
N Y A L I
*************
Selamat membaca ...
************************
“Andrew bilang apa Wa?”
Papi John sudah menyelesaikan panggilan teleponnya begitupun Daddy Dewa saat mereka berjalan keluar dari ‘Playground’ mereka.
“Andrew bilang kita yang maju menemani Abang ke tempat dimana Little Star dan Via berada”
Daddy Dewa menjawab pertanyaan Papi John barusan.
“Mereka sedang mengurus dua orang yang memback up wanita keparat itu”
Daddy Dewa berkata lagi.
“Bukankah sudah diurus Omar dan Khai?” Tanya Papi.
“Keluarga mereka sudah” Sahut Daddy Dewa.
“Oh keluarga mereka juga kebagian?” Celoteh Papi John.
Daddy Dewa manggut – manggut. “Change plan” Ucap Daddy Dewa.
“Pasti ide si Donald Bebek!”
Papi John terkekeh pelan.
“Macam lo ga paham tabiatnya si Andrew. ‘Eye for Eye’ ( Mata untuk Mata ) bagi dia. No exception! ( Tak ada pengecualian! )”
“Ya pahamlah gue. Mereka sudah menyenggol kita dengan menyentuh Via saja sudah bikin kesal, ini tambah lancang berani Little Star. Ga hanya Andrew yang murka, gue pun sama”
“Ya kita semua, John”
Papi John manggut – manggut.
“Lalu, keluarga Prima dan Danang yang diamankan Omar dan Khai?”
“Sudah semua. Bahkan cucu – cucu mereka juga disuruh angkut sama si Donald Bebek!”
“Gila memang si Andrew! Lebih gila dari R dalam segala aspek, terlebih kalau sudah dalam mode murka begini!”
Papi John geleng – geleng sembari terkekeh pelan.
“Mau dihabisi memang itu mereka semua?”
“Entah!” Daddy Dewa mengendikkan bahunya. “Bisa saja sih! Andrew kalau lagi senget kan dia raja tega. Dia tidak Cuma lebih gila, tapi bisa lebih kejam dari R”
“Iya juga” Timpal Papi John. “Ya sudahlah lihat nanti mau si Donald Bebek apakan itu keluarganya si Prima dan Danang ..” Sambungnya.
“Apapun itu, yang jelas bukan sesuatu yang bagus untuk mereka. Si Donald Bebek yang pendendam itu walaupun sampai tidak menghabisi keluarga mereka, hidup mereka kedepannya akan sama seperti mati gue rasa”
Papi John manggut – manggut lagi.
“Yah ketidak beruntungan ada pada keluarga si Prima dan Danang berarti. Punya kepala keluarga bejat dan biadab seperti dua orang itu. Cih!”
“Apesnya mereka ganggu kita”
“Huh! Sudah waktunya dibasmi berarti mereka sampai harus berhadapan dengan kita”
****
Daddy Dewa dan Papi John sudah masuk ke dalam mobil yang mereka gunakan untuk pergi ke tempat yang sudah
ditargetkan.
“Jadi Andrew dan R apa pergi sendiri ‘menjemput’ si Prima dan Danang?” Tanya Papi John.
“Sudah lama ga ‘main’ katanya” Jawab Daddy Dewa dan Papi John terkekeh kecil, sementara dia sendiri menyunggingkan senyumnya.
“Yah paling tidak suatu kehormatan sebelum si Prima dan Danang mati, bisa bertemu dua naga legendaris”
“Hahaha!” Daddy Dewa tergelak.
“Orang – orang idiot! Yang mereka ganggu keluarga dari dua orang yang bahkan bisa membuat para mafia besar
di Erop menundukkan kepala mereka pada Andrew dan R....”
“Penjahat nanggung ya begini ini! Sudah merasa puas dengan merasa ‘besar’ disini. Buta kalau ada yang jauh lebih besar, yang tak terlihat mata!”
Daddy Dewa mengecek senjata api miliknya, begitupun Papi John yang sedang memasukkan peluru dalam pistol
premium miliknya. “Lo hubungi Abang tadi?” Tanya Daddy Dewa.
Papi John mengangguk.
“Sudah mengarah”
“Okay!” Sahut Daddy Dewa. “Ada kemungkinan Andrew dan R menyusul?”
“Don’t know ( Tidak tahu ). Tapi gue rasa kita dan Abang dan orang – orang kita ini cukup untuk menghancurkan mereka. Nathan juga ikut Abang kan?”
“Okelah!”
