THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 297


__ADS_3

♣ TANDA BAHAYA ♣


♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣


Selamat membaca ...


♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣


 


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia......


Setelah beberapa orang dari anggota keluarga Adjieran Smith melakukan aktifitas mereka di luar Kediaman, seperti biasa kegiatan bercengkrama saat sebelum atau makan malam juga sesudahnya rasanya akan terus dilakukan jika memang mereka sedang berkumpul dalam Kediaman.


Varen dan Andrea juga sudah kembali dari Bandung dan ikut berkumpul setelah mereka membersihkan diri.


“Jadi, apa yang kalian dapat?”


Daddy R bertanya pada Varen dan Andrea.


“Informasi yang didapat orangku dari pelayan di rumah Kakek Peter memang benar. Aku dan Little Star sudah bicara pada mereka yang ada disana dan memang benar sudah sekitar dua bulan Tara seolah menghilang”


“Lalu?” Tanya Daddy R lagi.


“Abang mau makan sendiri apa satu piring sama Drea?”


Iklan.


“Berdua saja dengan kamu”


Andrea mengangkat jempolnya.


“Aku menyuruh Ammar untuk datang ke GH malam ini. Memastikan keberadaan Tara di sana”


“Tara tuh siapa?” Tanya Momma kepo.


“Cucunya Kakek Peter dari anaknya yang bernama Inggrid” Jawab Varen.


“Ohh” Momma ber oh ria. Dia tahu persis Inggrid. Salah satu penyebab keguguran yang dia alami waktu kehamilan pertamanya.


“Sorry ya?” Daddy R mengusap kepala Momma yang sangat ia sayangi itu.


Daddy R selalunya merasa bersalah pada Momma jika nama Inggrid disebut


“Santai sih Kak. Gue juga udah ikhlas kok”


“Makasih ya ..” Ucap Daddy R.


“Sama – sama Kakak Ganteng!”


“Dad sudah mendapatkan sesuatu?” Tanya Varen.


“Menurutmu?”


“Wajahmu menunjukkan begitu”


“Baguslah kalau kau paham. Tidak sia – sia aku mendidikmu”


“Heh!”


Varen mencebik pada sang Daddy yang hobi memuji diri sendiri. Yang kemudian mendapat toyoran spontan dari sang Daddy.


Sisanya cekikikan.


Varen pun kemudian mengambil piring berisikan nasi dan lauk – pauk dari tangan Andrea. Selalu dirinya yang akan menyuapi Andrea. Sudah belasan tahun jadi kebiasaan, jadi sulit dihilangkan.


“Jadi apa yang Dad dapat tentang wanita yang bernama Dilara a.k.a Jessy itu?”


Varen kemudian menyuapi Andrea, dan menyuapi dirinya sendiri juga.


“Yang jelas jika kalian mencurigai dia melakukan ‘bisnis kotor’ ya kemungkinan besar benar”


“Jadi hanya tinggal mengumpulkan bukti dong Dad. Biar kita bisa menyeretnya ke penjara”


“Betul sekali Little Starnya Dad!”


“Ini sebenarnya ada masalah apa sih? Ta-ra, Di-lara, siapa tadi tuh Jessy?”


“Dilara dan Jessy orang yang sama Mom” Sahut Varen.


“Oh, Oke. Terus ada hubungan apa itu dua orang?”


Momma jadi kepo.


“Jadi gini .. bla .. bla .. terus Drea .. bla .. bla .. nah si.. bla.. bla.. jadi ya aku ngomong sama Abang dan Abang selidiki deh tuh sekarang”


“Heeeemm”


“Ngomong – ngomong Andrew mana, Sweety?”


“Tadi lagi meeting Virtual sama staff yang di Italia en Paris bareng Kak Jeff” Sahut Momma pada Ibu Peri. “Nah itu Emali.... Emali itu siapa?”


“Kepala panti yang juga kami curigai”


Momma manggut – manggut.


“Udah jelas dia terlibat berarti!”


“Tahu dari mana Naomy?”


“Gue tadi sempet memperhatikan waktu kita tanya – tanya dia soal anak panti yang Via bahas yang katanya udah sembuh tapi tau – tau kambuh parah. Jadi gue iseng aja tanya – tanya”


“Lalu?”


