
⭕⭕⭕ SOME THINGS ⭕⭕⭕ Beberapa Hal
Selamat membaca ..
Enam bulan berlalu...
London, Inggris
Setelah menjadi bagian dari Keluarga Adjieran Smith sepenuhnya, Lucca dan Fabiana memutuskan untuk tinggal di London pada akhirnya. Meski saat ini masih tinggal di Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, namun Lucca sudah mendapatkan sebuah tempat tinggal yang sesuai dengan seleranya dan Fabiana.
Hanya belum tahu kapan mereka akan pindah kesana, karena Dad dan Mom masih menyarankan agar Lucca, Fabiana dan Adrieanna tetap tinggal di Mansion utama saja. Lucca dan Fabiana menuruti kedua orang tua angkat Lucca itu. Toh memang Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith itu memang sangatlah besar dan luas selain juga sangat mewah.
Mungkin Lucca akan mengikuti jejak Andrew dan Reno yang mengatur jadwal sedemikian rupa untuk kapan tinggal
di Mansion dan tinggal di kediaman pribadi mereka bersama istri dan anak – anak mereka.
**
“So what things you want to tell me, Dad?. (Jadi hal apa yang ingin Dad sampaikan padaku?).”
“Here. (Ini).”
“What is this?. (Apa ini?).”
Lucca mengernyitkan dahinya seraya menerima sebuah map putih terbungkus rapih yang baru saja diberikan Dad padanya. Lucca membuka map tersebut.
“Oh Dad... it really not necessary ( ini sungguh tidak perlu ).”
Lucca menatap Dad sambil memegang beberapa lembar kertas yang merupakan sebuah berkas yang sudah selesai ia baca, dengan raut wajah yang menyiratkan ketidak enakan dirinya pada Dad dan keluarga yang lain.
Dad menatap Lucca dan tersenyum pada salah seorang anak angkatnya yang ia sayangi sama seperti yang lainnya, bahkan sama seperti ia menyayangi dan mencintai Andrew dan Michelle yang merupakan anak kandungnya dan Mom.
“Dad...”
“You deserved it, Lucca. ( Lo pantas mendapatkannya, Lucca ).”
Andrew datang bergabung dengan Lucca dan Dad yang sedang berada berdua dia sebuah ruangan dekat dengan kantor pribadi Dad. Andrew sudah tahu apa yang dua pria itu sedang bicarakan, karena Dad sudah lebih dulu berbicara dengannya dan Reno serta Michelle mengenai keputusan yang sudah diambilnya itu.
“Really .. this is not necessary... (Sungguh.. ini benar – benar tidak perlu)...” Ucap Lucca menatap Andrew dan Dad bergantian.
Dirinya sungguh merasa tidak enak dengan apa yang tertulis didalam berkas yang tadi diberikan Dad padanya. Pasalnya berkas – berkas tersebut berisikan bahwa Adrieanna, putri pertama Lucca dan Fabiana mendapatkan hak waris yang sama seperti cucu – cucu Dad yang lainnya.
“Just accept it Lucca (Terima saja itu Lucca).” Ucap Andrew.
“But... (Tapi)..”
“You are my son, Lucca. Means that Adrieanna is my Grand Daughter and Mom. (Kau itu putraku, Lucca. Berarti Adrieanna adalah cucu perempuanku dan Mom).”
“Hem, my daughter too. (anak perempuanku juga).” Timpal Andrew. “And that’s a gift for her, not for you. (Dan itu adalah hadiah untuknya, bukan untukmu).”
Lucca terkekeh kecil. “Is it everyone know about this?. (Apakah yang lain tahu soal ini?).”
“Yes they are. (Iya).”
“Don’t you worry, Ghost!. Keepin’ in your head that this family is not an ordinary family. (Jangan khawatir, wahai Hantu!. Simpan dalam kepala lo itu kalau keluarga ini bukan keluarga biasa).”
