
ANOTHER BEGINNING for ANOTHER HAPPINESS
( Awal yang Lain untuk Kebahagiaan Lainnya )
Selamat membaca...
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
Hari itu ....
“Sayang kan sama aku?
“Iya....”
“Aku mau kamu, Via ....”
*****
“Vi ....”
“.......”
“Vi, kamu marah ya?”
“.......”
“Via ....?”
“.......”
“Kamu marah?”
“.......”
“Vi, please jangan diam begini”
“Engga, aku ga marah”
“Maafin aku ya?”
“Udah sering ya?”
“Apa?”
“Kayak tadi”
“Ini yang pertama”
“Boong”
“Ga apa kalau kamu ga percaya. Tapi memang ini yang pertama buat aku”
“Kenapa?”
“Apanya?”
“Baru ngelakuin yang tadi sama aku?. Mantan kamu cantik – cantik semua bukannya?. Bagus – bagus juga kan
badannya?”
“Karena kamu beda”
“Bedanya?”
“Karena aku cinta, sama kamu Via”
*****
Itu empat tahun lalu
Sekarang...
Nathan menatap Kevia yang sudah berganti dengan piyama tidurnya setelah waktu tidur tiba dan semua orang
di Kediaman sudah kembali ke kamarnya masing – masing.
Ingatan saat pertama kali dia ‘menyentuh’ Kevia terputar lagi di otak Nathan.
Indah.
Meski saat itu yang Nathan lakukan Kevia adalah kesalahan dengan merenggut mahkota Kevia sebagai wanita saat usia mereka masih belia dan tentunya salah karena melakukannya diluar pernikahan. Dan meskipun tanpa paksaan.
Tapi saat itu Nathan memiliki alasan. Rasa yang Nathan pada Kevia itu cinta. Dan Kevia yang seolah ingin ‘pergi’ menjadi alasan kuat Nathan yang didasari oleh kesalahan pemahaman akibat pergaulan hingga akhirnya keputusan untuk menahan Kevia pergi, adalah dengan mengambil miliknya yang paling berharga sebagai seorang wanita.
Setahu Nathan kan juga begitu, kalau di drama yang suka ia tonton saat menemani Andrea, wanita yang sudah diambil ‘itu’ nya oleh pasangannya saat mereka belum menikah pasti ga akan kemana – mana lagi.
Tapi ada yang terlewat dari pikiran Nathan kala itu. Buah perbuatan dari hubungan intim yang dilakukan.
Kehamilan.
Yang membuat Nathan blingsatan pengaruh kepanikan dan ketakutan atas ketidaksiapan akan bayang – bayang masa depan. Tak siap untuk menjadi seorang ayah kala itu, saat Kevia mengatakan kalau ia sedang mengandung hasil dari main kuda – kudaan bersama Nathan.
Hingga akhirnya satu ide gila muncul yang membuat Nathan kehilangan Kevia selama kurang lebih empat tahun, dan selama empat tahun itu Nathan hidup dengan rasa bersalah dan rindu yang tak berujung.
Tapi semua sudah berlalu. Kini Nathan diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menebus kesalahan
dimasa lalu pada Kevianya.
“Kenapa?” Kevia bersuara, sembari menatap Nathan yang sedang duduk bersandar dimeja rias sambil memandanginya yang sedang menyisir rambutnya.
__ADS_1
“Heemm??” Nathan yang tersadar dari lamunannya itu setelah mendengar suara Kevia itupun menyahut.
“Bengong”
“Sedang mengagumi bidadari” Sahut Nathan. “Cantik banget soalnya. Jadi terpana” Sambung Nathan sambil membelai lembut wajah Kevia.
“Gombal” Timpal Kevia lalu terkekeh kecil. Nathan pun sama.
“Enak aja gombal”
“Memang iya seringnya begitu. Nge - gombal!”
“Nyonya Jonathan kebiasaan ini mulutnya. Suka asal”
“Enak aja”
“Memang iya. Nanti aku cium bertubi – tubi sampai ga bisa nafas tahu rasa”
“Coba”
“Nantang?”
*****
“I love you, Vi ...”
Nathan membuktikan ucapannya soal mencium Kevia dengan tanpa jeda, hingga ia sendiri merasa pasokan
oksigennya menipis, barulah ciumannya yang dalam tadi ia lepaskan.
Namun tangan Nathan masih berada di tengkuk Kevia sembari menempelkan dahinya dan dahi Kevia,
Nafas keduanya masih sedikit tersengal akibat ciuman tadi.