“Ya gue lihat pelipisnya berdenyut waktu..”


“Aku dengar ada yang berdenyut .. apakah itu?”


“Hem, biang mesum dateng! ..” Celetuk Momma pada si Poppa yang baru saja bergabung dengan mereka berikut


juga Daddy Jeff. Poppa langsung mendekatkan wajahnya pada Momma.


“Sebut aku apa, hem?”


“Biang mesum!” Sahut Momma.


“Berani sekali” Poppa mencubit gemas hidung Momma.


“Memang iya. Tuh tadi apa. Ga bisa denger kata – kata menjurus. Langsung konek!”


Gelakan pun terdengar dari semua orang.


“Ambil Vacuum Cleaner. Kita bersihkan otak si Donald Bebek!” Celoteh Daddy R.


“Alah! Samanya! Kalian – kalian para pria di keluarga ini otaknya sama mesumnya dengan si Donald Bebek kalau sama kami!” Timpal Mommy Ara. “Termasuk nih dua pria muda nih!”


“Wah! Mommy Peri minta di mesumin Kakak Ganteng, ya?..” Goda Daddy R yang kembali mengundang gelakan. Hingga mendapat cubitan gemas dari Mommy Ara.


“Coba teruskan soal denyutan tadi”


“Ish!”


Momma menelengkan wajah si Poppa yang cengengesan ga jelas.


“Aku ambilkan makan dulu ya?” Tawar Momma.


“Nanti saja. Teruskan dulu soal denyutan. Aku penasaran, hem? Hem?”


“Amit deh”


Kekehan pun terdengar. “Ya sudah teruskan apa yang sedang kalian bicarakan?” Tanya Poppa.


Varen pun menjelaskan.


“Nah tadi kan aku, Via, Kak Ara sama Ichel ketemu sama kepala panti yang namanya Emali itu, ya kita tanya – tanya deh. Sambil aku perhatikan mukanya dan aku tahu ada yang disembunyikan sama itu perempuan” Tambah Momma.


Poppa manggut – manggut.


“Wuih keren Mom bisa membaca raut wajah orang”


“Momma memang keren dari dulu juga. Makanya Poppa kamu bucin gila sama Momma”


“Ya, ya. Asal Momma bahagia” Sahut Poppa. Yang kemudian disambut kekehan semua orang.


Obrolan terjeda sebentar karena masing – masing mulai mengambil makan malam mereka, kemudian mengubah topik menjadi obrolan santai seputar tontonan di televisi dan obrolan ringan lainnya.

__ADS_1


**


“Aku besok mau ke Panti” Kevia menoleh pada Nathan yang kemudian mengangguk tanda membolehkan.


“Momma ikut ya?”


“Momma ga cape?”


“Momma sih kaki gatel Via” Celetuk Mami.


“Ya kan bisa kulineran di Bogor habis dari panti”


“Sama aja kek anaknya satu tuh doyan jajan!”


“Mama ikut juga deh kalau begitu. Tadi kan ga sempat ikut ke Hotel” Mama Jihan bersuara.


“Oke”



Esok hari ...**


 


“Titip salam lagi untuk semua ya Vi. Maaf aku ga bisa ikut lagi. Ada quiz hari ini soalnya” Andrea yang sudah rapih dan akan pergi ke kampusnya itu sebentar menunggu Kevia dan beberapa Moms nya yang mau pergi ke Panti milik Marsha itu berbicara pada Kevia.


“Iya ga apa – apa Drea. Kamu juga udah titip banyak hadiah buat mereka” Sahut Kevia.


“Salam juga untuk Lala ya?. Semoga dia sudah membaik”


“Iya. Aamiin”


“Kalau memang belum ada perubahan, apa ga sebaiknya si Lala itu dibawa saja untuk diperiksa lebih lanjut di Jakarta?” Ucap Andrea seraya memberi saran.


“Aku sudah katakan itu pada Marsha semalam” Timpal Varen.


“Iya itu lebih bagus. Kalo perlu bawa aja Dokter dari sini. Sekalian cek darah semua anak Panti. Just in case (Jaga – jaga)” Celetuk Momma.


