
*** Kita tinggalkan dulu Babang Jeff yang lagi mikir soal tikungan ***
*****
😝 AH, CIE ... 😝
*****
Selamat membaca..
***
John sudah bangun sejak jam setengah empat pagi. Meski mata John masih sepet, tapi demi mengantar si Priwitan bangun pagi – pagi budeg pun dia jabanin dah. Biar dapet maap yang bener – bener afdol juga.
“Ini mereka pada sholat bareng ga ya?.” John menggumam sendiri setelah selesai madi dan kini ia sedang bersiap – siap.
***
“Selamat pagi Tuan John.” Sapa Bi Cici saat melihat John yang sudah turun dari tangga. “Pagi – pagi sudah rapih. Tuan John ada kerjaan di luar negeri atau di luar kota?.”
“Pagi, Bi.” Sahut John. “Engga kok, hanya mau antar si Prita. Disuruh pagi – pagi katanya.”
“Oh, Bibi kira Tuan John mau berpergian ke luar negeri atau ke luar kota.”
“Yang lain sudah pada bangun, Bi?.”
Mata John celingukan ke arah Musholla di dekat ruang santai.
“Tuan dan Nyonya Besar, beserta Tuan Andrew dan Dewa plus Non Fania, di Musholla Tuan. Mau pada jamaah seperti biasa.”
“Trus Andrea sama siapa?.”
“Andrea kan sama pengasuhnya Tuan di kamarnya Non Andrea dan Den Varen.”
“Oh iya ya.” John manggut – manggut. “Ya sudah saya kesana dulu Bi.” John menunjuk ke arah Mushola.
“Tuan John mau ikut jamaah juga?.”
John mengangguk.
‘Kemajuan.’ Batin Bi Cici.
“Kalau Prita? Sudah turun?.”
“Belum kayaknya Tuan, Bibi ga liat.”
“Ya sudah kalau begitu.” Sahut John. ‘Bilangnya gue suruh siap pagi – pagi banget.’ Batinnya bermonolog.
****
“Assalamu’alaikum.” John sudah memasuki Musholla di kediaman mereka.
“Wa’alaikumsalam.” Semua memandang padanya dengan pandangan tak percaya. Heran.
“Widih ada angin apa Abang John ikut Shubuh berjamaah? ....” Celetuk Fania.
John terkekeh. “Ya ampun Kajol, elo sih begitu. Gue kan sedang belajar menjadi orang yang lebih baik ini.”
Andrew mendekati John. “Mau belajar menjadi orang yang lebih baik, apa mau berusaha mengesankan seseorang?.” Ucap Andrew setengah berbisik ditelinga John.
“Ck. Sembarangan aja lo, Ndrew. Serius gue nih. Dukung kek.” Sahut John.
“Tau lo Ndrew, dukung itu si bule koplak menuju jalan yang benar.” Timpal Dewa lalu terkekeh.
Andrew terkekeh.
“Gue, biar brengsek – brengsek begini juga, biar ga full lima waktu, masih suka inget ibadahlah. Biarpun jarang juga. Nahh kebetulan pagi ini gue sudah bangun, ya gue mau ikutlah sholat bareng kalian. Lo juga kalau ga kenal si Fania, boro – boro sholat bareng – bareng begini. Baca Bismillah aja jarang – jarang lo, Ndrew. Yakin gue.” Cerocos si John.
Dad, Mom, Fania dan Dewa serta beberapa asisten rumah tangga yang berada di dekat mereka saat ini, termasuk Andrew juga terkekeh mendengar cerocosan John. Sembari menunggu waktu subuh benar – benar tiba. Reno dan keluarga kecilnya beserta Mama Anye berada di kediaman mereka sendiri.
“Udah ah, mau sholat pada ribut aja.” Ucap Fania. “Udah wudhu lo Kak John?.”
__ADS_1
“Oh iya.” Sahut John. “Gue lupa.” Ia berbalik untuk keluar lagi dari musholla dan berwudhu.
“Assalamu’alaikum.” Satu suara lagi bersamaan dengan sosoknya muncul dan membuat semua orang lebih tercengang lagi.
“Matahari terbit dari utara.”
“Nah loh!. Langit bentar lagi runtuh.”
Fania dan John sama – sama nyeletuk saat Jeff masuk ke dalam musholla. Melihat si bule koplak ikut jamaah aja udah aneh, eh sekarang si bule gila pun ikutan nongol.
“Pagi – pagi sudah pada julid kalian.” Ucap Jeff sambil senyam - senyum.
“Lo berdua abis minum aer jam – jam sejerigen?.” Celetuk Fania sembari terkekeh. “Insap berjamaah lo berdua. Emezing!.”
Mereka pun terkekeh bersama.
“Sudah pada wudhu dulu kalian sana John, Jeff.” Ucap Mom.
“Okay.” Sahut dua J.
“Seems that the sun will shining very brightly today (Sepertinya matahari akan bersinar sangat terang hari ini).” Ucap Dad tersenyum lebar karena para anak laki – lakinya sudah mulai berada di jalur yang benar. Meskipun masih banyak ga benarnya.
**
“Pagi semua.” Prita baru saja datang dari lantai dua.
“Pagi ..”
“Ga sholat subuh lo ya?.” Celetuk Fania.
“Ye gue masih halangan kelles. Tadi gue mau ikut jamaah, eh masih nyisa ternyata.” Sahut Prita.
“Hmmm ..”
“Katanya mau pagi – pagi perginya Prita?.” Ucap John.
“Nah ini pagi bukannya?.” Timpal Prita.
