THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 139


__ADS_3

♣ MISSION IMPOSSIBLE ♣ Misi yang Mustahil ♣


  Part 1 ( Bagian 1 )


**********************************************************


Selamat membaca ........


**********************************************************


Andrew memperlambat laju mobilnya, begitupun Reno dan yang lain, yang bergerak kembali ber-iringan, setelah sebentar tadi bergerak berdampingan saat menyaksikan Fania membawa masuk mobil yang ia kendarai ke kolong truk hingga keluar lagi dengan selamat.


Mobil yang dikendarai Fania juga sudah melambat dan tampak mau menepi, Andrew dan Reno mendekatinya. Mobil Dewa juga nampak berada dibelakang dua pentolan Black Drake itu dan sisanya pun juga ikut mengarah untuk mendekati mobil yang ditumpangi oleh Fania dan Michelle.


“Naomy Stephania! You will be grounded after this ( Kau akan dihukum setelah ini ).” Andrew langsung berbicara pada Fania tepat saat ia keluar dari mobilnya sambil mendekati Fania yang sudah berdiri bersandar dimobil yang tadi ia kendarai. Si Kajol pun nyengir kuda. “Demi Tuhan Heart, apa kamu ingin membuat aku mati cepat karena


serangan jantung?.”


Andrew langsung memeluk Fania erat.


“Hehe maap.”


"Oh, Heart..."


“Hobi banget ya membuat gue dan Andrew ketakutan setengah mati?. Sakit ya, kalau ga melanggar peraturan kami?.”


Fania menunjukkan barisan giginya pada si kakak ganteng yang sudah juga berada didekatnya dan Andrew. Reno geleng – geleng sambil juga mengacak – acak rambut Fania dan kemudian mereka beralih ke Michelle.


“And you, Mrs. Michelle?. Kenapa ikut – ikutan?.”


“Menemani kakak ipar..” Sahut Michelle enteng. Andrew dan Reno geleng – geleng tapi juga memeluk dirinya. ‘Eh mereka ga marah – marah soal aku dan Kak Fania?.’ Batin Michelle. “Boo – Boo! ...”


Dewa terlihat tergesa keluar dari mobilnya. “Ya Tuhan Ayank ...”


Tiga orang babang tamvan juga sudah keluar dari mobil mereka dan menghampiri Fania serta Michelle sambil geleng – geleng sekaligus memandang takjub pada keduanya.


Dewa memeluk Michelle sebagaimana Andrew yang memeluk Fania.


“Kamu tidak apa – apa, Boo – Boo?.”


“Seharusnya aku yang nanya begitu.”


Mereka semua terkekeh. “Ya sudah ayo kita teruskan.” Kakak ganteng bersuara. “Truk itu sudah hampir berbelok....”


“Mereka berdua?.”


Jeff menunjuk ke arah Fania dan Michelle yang sedang memandangi Andrew dan Reno yang nampak sedikit bingung juga.


“Biar mereka ikutlah. Sudah terlanjur.” Timpal Dewa.


“Ndrew?.” Reno menoleh pada Andrew yang kemudian memandangi Fania lekat – lekat.


“Dewa benar, Ndrew. Biarkan saja mereka berdua ikut kita. Lagipula mereka ga akan kembali ke Mansion nya Lucca biar lo marahi juga.” Jeff ikut menimpali. "Coba aja, pasti keras kepala kalau kita suruh pulang."


“I’m sure ( Gue yakin begitu ).” Vla menimpali ucapan John sambil cengengesan.


“Ya sudah. Kalian ikut kami.”


Andrew akhirnya menyetujui kalau Fania dan Michelle ikut bersama mereka.


Fania dan Michelle tersenyum lebar.


“Tapi ingat, kalian jangan bertindak tanpa aba – aba dari kami. Kalau bisa jangan bertindak apapun. Kalian ikut kami hingga bertemu dengan orang – orang Lucca. Baru setelah itu kalian akan diantar kembali ke Mansion.”


“Oke Wa, gue setuju dengan lo.”


‘Sir, the truk already separated ( Tuan, truknya sudah berpisah jalan ).’ Sebuah suara terdengar dialat komunikasi para pangeran.