“Ide bagus”


“Iya Momma, nanti Via bilangin ke Teh Marsha” Ucap Kevia.


“Dia datang ga hari ini?”


“Engga Mom, Teh Marsha ada jadwal praktek di Rumah Sakit hari ini”


“Oh ya udah”


“Ayo kita berangkat. Takut macet”


“Kalian hati – hati. Jika ada yang mencurigakan kalian jangan bertindak sendiri” Ucap Poppa. “Terutama kamu, Heart”


“Iyaaa. Itu kan ada si Meissa dan kawan – kawan”


“Ya sudah. Jika kalian lama disana dan urusanku cepat selesai, aku dan John akan menyusul” Ucap Poppa pada Momma.


“Iya. Kan nanti kita juga janjian sama Kak Ren dan Kak Jeff ketemuan di Kafe aku”


“Ya sudah. Kalian berangkatlah” Ucap Poppa.



Perusahaan Smith, Jakarta, Indonesia....**


 


Varen sedang berada di Perusahaan Utama keluarganya yang berada di Jakarta. Karena Daddy R ada di R Corp, jadi Varen standby di Perusahaan Smith dan Poppa juga sedang mengurus sesuatu bersama Papi.


Jadi Varen yang akan menangani urusan di Perusahaan Utama yang berada di Jakarta dibantu oleh Nathan.


Varen sedang berada di ruangan utama Direktur sambil memeriksa beberapa berkas pekerjaan, sambil menunggu kabar lebih lanjut soal Dilara alias Jessy dari orang – orangnya. Ponsel Varen berdering dan nama Dara terpampang di layar.


Varen pun langsung menerima panggilan Dara.


“Tuan!”


“Ada apa Dara?! Kenapa kau terdengar panik?!”


“Aku sudah tahu semuanya Tuan!. Mereka yang pergi itu karena mendapat bujukan untuk meninggalkan tempat ini karena di iming – imingi hidup lebih enak! Aku mendapatkan buku harian dari gadis yang dimasukkan ke ruang isolasi itu. Emali membawa anak itu keluar dari sini, aku sempat bertanya tapi dia mendorongku”


“Lalu?”


“Kau dimana sekarang?!”


“Aku sedang berusaha kabur Tuan”


“Kau pergilah ke depan panti! Ada orang kita tak jauh dari sana! Aku akan segera menghubunginya! Staf panti yang kau maksud siapa namanya?!”


“Al... Akh!!”


“Dara!!!” Varen spontan memekik.


“Kenapa Bang?!” Nathan yang kebetulan masuk ke ruangan Varen sontak sedikit terkejut mendengar seruan Varen


yang sepertinya panik.


“Lo hubungi Via! Suruh putar balik jangan sampai dia ke Panti! Hubungi juga Momma atau Mama Bear atau siapapun yang bersamanya!” Varen berkata dengan tergesa sembari bangkit dengan cepat dari kursi kerjanya dan melangkah ke luar ruangan.


“Oke!!”


Nathan langsung mengiyakan tanpa banyak tanya.


“Ammar siapkan mobil!” Varen menghubungi Ammar dari ponselnya dan  bergegas turun ke lantai bawah dengan segera setelah berbicara dengan sekertaris pribadinya. Nathan mengekori si Abang, sambil nampak berbicara di ponselnya.


“Gue sudah bicara sama Via. Sudah gue minta untuk putar balik”


“Okay”


Varen mengangguk dan menghubungi seseorang di ponselnya.


“Ada apa Bang?” Tanya Nathan setelah Varen selesai berbicara di ponsel dan terdengar bertanya soal rekaman CCTV panti.


“Dara menemukan fakta tentang hubungan Emali dan Jessy. Dia menemukan sesuatu di kamar gadis yang katanya kembali kambuh padahal menurut Marsha dia sudah sembilan puluh persen sembuh dari ketergantungannya pada obat – obatan terlarang” Jawab Varen dengan detail.


“Terus?”


“Dia bilang gadis itu dibawa si kepala panti keluar dari panti dan katanya juga ada staff lain yang terlibat dengan si kepala panti yang sudah dipastikan ada kerjasama terlarang antara dia dan Jessy. Ada catatan yang Dara temukan. Tapi sepertinya Dara ketahuan saat ia mencoba kabur” Sambung Varen.


