
💐💍 BAHAGIA MILIK KITA 💐💍
(Bagian – 1)
Selamat membaca..
“There Is Only One Happiness in This Life, To Love and Be Loved”
‘(Hanya Satu Kebahagiaan Dalam Hidup Ini, Mencintai dan Dicintai)’***
Hati Varen terasa penuh saat ini. Penuh oleh bahagia yang tak terkira. Tak pernah menyangka kalau ia dan Andrea akan dinikahkan bahkan lebih cepat dari harapan dan rencananya. Dalam waktu kurang dari dua kali dua puluh empat jam Andrea akan menjadi milik Varen seutuhnya, dan sekarang waktu terasa berjalan lama untuk Varen.
Sedari dulu, sejak bayi merah dalam inkubator itu ia lihat untuk pertama kalinya. Varen sudah merasa bahagia karena bisa memiliki seorang adik perempuan yang begitu menggemaskan. Hingga gemas itu menjadi sayang yang menumpuk hingga menjadi cinta. Cinta yang tak terbatas, hanya untuk seorang Miracle Andrea.
Begitupun bagi Andrea. Sejak ia menyadari eksistensi seorang Abang Varen dalam hidupnya, ia mulai melekat pada si Abang, hingga kian erat dengan segala keposesifannya. Setiap hal bagi Andrea akan selalu ia hubungkan pada si Abang kesayangan, tak pernah mau membagi si Abang dengan orang lain.
Dan kini, dalam dua hari kedepan apa yang ia pegang sejak kecil, si Abang kesayangan yang tak pernah mau ia bagi dengan siapapun itu, akan benar – benar terikat dengannya baik hati maupun diri.
Pikiran sepasang anak manusia yang akan disatukan dalam ikatan suci pernikahan dalam dua hari kedepan itu kini sedang sama – sama melayang, saling memikirkan satu sama lain. Sedang memikirkan hari itu, hari dimana tak hanya hati yang memang sudah terpaut sejak lama kian menyatu, namun juga ikatan hubungan yang sah untuk sebuah indahnya harapan dimasa depan.
**
Hari Bahagia Tiba..
Wajah Varen kian berseri. Dipandanginya diri sendiri, yang kini sudah berbalut setelan akad nikah yang sudah disiapkan para Mommiesnya. Setelan dadakan, namun tetap bukan setelan sembarangan.
Didepan cermin Varen mematut diri. Senyuman seakan terpatri secara permanen dibibir dan Aura bahagia beserta
binarnya terlalu nampak dimata dan wajahnya. Ia pejamkan matanya sebentar, lalu ia tarik nafasnya dalam – dalam dan ia hembuskan perlahan.
Masih didepan cermin, ia sedikit merapihkan lagi setelan akad nikahnya. Baju untuk Ijab berwarna putih dengan bordir berwarna toska yang agak muda ditengahnya, terlihat begitu pas ditubuh atletis Alvarend Aditama Smith.
Varen kenakan kopiahnya, yang berwarna senada dengan setelan akad nikahnya. Bersiap, untuk menjemput makhluk indah pujaannya. Yang sebentar lagi akan ia bawa untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Tak perduli kalau makhluk indah pujaannya itu masih belia. Yang penting bukan balita.
****
“Sudah siap?”
Varen seketika menoleh saat sentuhan pelan ia rasa dipundaknya, bersamaan dengan sosok sang Daddy, juga Mommynya tercinta, panutannya, selain para Daddies dan Mommiesnya yang lain, berikut para Kakek dan Neneknya.
Varen tersenyum pada kedua orang tua yang sudah menghampirinya itu, berikut juga dengan sang adik kandungnya, Valera.
Senyuman pun mengembang diwajah ketiga orang yang sudah menyambangi Varen itu.
“Mungkin benar aku ini semakin tua sekarang” Daddy R menghadapkan Varen padanya. Memegang kedua bahu putra sulung kandungnya, dengan mata yang sedikit berkaca – kaca. Mommy Ara pun sama berkaca – kacanya dengan Daddy R.
Ibu Peri pun tersenyum dengan teduhnya sambil satu tangannya ia tempatkan di satu sisi wajah putranya itu, yang kemudian meraih dan mengecup punggung tangan dan telapaknya. Valera memeluk pinggang Abangnya dengan wajah sumringah yang membuat ketiga orang dewasa yang bersamanya itu kemudian tersenyum dengan lebarnya.
Daddy R dan Mommy Ara, sejenak memandangi lekat – lekat putra mereka, yang juga sedang tersenyum pada
keduanya. Putra mereka yang tak terasa begitu cepatnya dewasa.