****
Di mobil yang ditumpangi Varen, Nathan berikut Rendy dan Ammar yang mengemudi ..
Ponsel Varen kembali berdering.
“Ya Pap?”
“.......”
“I see...”
“.......”
“Akan ku pikirkan cara kalau begitu”
“.......”
“Okay” Varen memutuskan sambungan teleponnya dengan Papi John yang menjelaskan kondisi dan situasi sekitar Marina.
“Papi?”
“Yap!”
“Bilang apa?. Mereka sudah sampai?. Via dan Drea sudah berhasil diselamatkan?”
“Papi dan Daddy Dewa hampir sampai. Tapi Papi bilang mereka menjaga tempat itu dengan ketat dan rapat juga
melibatkan aparat”
“Sialan!” Umpat Nathan. “Lalu gimana?” Tanya Nathan lagi sementara Rendy mendengarkan dan Varen nampak
sedikit menegakkan tubuhnya sembari menyusupkan tangannya kebelakang.
Klik! Klik!
Suara yang terdengar dari tempat Varen membuat Nathan yang berada disamping si Abang spontan menoleh.
Rendy juga mendengar apa yang Nathan dengar, dan dia yang duduk di kursi penumpang depan juga spontan
menoleh.
“Orang Papi dan Dad sedang mencari celah untuk masuk tanpa membuat keributan di depan” Sahut Varen yang
ditangannya sudah ada sebuah senjata api yang kurang lebih sama jenisnya seperti milik Papi John.
“L – o bawa pistol.. Va?”
Rendy sedikit tergugu yang baru ini melihat sahabatnya sedikit berbeda aura. Ditambah dengan sebuah pistol kaliber di tangannya.
Wajah Varen memang nampak serius selalunya, sama seperti saat ini. Tapi wajah serius Varen saat ini bukan lagi seperti biasanya, ditambah sahabatnya itu sudah memegang sebuah senjata api yang biasanya hanya Rendy lihat di film – film.
Tau sih, kalau Varen dan para Dadsnya sering latihan menembak, tapi kan sekarang mereka bukan di area latihan menembak. Jadi Rendy sedikit ngeri saat ini. Varen tersenyum miring pada sahabatnya itu.
“Sekalipun mereka ga sebanding dengan musuh – musuh keluarga gue terdahulu, tapi mereka juga pasti bersenjata. Jika mereka bersikeras, kita harus melawan bukan?” Sahut Varen datar. “Sekalipun mereka tidak bersikeras, akan tetap gue habisi karena berani menyentuh istri gue!!”
‘Oke, ini bukan si Alva yang selama ini gue kenal’
“Lo punya satu lagi Bang?” Tanya Nathan pada si Abang dengan wajahnya yang serius.
“Lo dan Rendy stay di mobil”
Nathan menggeleng.
“Ga bisa! Istri dan adik gue yang mereka ganggu, gue ga bisa diem aja!”
__ADS_1
“If you say so ( Sesuai keinginan lo )” Sahut Varen. “Berikan dia satu G2 nanti Mar!”
“Baik Tuan!”
Ammar menyahut sigap seperti biasa.
“Lo, tetap di mobil Ren. Lo hanya bisa tembak – tembakan di arena Paintball, itupun lo selalu gugur paling duluan..”
Rendy menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari nyengir.
“Lo sama Mika saja kalah bertarung di arena Paintball. Jangan sampai lo mati konyol disana nanti”
‘Nyesel asli gue ikut nih orang! Tau tadi gue sama Marsha aja deh! Pengen sih pengen gue ikut kasih pelajaran itu penjahat – penjahat demi anak – anak Panti yang ga berdosa. Tapi ga pake acara tembak – tembakan beneran juga’
Rendy membatin.
‘Tapi ah, ga mungkin lah sampe tembak – tembakan juga. Masa iya sampe separah itu?’
Sementara itu .....**
Di tempat dimana Andrea berada
“Cewek yang satunya sudah sampai Bu”
“Bawa langsung kesini!” Perintah Dilara.
“Baik Bu!” Jawab orang Dilara dengan cepat pada Bosnya tersebut.
“Dan kamu!”
Dilara menunjuk salah satu orangnya.
“Cepat kamu jemput Stella dan Bapak dan segera antar ke Bandara!”
“Iya Bu! Sudah ada yang mengarah juga untuk jemput Nona Stella dan Bapak Bu”
“Oke! Ya udah kamu susul dan tunggu mereka di Bandara. Bilang bertemu saya di Rusia!"
Dilara berkata pada orangnya.