Andrew menunjuk kepalanya sendiri lalu menepuk – nepuk pundak Lucca.
“Once we take you as family and there will be no hesitation for that. For having the same right like the others. And for it, we share everything. Let me know, if that still less. I can give some more for Adrieanna, since I’m richer than her Dad!.”
“(Sekali lo sudah dianggap sebagai keluarga disini maka tidak akan ada keraguan untuk itu. Mendapatkan hak yang sama seperti yang lainnya. Dan itu untuk, kita berbagi segalanya. Kasih tahu gue, kalau itu masih kurang. Gue bisa menambahkan lagi untuk Adrieanna, karena gue lebih kaya dari Ayahnya!).”
“Prententitous!.. (Sok!)..” Lucca terkekeh.
“I am! (Memang!).” Sahut Andrew dan mereka bertiga pun terkekeh bersama pada akhirnya. Lucca memandang Dad dan lebih mendekatkan diri pada pria yang sudah menolongnya, mendidiknya dan kini meresmikan nya sebagai anak angkatnya.
“Thanks Dad ... (Terima kasih Dad).”
Lucca memeluk Dad dengan tulus.
“Do not hesitate .. (Jangan sungkan ..).”
Dad menepuk - nepuk pundak Lucca kemudian.
**
Ara sedang berada di butiknya saat ini. Ibu Peri sedang sibuk menyiapkan design dan segala hal untuk mengikuti Milan Fashion Week bulan depan. Fania sedang bersama Ara untuk membantunya.
“Kamu ga ke Cafe, Sweety?.”
“Nanti habis dari sini, Kak. Nunggu si Donald Bebek jemput. Tapi mungkin cuma sebentar. Soalnya si Vla katanya mau dateng hari ini.”
“Oh ya, by the way. Drea jadi mau dimasukkan ke sekolah umum?.” Tanya Ara.
“Gue sih maunya begitu. Secara dia ga punya temen kan Kak. Kasian gue liatnya. Kasian Varen juga jadi di ribetin terus ama si Drea.”
“Ya ga apa – apa Sweety. Memang Varen juga ga mau ketinggalan Drea.”
“Iya sih. Tapi kan Varen sekarang harus lebih serius lagi belajar Kak. Secara die ngelewatin SMP langsung loncat ke SMA. Jangan – jangan ini SMA Cuma setahun doang, tau – tau dia cus kuliah taun depan. Pinter kelewatan kan die tuh.”
Ara terkekeh kecil mendengar cerocosan Fania.
“Drea ga akan mempengaruhi sekolahnya Varen, Sweety.”
Fania manggut – manggut.
“Terus si Abang tiga tahun ini akan tetep Home Schooling juga?. Dia kan ga mau pergi ke Asrama.”
“Kak Ara sama Kak Reno sih sudah membicarakan soal itu.” Jawab Ara. “Ada sekolah khusus untuk anak seperti Varen tapi tidak perlu tinggal di Asrama di London ini. Jadi dia bisa pergi ke sekolah seperti halnya sekolah umum.”
__ADS_1
“Nah ya udah sih begitu aja, Kak. Biar si Varen juga punya temen. Muntah entar die ketemu si Drea lagi, si Drea lagi dari anak gue orok.”
Ara terkekeh lagi.
“Varen itu terikat batin sama Drea kan Sweety. Sudah menemani Drea dari sejak dia masih dalam inkubator dan belum bertemu kamu atau Andrew.”
“Iya sih. Terus soal sekolah, udah diomongin sama Varen nya?.”
“Sudah. Tapi dia belum mengatakan apa – apa lagi.”
“Ya udah tunggu si Abang yang ngomong sendiri. Die kan sama tuh kek Yigit Kozen en bapak – bapaknya yang laen. Maunya ya maunya.” Timpal Fania.
Ara manggut – manggut.
“Andrew udah mau sampe nih. Kak Ara gue tinggal ga apa – apa?.”