Prita ingin tergelak namun ia tahan. Sementara yang lain terkekeh.
“Kak John sudah rapih dari jam setengah lima pagi.”
“Derita lo itu sih.” Sahut Prita. “Emang lo jadi mau nganterin gue?.” Tanya Prita sambil melirik malas pada John.
“Kamu ga lihat ini, orang sudah rapi begini?.”
“Hmmm ... kirain lo ga mau nganterin gue.” Prita meremehkan.
“Nanti ngambek lagi. Musuhin Kak John lagi sampai dua tahun.” Ucap John.
“Makanya jangan suka asal ngebentak gue!.” Sahut Prita ketus.
‘Kena lagi.’ John membatin. ‘Sabar, sabar, John.’
***
John dan Prita berada didalam mobil John yang sudah melaju untuk mengantarkan Prita ke tempat tujuannya.
Prita tak bicara dari sejak berangkat. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil John sesekali melirik padanya sambil juga fokus mengemudi.
“Prita ....” John memanggil.
Namun Prita tak menyahut.
“Prita ....”John memanggil lagi. “Prita, Kak John minta maaf.” Prita memejamkan matanya.
‘Kenapa mesti melas gitu sih suaranya?.’
“Prita... please?. Kak John benar – benar minta maaf untuk yang waktu itu.”
'Ya Tuhan ....’ Prita merasakan dadanya berdebar mendengar suara John yang memelas dan lirih di telinganya. Prita menghirup nafasnya dalam – dalam.
__ADS_1
Ia kemudian menoleh dan menatap John sedikit tajam.
“Gue udah maafin lo Kak. Oke?.” Ucap Prita lugas. “Jadi stop memohon – mohon lagi.” John tersenyum tipis.
“Kalau kamu memang sudah memaafkan Kak John, kenapa kamu masih se - ketus ini sama Kak John, hem?.” Ucap John. “Harusnya kamu biasa aja dong kalau bicara sama Kak John, kalau kamu memang sudah memaafkan. Tapi ini kamu masih aja terlihat sentimen sama Kak John?.”
“Ya lo usaha lah biar gue ga sentimen dan ketus lagi sama lo!.”
nyanyian kode
***
John menolak saat Prita menyuruhnya pulang selepas John sampai mengantar Prita ke sebuah gedung dimana ada sebuah studio dance didalamnya. Laki – laki itu tetap ngotot akan menemani Prita sampai selesai dan mengantar Prita pulang ke rumah Keluarga Cemara yang ada di Bekasi setelahnya.
‘Kamu kan perginya sama Kak John, nanti kalau kamu kenapa – napa Kak John yang disalahkan.’
Begitu yang tadi John ucapkan pada Prita, padahal sih itu alasannya saja.
“Gue bakalan lama loh Kak!.” Ucap Prita saat dirinya dan John sampai di lantai yang ada studio dance yang lumayan luas didalamnya.
“Ini sudah yang ketiga kalinya bilang begitu sama Kak John Prita.” Ucap John. ‘Selama apa sih memang?. Paling – paling hanya dua atau tiga jam.’ Batin John. “Iya sudah, Kak John tungguin.” Ucapnya lagi.
“Terserah lo deh. Gue udah bilangin ya. Lo bakalan bosen nunggu. Liat aja.”
“Ya sudah sana.”
“Tapi lo ga boleh nunggu disini.”
“Kenapa memang?.”
“Ya ga boleh aja, lo kan bukan member dance di klub dance ini. Jadi lo tunggu di coffee shop dibawah sana.” Ucap Prita. ‘Yang ada anak – anak pada ga fokus pas latihan sama take nanti gegara ada dia disini.’ Batin Prita.
“Ya sudah kalau begitu.” Sahut John. “Kak John kebawah ya?.”
“Ya.”
John langsung turun dari lantai studio tempat Prita biasa latihan dance dengan klub dance nya setelah Prita menyahut. Beberapa teman perempuan Prita ada yang juga kebetulan baru tiba dan berpapasan dengan John saat laki – laki itu akan turun.
John tersenyum ramah pada mereka, yang ia pikir pasti teman – temannya Prita dan memang benar pikiran si bule koplak itu.
‘Mulai dah tebar pesona!.’
“Ih, siapa itu Prita?.” Salah seorang cewek setengah berlari mendekati Prita.
Prita memutar bola matanya malas.
“Ih si Prita!.” Protes teman Prita yang antusias setelah berpapasan dengan John itu. “Serius nih gue nanya. Ganteng banget sumpah. Nemu dimana lo?.”
“Lo pikir dompet nemu?.”
“Sumpah Prita! Gila guanteng banget itu dia! Kalah produser kita bahkan ganteng nya!.”
“Mata laki – an lo dasar.” Ucap Prita yang sudah melangkah masuk ke studio dan meletakkan tas serta membuka pakaian luarnya karena ia sudah mengenakan pakaian untuk latihan dibalik hoodie dan celana jeansnya.
“Gebetan baru lo itu?.”
“Kepo banget sih lo!.”
“Nah kalau cowok tadi gebetan baru lo, trus si Tristan?.”
“Tau ah!. Yang tadi bukan gebetan gue!.”
“Berarti bisa dong buat gue?. Mateng itu kayaknya.”
“Enak aja lo!. Lo kata mangga lagian, mateng?!.” Prita langsung protes. ‘Orang gue udeh incer itu sibule koplak dari gue bocah!. Enak aja buat elo si!. Punya gue itu dia!.’ Batin Priwitan ga rela.
Uhuy!
***
To be continue ...
__ADS_1