“Okay!.” Reno yang menyahut. “Let’s go! ( Ayo! ).”


“Vla, give them another telecommunication tools ( Vla, berikan mereka alat komunikasi cadangan ).”


Andrew meminta Vla memberikan Fania dan Michelle alat komunikasi agar mereka bisa terhubung dengan para pangeran itu. Vla pun mengangguk dan bergerak ke mobilnya, lalu kembali memberikan Fania dan Michelle sebuah walkie talkie yang kemudian ia hubungkan ke saluran telekomunikasi mereka.


“Let’s finish this ( Ayo kita selesaikan ini ).” Ucap Reno yang bergegas ke mobilnya. “Little F, lo bergerak di belakang mobil Dewa.”


Fania mengangguk pada kakak gantengnya.


“Jika ada kontak senjata, kalian segera menghindar dan menjauh.” Dewa memperingati Fania dan Michelle.


“Mobil ini anti peluru Kak.”


Fania menyahut.


“Meskipun begitu, kalian tolong berhati – hatilah sampai kita bertemu dengan orang – orang Lucca.” Ucap Andrew.


Fania dan Michelle mengangguk.


“Stay save and don’t do anything reckless! ( Jaga diri dan jangan melakukan hal yang ceroboh! ).” Seru Reno yang kemudian menggerakkan mobilnya dari balik kemudi, diikuti yang lainnya.


**


“Keep all your distance, I’m going to push the trigger! ( Jaga jarak kalian semua, aku akan menekan pemicunya! ).” Seru Andrew dan suaranya terdengar oleh semua orang dalam grup mereka termasuk orang – orang Lucca.


‘Team three approach the first truk. We’re clear! ( Tim tiga sudah mendekati truk yang pertama. Kami sudah di jarak aman! ).’ Satu suara lain terdengar menjawab seruan Andrew.

__ADS_1


‘Team four are nearly the second truck ( Tim empat sudah dekat dengan truk yang kedua ).’ Suara lain terdengar.


“Team one and two are moving after the ‘fireworks’ shows ( Tim satu dan dua akan bergerak setelah pertunjukkan ‘kembang api’ ).”


Reno berbicara.


“Do it now, Ndrew! ( Lakukan sekarang, Ndrew! ).” Ucap Reno lagi.


“Okay!.”


Andrew menyahut cepat.


“Fire in The Hole! ( Awas Ledakan! ).”


BAAAMMM !!!!


Suara ledakan yang cukup lumayan pun terdengar di dua tempat yang berbeda secara bersamaan. Berikut sebuah truk yang terpelanting keatas dengan cukup kencang hingga kemudian terpelanting ke tanah menimpa beberapa mobil yang berada didekat truk tersebut sebelum berhasil menghindar. Truk berikut mobil – mobil yang berada didekatnya itu pun terguling sambil terus meledak dengan hebat.


Sepertinya truk yang nampak kokoh itu berisikan berbagai macam jenis senjata termasuk bahan peledak dilihat dari ledakan yang tak kunjung henti apalagi padam. Andrew dan timnya tetap menjaga jarak.


“Kita harus melewatinya! Baru pagi nanti jika menunggu ledakan itu padam!.”


“Api masih terlalu besar! Truk itu akan terpelanting lagi dan kita tidak bisa memprediksikan kemana arahnya!.” Jeff menimpali seruan John.


“Tapi kita harus bergerak cepat jika ingin menghadang Joven dan menjemput Lucca!.”


John berseru lagi.


“I’ll through it first ( Gue akan melewatinya duluan ). Kalian pikirkan cara memadamkan api agar kalian bisa segera melewatinya juga dan menyusul gue.”


“D? ....” Suara Fania terdengar takut – takut.


“Aku akan baik – baik saja Heart.”


Andrew sedang memainkan pedal kopling dikakinya, dengan posisi mobilnya yang berhenti. Si plontos nampak sedang mengambil ancang – ancang.


“D???.”


Suara Fania terdengar makin gugup.


Andrew sudah menarik perseneling nya kebelakang. Sepersekian detik ia langsung melepaskan kakinya dari pedal kopling dan menginjak pedal gas dalam – dalam.


“D !!!!!!!...”


“Trust me! ( Percaya padaku ).”