“Ga apa – apa. Nanti juga Yigit Kozen jemput Kak Ara kesini. Dan kita juga sudah selesai kok. Kak Ara tinggal kasih ke Jane ini semua.”
“Oke! ...”
"Oh iya, Vla katanya mau stay di Rusia?."
"Kayaknya sih, Uncle Evgen udah sakit - sakitan soalnya."
"Iya ya. Dad, Andrew dan kakak kamu sepertinya mau ke sana menengok Uncle Evgen."
"Iya."
"Jadi Vla datang sama siapa?."
"Ga tau, mau kasih kejutan katanya."
"Dia sama Bryan ga mau mengikuti jejaknya Arman apa tuh?. Nikah!."
"Hah, playboy begitu itu dua orang pada!."
**
“Good evening everyone!.. (Selamat sore semua!) ....” Sebuah suara khas pria Rusia menyapa Dad dan beberapa orang yang sedang duduk – duduk minum teh di ruang santai keluarga dalam Mansion utama yang berada di London.
“Vladimir! ...”
“How are you, Dad?.... (Apa kabar, Dad?).”
Vladimir langsung memeluk Dad yang berdiri menyambutnya.
“Good like thirty! (Baik seperti masih berumur tiga puluh!).”
Vladimir terkekeh dengan ucapan Dad. Mom juga ada bersama Dad dan Andrea serta Fabiana di ruang santai. Vladimir pun menyapa mereka semua. “Hey, Princess!.” Vladimir mengangkat Andrea dan menggendongnya.
“Uncle Vla, do you bring gift for me? (Paman Vla, apa kau membawa hadiah untukku?).” Tembak Andrea yang membuat Vla tersenyum lebar.
Dad, Mom dan Fabiana hanya tersenyum saja melihat Andrea yang sama kek emak bapaknya, Andrea seringnya bicara tanpa basa – basi lagi.
“Of course I miss you, Uncle Vla (Tentu saja aku merindukanmu, Uncle Vla). Mana Uncle Bryan?.” Jawab Andrea. “And where’s my gift? (Lalu mana hadiahku?).”
Vla terkekeh pada Andrea sambil mengacak – acak rambut bocah perempuan itu.
"Uncle Bryan hanya titip hadiah dan ciuman untuk kamu. Dia sedang sibuk."
“Who are they, Uncle Vla? (Siapa mereka, Paman Vla?).”
Andrea menunjuk dua orang yang berada di belakang Vladimir.
Dad, Mom dan Fabiana langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Andrea. Vladimir tersenyum dan membalikkan badannya ke arah kemana tangan Andrea berikut pandangannya menunjuk. “Come (Kemarilah).”
Vladimir berbicara pada seorang wanita yang ditunjuk Andrea. Seorang wanita yang kira – kira seusia Fania beserta seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih seusia Varen.
“Dad, Mom, this is Shia (Dad, Mom ini Shia).” Vladimir memperkenalkan seorang wanita bertubuh ramping yang datang bersamanya.
“Nice to meet you. I’m Shia (Senang bertemu anda. Saya Shia).”
Wanita yang bernama Shia yang datang bersama Vladimir itu mengulurkan tangan dan menyapa Dad dan Mom dengan ramah, sembari merangkul gadis kecil yang juga datang bersamanya dan Vla.
“And she is Fabiana (Dan ini Fabiana).” Vla juga memperkenalkan Shia dan Fabiana.
“Hi.” Sapa Fabiana dengan senyumnya.
“Nice to meet you (Senang bertemu denganmu).”
Shia juga menyapa Fabiana dengan ramah. Lalu Shia beralih menatap Andrea.
“And this beautiful Princess is Andrea (Dan Putri yang cantik ini adalah Andrea).” Ucap Vladimir pada Shia lalu tersenyum pada Andrea. Shia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya pada Andrea yang juga tersenyum padanya.
