THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 41


__ADS_3

# RAHASIA  #


Selamat membaca .....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


London, Inggris


Kafe Fania


Fania yang sedang asik dengan tabnya itu menoleh saat sebuah kecupan dipipi mendarat tiba – tiba.


“Eh, D. Kok ga bilang mau mampir siang ini?.”


“Memang harus buat janji dulu kalau mau bertemu istri?.”


Fania terkekeh dan langsung meletakkan tabnya diatas meja.


“Ululu ... ambekan amat sih Poppa.” Fania menangkup wajah Andrew, mencubit gemas pipi si Donald Bebek sambil menggoyangkan kepala Andrew pelan.


Cup!


Seperti biasa Donald Bebek maen sosor bibir istrinya itu tak perduli kapan pun dan dimana pun.


Fania menyambut bibir sang suami yang memang tak pernah bosan ia rasakan itu. Menciptakan kemesraan sejenak diantara keduanya, membuat jiwa – jiwa para karyawan kafe yang melihatnya seketika merasa iri dengan kemesraan Bos mereka dan suaminya yang sepertinya tak kunjung padam itu.


“Kalah pengantin baru juga.” Sebuah suara membuat Fania melepaskan ciuman dibibir dan rangkulannya dileher


Andrew.


“Eh Kakakkuh yang paling guanteng sama ibu peri ikut juga?.”


Fania menyapa Reno yang datang bersama Ara juga tak lama setelah Andrew. Reno memandang sebal pada dua


bebek yang baru saja encup – encupan itu sementara Ara hanya terkekeh.


“Kenapa ga bilang sih mau pada kesini?. Tau gitu kan kita bisa maksi bareng.”


“Tenang aja Sweety, kami sudah makan kok sebelum kesini.” Sahut Ara.


“Tuh, kaga ngajak – ngajak.”


“Tadi kan aku hubungi kamu dan kamu bilang kamu sudah makan, Heart.”


“Iya, iya.” Sahut Fania pada Andrew. “T’rus ini pada kesini, dikantor lagi ga sibuk emang?. Kak Ara ga ke butik?.”


“R, lo mau coffee?.” Tanya Andrew pada Reno sambil mengangkat tangannya memanggil salah seorang waitress.


“Ya boleh.”


“What do you want, Babe? ( Kamu mau pesan apa, Sayang? ).”


“Tadi protes gue mesra – mesraan sama si Donald Bebek lo Kak. Padahal sendirinya bucin.”


Fania mencebik saat Reno merengkuh Ara saat bertanya pada istrinya itu sambil mengecupi pipi Ara.


“Seperti kamu ga paham saja sama kakak kamu itu, Heart.”


“Iri bilang Bos.”


Keempatnya terkekeh dan langsung menyebutkan pesanan mereka pada waitress yang sudah menyambangi meja


tempat mereka duduk.


“Ngomong – ngomong kak Jeff mana? Tumben ga ikut.”


“Still in office ( Masih di kantor ). Biar ada kerjaannya sebelum dia bertolak ke Indo.”


Fania hanya ber – oh ria.


“Sedang giat – giatnya bekerja untuk membina keluarga yang bahagia dan sejahtera.”


Ketiga orang lainnya pun tergelak mendengar ucapan Reno soal Jeff.


“Setidaknya dia sudah mulai serius buat insyaf.”


“Iye bener, Kak Ara.” Sahut Fania.


“Yah, terlepas dari dosa ranjangnya dan Jihan, setidaknya kehadiran Nathan merubah Jeff menanggalkan tag casanova dalam dirinya. Sedang berusaha lurus.”


“Yah mudah – mudahan itu si bule gila bisa menangin hatinya Jihan.”


“Harus bisa!.” Sahut Andrew dan Reno.


“Kompak bener Donald Bebek ama Yigit Kozen.” Timpal Fania.

__ADS_1


“Because if he failed ( Karena kalau dia gagal ), dia akan dikeluarkan dari Keluarga Adjieran Smith. Right, Ndrew? ( Ya kan, Ndrew? ).” Ucap Reno sambil terkekeh. “Memalukan klan Adjieran Smith kalau sampai gagal menaklukkan satu wanita.”


“Absolutely right, R ( Sangat benar, R ).”


Andrew ikut terkekeh.


“I will ask Dad ( Aku akan minta Dad ) untuk mencoret namanya dari daftar ahli waris.” Ucap Andrew dan Reno pun tergelak.


“I couldn’t agree more ( Gue setuju banget ).”


