas tahunan, namun perawakan serta postur tubuhnya itu diatas rata – rata remaja seusianya di Indonesia.
Keturunan blasteran dan sang Momma juga bisa dibilang bertubuh semampai, cukup tinggi meski tak setinggi Mommy Ara. Jadilah Andrea yang berusia sekitar lima belas tahunan nampak seperti berusia dua tahun diatas usianya, selain tubuhnya cukup tinggi dibanding remaja perempuan di Indonesia pada umumnya.
Hingga tak sulit bagi Andrea untuk meraih tangan Theo yang hanya sedikit lebih tinggi darinya. Tak setinggi Abang dan Kakaknya yang juga memiliki gen blasteran seperti Andrea. Andrea baru bisa dibilang pendek, jika berdiri diantara Varen dan Nathan.
BRUAAKK!!
Tubuh Theo dibanting dengan keras oleh Andrea hingga jatuh didepannya.
“ASTAGFIRULLAHHAL’ADZIIIMMM!! ... HENTIKAN!! ...” Guru wanita itu berteriak lagi. Sudah berada didekat Andrea tapi tak berani untuk lebih dekat lagi, karena wajah gadis yang barusan membanting si Theo itu bak seperti orang yang kesurupan.
Grep!
Kini gantian Andrea yang menjambak rambut Theo hingga setengah badannya terangkat.
“YA ALLAH ... BERHENTI!!!! ...”
__ADS_1
Andrea mengabaikan pekikan guru wanita itu.
“KALIAN JANGAN HANYA NONTON! BANTU PISAHIN ATUHHHH!.”
Guru wanita itu berbicara pada para siswa yang berkerumun, tapi mereka kompak menggeleng. Ogah ikut campur, takut jadi sasaran anaknya Thanos.
“PANGGIL PAK JIMMY CEPAAAATTT!!!..”
“LEPAS WOY!.” Dua teman Theo berusaha melepaskan tangan Andrea dari kepala Theo dan mendorong tubuh Andrea dengan kencang dari belakang hingga gadis itu terhuyung dan terjerembab ke lantai.
“I said, Don’t... Ever.. Dare... To Touch Me! .. ( Gue bilang, Jangan.... Pernah..... Berani .. Menyentuh Gue! )....”
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Andrea menghantam perut siswa yang mendorongnya dengan membabi buta. Jab tinju yang diajarkan Poppa kini ia praktekkan diluar latihan. Siswa itu ambruk diatas lututnya tepat didepan Andrea.
“ARGH!!!.”
DAK!
Andrea berteriak sembari menendang dengan kencang siswa yang tadi dipukulnya bertubi – tubi hingga tubuhnya terhuyung keras dan ambruk dihalaman samping lapangan yang berada dekat dengan kelas Andrea setelah lutut Andrea menghantam dagu siswa tersebut.
“YA ALLAH GUSTIIII!!!!.” Guru wanita yang pertama datang makin histeris.
“ALLAHU AKBAR!!!!!.”
Suara beberapa guru lain kemudian terdengar. Nampak berlari dari arah kantor bersama.
“ANDREA!.” Sebuah suara yang nampak gusar dan khawatir itu terdengar dari arah belakang sekolah.
Andrea mengabaikan suara panggilan itu, matanya kembali beralih ke Theo dengan menyalang dan berjalan cepat mengejar Theo yang mulai berlari, Andrea pun ikut berlari, dia sudah gelap mata.
Beberapa guru pria ikut berlari mengejar Andrea dan Theo.
Srekkkk!!!
Andrea berhasil mengejar Theo dan langsung menariknya hingga Theo sampai tercekik dan membantingnya dengan keras lagi hingga ke pinggir lapangan.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Andrea sudah menduduki Theo sekarang, tangannya yang terkepal dan sudah lecet itu tak ia perdulikan. Otaknya lagi korslet pagi ini. Kesalnya pada si Abang karena ia sampai dimarahi gara – gara Andrea marah – marah ke teman cewenya si Abang belum padam, tambah lagi pagi ini sudah ada yang mencari gara – gara dengannya.
