THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 181


__ADS_3

  OH DREA... 


 


Selamat membaca .........


“Kamu bisa bicara dan bertanya dengan sopan padanya!. Jangan kasar begitu ..."


Klik!


Andrea memutuskan panggilan videonya pada Varen. Ia merapatkan giginya, dan rahangnya nampak mengeras.


PRAAAANGGG! ...


Ponsel dalam pegangan Andrea dilemparkannya ke Televisi dalam kamarnya.


****


PRAAAANGGG! ...


“Astagfirullah!.”


Nenek Yuna yang kebetulan akan kembali ke kamarnya mendengar suara keras dari lantai atas. I bahkan sampai istighfar saking terkejut mendengar suar yang seperti benda yang terbanting dengan sangat keras.


“Apa itu?!.” Daddy Dewa yang juga baru masuk dari halaman belakang ikut mendengar suara keras dari lantai atas. Ikut kaget seperti Nenek Yuna.


*****


Nenek Yuna dan Daddy Dewa sudah berada di depan kamar Andrea, karena melihat Prita sudah berdiri disana dan hendak mengetuk kamar Andrea.


Wajah Prita yang nampak cemas membuat Nenek Yuna dan Dewa yakin kalau suara keras tadi datang dari kamar Andrea.


“Ada apa Prit?.”


“Ga tau ini Kak, aku tadi baru mau turun bikin susu buat anak – anak yang lagi pada dengerin si Papi dongeng. Tau – tau aku denger suara kayak ada yang pecah dari kamar Drea ....” Jelas Prita.


“Drea .....?.” Nenek Yuna mengetuk pintu kamar Andrea dan memanggil gadis remaja itu.


Tapi tidak ada sahutan dari dalam.


Daddy Dewa berinisiatif langsung membuka pintu kamar Andrea yang ternyata tidak terkunci itu. “Drea ...?.” Daddy Dewa memanggil sembari membuka pintu kamar pelan – pelan.


“Astagfirullah! ....” Nenek Yuna istighfar lagi, begitupun Prita saat melihat Televisi di kamar Andrea sudah hancur berantakan dengan layarnya yang pecah dan serpihannya berserakan dilantai. Berikut ponselnya yang bentuknya juga sudah tak beraturan karena ada beberapa bagian yang terlepas dari tempatnya.


“Andrea, Sweety?.”


Dewa memanggil Andrea dengan sedikit cemas sambil berjalan ke arah balkon karena sosok Andrea tak mereka temukan saat membuka pintu.


“Ya Allah, Drea .. kamu kenapa sayang?.”


Prita berucap pelan sembari berjongkok dan memungut ponsel Andrea serta mengambil beberapa bagian ponsel yang terpisah itu dan layar ponsel pun juga pecah.


“Mungkin di toilet.” Ucap Nenek Yuna saat melihat Dewa kembali dari balkon dan Andrea tak ada disana.


“Apa dia marah karena foto yang diposting Abang?.”


“Mungkin .... tapi itu foto kan rame – rame juga dan ga ada caption yang uwu Kak .... Masa iya hanya gara - gara foto seperti itu dia sampai begini? ....”


Dewa dan Prita berkata pelan didekat Nenek Yuna.


“Udah, apapun alasannya, lihat dulu itu Andrea. Cek di kamar mandi. Ibu takut dia kenapa – kenapa.”


“Iya Bu ...”


**


Cekrek!.


Pintu toilet terbuka sebelum Prita meraih gagang pintu.


“Drea ... kamu ga apa – apa, Sayang?.” Nenek Yuna menghampiri Andrea yang nampak terkejut dengan keberadaan Nenek Yuna, Mami Prita dan Daddy Dewa di kamarnya.


Andrea pun menggeleng, sambil tersenyum tipis. “Aku ga apa – apa Nek.”


“Kamu kenapa, Sweety?.”


“I’m okay, Dad. ( Aku baik – baik saja, Dad ).”


“Drea... kalau Drea ada masalah, Drea bisa cerita pada kami ...”


“Aku ga ada masalah apa – apa Mi.” Sahut Andrea. “Aku ngantuk.” Ucapnya sambil memandang tiga orang yang


berada didekatnya. Nenek Yuna merangkulnya.


“Ya udah, kalau Drea belum mau cerita. Drea istirahat deh ya kalau begitu.”


“Makasih, Nek....”


“Biar Nenek, minta Ipul dan Adis membersihkan kamar kamu ini dulu ya tapi?.” Ucap Nenek Yuna.


“Tidak usah Nek, besok saja. Aku mau tidur sekarang.”

__ADS_1


Daddy Dewa pun mengkode Nenek Yuna dan Mami Prita agar mengiyakan permintaan Andrea, yang sepertinya ingin dibiarkan sendiri, namun tidak secara langsung mengatakannya.