*****


“Aku tahu apa yang harus dilakukan! ...” Dewa menggerakkan setirnya kearah kanannya saat Andrew akan melewati truk yang sedang berguling terbakar.


“Jangan khawatir Chel, dia tahu apa yang dia lakukan.”


“Gue akan bantu dia!. Kalian terus jalan!.”


“Okay!.”


***


‘Joven realized!. He’s going faster! ( Joven sudah menyadarinya!. Dia melaju dengan sangat cepat!.’


Suara Fabiana terdengar berseru dari seberang alat telekomunikasi.


“Got that! ( Mengerti! ).” Andrew menyahut lalu menambah kecepatan mobilnya.


Andrew berhasil melewati truk yang terguling terbakar tadi, persis saat truk itu terpelanting sepersekian detik diatas kepalanya. Nyaris menimpanya jika ia tidak menguasai kontrol mobilnya. Hanya berjarak sangat tipis dari kap mobil Andrew. Kini ia mengejar konvoi mobil Joven.


“John! Susul gue, lo harus mengeluarkan Lucca dari mobil Joven!.”


“I’m little bit busy hereeee!!!..... ( Gue sedikit sibuk disiniiii!! ) ...”


Bang... Bang... Bang..


*‘S*T!!! ( SIAL!!! ).’ Andrew mengumpat dalam hatinya.


Suara tembakan terdengar dialat komunikasinya.


“Protect Fania and Michelle!. ( Lindungi Fania dan Michelle! ).” Seru Andrew lagi.


Bang... Bang... Bang..


Mobil Andrew ditembaki dari arah kanannya. Meski mobil yang ia gunakan sudah didesain anti peluru, tetap saja ia sedikit terkejut dengan tembakan yang beruntun mengenai mobilnya. Andrew menyiapkan senjatanya.


Bang... Bang... Bang..


“I’ve got your back! ( Gue ada dibelakang lo! ). Fokus pada Lucca dan Joven!.” Suara Reno terdengar bersamaan


dengan suara letusan senjata saat Andrew hendak membuka kaca mobilnya untuk melepaskan tembakan perlawanan. Andrew tidak jadi membuka kaca mobil dan mengeluarkan senjatanya.


Bang... Bang...


Masih ada tembakan yang mengenai mobil Andrew.


“Where’s Lucca?! ( Dimana Lucca?! ).” Seru Andrew seraya bertanya.


‘In the second car with Joven! ( Dimobil kedua bersama Joven! ).’ Suara Fabiana terdengar menjawab pertanyaan Andrew.

__ADS_1


“Okay!.”


Andrew sudah melihat iringan mobil Joven dan pengawal pribadinya.


Pria plontos itu memperdalam lagi menginjak pedal gasnya sambil memegangi senjata yang sudah siap di satu


tangannya.


Drrrr... Drrrr ..... Drrrr ..


Berondongan peluru secara tiba – tiba menghantam mobil Andrew dari salah satu mobil iringan konvoi dengan seseorang yang sudah memegang dan mengarahkan sebuah senjata otomatis dari atas kap mobil tersebut yang terbuka sedikit.


*‘S*T!!! ( SIAL!!! ).’


Andrew lagi – lagi mengumpat. Posisinya sedikit sulit karena ia masih sendirian dan yang lain nampak sibuk menangani serangan dibelakang.


“I can’t get Lucca’s out if I go alone! ( Gue ga bisa mengeluarkan Lucca kalau sendirian! ).” Andrew berseru sambil setengah menahan mobilnya menghindari tembakan yang beruntun sambil membuka kaca jendela mobilnya sedikit lalu mencoba mendekati mobil yang sedang menembakinya itu. Ia bergerak cepat menabrakkan bagian depan mobilnya dengan bagian belakang mobil yang sedang menembaki mobilnya.


Andrew juga sesekali melepaskan tembakan ke arah orang yang sedang menembakinya itu, namun masih meleset. Tembakannya baru hanya mengenai bodi mobil musuh.


Posisinya kurang bagus. Ia sendirian untuk fokus mendekati mobil yang berisi Joven dan Lucca didalamnya, sementara ia sedang ditembaki secara beruntun, harus menghindar juga  harus melakukan perlawanan.