“Bilang Too aja, aku cium lagi sampai beneran habis nafas”
Kevia terkekeh kecil. Lalu terdiam sesaat dan menangkup wajah Nathan. Menatap wajah tampan itu lamat lamat
melalui manik mata hazel milik Nathan.
“I love you too, Jo ...” Ucap Kevia lembut lalu disambung dengan satu kecupan di bibir Nathan.
“Kurang lama”
“Tuman”
“Ya udah yuk, bobo”
*****
“Sayang banget kalau mau ditidurin yah ini tempat tidur”
“Memang kenapa?”
“Terus gimana, mau tidur disofa gitu?”
“Memang muat kalau kita tidur berdua disofa?”
“Ya enggalah. Kamu nih!” Nathan mencubit gemas hidung Kevia. “Udah ga usah dipikirkan itu bunga sama hiasan. Sudah naik terus bobo”
“Beneran bobo aja?” Ada semu di wajah Kevia. Dia sadar sebenarnya kalau ini hitungannya adalah malam
pengantin mereka meski tidak bisa dikatakan bukan malam pertamanya dan Nathan.
Mereka pernah khilaf empat tahun lalu, sekali aja memang. Tapi Kevia tak pernah melupakan hari itu, dimana ia menyerahkan tubuh dan milik berharganya pada Nathan yang saat itu juga sudah ia cintai.
Bukan hanya harinya, waktunya, tapi juga gerakan Nathan yang intens di atas tubuhnya sambil meracaukan nama Kevia tanpa jeda dan ia pun sama. Yang tadinya Kevia terasa kesakitan teramat sangat, hingga sampai ia rasanya terbang sampai ke nirwana.
Satu lagi yang mampir di otak cantiknya Kevia malam ini adalah, eum... itu... anu... ‘punyanya’ Nathan. Ups!.
‘Kan jadi keingetan’
Kevia deg – degan.
“Maunya?”
Nathan nampak menggoda Kevia. Namun sebenarnya Nathan sama deg – degan nya dengan Kevia. Jantung
Nathan berdetak begitu kencang. Benar yang Daddy R bilang, tak sabar ingin membawa Kevia ke kamar.
Dan sekarang mereka sudah berada di kamar. Lalu?.
Kamar Nathan di kediaman yang kini juga sudah resmi menjadi kamarnya dengan Kevia sudah dihias dengan indahnya agar menambah indahnya sesi malam pengantin mereka.
Tapi pastikan dulu kesediaan istri lo. Jangan maksa kalo dia belum siap!
Pengen sih, sumpah jangan tanya besarnya keinginan Nathan untuk kembali merasakan hangatnya tubuh Kevia.
Tapi Nathan ingat ucapan Abang, yang membuat Nathan seolah memberikan dirinya sebuah pertahanan untuk tidak
tergesa meminta haknya sebagai seorang suami pada Kevia.
Ada sedikit ketakutan dalam hati Nathan.
Ritual malam pertama, prakteknya ia sudah pernah lakukan bersama Kevia meski saat itu jauh dari kata sah. Dan setelahnya, ada kenangan menyakitkan yang sulit Nathan lupakan.
Hingga akhirnya Nathan memilih untuk mendengarkan ucapan Abang untuk tidak memaksa Kevia melakukan
kewajibannya sebagai istri jika Kevia memang belum siap.
Ah jangankan meminta, bertanya soal kesediaan Kevia malah rasanya Nathan sungkan. Siapa tahu ternyata Kevia punya trauma pada dirinya.
__ADS_1
“Kok tanya aku?”
Nathan menatap Kevia yang barusan bersuara. “Karena aku tidak mau memaksa kamu Vi”
Nathan membasahi bibirnya sendiri.
“Aku takut kamu punya trauma akan hari itu. Yang berkelanjutan hingga aku sampai melakukan kesalahan fatal
aku pada kamu dan anak kita. Jadi aku bersedia menunggu sampai kamu benar – benar siap”
Nathan dan Kevia mengheningkan cipta sejenak. Hingga akhirnya lantunan kalimat yang terdengar begitu merdu
ditelinga Nathan dari mulut Kevia membuat Nathan merasa bak mendapat siraman segarnya air pegunungan di padang pasir .
“Aku siap, Jo ...”
*****
Saat ini, sudah direbahkan nya Kevia diatas ranjang bertaburan kelopak mawar oleh Nathan.
Debaran jantung Nathan dan Kevia tidak bisa santai meski sedikit saja. Kegugupan melanda keduanya.
Namun telaga jernih itu saling memandang kemudian.