Sayang sungguh sayang, mereka mengganggu Andrea disaat yang salah. Jika Andrea sedang ‘normal’, rasanya hal yang sekarang terjadi tidak akan mungkin sampai kejadian. Karena Andrea selalunya mengabaikan cibiran apapun dari beberapa siswa yang iseng mulutnya.
Selama tidak ada pelecehan atau kekerasan secara fisik. Dan pagi ini Miracle Andrea Andrew Smith sedang dalam mode ‘singit’, tidak normal. Jadilah dia tak terkendali, dan keapesan menghampiri mereka yang mengganggunya tadi.
BUGH!
BUGH!
Andrea terus memukuli wajah Theo yang sudah berdarah darah sekarang. Hanya tangannya yang bergerak bergantian, sementara mulutnya terkatup rapat, namun matanya begitu menyalang.
“ANDREA! SUDAH!.” Sebuah tangan menarik satu tangan Andrea, hingga gadis itu berdiri.
BUGH!
Andrea spontan melayangkan pukulan pada orang yang menariknya itu, tanpa melihat lagi.
“AKKH!.”
Andrea sudah memasang kembali kuda – kuda dengan tangannya yang masih terkepal.
“TENANG DREA! INI GUE ARYA!.”
“YA ALLAH NAKK ... ISTIGHFAR NAK!!! ...” Para guru sudah mendekat. Mereka membantu Theo yang nampak sudah KO berikut teman – temannya Theo yang juga sudah KO. Para guru itu tak mengira kalau Andrea lah yang berkelahi. Mereka tahu siapa Andrea sebenarnya. Jika murid lain mungkin akan langsung dimarahi dan diseret ke ruang BP.
Tapi ini Andrea Smith, berikut Arya Narendra yang sudah bersamanya. Dua orang anak yang sungkan untuk mereka marahi atau mereka tegur. Dua anak dari donatur terbesar sekolah, bahkan atas bantuan dana yang sangat fantastis dari Keluarga Smith lah yang membuat sekolah itu menjadi sekolah favorit nomor satu, dengan segala fasilitas pendidikan paling canggih dan terdepan. Dari sejak jaman si Poppa dan Daddy R bersekolah disana.
Belum lagi Smith Company selalu menyediakan Beasiswa kuliah di kampus ternama, baik dalam maupun luar negeri untuk para lulusan terbaik. Termasuk lapangan kerja di beberapa Perusahaan Keluarga tersebut yang cukup Bonafid. Termasuk memberikan fasilitas kendaraan untuk para guru dan Kepala Sekolah beserta wakilnya.
Memarahi Andrea Smith?. Rasanya Kepala Sekolah pun harus berpikir seribu kali.
“Andrea, tolong ke kantor Bapak ya?.” Ucap seorang pria paruh baya yang merupakan Kepala Sekolah. Andrea mengangguk, lalu Kepala Sekolah itu berjalan untuk kembali ke kantornya bersama beberapa guru yang lain.
“ASTAGAA..”
Arya memegangi hidungnya sembari menyeka darah yang menetes dari dalam sana.
Andrea hanya menatap datar pada Arya, lalu membalikkan tubuhnya sambil matanya melihat kearah para ‘korban’ kebrutalan dirinya yang kini sudah ada yang dipapah bahkan di gotong oleh para guru pria dan beberapa siswa.
“Masih ada lagi?.”
Andrea bersuara dengan nafasnya yang terdengar sedikit tersengal, menatap para siswa yang masih berkerumun tak jauh darinya.
Yak, para siswa dan siswi yang berkerumun itu benar – benar kompak menggelengkan kepala mereka, lalu buru – buru bubar jalan, masuk ke kelas mereka masing – masing, cari aman. Hanya Arya dan dua temannya yang tetap berada didekat Andrea.
Arya geleng – geleng memandangi Andrea, setelah tadi melihat para siswa yang dipukuli Andrea sebelumnya sepintas lalu dengan kondisi yang lumayan babak belur. Sementara Andrea sendiri, meski nafasnya sedikit tersengal namun gadis itu tetap berdiri tegak ditempatnya.
‘Miracle Andrea, lo terbuat dari apa? .. ’
*****
To be continue ....
Ambil yang bae kalo ada, yang jelek jangan. Antepin
__ADS_1
Salam sayang
Emaknya Queen