Reno mengulurkan satu tangannya yang terkepal sambil cengengesan pada Andrew.


Dua laki – laki yang terkekeh geli itu pun melakukan tos kepal. Sementara Ara dan Fania hanya geleng – geleng.


“Nah kalo si Jihan nya emang cinta sama pacarnya yang sekarang, masa mau maksain?.” Celetuk Fania.


“Baru pacar kan? No big deal ( Bukan masalah besar ). Bukan istri orang. Kesempatan masih terbuka lebar. Hati wanita itu hanya tinggal bagaimana kami para pria punya keinginan dan usaha yang besar untuk memenangkan nya my Dear Heart.” Ucap Andrew .”Seperti keinginan dan besarnya usaha aku untuk membuat kamu jadi milik aku, kan?.”


Andrew memainkan alisnya. Fania mengerucutkan bibirnya pada Andrew.


“Yap that’s right ( Ya benar sekali ).”


Reno mengiyakan ucapan Andrew barusan.


“Kejar, Pegang, Ikat.”


“Kuda kali ah!.” Celetuk Fania dan keempat orang itu terkekeh lagi.


“Benar ya dibilang R, Heart. Kejar sampai dapat. Pegang untuk dinikahi. Ikat untuk ditunggangi diatas ranjang.”


Dua laki – laki yang kadang hilang akhlak itu pun tertawa terbahak – bahak.


Dua wanita yang bersama mereka memutar bola matanya malas.


“Kaga jauh – jauh.”


“Aku dan R sudah bilang pada Jeff. Perkara mudah untuk memiliki ibunya Nathan.”


“Apa?.”


“Ya pakai Nathan sebagai alasan lah.” Ucap Andrew lagi. “Lambat. Senjata sudah lengkap masih belum menyerang.”


“Slowly but sure ( Perlahan tapi pasti ) maksudnya Kak Jeff kali, D.” Sahut Fania.


“Sudah Sweety. Kalau bicara soal cewe dan pemaksaan, dua orang ini jagonya.” Ucap Ara. “Ingat kita berdua kan korban pemaksaan mereka.” Ara pun terkekeh.


“Iye bener Kak Ara.” Sahut Fania.


“Tapi, dari yang aku baca dari gelagatnya Jihan sih, dia itu sepertinya juga ada rasa pada Jeff. Entah kadarnya sedikit atau banyak.”


“Dih sok you know deh ah Ibu Peri.”


“Ya kan Ibu Peri, jadi feeling ke – peri – an Kak Ara itu akurat.”


“Iya dah caya!.” Celetuk Fania. “Nah kalo soal sibule gila kan soal jodoh nye dia udah on going tuh. Tinggal nunggu masalah waktu. Kalo sibule koplak?.” Ucap Fania seraya bertanya. “Belom keliatan tanda – tanda die mau cari pendamping perasaan.”


Fania berbicara sambil berdiri.


“Bentar deh gue aku lupa ada pastry baru disini. Bentar ya aku minta anak – anak bawain buat kalian coba.”


Fania berjalan kearah Pastry and Cake Showcase, tiga orang yang sedang bersamanya itu saling tatap dalam diam.


“Pastry baru yang kamu buat sendiri atau orang lain?.”


“Buat sendiri dong. Puff pastry sih, tapi gue kasih isian seperti isian risol yang suka gue bikin Kak.”


“Ga sabar pengen coba!.”


Tak lama salah seorang waitress membawakan makanan yang tadi Fania bilang.


“Kasih pendapat jujur ya. Ini patut dijual apa engga.” Ucap Fania. “Nah ngomong – ngomong yang tadi soal si bule koplak.”


Fania berbicara sambil memberikan satu – satu piring yang berisi pastry buatannya pada tiga orang yang bersamanya itu.


“Itu si Kak John sampe sekarang kan belum gue liat lagi deket apalagi serius sama cewe sejak putus dari si Aila, kenapa sih?. Masih belum bisa move on juga emang?.” Fania melanjutkan pertanyaannya. “Dia ga ada niatan gitu cari istri?.”


Dan ketiga orang itu kembali saling tatap.


***


Flashback on


"So, ada apa R?. Telfon dari siapa tadi sampai lo kaget begitu?." Tanya Andrew.


"John."

__ADS_1


“Kenapa dia?.” Tanya Andrew lagi sambil meminum minuman kalengnya , begitu juga dengan Jeff.


“Dia mau melamar Prita.”