“Another back up behind you! ( Bantuan lain sudah ada dibelakang lo! ).” Seru Reno lagi.


Drrrr... Drrrr ..... Drrrr ..


Suara tembakan beruntun kemudian juga terdengar dari arah tim Andrew. Mereka melindungi Andrew dengan melepaskan tembakan pada konvoi mobil yang bergerak cepat dan lebih banyak dari yang diperkirakan.


“BE CAREFUL! YOU MIGHT HIT LUCCA AND OUR MEN THERE! ( HATI – HATI! KALIAN BISA MENGENAI LUKA DAN ORANG KITA DIANTARANYA! ).” Teriak Andrew yang terdengar dialat komunikasinya. Ia memperingatkan bala bantuannya yang sedang menembaki mobil konvoi yang dua diantaranya terlihat sudah bergerak zig – zag seperti ada yang sedang berduel didalam mobil tersebut.


Bala bantuan Andrew menghentikan tembakan beruntun mereka dan tetap melepaskan tembakan karena mereka kini sudah lagi ditembaki. Bala bantuan Andrew tetap melepaskan tembakan perlawanan namun secara hati – hati karena tidak ingin melukai bos dan beberapa teman mereka di dalam sana.


“Handle the five cars behind the konvoi! So I can get in! ( Urus lima mobil yang berada dibelakang konvoi! Supaya gue bisa masuk! ).”


Andrew mengarahkan sambil juga sesekali melepas tembakan perlawanan.


“We work on it! ( Kami usahakan! ).” Suara Jeff yang terdengar menyahut berikut juga sayup – sayup suara tembakan yang terdengar sesekali.


“Move! ( Minggir! ).” Sebuah suara merdu namun datar terdengar dialat komunikasi. “Ready Chel?.”


Suara merdu itu terdengar bertanya pada seseorang.


“Ready!.”


Sahutan terdengar dari suara merdu yang lain.


“KALIAN MAU APA?!.”


Suara Dewa terdengar panik sambil juga sayup – sayup suara letusan tembakan.


“Membantu suami.”


VROOOOMM...


Suara mesin mobil yang melesat pun terdengar.


**


“Hang on, Ayank .. ( Pegangan, Ayank ... )” Fania berkata pada Michelle sambil matanya tetap lurus sambil sesekali melirik spion dan tangannya sigap pada kemudi dan perseneling, berikut kakinya pada pedal.  “Lo tau cara menggunakannya dengan baik kan?.”


“Jangan meremehkan mamah muda, kakak iparku sayang ..”


Fania dan Michelle terdengar terkekeh kecil.


“WHAT YOU GUYS WANT TO DO?! ( KALIAN MAU APA?! ).” Teriakan John yang bertanya, bersamaan juga dengan Reno, dan yang lainnya termasuk juga Andrew yang meneriakkan pertanyaan yang sama.


“Kurangi kecepatan kamu, D! Dan berikan aku jalan!.”


Ucapan Fania tertuju pada Andrew yang berada dalam mobil didepannya.


Mobil yang dikemudikan Fania sudah mendekati mobil Andrew kemudian melewatinya dengan cepat.


“DON’T! ( JANGAN! ).” Teriak Andrew.


“Don’t think too much ( Jangan terlalu banyak berpikir ), Just move! ( Minggir aja! ). Atau aku pensiunkan setiap goyangan.”


Andrew mendengus kesal sambil sedikit memperlambat laju mobilnya serta sedikit menyingkir.


CIIITTTT..


Mobil Fania sebentar sudah memepet mobil paling belakang, sehingga mobilnya terlindung dari tembakan jarak jauh.


“Sekarang Chel!.” Fania menarik tuas disebelah kanannya dengan cepat, kemudian dengan cepat juga mobil yang dikemudikan Fania itu mengepot dan bergerak stabil diposisi sedikit miring.


“WATCH OUT!!!! ( AWAS!!! ).”


***


To be continue ............


Just info, episode sebelumnya sudah emak up dari semalam, tapi sepertinya sistem aplikasi ini sedang eror jadi ga kelar - kelar itu review.


Dukungan yang selalu emak tunggu jangan lupa ya.


Loph Loph

__ADS_1


__ADS_2