“Ya sudah kalau begitu, besok saja saat Andrea sudah berangkat ke Sekolah Ipul dan Adis membersihkan kamar kamu.”


Andrea mengangguk.


“Mami benar, kalau Drea ada masalah, ada baiknya jangan disimpan sendiri. Nenek, Mami dan Daddy Dewa akan


senang hati mendengarkan keluh kesahnya Drea. Kami juga kan menggantikan keberadaan Poppa dan Momma disini.”


Andrea hanya menjawab dengan anggukan pelan.


“Ya udah, Drea istirahat deh kalo gitu. Mau Mami buatkan susu juga?. Mami mau buat susu untuk adik – adik.”


“Engga Mi, makasih. Drea mau langsung tidur aja. Peluk cium buat adik – adik ya?. Drea ga sempet ke kamar mereka untuk memberikan ucapan selamat malam.”


“Iya nanti Mami sampaikan. Ada Papi yang sedang membacakan dongeng kok untuk mereka.”


Andrea pun tersenyum tipis lagi.


“Nitey Nite, Sweety.” Daddy Dewa memeluk dan mencium pucuk kepala Andrea dan mengucapkan selamat tidur.


Hal yang sama dilakukan juga oleh Nenek Yuna dan Mami Prita.


“Nitey Nite ...”


Lalu ketiga orang itu pun meninggalkan kamar Andrea yang mengekori mereka dan langsung mengunci pintu kamarnya setelah melambaikan tangan sebentar saat ketiga orang itu menoleh dan tersenyum padanya.


***


“Susu anak – anak mana?.”


John yang melihat Prita masuk ke kamar para bocil yang tidur berbarengan dalam satu kamar itu bertanya sembari masih duduk ditempatnya.


“Nanti diantar Lia dan Poppy.” Sahut Prita.


“Ada apa?.” Tanya John yang melihat ada keresahan diwajah Prita. Bersamaan dengan kedatangan Lia sang


pengasuh anak – anak bersama satu pengasuh lainnya membawakan susu untuk si kembar, Mika dan Aina yang masih senang tidur berada dalam satu kamar rame – rame namun berbeda ranjang.


“Andrea ...” Ucap Prita pelan.


“Andrea kenapa? .....” Tanya John sedikit cemas. “Ini .....” John melirik benda yang berada dalam genggaman Prita.


“Drea membanting ponselnya ke TV dikamar dia....”


“Hah?! ...” John nampak terkejut. “Kenapa?.” Tanya John lagi. “Apa gara – gara kesal dengan foto di lamannya si Abang?.”


“Ya ampun, sampai begitu nya dia kesal.”


“Perlu kasih tahu kakak ga ya?.” Ucap Prita seraya bertanya pendapat John jika dia menghubungi Fania.


“Nanti lah jangan hubungi Fania dulu. Takutnya dia kepikiran, nanti kasihan Rery juga. Besok aku coba bicara dengan Drea. Biar kita coba cari tahu dulu kenapa Drea sampai seperti ini. Jika memang karena foto yang Varen pasang biar aku nanti bicara sama si Abang.”


Prita mengangguk.


“Ya sudah kita istirahat sekarang?.”


Prita mengangguk lagi, lalu keduanya memberikan ucapan selamat malam pada sebagian bocil, yang sudah meminum habis susu mereka dan sedang diajak untuk menyikat gigi oleh para pengasuhnya.


***


Pagi hari para Mommies dan Daddies sudah terlebih dahulu berada di ruang makan bersama Nenek Yuna dan para


bocil juga.


Jeff, Jihan berikut Michelle sudah mendengar tentang kejadian semalam yang tidak mereka ketahui karena sudah


tidur lebih awal dan begitu nyenyak hingga tak mendengar apapun dan kebetulan juga kamar Dua J versi couple tidak dekat dengan kamar Andrea.


Sementara Michelle yang keletihan karena bekerja juga tidak mendengar apapun karena ia terlelap bersama


Ares yang tidak ingin lepas dari Mommy nya kalau sang Mommy ada di rumah. Dan para Mommies dan Daddies itu sepakat untuk tidak membahas soal semalam dulu pagi ini, karena Andrea akan pergi ke sekolah.


Para orang dewasa itu tidak ingin mengganggu mood Andrea yang sepertinya sedang kurang bagus. Dan sepertinya benar dugaan mereka, kalau mood Andrea masih sesuram semalam. Karena saat bergabung Andrea hanya mengucapkan selamat pagi dengan wajah datar, dan langsung duduk ditempat duduknya, sarapan tanpa suara.


Hal yang aneh bagi Para Mommies dan Daddies serta semua orang di Kediaman Utama yang berada di Jakarta, kalau tidak mendengar suara nyaring Andrea yang biasanya hampir tak pernah tak terdengar.