“Is she your girl friend, Uncle Vla? (Apa dia pacarmu, Paman Vla?).”
Vla terkekeh. “Yes she is (Iya dia pacarku). Well. I’m going to marry her, actually. Do you like her? (Yah, sebenarnya aku akan menikahinya. Apa kamu menyukai dia?).”
Andrea mengangguk.
“She’s beautiful just like all my Mommies (Dia cantik seperti semua Mommy ku).” Ucap Andrea. Vla tersenyum lagi. “Can you get me down?. I want to see my gift (Bisakah kau menurunkan ku?. Aku ingin melihat hadiahku).” Ucap Andrea lagi dan Vla terkekeh lagi dan menurunkan Andrea dari gendongannya. “Where is it? (Ada dimana hadiahku?).”
“I gave it to Hera (Aku menitipkannya pada Hera).” Sahut Vla pada Andrea yang kemudian ngacir mencari pengasuhnya itu.
Dad dan Mom sedikit terkejut mendengar ucapan Vla sebelumnya, kalau wanita yang bersama Vla itu adalah calon
istrinya Vla. Bertanya – tanya sendiri juga dalam hati mereka, tentang gadis kecil yang datang bersama Vla dan wanita yang bernama Shia itu.
‘Jangan bilang ini si Vla sama seperti sibule gila yang tahu – tahu sudah punya anak.’ Batin Mom. “Apa Mom tidak salah mendengar Vladimir?. Kamu akan menikah?.”
“Yes, Mom. I came here to tell all of you about that (Aku datang kesini untuk memberitahukan kalian soal itu).” Jawab Vladimir yang sudah paham Bahasa Indonesia dengan baik.
__ADS_1
“Finally .... (Akhirnya)...”
“Dan anak manis ini?.”
“She’s Shia sisters (Ini adiknya Shia).”
“Aaahhh... Mom kira kamu mengikuti jejak si Jeff, Vladimir!.” Mom memegang dadanya, nampak lega. Vladimir dan Dad terkekeh, sementara Shia dan Fabiana tersenyum.
“Danita, salim dulu pada mereka.”
Shia menyuruh adiknya yang bernama Danita itu untuk salim pada tiga orang yang ada disana.
Adik Shia itupun mengangguk patuh dan melakukan apa yang kakaknya suruh.
“Danita tidak terlalu paham Bahasa Inggris. Masih sedang belajar, jadi harap maklum.” Ucap Shia.
“Tidak masalah, kami juga orang Indonesia. Dan Bahasa Indonesia sangat sering kami gunakan disini. Anak – anak
juga sudah terbiasa, jadi Danita tidak akan kesulitan berkomunikasi dengan Andrea dan Varen nanti.
“Terima kasih Nyonya.”
“Ah, panggil aku Mom sebagaimana Vladimir memanggil kami.” Ucap Mom sambil menunjuk dirinya dan Dad. Fabiana undur diri untuk menyusui Adrieanna. “Ayo duduk. Sebentar lagi Andrew dan Fania mungkin datang.”
“Is Evgen knows about your plan, Son? (Apa Evgen tahu tentang rencanamu ini, Nak?).” Tanya Dad saat lima orang itu sudah duduk dan seorang maid membawakan minuman untuk tiga orang yang baru datang itu.
“Already, Dad (Sudah, Dad). I told him by phone, now I will bring Shia to Russia after staying few days here (Aku sudah menelponnya, dan sekarang aku akan membawa Shia ke Rusia setelah tinggal selama beberapa hari dulu disini). Aku akan mengajak Shia dan Danita jalan - jalan di London baru kemudian ke Rusia.”
“Menginap saja disini, Vladimir.” Ucap Mom. “Awas kalau berani menolak.” Mom mengancam dan Vla terkekeh.
“Okay....”
**
Lucca senyum – senyum sendiri melihat Andrea saat mereka tengah berkumpul untuk makan malam bersama seluruh keluarga termasuk Vla dan calon istri serta adik dari calon istrinya itu.
