THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 293


__ADS_3

#  APAAN TUH!  #


 


Selamat membaca....


“Little Star!!!! ...”


“.......”


“Tunggu! Jangan berpikir yang engga – engga dulu!!”


"Masa bodoh! Nunu Nana Nananina, No Way!"


"Aaa ... Little Staaarr..."


“Huh!”


Syut!


“Lepas ih!”


“Kok jadi kamu yang marah sih, Little Star?...”


“Ya Abang pikir dong, istri mana yang tidak kesal kalau tahu suaminya suka main ke hotel tempat berkumpulnya para kupu – kupu liar!” Seru Andrea sebal.


“Kupu – kupu malam yang benar, Little Star”


“Kupu – kupu malam kalau hanya malam keluarnya! Kalau kupu – kupu liar keluar saat malam, subuh, pagi, siang,


sore! Seperti cewe – cewe di hotel itu kan?!” Cerocos Andrea. “Jangan – jangan dibelakang Drea, Abang suka bersenang – senang sama mereka!”


“Enak saja! Jangan asal tuduh suami! Ga baik!”


“Gue sama Via tunggu di outdoor lah. Lapar!”


“Awas ah! Drea juga lapar!”


“Makan disini saja Than!”


“Ogah! Gue mau ajak Via makan di outdoor ini resto. Sumpek disini!”


Nathan pun melenggang keluar dari dalam Private Room dengan menggandeng mesra Kevia.


“Sama! Sumpek!”


Andreapun mencebik sambil memandang sinis pada si Abang. “Dengarkan aku Little Star..” Pinta Varen.


Varen sudah berdiri menghalangi pintu yang buru – buru ia tutup saat Nathan dan Kevia sudah keluar dari ruangan tersebut.


Andrea mendengus kemudian. Lalu berusaha menggeser tubuh Varen yang bersandar di pintu Private Room itu.


“Abang awas ah! Drea mau menyusul Tan – Tan dan Via!. Drea lapar tahu ga?!” Seru Andrea.


“Iya tapi janji setelah makan, kamu mau mendengarkan penjelasan Abang?”


“Ck!”


‘Ini kenapa jadi terbalik begini sih kondisinya? Bukannya gue yang seharusnya ngambek kan?’


“Awas! Dengar ga?!”


“Janji dulu!”


“Iya udah iya!”


“Yang benar dong, hem?”


“Iya Drea janjiii.. nanti setelah makan Drea dengarkan penjelasan Abang!”


“Nah gitu dong!.. benar ya?”


“Iya!..”


“Cium kalau begitu”


“Ga! Malas!” Sahut Andrea.


“Ya sudah disini saja kalau begitu”


“Abang ih!”


“Cium dulu makanya!”


“Rese ih! Maksa – maksa!”


“Biar!”


Andrea mendengus lagi.


Cup!


“Apa itu?”


“Ya cium! Apalagi?!”


“Itu mengecup namanya...”


“Iihhh Abaanngg.. Drea lapar ini!” Rengek Andrea.


“Ya makanya cium yang benar...” Anak Naga maksa tanpa dosa.


“Hish!”


Andrea mendengus sekali lagi. Namun pada akhirnya merapatkan dirinya pada si Abang yang sedang dalam mode menyebalkan dimata Andrea saat ini.


Cuuuupp...


Lalu Andrea menempelkan bibirnya pada bibir Varen dan mencium sang suami dengan lembut. Varen menyunggingkan senyum kemenangannya.


Andrea hanya berencana mencium Varen sebentar saja, yang penting agak lamaan dari yang pertama biar sah jadi ciuman bukan kecupan.


Namun alih – alih sebentar seperti yang Andrea rencanakan, ciumannya dan Varen malah menjadi lama dan dalam karena dengan cepat Varen menahan tengkuknya saat Andrea hendak menjauhkan bibirnya.


“Itu baru benar ..”


“Rese!”


“Biar!”


“Ya sudah awas!..”


“Iya iya ..” Varen mengusap dan mengacak pelan kepala dan rambut Andrea saat keinginannya sudah terpenuhi.


Lalu Varen menegakkan tubuhnya dan langsung meraih mesra pinggang sang istri kemudian menggeser dirinya untuk membuka pintu ruangan tempat mereka berdua berada saat ini dan keluar dari sana untuk menyambangi Nathan dan Kevia yang berada di area outdoor restoran milik Daddy Dewa.