“Udah nanya belum?. Bener cewenya Abang itu?.”


Nathan datang dan langsung menggoda Andrea yang wajahnya nampak dingin itu. Dia tidak tahu yang terjadi


semalam dengan Andrea dan emosinya, karena dia baru kembali saat malam sudah sangat larut.


“Nathan!.”


Mama Jihan sedikit menghardik putranya yang memang jahil bin iseng sama Andrea itu.


“Duduk dan sarapan dengan tenang.” Daddy Jeff juga memberikan pandangan sedikit menusuk pada Nathan.


“Ya, ya...”

__ADS_1


Nathan yang paham maksud kedua orang tuanya agar tak mengganggu Andrea pun akhirnya duduk sarapan dengan tenang.


‘Ini bocah mukanya begini, apa bener itu cewenya si Abang?.’


Nathan membatin sembari memperhatikan Andrea yang sama sekali tak bicara hingga menghabiskan sarapannya


lalu berpamitan.


Bahkan Andrea yang kadang suka tengil menjambak rambutnya meski tak keras saat mau berangkat sekolah itu


kini melewatinya saja. Melirik pun tidak saat Nathan sempat menggodanya tadi.


‘Bagus sih dia kalem begini. Tapi rasanya kok aneh lihat si Drea begitu.’


***


“Astaga...” Papi John membulatkan matanya saat dua pelayan menurunkan TV berlayar datar dengan keadaan yang tak beraturan. Dua J versi couple berikut Nathan juga sama terkejutnya dengan Papi John melihat TV yang lumayan besar itu nampak setengah hancur.


“Itu TV siapa?.”


“Drea.”


“Hah?!.”


“Dia lempar dengan ponselnya semalam.” Ucap Mami Prita semalam.


Nathan sampai menoleh ke Mami Prita.


“Beneran Mam?!.”


“Ya bener, nih liat....” Mami Prita menunjukkan ponsel Andrea yang hancur dalam paper bag yang tadi ia taruh di dekat kakinya. Dia dan Papi John berencana untuk memberikan ponsel baru untuk Andrea.


“Astagaaahhhhh .... ngamuk beneran dia?!.”


“Ya kamu gara – garanya!. Sudah tau si Drea sensitif kalo soal si Abang. Apalagi kamu bahas masalah cewe yang dekat dengan si Abang. Malah kamu tambah – tambahkan!.” Mama Jihan sewot pada anaknya.


“Iya, iya maaf. Lagian haknya si Abang juga punya pacar. Kasian punya adek kelewat posesif. Udah gitu si Abang juga manjain dia berlebihan, jadi begitu kan dia tuh, ambekan!.”


“Sudah pokoknya seharian ini jangan mengganggu Andrea. Kalau perlu kamu ga usah bicara dengan dia, sebelum


dia duluan yang menegur kamu.”


“Iya Daaaaadddd ......”


***


“Ada apa Kak?!.” Michelle yang tidak berangkat ke Perusahaannya menghampiri Jihan setengah tergesa karena


mendengar pekikan Jihan.


“Drea berkelahi di Sekolah!.”


“APA?!.”


Michelle pun sangat terkejut.


“Lalu keadaan Drea bagaimana?. Apa dia terluka?.” Tanya Michelle sangat cemas.


“Entah Chel, aku juga belum jelas detailnya seperti apa. Tadi Nathan dihubungi oleh Kepala Sekolahnya Andrea dan sekarang dia buru – buru kesana.”


“Oh Tuhan ....” Michelle masih terkejut menutup mulutnya. “Aku susul Nathan deh kalau begitu ke Sekolah nya Drea.”


“Ga usah, aku sudah menghubungi Jeff. Dan dia juga sudah akan pergi ke Sekolah Drea. Kita tunggu kabar aja. Mungkin nanti Drea akan langsung dibawa pulang.”


“Ya Tuhaaann Drea .. kenapa dia sampai berkelahi di Sekolah???....” Michelle memijat pelipisnya.


***


Sekolah Andrea


“Mana adik gue?! ....”


Nathan sudah sampai di sekolah Andrea dengan sepeda motor kesayangannya untuk mempercepat dirinya sampai ke Sekolahan Andrea.


“Di Kantor ....”


Sony yang merupakan anak pertama dari kerabat keluarga Nathan sudah berada lebih dulu di Sekolahnya Andrea, dimana adiknya juga menempuh pendidikan di SMA itu.


“Apa dia terluka?.”


Nathan bertanya pada Sony sambil mempercepat langkahnya.


“Lebih baik lo lihat sendiri.”


***


“Astagfirullah Andrea!.”


Nathan sampai membulatkan mata dan memekik saat sudah sampai kantor dan melihat kondisi Andrea.


***

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2