“Jadi kita mau ke Panti?” Tanya Nathan.


Varen mengangguk. “Sepertinya iya. Kita harus dapat bukti accurate untuk menyeret mereka ke jalur hukum secepatnya”


“Kenapa ga minta tolong Momma?. Biar Via dan Mama Bear yang kembali. Momma bersama Mommy Ara dan ada


dua bodyguard juga kan?” Usul Nathan.


“Jangan lah. Gue takut ga hanya satu orang yang terlibat dengan Emali di Panti. Malah membahayakan Momma dan Mommy nanti. Gue menunggu laporan rekaman CCTV dari Abi”


“Kalau ada yang janggal kenapa si Abi ga langsung hubungi lo?” Tanya Nathan.


“Itu yang sedang gue tunggu laporannya. Kita memang menyadap CCTV yang ada di pantinya Marsha, tapi itu kan hanya CCTV utama yang kita ketahui keberadaannya sesuai petunjuk Marsha. Dan kita memasang CCTV tambahan secara diam – diam kan secara cepat, jadi tidak semua titik yang dijangkau rasanya. Mungkin saja ada tempat yang terlewati yang tidak terpasang CCTV, right?”


“Dan si Emali itu tahu persis keadaan panti ya?”


“Kurang lebih begitu”


“Nah kalau Dara berusaha kabur, si Abi ga bisa lihat apa gelagatnya?” Ucap Nathan lagi.


“Dara kan harus menutupi identitasnya, jadi sikapnya tidak boleh mencolok. Sekalipun terlihat di CCTV mungkin saja Dara memang terlihat bersikap seperti biasanya saat hendak keluar dari sana, jadi Abi tidak notice. Toh Dara bilang kan ada staff lain yang terlibat juga. Jadi Dara harus berhati - hati”


“......”


“Mungkin juga ada yang terlewat oleh Abi. Tapi ya mau bagaimana, dia juga butuh istirahat kan? Yang penting sekarang gue sudah meminta dia mengecek secara detail semua rekaman hari ini di Panti sejak dini hari tadi. Kita harus segera bergerak cepat untuk mengumpulkan bukti. Jangan sampai ada korban lagi”


Nathan manggut – manggut.


“Gue juga sudah meminta Abi untuk mengecek keberadaan titik ponsel Dara. Karena sepertinya dia tertangkap


oleh seseorang”


Lalu keduanya masuk dengan tergesa ke dalam mobil setelah mencapai luar Lobi Perusahaan dan langsung pergi


bersama Ammar yang mengendarai mobil.


**

__ADS_1


Ponsel Nathan berdering saat ia sudah berada di dalam mobil bersama si Abang. Nama Via terpampang disana dan langsung Nathan terima.


Kevia mungkin mengajukan pertanyaan mengapa ia disuruh kembali tidak boleh ke Panti, padahal sudah hampir sampai. “Ada sedikit masalah Vi. Nanti aku jelaskan di rumah” Ucap Nathan.


“.......”


“Iya berhubungan dengan dia”


“.......”


“Kenapa?”


“.......”


“Apa?. Terus kamu bilang kamu mau ke Panti?”


“.......”


“Haish!...”


“.......”


“Ga apa. Berikan telpon kamu pada Meissa”


“.......”


“Sa!”


“.......”


“Sa! Tolong mata lo lebih waspada selama di perjalanan mengantar istri dan nyokap gue balik!”


“.......”


“Ya sudah! Berikan kembali ponsel ke istri gue”


“.......”


“Ya sudah Vi, Nanti aku hubungi lagi”


“Kenapa?” Varen bertanya saat Nathan selesai berbicara dengan Kevia di telepon.


“Itu kata Via, si Emali sempet menghubungi dia ngajak ketemuan”


“Terus?”


“Ya si Via bilang katanya dia sedang dalam perjalanan ke Panti”


“Ck!” Varen berdecak.