***


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


 


“Tuan”


“Ada apa Ammar?. Bukankah aku menyuruhmu untuk beristirahat?”


Hari sudah malam saat Ammar datang ke Kediaman Utama.


“Saya datang untuk memberikan laporan Tuan”

__ADS_1


“Kau kan bisa menghubungiku lewat panggilan telpon” Ucap Varen yang sedang bercengkrama dengan tiga Dads


yang memang berdomisili di Kediaman Utama dan juga Nathan.


“Rasanya akan lebih baik kalau saya datang dan menyerahkan ini pada Anda Tuan” Ammar menyodorkan sebuah


amplop berwarna coklat pada Varen. “Dan juga ini”


Ammar memberikan ponselnya pada Varen.


“Dalam amplop tersebut adalah laporan yang merupakan data lengkap dari pengirim uang dalam jumlah besar yang sudah kita tandai pada rekening pengurus panti”


Varen manggut – manggut sambil membuka amplop yang diberikan Ammar lalu mengeluarkan isinya dan membaca


berkas – berkas tersebut yang ia bagi pada tiga Dads yang bersamanya serta Nathan. “Duduklah Ammar”


Nathan mempersilahkan.


“Iya Tuan. Terima kasih” Jawab Ammar dan ia pun langsung duduk di sofa single samping Daddy Dewa. “Yang


masih kami selidiki adalah hubungan ketiga orang itu dengan wanita yang bernama Dilara” Ucap Ammar.


“Lalu apa dalam ponselmu ini?” Tanya Varen yang sudah memegang ponsel Ammar.


“Rekaman video dalam panti Tuan” Jawab Ammar dan Varen langsung menyetel video yang sudah disiapkan Ammar dalam ponselnya dan menonton video tersebut bersama para Dad dan Nathan. “Emali membawa salah seorang gadis di panti dan sepertinya sedang mengancam gadis tersebut”


“Soal apa?”


“Kalau soal apa kami menunggu informasi dari Dara, Tuan. Dia mengikuti Emali membawa gadis itu karena Emali membawanya ke dekat area gudang” Jawab Ammar.


Lima Tuan yang berada di ruangan yang sama dengan Ammar itupun manggut – manggut. “Lalu dari penyadap dalam ruang kantor, apa ditemukan sesuatu?”


“Sejauh ini tidak ada pembahasan mencurigakan dari Emali. Hanya ada video yang menampakkan dia keluar dari ruangan dan pergi ke kamarnya untuk menerima panggilan telpon” Jelas Ammar. “Sayangnya kita lupa untuk juga memasang penyadap disana” Sambung Ammar.


“Ya sudah, aku akan menunggu laporan Dara kalau begitu” Sahut Varen.


“Baik Tuan”


***


“Kenapa ga langsung angkut aja itu si Emali, terus kita interogasi aja sih?” Tanya Nathan selepas Ammar undur diri. Sementara dirinya dan empat pria lain di keluarganya itu masih duduk – duduk di ruang main billiard dan tempat Gappa bermain catur bersama Ake. Tiga Dads dan Varen menggeleng kompak.


“Jika benar kecurigaan kita. Emali otomatis adalah sebuah bagian dari sindikat. Dan kalau mengetahui seperti apa Dilara itu, kurasa benar jika wanita itu bukan orang sembarangan dan sudah dapat dipastikan mereka tergabung dalam suatu sindikat yang cukup besar. Jadi jika kita terburu – buru dengan Emali kurasa mereka akan curiga dan pasti akan bertindak cepat untuk mengantisipasi segala hal yang mereka anggap sebagai ancaman”


“Yang jelas kita perlu dulu mengetahui siapa Dilara itu” Ucap Papi.


“Oh iya Dad, soal rumah dimana Little Star melihat wanita itu keluar dari sana, sudah tahu siapa pemiliknya?”


“Ah iya! Omar bilang sudah mengirimkan detailnya via email” Sahut Daddy Jeff. “Ponsel aku tinggal di kamar. Aku ambil dulu kalau begitu” Sambung Daddy Jeff seraya berdiri.


“Besok sajalah Dad. Sebaiknya kita semua beristirahat saja”


“Ya kurasa kau benar”


Kelima pria idaman itu pun sama – sama berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan tempat mereka untuk kembali ke kamar masing – masing dan beristirahat.