“Abang tampan sekali!” Ucap Valera dengan antusias. Varen pun sedikit merendahkan tubuhnya, sambil telunjuk
ia tempelkan disatu sisi pipinya, agar Valera memberikan kecupan padanya. Dan Val pun melakukan apa yang Abangnya inginkan.
“Makasih ya”
“Sama – sama Abaaanng!!!!!.. I Love Youuuuuu”
"I Love You Too, Val!"
“Ayo, jangan biarkan Little Star kesayangan kita menunggu terlalu lama”
“Iya Abaang.. jangan sampai Kak Andrea lama tunggu Abang!..” Seru Valera yang sudah cantik dengan gaun rancangan sang Mommy yang berwarna senada dengan tema warna acara akad nikah Varen dan Andrea. "Kak Andrea juga pasti cantik sekali!"
__ADS_1
“Okay! Let’s Go! ..” Varen tersenyum meraih tangan Valera yang sedikit jijingkrakan dengan wajahnya yang nampak
begitu gembira itu. “Ayo, Dad, Mom, kita sambangi calon menantu kalian” Ucap Varen dengan senyumnya.
Daddy R dan Mommy Ara tersenyum dan mengangguk lalu melangkah didepan Varen dan Valera.
“Sudah hafal itu kalimat Ijab Kabul?” Tanya Daddy R iseng sambil berjalan keluar dari kamar Varen menuju tangga.
“Sudah dong!” Sahut Varen. “Cincin pernikahan aku, Mom?”
“Ga usah tanya. Mommy kamu ini punya daya ingat yang bagus oke?” Timpal Mommy Ara.
“Percaya ..”
“Jangan lupa kalimat Ijab satu tarikan nafas” Celetuk Daddy R.
“Kalau perlu aku ga nafas” Sahut Varen santai sambil cengengesan.
“Dasar!”
***
Kisah yang sama dalam format yang berbeda. Fania dan Andrew teringat lagi kisah cinta mereka. Dulu mereka adek – abang ketemu gede, tapi tak hanya berdua. Karena ada Kak Reno juga.
Dekat, tanpa adanya kisah cinta segitiga sama kaki dan sebagainya. Murni cinta itu hanya ada dihati Fania dan Andrew, yang meskipun pernah terpisah, tapi emang jodoh ga kemana. Tali pertemanan Fania dan Andrew itu menjadi cinta, hingga Andrew membawa Fania untuk membuat ikatan itu menjadi nyata.
Kini kisah Momma dan Poppa pun terulang pada putri mereka dan putra Reno bersama Ara.
Bedanya, Andrea dan Varen sudah terikat bak layaknya adek – abang sejak Andrea lahir ke dunia.
Hidup dan tinggal bersama sejak kecil menumbuhkan satu rasa pada Andrea dan Varen ternyata. Bukan hanya sebagai saudara yang orang tuanya teramat sangat dekat baik pribadi maupun batin mereka. Namun lebih dari itu.
Dulu Andrea yang nampak begitu posesif pada Abang Varennya, sempat menimbulkan kekhawatiran dalam hati Fania dan Andrew, jika saatnya nanti Varen dewasa menemukan belahan jiwa, namun keposesifan Andrea tak berubah.
Ternyata oh ternyata, Andrea dan Varen punya hati yang berbeda dalam tubuh, namun terikat dalam jiwa, satu rasa.
Cinta itu bukan hanya Andrea yang rasa, yang punya. Tapi Varen juga.
Bahkan cinta Varen dan Andrea terlihat begitu nyata semakin lama. Bahkan cinta Varen pada Andrea yang nampaknya lebih bergelora semakin laki – laki itu dewasa.
Hingga akhirnya ia buka semua, ia nyatakan cintanya pada Andrea, sampai meminta Andrea sebagai pendamping hidupnya kelak pada kedua orang tua kandung Andrea yang sudah bak orang tua Varen juga. Dan sampailah kini, dimana hari itu tiba.
Bagi Fania dan Andrew rasanya baru kemarin Andrea lahir ke dunia. Tapi bayi merah yang cantik jelita itu kini sudah besar ternyata, meski belum menjadi wanita dewasa yang seutuhnya.
Masih belia, masih belasan tahun usianya. Namun Andrew sudah menjatuhkan keputusannya yang sudah tentunya
ia pikirkan dengan baik. Namun otak macho Andrew tak perlu berpikir lama, tak perlu berpikir keras untuk menyegerakan menikahkan putrinya dan Fania.
Karena Andrew tahu, dia, laki – laki yang mencintai Andrea, meski masih belum terlalu matang dalam usia, tapi sikap dan cara berpikirnya bahkan bisa mengalahkan pria yang sudah benar – benar matang dalam usia.