Ada cinta yang berkobar disana, berikut lega dan bahagia.
Hingga tangan Nathan kemudian terulur dengan posisi yang masih berbaring disamping Kevia, membelai lembut wajah istrinya itu, hingga kebibir yang Nathan sentuh dengan ibu jarinya.
Nathan dan Kevia saling mengabsen tiap inti wajah dengan manik mata mereka. Hingga kemudian jemari Nathan menelusup ke sela leher Kevia dan membawa Kevia lebih dekat lagi dengannya dan bibir mereka kemudian bertemu.
Sampai akhirnya ciuman Nathan menjadi lebih menuntut dan rasanya tak ingin melepaskan bibir Kevia. Ada
keinginan lebih yang sudah berdesir ditubuhnya. Menginginkan Kevia tak hanya bibirnya saja, namun semuanya. Setiap inci tubuh Kevia.
Nathan bergerak perlahan. Ia kini sudah mengukung tubuh Kevia dibawahnya tanpa melepaskan ciumannya dan
Kevia yang rasanya sudah membabi buta. Sejenak berhenti hanya sekedar untuk menghirup udara lalu melanjutkan nya lagi. Lalu berhenti, karena Nathan menegakkan tubuhnya sedikit, membuka kaos yang ia pakai.
Tak cukup sampai disitu, Nathan membuka satu persatu kancing piyama Kevia, melucuti pakaian istrinya itu satu persatu hingga tak ada lagi yang menutupi tubuh Kevia yang sudah kembali berada dalam kukungan nya.
Nathan melucuti pakaiannya sendiri, hingga sama seperti Kevia, kini tak ada lagi kain yang menutupi tubuh
atletis nya.
Cumbuan yang tadi terjeda, dilanjutkan kembali oleh Nathan atas tubuh Kevia tanpa melewatkan satu inci pun
tubuh wanita yang membuatnya gila. Keviapun sama. Ia merasa gila juga rasanya atas perlakuan Nathan disetiap inci tubuhnya.
Kevia terbuai dengan indahnya, hingga sampai akhirnya akan Nathan lakukan ‘menu utama’
“Pelan – pelan ya Jo ...”
“Iya..”
***
Hingga saat matahari terbenam.
Oh bukan ‘milik’ Nathan yang sudah ia benamkan dalam – dalam ke inti Kevia. Meski bukan yang pertama bagi
keduanya, tetap saja gelenyar yang terasa dari ujung rambut sampai ujung kaki tak dapat mereka jabarkan.
Nathan sendiri rasanya ambyar dengan degup jantungnya yang berdegup kencang seiring naf*u dan gai**hnya.
Pergerakan Nathan diatas tubuh Kevia, membuat deru nafas yang seolah membara itu menghadirkan de**h yang
mengudara.
Suara Kevia merdu terdengar dibalik de**hannya yang masuk ke telinga Nathan.
Nathan hampir hilang kendali atas nikmat yang ia rasa tiada dua. Terlebih lagi Kevia mulai bergerak seirama
dengannya. Hingga rasanya Nathan kian menggila tak bisa menahan dirinya untuk santai seperti diawal.
Terlebih saat terasa ‘adik kecilnya’ kian dipeluk dengan eratnya dibawah sana oleh Kevia.
Kalau kejepit begini rasanya, Nathan rela kejepit terus jadinya.
Telah sampai pada puncaknya bersama – sama. Nathan dan Kevia saling memeluk ketat, dengan Kevia yang
melingkar begitu kuat dipinggang polos Nathan.
Nathan menggeram pelan, kala berjuta sel – sel yang ia harapkan akan menjadi pengganti janin yang dulu ia
hilangkan itu, ia lepaskan tanpa sisa kedalam Kevia.
Nathan dan Kevia sudah mencapai garis finish dengan keringat yang mengucur eksis.
Indah, terlalu indah rasanya. Lebih indah bahkan dari yang pertama. Lega. Yang Nathan rasa. Tapi tidak bagi Kevia.
Meski sudah selesai main kuda – kudaan, Nathan belum melepaskan dirinya dari Kevia. Suaminya itu masih
berada diatasnya sambil menempelkan wajahnya diceruk leher Kevia, dengan ‘adik kecil’ Nathan yang masih bersarang di guanya.
Nathan mengangkat wajahnya dari ceruk leher Kevia yang basah oleh keringat. Lalu kembali menyentuh bibir
Kevia dengan bibirnya. Mengulang cumbuan.
“Sekali lagi, boleh? Vi..?”
Doyan.
__ADS_1
*****
To be continue....