"Jalankan juga kapal ini sekarang!”
“Baik Bu!”
‘Apa itu Via? ...’ Andrea membatin setelah mendengar kata cewek yang satunya lagi, yang diucapkan oleh salah seorang anak buah Dilara.
Dan mata Andrea pun membulat sempurna wajah terkejut Andrea juga sangat nampak, karena benar saja kalau itu
adalah Kevia yang mereka bawa.
“VI!” Seru Andrea yang langsung memeluk Kevia saat istri Nathan itu didekatkan padanya.
“DREA?!” Kevia juga sama berseru dan sama terkejutnya dengan Andrea, dia bahkan lebih terkejut karena tak menyangka Andrea juga berhasil mereka culik sama seperti dirinya.
Keviapun memeluk balik Andrea. Dan dia sedikit nampak kacau.
“Mereka menyakiti kamu ga Vi?!” Tanya Andrea cemas dan Kevia menggeleng.
“Kamu? ...”
Kevia balik bertanya.
Gantian Andrea yang menggeleng.
“Aku okay”
Andrea menggenggam tangan Kevia.
“Aku baik kan?. Kamu ga kesepian jadinya karena aku bawa saudara kamu untuk pergi bersama ke Rusia. Tubuh kalian pasti akan membuat para pengusaha kaya raya yang mata keranjang disana pasti akan meneteskan liurnya. Dan mereka tidak akan segan merogoh kocek mereka dalam – dalam untuk membeli kalian dan menjadikan kalian simpanan”
Dilara berpaling dari orangnya tadi dan berbicara sambil menatap Andrea dan Kevia. Ada gurat kepuasan di wajah cantik wanita itu yang merupakan hasil operasi plastik.
“PEREMPUAN IBLIS!!” Hardik Andrea dengan umpatan.
“HEY! JAGA MULUT KAMU!” Lais balik menghardik sambil menunjuk Andrea.
“Hahahaha!!.. Kalau iya memang kenapa?” Dilara tertawa tanpa malu seolah bangga.
“Apa anak lo juga lo jual dan jadi salah satu simpanan orang kaya yang lebih kaya dari lo??”
Andrea berkata sambil tersenyum miring pada Dilara.
“Gue bilang, apa anak lo juga salah satu pe**cur yang....”
PLAK!
Telapak tangan Dilara keburu sampai di pipi mulus Andrea sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya.
Senyuman Dilara menghilang sembari menatap Andrea dengan tajam, namun Andrea tetap menyunggingkan senyum miringnya pada Dilara.
“Drea....”
Kevia merasa prihatin dengan Andrea dan langsung mengusap pipi Andrea dengan raut wajah yang sendu.
“I’m okay, Vi...”
“Jangan lancang kamu! Sekalipun kamu bisa berharga sangat mahal, tapi aku tidak akan segan memberi kamu pelajaran kalau sampai berani kamu menyinggung anakku lagi!!”
Dilara menunjuk Andrea dengan emosi.
“Oh, berarti dia germo seperti ibunya?”
Lagi, Andrea mengucapkan hinaan tanpa ragu pada Dilara.
PLAK! PLAK!
Kini dua tamparan dari Dilara kembali melayang ke pipi Andrea. Lebih keras dari sebelumnya.
“KURANG AJAR!!” Dilara nampak geram dan matanya menyalang tajam memandang Andrea.
“HENTIKAN!! ....” Teriak Kevia dan langsung menepis tangan Dilara dengan kasar saat wanita itu hendak menampar Andrea lagi.
“.....”
Andrea tak lagi menatap Dilara seperti tadi. Ia sedikit menundukkan kepalanya.
“Drea....” Kevia meraih tangan Andrea, hendak membawanya menjauh dari Dilara.
Kevia merasa, posisi mereka saat ini sedang terdesak. Karena mereka ditempatkan pada satu ruangan dalam sebuah kapal layar mewah, dimana mereka dikepung oleh orang – orang dari wanita yang dadanya nampak kembang kempis sekarang dengan wajah yang berubah merah karena marah sembari masih menatap tajam pada Andrea.
“KAMU DENGAR..” Belum sempat Dilara menyelesaikan kata – katanya sembari menunjuk Andrea, dengan cepat
Andrea meraih tangan wanita itu dan langsung memelintirnya ke belakang.
“AAKKHHH!!!!”
Dilara memekik kesakitan, dan kini dia berada dalam satu lengan Andrea dilehernya yang Andrea jegal dengan kuat.