“What’s wrong with this beautiful face, hem? (Kenapa wajah cantik ini ditekuk, hem?).” Lucca berjongkok didepan Andrea saat akan melangkah menuju ruang makan.
“I don’t like her (Aku tidak menyukainya).”
“Drea ....”
Fania merengkuh Andrea dari belakang karena putri pertamanya itu berkata tanpa basa – basi menunjuk pada adiknya Shia yang bernama Danita itu. Merasa tak enak pada Shia sang kakak dan Vla juga.
“Why? (Kenapa?).” Tanya Lucca sembari tersenyum. Menoleh sebentar pada Danita yang ditunjuk Drea dan sedang berjalan bersama kakaknya dan Ara. Sementara Vla sedang berjalan bersama Andrew dan Reno dibelakang mereka.
“Apa Nita nakal sama kamu, Nona Andrea?.”
Shia bertanya dengan takut – takut, karena merasa sungkan pada sebuah Keluarga yang sudah ia tahu kalau mereka bukan orang biasa seperti dirinya.
“Drea, Momma selalu bilang apa?. Harus sopan pada tamu.”
“Tapi aku tidak suka padanya Momma!...”
Varen mendekati Andrea yang nampak sedang merajuk dengan wajah sebal nan judesnya itu. “Little Star kenapa?.”
Andrea tiba – tiba berdiri didepan Varen sambil merentangkan tangannya.
“Jangan terus – terusan melihat Abang aku!.”
Ah, akhirnya semua orang mengerti kenapa si Incess yang biasanya selalu senang jika ada teman baru itu merajuk dan berwajah judes pada tamu di Mansion mereka.
“Dia punya matalah!.” Celetuk si Momma sambil geleng – geleng, sementara Lucca yang paham maksud Andrea pun tergelak.
“What a possesive little girl you have Fania! (Kamu punya anak perempuan yang sangat posesif, Fania).
“Hem, who’s her father? (Hem, siapa dulu itu bapaknya?).”
“Ayo Abang!.” Andrea langsung menarik tangan si Abang yang cengengesan pada si bocil yang pocecip itu.
Semua orang terkekeh melihat tingkah polah si Incess yang mengambil tempat duduk sedikit jauh dari Shia dan adiknya sambil sering – sering melirik sinis pada Danita, adik Shia.
“Haish!.” Dengus Fania saat memergoki sang putri yang kini tak hanya menatap judes pada Danita namun dua jari si Incess itu menunjuk ke kedua matanya sendiri lalu mengarah kepada Danita dengan sinisnya sambil mulutnya berkata.
“I’m watching you! (Aku memperhatikanmu!).”
“Donald Bebek anaknya!.”
Fania menggerutu tapi semua orang tergelak. Yah kecuali si Andrea dan Danita yang nampak menunduk setelah
dipandangi dengan sangat sinis oleh Andrea. Bahkan si Abang juga cengengesan.
"Orang Abang boy friend aku. Anak perempuan lain tidak boleh lihat - lihat Abang!."
"Au ah!."
**
Time flies ... ( Waktu seolah terbang )....
“Ga boleh! Abang ga boleh pergi!.”
Incess sedang merengek.
“Abang kan udah janji akan sama – sama aku terus! Ga akan ninggalin Drea!.”
**
To be continue ..
Sampe ketemu di episode berikutnya..
__ADS_1
Emak akan pake mesin waktunya Doraemon ke beberapa tahun selanjutnya.
Oh iya, kalau soal banyaknya tokoh yang termasuk keluarga Smith jarang banget emak tongolin, harap maklum ye. Soalnya emak fokus ke tokoh – tokoh inti. Kalo diceritain semua secara detail bisa kalah rekor tersanjung entar. Mungkin akan ada, tapi disesuaikan dengan alur cerita ya.