BLURFFFF!.


“APA?!.” Andrew dan Jeff sama – sama menyembur, Reno terkekeh.


Andrew dan Jeff sama – sama mendelik.


“Is he drunk? ( Lagi mabuk dia? ).” Ucap Andrew saking tak percaya yang didengarnya dari Reno barusan.


Reno mengendikkan bahunya. “Sepertinya sih engga.” Sahut Reno.


“Ah gila, si bule koplak.” Timpal Jeff.


“Memang dia sudah menyatakan perasaannya pada si Prita?.”


“Dia bilang waktu telfon ya hari ini mau mengungkapkan isi hatinya pada si Prita.”


“Belum tahu si Prita mau terima dia apa engga, main mau lamar aja.”


“Mungkin dia sudah frustasi akibat menahan rasa cinta?.”


“Kalau soal perasaan sih, dari penilaian gue. Prita juga masih ada rasa sama John. Tapi dia sebisa mungkin menutupinya.” Ucap Andrew. “Kalau kemungkinan si John menyatakan cinta, gue rasa delapan puluh persen gue yakin Prita ada kemungkinan menerima.”


“Tapi ..?.”


“Tapi masalahnya gue ga tahu apa Fania setuju kalau John dan Prita menjalin hubungan.”


“Alasannya?.”


“Fania merasa John masih dibayangi atas perasaannya pada Aila. Dan pastinya Fania tidak akan mau kalau sampai Prita menjadi pelariannya John.”


“**I see( Begitu ya ).” Sahut Reno.**


“Ada benar dan tak salah juga kalau Fania berpikir seperti itu, dia hanya ingin yang terbaik untuk adiknya. Terlepas dari label Casanova yang pernah singgah juga pada itu si bule koplak.”


“Tapi dari apa yang gue lihat sih,**I think John is truly love Prita( Gue rasa kalau John itu memang benar – benar mencintai Prita ). Dia terlihat frustasi dan putus asa waktu di jauhi Prita. Dan wajah sedihnya itu pernah gue lihat saat dia cerita kalau dia ketemu Prita tapi si Priwitan malah kabur dari dia.”**


“Well, kalau begitu sekarang tinggal tunggu soal si John yang menyatakan perasaannya pada Prita. Dan kalau Prita memang menerimanya, tapi Little F tidak setuju, tinggal si John berjuang untuk membuat istri gue percaya soal cintanya pada Prita.” Ucap Andrew.


“Berat sepertinya perjuangan John kalau Little F sampai ga setuju.”


Flashback off


****


 “Dia ga ada niatan gitu cari istri?.”


Andrew, Reno dan Ara kembali saling tatap.


“Ga mungkin juga die nungguin si Prita, kan?.”


Andrew menoleh pada Fania.


“Memang kenapa kalau John mau sama adik kamu, hem?.”


“Ah jangan ah kalo bisa sih. Ntar si Prita buat pelarian doang lagi sama Kak John. Kan dalem banget tuh cintanya si bule koplak sampe rencana mau nikahin si Aila, sampe sempet ngamuk kan juga waktu itu di apartemennya?.”


“Memang Prita sudah ga ada rasa sama John?.”


“Ya entah sih sih.” Sahut Fania pada pertanyaan kakak gantengnya. “Tapi kalo masih ada juga,  gue bakal nyuruh si Prita mikir dua kali kalo Kak John nembak dia.”


“Kenapa?.”


“Yah, gue hanya ingin Prita dapet yang terbaik. Ga mau dia jadi pelariannya Kak John atas Aila. Terlebih lagi gue ga mau kalau Kak John nembak si Prita atas dasar kasihan. Kan dia udah tau kalo si Prita pernah punya rasa sama dia.”


“And how if John ( Dan bagaimana kalau seandainya John ) memang sudah mencintai Prita?.”


“Rasanya ga mungkin. Dia Cuma merasa bersalah aja sama si Prita menurut aku sih, D. Sayang sih sayang gue sama Kak John. Gue juga pengen dia dapet jodoh yang bae, tapi kalo bisa jangan ade gue.”


‘Nah loh.’ Andrew, Reno dan Ara yang sudah tahu cerita soal John yang menyatakan cinta dan memulai hubungan


dengan gadis itu kembali saling tatap.


‘Kenape ni orang bertiga maen liat – liatan?.’


Batin Fania saat matanya melirik tiga orang yang sedang berada didekatnya.


‘Tau ah.’


****


To be continue......

__ADS_1


__ADS_2