“IBU!!!!” Orang – orang Dilara sontak membulatkan matanya. Posisi terbalik sekarang, Bos mereka sudah dalam sandera gadis kecil yang dari luar nampak seperti gadis biasa.
“DREA!”
“BERDIRI DI BELAKANG AKU VIA!”
Kevia, mengikuti arahan Andrea. Dia kemudian berdiri di belakang Andrea.
“KALIAN JANGAN DIAM AJA!” Dilara berteriak pada orang – orangnya yang sudah siap ingin menyelamatkannya
dari cekalan seorang gadis ABG.
“BERANI?!”
Ucapan Andrea terdengar seperti gertakan. Lebih seperti ancaman, karena entah kapan tangannya juga sudah memegang sebuah asbak kaca yang cukup besar sembari mengangkatnya tepat diatas kepala Dilara yang lehernya sedang ia cekal.
“MAJU! DAN AKAN GUE HANCURKAN KEPALA BOS KALIAN!!”
“KAMU AKAN MENYESAL GADIS SIALAN!!” Teriak Dilara pada Andrea.
“Lo Yang Akan Menyesal *B*ch!!” Ucap Andrea ditelinga Dilara, meskipun tak keras namun penuh penekanan sembari menekan kembali lengannya yang melingkar di leher Dilara.
Dilara terbatuk saat lehernya ditekan dengan menggunakan tenaga oleh Andrea.
“Jangan macam – macam! Angkat tangan lo semua ditempat yang mata gue bisa lihat!”
PRANGG!!
Andrea menghantamkan kakinya pada sebuah meja kaca didekatnya.
“Ambil pecahan yang paling besar Vi!” Ucap Andrea pada Via, yang mengikuti setiap ucapan Andrea tanpa bertanya. Ia mungkin tak sekuat dan seberani Andrea.
Tapi setidaknya Kevia realistis dengan situasinya sekarang. Setidaknya jika dia dan Andrea saling membantu, mereka bisa berusaha untuk membebaskan diri dari orang jahat tersebut.
__ADS_1
Kevia sudah dengan cepat mengambil pecahan kaca dengan hati – hati lalu memegangnya dengan cekatan. “MINGGIR!!”
Andrea melotot pada orang – orang Dilara yang sedang mengangkat tangannya, setelah sempat kemungkinan ingin
mengambil senjata yang tersimpan di selipan celana mereka.
BRUAAGGG!
“AARGHH!! ...”
Andrea melempar asbak yang tadi dia genggam pada salah satu orang Dilara dan tepat mengenai kepala orang itu yang langsung memekik kesakitan lalu merunduk hingga jatuh diatas kedua lututnya.
Dan dengan cepat mengambil pecahan kaca dari meja kaca yang tadi ia pecahkan dengan kakinya dari tangan Via.
Beruntung Andrea seringnya berpenampilan casual jika ke kampus dan alas kaki yang ia pakai biasanya adalah
sneaker atau boot.
Jadi saat ia memecahkan meja kaca dengan kakinya, pecahan tidak sampai melukai kakinya, ditambah dia juga
memakai celana jeans saat ini.
Sret!
“Sorry!”
Andrea berkata pelan saat merampas pecahan kaca dari tangan Via dengan cepat hingga sedikit melukai telapak tangan Via.
“Aku ga apa”
“MINGGIR GUE BILANG!!”
Kembali Andrea menuntut orang – orang Andrea menjauh dari pintu.
Kapal sudah berjalan, dan Andrea tahu itu karena ia berdiri tidak begitu stabil akibat guncangan air dibawah kapal, namun Andrea tidak sampai lengah.
Dilara masih di jegal nya dengan kuat.
“Tetap di belakang aku Vi”
“Iya” Sahut Kevia cepat.
“Suruh orang – orang lo minggir!!!”
Perintah Andrea pada Dilara dan pecahan kaca yang Andrea pegang ia sentuh kan dibagian bawah wajah Dilara.
“KALIAN DENGAR YANG DIA BILANG! MINGGIR! KALIAN MAU AKU MATI?!”
Dilara berbicara keras pada setiap bawahannya terutama yang berdiri menghalangi pintu.
“Jangan bergerak mencurigakan kalau ga mau kaca ini sampai menembus leher Bos kalian!!”
Andrea berkata lagi sembari berjalan miring mendekati pintu sambil menyandera Dilara. Via juga tetap sigap mengikuti gerakan Andrea.
“Kamu bisa berenang kan Vi?”
Andrea berbisik pada Via namun matanya tetap awas pada orang – orang Dilara.