***


“Oh ya Bang, apa kau cerita pada Dad R dan Poppa tentang hal yang sedang kita selidiki ini?”


“Belum”


“Gue sudah cerita ke R” Celetuk Papi saat mereka berlima tengah berjalan menyusuri koridor dari ruang billiard.


“Lalu R bilang apa?”


“Dia akan kesini besok atau lusa bersama Ara” Sahut Papi pada pertanyaan Daddy Dewa.


“Oma dan Val ikut juga?”


“Sepertinya tidak”


Varen dan Nathan manggut – manggut.


“Bagus kalau begitu. Siapa tahu Dad dan Pop tahu tentang Dilara dan para ‘pemain’ yang berada dibelakangnya jika kecurigaan kita benar” Ucap Varen.


“Belum tahu juga, Bang. Kami tidak terlalu memiliki ‘urusan’ disini. Jadi segala hal kotor yang terjadi di negeri ini tak terlalu kami ambil peduli jika memang tak mengusik kita. Tapi nanti cobalah, tunggu Dad R dan Poppa kalian datang saja”


“Iya” Sahut Varen dan Nathan.


***


“Little Star? ..”


Varen memanggil Andrea saat dia tidak menemukan istri kecilnya itu saat si Abang sudah berada dalam kamar tidurnya dan Andrea. Istri kecilnya itu tidak ada di ranjang atau di sofa tempatnya biasa tidur – tiduran menonton TV.


“Little Star? .. Nyonya Alvarend? ..” Varen mencari Andrea di balkon namun nihil. ‘Kemana dia?’


***


Varen sudah kembali menyambangi lantai bawah kediaman, saat tak menemukan Andrea di kamar mereka.


Hanya ada ponselnya saja, tapi pemiliknya tak ada.


Suasana Kediaman sudah temaram, pertanda semua penghuni sudah berada di kamar mereka masing – masing,


termasuk para pekerja yang tinggal didalam Kediaman. Varen menuju dapur, karena bisa saja istri kecilnya yang memang doyan ngemil dan nafsu makannya memang luar biasa itu sedang mencari sesuatu yang bisa ia kunyah disana.


Ga ada juga Andrea di dapur. Varen hendak panik, tapi ga jadi karena saat dia melewati area pintu halaman belakang, matanya menangkap air di kolam renang sedikit bergoyang.


Sudut bibir Varen kemudian melengkung karena sosok yang ia cari ada di dalam kolam renang, dan sepertinya sedang melakukan hobi anehnya pura – pura mati di air itu.


Varen tak bersuara dan langsung membuka kaos rumah dan celana pendek yang ia kenakan lalu melemparnya kesembarang arah. Menyisakan boxernya saja yang menempel di tubuh si Abang sekarang.


Lalu Varen pun masuk ke kolam renang dengan sangat perlahan dan bersandar diam di salah satu bagian sisi dalam sambil memandangi sang istri yang seperti dugaannya itu sedang melakukan hobi anehnya dan sekarang sudah menelentangkan tubuhnya diair lalu meluncur pelan ke arah dimana Varen berada.


***


‘Eh?’ Andrea langsung mengubah posisinya yang sedang telentang di dalam air setelah ia merasakan kepalanya membentur sesuatu. Sepertinya bukan sisi pinggir kolam renang, karena Andrea sudah memprediksikan jaraknya sehingga ia tidak akan sampai membentur pinggiran kolam.


“Ga ajak – ajak, hem?”


“Ih Abang, mengagetkan aja”


“Sudah lama disini?” Tanya Varen yang sudah merapatkan tubuh Andrea dengan tubuhnya yang bertelanjang dada itu didalam kolam renang.


“Lumayan sepertinya. Saat Abang masih bersama Dads dan Tan – Tan di ruang billiard” Jawab Andrea.


“Hemm ...” Varen bergerak perlahan menuju pinggir kolam renang yang berada disudut sedikit tersembunyi. “Masih marah?” Tanya Varen yang sudah menempatkan Andrea dipinggir kolam dengan perlahan hingga punggung telanjang Andrea yang hanya menggunakan bikini itu bersentuhan dengan pinggiran kolam.


Andrea menggeleng. “Kan tadi Abang sudah jelaskan”


Varen tersenyum.


“Makasih ya?....”


“Iya..”