Laki – laki yang meminta Andrea dengan resmi pada Andrew saat putrinya dan Fania berusia tujuh belas tahun itu, bukanlah sembarang laki – laki. Bukan memandang silsilah keluarganya, namun laki – laki yang meminta Andrea juga bisa dibilang adalah anak baginya dan Fania.
Anak laki – laki yang mereka sayangi bak mereka menyayangi anak kandung mereka sendiri.
Membantu Reno dan Ara mengurus anak laki – laki itu dari sejak Andrea belum sampai ke dunia. Menyayangi, mengasihi, memperlakukannya bak putra sendiri. Dan kini anak laki – laki itu sudah akan menjadi menantunya. Atas ijinnya, atas keputusannya. Keputusan Andrew yang diiyakan Fania juga.
Waktu, seolah berjalan dengan cepatnya. Tak pernah menyangka juga kalau Fania dan Andrew akan melepas putri mereka dengan cepatnya juga.
Fania dan Andrew sudah mengapit putri mereka yang sedang duduk diranjangnya. Berbalut kebaya pengantin nan indah yang melekat dengan pasnya ditubuh Andrea, berikut polesan diwajah serta tatanan rambut yang membuat gadis mereka itu nampak sempurna.
Tangan Andrew terulur menangkup wajah putrinya yang matanya sudah berkaca – kaca. Sama, Andrew, layaknya Fania, mata mereka pun sudah berkaca – kaca.
Dipandangi lekat – lekat wajah Andrea oleh Andrew, senyuman ia tunjukkan. Meski setelah menikah Andrea juga
tidak akan terlalu jauh darinya dan Fania, tapi tetap saja rasa yang merenyuh kan hati itu ada. Ingat saat pertama kali Andrea dibawa untuk dilihatnya bersama Fania, setelah sang Momma bangun dari koma, meski tak lama. Dan
__ADS_1
sang Poppa yang tak sanggup melihat Andrea sebelum Momma membuka mata.
Teringat lagi saat gilirannya membacakan dongeng untuk Andrea, namun bukan buku dongeng kisah cinta Pangeran dan Cinderela yang Andrew bacakan, melainkan kisah Andromeda.
Kala Andrea bilang.
“Aku ingin punya Ibu Peri yang bisa melindungiku dan memberiku segalanya”
Lalu Poppa kemudian berkata,
“Ibu Peri itu tidak nyata. Aku, Poppa mu yang akan selalu melindungimu, menjagamu, dan memberimu segalanya”
“Oh iya. Ibu Peri aku kan Poppa. Sama seperti Abang juga!”
Abang ....
Ah iya Abang
Yang kemudian ketiganya dibuat menoleh, oleh suara yang baru saja menyambangi ketiganya di kamar Andrea.
“Varen just left their Mansion. (Varen baru saja keluar dari Kediaman mereka)”
Itu Papa Lucca, yang baru tiba semalam dari Italia, bersama Mama Fabi dan Adrieanna.
Andrew, Fania dan Andrea mengangguk bersamaan. Sudah waktunya, Andrew dan Fania menyambut salah satu
putra mereka yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.
“Apa kamu tidak bahagia?”
Andrew menangkup lagi wajah putrinya.
“Karena jika tidak, akan aku suruh pekerjanya Ake untuk membongkar tenda dengan segera”
Andrea terkekeh kecil, begitu juga Momma dan Papa Lucca, sementara Poppa tersenyum penuh arti.
“Drea bahagia Poppa..”
“Maka tersenyumlah”
Yang membuat Andrea spontan memeluk sang Poppa dengan eratnya.
“Cukup dengan melihat kamu tersenyum Miracle Andrea, aku sudah sangat bahagia. Karena dengan begitu, janjiku untuk memastikan kebahagiaanmu, Putriku. Tidak pernah teringkari”
“Sa – yang Pop – pa..”
***
“Gugup, huh?”
“Mendadak iya”
Kekehan terdengar saat Varen beserta Daddy R, Mommy Ara, Oma Anye, Valera dan rombongan dari Kediaman
Pribadi mereka yang tak jauh dari Kediaman Utama sudah tiba dihalaman Kediaman Utama keluarga mereka yang cetar membahenol. Halaman depan Kediaman sudah didekor dengan indahnya, dimana meja Ijab Kabul juga sudah diletakkan disana. Disalah satu bagian dihalaman depan Kediaman.
“Ayo” Daddy R merangkul pundak putranya yang perlahan kegugupannya tak bisa ia sembunyikan. Mommy Ara berdiri disatu sisi Varen yang lain.
Menggandeng Varen yang nampak menghela nafasnya dalam – dalam sebelum ia melangkahkan kaki untuk mendekat pada Poppa dan Momma yang sudah berdiri berjarak, menunggunya, untuk menjemput putri mereka.
“Bismillaahirrohmanirrohim”
***
To be continue ..
__ADS_1