“Makanya gue suruh si Meissa waspada. Takut itu si kepala panti punya rencana jahat bareng komplotannya”


“Gue hubungi Teguh dulu kalau gitu. Supaya menyuruh Okky tetap dekat dengan mobil yang ditumpangi Via dan Mama Bear”


****


Kampus Andrea...


 


“Ah!”


“Ada apa Nona?” Tanya Niki yang melihat sang Nona Muda menepak jidatnya sendiri.


“Binder Note aku ada yang ketinggalan” Ucap Andrea. “Ini pegangkan tas aku. Kamu tunggu sebentar disini aku mau kembali ke kelas dulu”


“Biar saya saja yang ambilkan. Nona masuk saja ke mobil” Ucap Niki.


Andrea mengangguk. “Tolong ya, Niki”


“Tugas saya Nona”


Niki langsung bergegas ke kelas Andrea yang ia tahu persis, setelah membukakan pintu mobil untuk Andrea.


‘Eh itu kan?’


Pandangan Andrea tertuju pada satu mobil yang ia kenali terparkir tak jauh dari sebrang mobilnya.


“Jadi kamu kuliah disini?”


Andrea yang hendak masuk mobil itu spontan menoleh karena ia mendengar ada suara dibelakangnya dan sepertinya sedang berbicara padanya.


‘Dia...’



Bogor, Jawa – Barat, Indonesia...**


 


“Eh, Guh. Kok kita puter balik?”


“Tuan Alvarend yang menyuruh, Nyonya Fania” Ucap seorang pengawal pribadi yang bersama dengan Momma dan Mommy Ara dalam mobil yang mereka tumpangi.


“Memang ada apa Guh?. Ada hal gawat, kah?”


Mommy Ara ikutan bertanya pada seorang pengawal pribadi mereka yang bernama Teguh itu.


“Saya kurang tahu alasannya Nyonya Ara. Hanya Tuan Alvarend menyuruh kami untuk tidak mengantar anda berdua, berikut Nyonya Jihan dan Nona Kevia ke Panti”


Teguh menjawab dengan sopan.


Momma dan Mommy Ara saling tatap.


“Coba Kak Ara telpon si Abang”


“Oke ..”


Mommy Peri langsung meraih ponsel dari dalam tasnya.


“Sibuk nadanya” Ucap Mommy Ara setelah mencoba menghubungi Varen. “Coba aku hubungi Via mungkin dia tahu


alasan kenapa kita diminta putar balik”


Momma pun mengangguk lalu Mommy Ara menghubungi Kevia yang ada di dalam mobil berbeda dengannya dan Momma.


“Sama katanya ga tahu juga. Via bilang Nathan Cuma bilang suruh putar balik ga usah ke Panti” Ucap Mommy Ara setelah panggilannya tersambung dengan Kevia.


Suara dering telepon kemudian berbunyi.


Ponsel Teguh yang berbunyi. “Ini Tuan Alvarend, Nyonya” Ucap Teguh pada kedua Nyonya yang bersamanya dan satu orang lagi pengawal pribadi yang sedang menyetir.


“Ya sudah kamu terima, Guh”


“Baik, Nyonya” Teguh pun menerima panggilan dari Tuan Muda Utamanya itu.


“......”


“Varen bilang apa, Guh?” Tanya Mommy Ara.


“Tuan Muda Alvarend bilang kalau kita harus tetap dekat dengan mobil yang ditumpangi Nyonya Jihan dan Nona Kevia, Nyonya”


“Pasti ada yang ga beres berarti ini, Kak!” Celetuk Momma.


Mommy Ara mengangguk.


Kemudian Momma dan Mommy Ara merasakan mobil yang mereka tumpangi sedikit oleng. “Astagfirullah. Kenapa Ky?!”


“Ada yang mencoba menyalip kedepan kita Nyonya”


“Ya udah hati – hati Ky!”


“Sepertinya ada yang ga be ..”


CKIITT!!! ..


Okky, pengawal pribadi yang menyetir di mobil yang ditumpangi Momma dan Mommy Ara tiba – tiba mengerem dengan mendadak.


“OKKY!!!” Pekik Mommy Ara dan Momma.


‘Eh?’


Momma menyadari sesuatu dari balik kaca mobil depan.


“VIA!!”

__ADS_1


*


To be continue..*


__ADS_2