“Berarti boleh ...? ...” Varen lebih merapatkan dirinya pada Andrea dan jemarinya bermain nakal disekitar perut Andrea.


Membuat desiran lembut yang seketika membuat Andrea menjadi sedikit tegang.


“A-abbang...”


Andrea tergugu. Tangan Varen semakin turun dari area perut rampingnya. Ia tegang karena ini bukan di kamar mereka, melainkan di kolam renang dan Andrea khawatir akan ada yang melihat mereka berdua se - intim ini sekarang, meski Varen masih hanya sedang menggoda Andrea yang wajahnya kini mulai bersemu.


Cup!


“A-abbang...” Andrea dengan cepat menahan tangan Varen saat salah satu jemari nakal suaminya itu hendak menelusup lebih dalam ke kain segitiga yang ia kenakan. “Ja-ngan...”

__ADS_1


Varen menyeringai. “Kenapa ...?” Tanya Varen yang nampaknya sudah sedikit kepanasan meski sedang berada didalam air. Andrea menahan nafasnya. “Nana... Nunu... katanya mau disumpal ke mulut aku ...” Ucap Varen yang sudah memposisikan kedua tangannya tepat di atas Nunu dan Nana yang nampak begitu menggoda imin si Abang dalam balutan atasan bikini yang dipakai Andrea saat ini.


Andrea semakin menahan nafasnya kala re**san lembut di nunu dan nana ia rasakan.


“A-abbang... ki-ta bukan dikamar...”


“Kenapa memang, hem ...??”


“Nan-ti ... Ahh ...”


Kalimat Andrea tak dapat ia selesaikan dan de**han tanpa akhlak keluar begitu saja dari mulutnya saat dengan cepat si Abang sudah menyingkirkan kain bikini bagian kanannya dan menyumpal mulutnya sendiri dengan si nana.


Abang pasti sudah gila – Itu yang mampir di benak Andrea saat ini. Mencumbunya dengan intim di kolam renang


terbuka seperti ini, bukan di penthouse pribadi mereka. “A-abbang... nanti ada yang li-hat...”


Varen mengangkat kepalanya dari Nana dan mensejajarkan wajahnya dengan Andrea. Hembusan nafasnya yang sedikit mulai tersengal itu Andrea rasakan menyapu lembut di wajahnya.


“Siapa suruh jadi anak nakal hari ini, hem?” Ucap Varen. “Jadi ini hukumanmu” Mata Andrea langsung terpejam kalau bibirnya sudah dilu**t dalam oleh si Abang berikut jemari nakalnya yang menjelajah tubuh Andrea yang bisa si Abang gapai.


Andrea hendak bicara, namun sulit karena Varen tak nampak akan menghentikan ciumannya yang sudah membabi


buta itu.


Hingga pada akhirnya bibir Varen terlepas juga karena Andrea mendorong sedikit kuat dadanya lalu nampak istri kecilnya itu tersengal nafasnya. Varen menyeringai dan kembali merapatkan tubuhnya pada tubuh Andrea yang punggungnya masih menempel dipinggiran kolam.


“Draggy minta dipuaskan ...” Bisik Varen sembari menghentakkan sesuatu dibawah sana hingga Andrea bisa merasakan sesuatu yang keras menonjol namun jelas bukan polisi tidur.


Andrea tergugu. Tak menampik kalau perbuatan si Abang itu membuat sesuatu dalam dirinya juga berkobar.


“I-ya ... ta-pi ga disini juga, Ab-ba... akh!”


Andrea tersentak kaget, namun ada gelenyar kenikmatan yang menjalar ditubuhnya kemudian, saat dibawah sana sudah ada yang menyumpal-nya ketat.


Entah sejak kapan kain segitiga miliknya itu tahu – tahu sudah ada di pinggir atas kolam renang tempat Andrea dan Varen berada, berikut dengan celana boxer si Abang


Varen menyeringai lalu bergerak perlahan. Andrea menggeleng namun tak kuasa menolak apa yang sedang si Abang lakukan sekarang. Sayang, kalau dilepaskan.


Ah, ga ada akhlak memang.


Si Juleha memang langsung ambyar akal sehatnya kalau Abang sudah bergerilya hingga menjajah tubuhnya.