“Bisa”
"Perairan seperti ini bisa?"
"Iya aku bisa"
Andrea mengangguk pelan sambil berjalan mundur untuk keluar dari ruangan dalam kapal yang merupakan sebuah kamar itu dengan kesiagaannya.
Seet ...
“AKHH!!”
“IBU!!”
Dilara memekik sekaligus merintih saat Andrea menyayatkan pecahan kaca di pipi Dilara.
Dimana orang – orang Dilara langsung juga berseru panik. “Berapa kali tadi lo tampar gue, hem?!”
Seet ...
“AKHH!!”
Dilara memekik kesakitan lagi saat Andrea kembali menyayat pipinya lagi.
“Tiga kan?”
“GADIS GILA!!!” Umpat Dilara.
“Memang!”
DUAKK!
“AKHH!!”
Dilara memekik kesakitan lagi saat kepalanya dibenturkan Andrea ke dinding kapal didekat mereka.
“Tamparan lo, impas!”
“GADIS GILA AKAN AKU BUAT KAMU MENYESAL!!!”
Teriakan sekaligus berupa ancaman dari Dilara Andrea abaikan.
Andrea dan Via kini sudah sampai dipinggiran kapal. Keluarganya memiliki yacht seperti milik Dilara ini juga, hanya memang jauh lebih besar dan lebih mewah tentunya.
Jadi Andrea tahu persis bagian – bagian yang sekiranya memudahkan dia untuk memprediksi gerakan dan langkahnya.
Kevia juga membantu menjadi mata Andrea dibelakangnya. “Loncat sekarang Vi!”
Andrea merasa posisinya cukup aman untuk loncat ke dalam air, tapi dia lebih dulu menyuruh Via untuk terjun ke air, sementara dia masih menyandera Dilara.
“Kamu Drea? ...” Via mengkhawatirkan Andrea.
“Jangan pikirkan aku, selamatkan diri kamu dulu!” Andrea berkata cepat pada Kevia sebelum kapal yang sepertinya akan menuju ke sebuah Pulau tersebut semakin jauh dari Marina.
Andrea tidak tahu ketahanan Via dalam berenang.
“Bisa kan?”
“Bisa”
“Loncat sekarang!”
Kevia mengangguk pada akhirnya.
Byuuurrrr!...
Dan Kevia langsung menceburkan dirinya.
“JANGAN COBA – COBA KEJAR DIA ATAU GUE TUSUKKAN KACA INI KE MATANYA!!!”
Andrea mengeluarkan lagi ancamannya dengan keras pada orang – orang Dilara, sambil mengarahkan pecahan
kaca dalam genggamannya yang juga sudah menggores telapak tangannya sendiri.
Sementara Dilara yang masih dalam cekalan Andrea itu terdengar mendesis kesakitan akibat luka goresan yang
Andrea torehkan di pipinya, juga kepalanya yang Dilara rasa sakit karena sempat dibenturkan oleh Andrea ke dinding kapal.
‘Sepertinya Via sudah dalam posisi aman’ Andrea membatin setelah mengira – ngira sudah sampai mana Kevia
setelah menceburkan dirinya tadi. Andrea sengaja menyuruh Kevia terjun duluan karena otak cantiknya sudah memprediksikan segala kemungkinan jika mereka terjun bersama.
Mereka kemungkinan besar bisa saja ditembaki, karena mata Andrea melihat senjata api yang terselip di pinggang orang – orang Dilara. Jadi Andrea membiarkan Via yang terjun duluan untuk mencari bantuan. Sementara dia sendiri tahu kemampuannya dalam air, meski kapal kini sudah semakin jauh dari tepian.
Andrea setidaknya tahu kedalaman perairan dibawahnya sekarang, jika dia terjun rasanya dia masih mampu untuk menyelam sedalam mungkin untuk menghindari seandainya ia ditembaki setelah terjun nanti.
Andrea melirik sisi kirinya.
Ada tangga kecil yang terhubung antara kapal untuk ke dasar yang menyentuh air.
Andrea bergerak hati – hati, karena ia tahu tempat itu pastinya licin.
BRUGG!!
JLEB!
Andrea dengan cepat mendorong tubuh Dilara lalu menusukkan pecahan kaca yang ia pegang di pundak Dilara.
“AAAKKHH!!”
Dilara memekik kesakitan dan Andrea bersiap terjun dari kapal.
“PEREMPUAN JA**NG!!!!... TANGKAP DIA!”
*
__ADS_1
To be continue ..*