“Aghh...!” Varen kemudian membungkam mulut Andrea yang mulai mengeluarkan de*han yang sebenarnya akan


Varen biarkan jika mereka berada di kamar\, karena Varen memuja setiap de**han manja yang keluar dari mulut Andrea kala Varen sedang menjajah istri kecilnya itu. Namun berhubung saat ini mereka sedang tidak ada di kamar ... jadilah terpaksa Varen membungkam mulut Andrea hingga de*han istri kecilnya itu tertahan dan gantinya Andrea semakin ketat melingkarkan tangan dan kakinya ke leher dan pinggang Varen.


Andrea benar – benar sudah tak karuan. Antara takut kalau perbuatan mesumnya dan si Abang dipergoki seseorang dalam Kediaman meski mereka adalah suami istri sah, tapi kan ini mereka sedang mantap – mantap di area terbuka.


‘Abang gila! Gue juga sama gilanya ini sih!’


Andrea ambyar.


“Fas-ter Abaanngghh ..”


***


Sementara di bagian lain Kediaman.


Nathan dan Kevia yang belum berbaring di peraduan itu baru saja selesai mengobrol santai soal panti milik Marsha.


“Berenang yuk?” Ajak Nathan.


Kevia nampak berpikir namun tak lama ia mengangguk.


Nathan tersenyum dan langsung menyuruh Kevia untuk mengenakan pakaian renang lalu men-double nya dengan kaos dan celana pendek rumahan.


“Ga bawa handuk?”


“Ada kok di sana” Ucap Nathan yang langsung menggandeng Kevia keluar dari kamar mereka menuju area kolam renang di halaman belakang. Jakarta memang terasa sedikit panas malam ini, karena angin seolah enggan berhembus.


“Ya udah”


“Yuk!”


***


Nathan dan Kevia bergandengan tangan sampai mereka sudah menginjakkan kaki di area halaman belakang.


“Fas-ter Abaanngghh ..”


‘Eh ..?’


“As your wishh.. My Little Starrhh .. (Sesuai keinginanmuuhhh.. Little Starkuuuh..)”


‘AP-PAAN???! ..’


Mata Nathan membola sempurna melihat dua siluet di ujung kolam renang yang temaram sedang bergerak – gerak bak uget – uget dalam air.


Sementara Kevia tak hanya membola dengan sempurna juga matanya, namun bibir bawahnya jatuh dengan spontan hingga membuatnya menganga mendapati pemandangan yang sama dengan suaminya itu.


“Eunghh..”


Nathan dan Kevia terpaku kelu dengan pemandangan samar – samar dimata mereka sampai merinding rasanya.


‘Ya ampuunn!!.. itu.. Drea sama Kak Varen, kan?! .. me-reka la-gi.. be-gi-tuan-kaahh?? ..’ Batin Kevia yang terperangah.


‘Pasangan ga ada akhlak!’


Nathan membatin.


“J-o.. itu.. mereka ..”


Kevia yang masih terpaku tubuh dan pandangannya itu berkata dengan sangat pelan pada Nathan.


“Jangan dilihat!”


Nathan menutup mata Kevia dengan tangannya lalu menarik tubuh Kevia menjauh dari tempat mereka memergoki sepasang insan yang sedang maen kuda aer di kolam renang.


“Dasar pasangan mesum!”


Nathan menggerutu dalam gumamannya seraya mengajak Kevia berjalan menjauh dari halaman belakang dan kolam renang untuk kembali ke kamar mereka.


“Besok harus dikuras habis itu kolam!”


Si Tan – Tan kesal.


‘Sialan emang si Abang! Curi Start gue dia!’


Ternyata kesal karena keduluan Abang.


Nathan nyatanya punya niatan yang sama seperti apa yang dia lihat Abang lakukan pada su Cute Girl dengan mengajak Kevia berenang malam – malam saat Kediaman sudah begitu sunyi.


Tapi sayang sungguh sayang, rencana si Tan – Tan gagal total akibat sudah keduluan si Abang yang sudah lebih dulu ada di kolam renang dan tadi sedang bergoyang – goyang maju mundur tanpa akhlak bersama si Juleha.


‘Haish! Ga Cuma hal – hal lain. Soal nananina itu si Alvarend selalu didepan! Kampret memang!’


***


To be continue ....


Jangan lupa ritualnya ya readers yang blaem – blaem


LIKE


KOMEN


VOTE


Jika berkenan.

__ADS_1


__ADS_2