THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 220


__ADS_3

đŸ‘«Â  RELATION - HUBUNGAN  đŸ‘«


 


Selamat membaca ....


************************


Drtt...


Nada notifikasi di ponsel Andrew terdengar.


John : Drew, call gue saat lo sudah terima pesan ini.


Andrew yang memang belum tertidur saat dering notifikasi ponselnya berbunyi itu langsung menghubungi John setelah membaca pesannya.


Andrew melirik jam digital diatas nakas sampingnya. Ia dan Fania baru saja hendak tidur sebenarnya setelah seperti biasa, mereka melakukan pillow talk sebelum tidur. Yang katanya salah satu kunci keharmonisan suami istri. Dan rasanya benar. Andrew dan Fania kian nampak mesra selalunya.


“Kenapa?”


Fania yang sedari tadi bersandar didada bidang Andrew dan didekap mesra oleh suaminya itu bertanya.


“John kirim pesan, dijam seperti ini dan dia bilang untuk menghubungi secepatnya setelah aku membaca pesannya ini”


Fania menegakkan tubuhnya. Ia ikut melirik jam diatas nakas lalu membaca pesan yang dikirim John saat Andrew menunjukkan padanya. Jam dua belas malam waktu London, kira – kira sekitar jam tujuh pagi kurang lebih di Jakarta. Andrew dan Fania penasaran ada hal mendesak apa.


“Apa si Juleha bikin ulah lagi?”


Andrew mengendikkan bahunya.


“Ya udah telpon coba itu Kak John, D”


Andrew mengangguk, mengiyakan ucapan Fania. Menghubungi John, juga mengloud speaker ponselnya.


Panggilan Andrew langsung diterima John tanpa menunggu lama. “What is it, John? (Ada apa, John?)”


“Abang dan Little Star bertengkar semalam. Yah bukan bertengkar sih, Abang marah besar sepertinya pada Andrea”


“Benarkah? Ada masalah apa? Memang Andrea, berbuat apa lagi dia?”  Tanya Andrew, Fania mendengarkan.


“She was sneaked around to the Xaviour last night, when Abang arrived here (Dia mengendap – endap untuk pergi ke Xaviour semalam, saat Abang tiba disini semalam)” John mulai menjelaskan.


“She what?! (Dia ngapain?)”


“Ya seperti yang lo dengar barusan. Begitu yang Little Star ceritakan pada kami. Dan sepertinya Abang marah besar, karena kami semua mendengar suara pintu dibanting dengan keras. Lalu gue dan Jeff lihat Drea menangis didepan kamar si Abang”


“Hish! Itu anak!”


“Gue ga mendengar mereka berargumen semalam, hanya suara keras pintu yang ditutup kencang, tapi Drea bilang dia juga sempat dibentak Abang, sebelum diacuhkan sampai sekarang. Dan sampai pagi ini juga Abang masih belum keluar dari kamarnya. Bahkan ia melewatkan Shubuh berjamaah dan mengaktifkan password kamarnya”


“Andrea mengendap lewat mana?”


“Pintu kecil halaman belakang”


“Bukannya ada CCTV?. Siapa yang giliran berjaga semalam? Apa mereka tertidur atau buta?”


“Ck! Lo macam ga tahu Andrea, Ndrew. Dia pasti sudah memprediksi arah CCTV bergerak setiap detiknya. Dan anak lo itu jago Parkour kalau lo lupa, kecepatannya memanjat dan meloncat kan macam tupai”


“Apa Drea mabuk – mabukan?”


“Minum katanya iya, hanya coba dia bilang. Tapi memang gue ga lihat Little Star mabuk sih. Tapi ...”


“Tapi apa?”


“Ada Arya disana, dan Abang sempat memukulnya”


“Hish!. Jadi Andrea pergi sembunyi – sembunyi bersama Arya begitu?. Arya yang membantunya menyelinap? Pantas saja kalau si Abang mengamuk!” Andrew mendengus lalu mencerocos, nampak kesal. Fania tak menyela, masih mendengarkan saja.


“Bukan, mereka ga sengaja ketemu disana. Ga janjian juga kalau kata Drea. Dan dari info yang Nathan dapat dari beberapa temannya yang kebetulan berada disana juga seperti itu. Andrea datang dengan dua teman wanitanya. Beberapa teman sekolahnya juga ada disana.” Jelas John.


“Apa Drea sedang bermesraan dengan Arya saat Abang datang, makanya dia dihajar Abang?”


“Kalau dari cerita Litlle Star sih, Arya pas kebetulan sedang menghampirinya, mau mengajak pulang bareng saat Abang datang. Tapi dia menginterupsi Abang saat akan membawa Andrea pergi”


“Lalu? Baku hantam mereka?”

__ADS_1


“Ga sampai, tapi Abang sempat mengeluarkan ancaman pada Arya. Gue sedikit khawatir akan itu. Karena menurut Little Star sih, dia bawa – bawa nama Narendra. Tapi kurang jelas juga, Abang bicara apa. Menurut Little Star, dia dengar Abang menyebut itu”


“Lo dah bicara dengan Rico?” Tanya Andrew.


“Rencananya gue akan hubungi dia setelah bicara sama lo”


“Ya sudah gue coba bicara sama Abang kalau begitu”


“Belum aktif ponselnya, gue dan Jeff sudah coba menghubungi tadi. Di ketuk pintunya dan panggilan di intercom kamar juga ga direspon sama dia. Tak lama dia hubungi pantry dan bicara pada Adis. Bilang sedang tak ingin diganggu”


“Ya sudah biarkan saja dulu. Nanti gue coba hubungi Abang”


Andrew memutuskan panggilan, lalu saling tatap dengan Fania yang kemudian menghela nafasnya.


**


“Assalamu’alaikum, Pop”


Satu jam kemudian pada akhirnya ponsel Varen dapat dihubungi. Andrew dan Fania tiba – tiba tak jadi mengantuk setelah berbicara dengan John. Kalau dengar dari cerita John tentang bagaimana sikap Varen yang memergoki Andrea menyelinap untuk pergi ke Klub, rasanya dua orang itu sedikit gusar.


Pasalnya tadi John bilang Varen sempat membentak Andrea, kalau menurut cerita Andrea sendiri. Jadi Andrew dan Fania rasa tak tenang kalau belum bicara pada keduanya, terlebih pada Varen. Kalau sampai dia tega membentak Andrea, rasanya mungkin Varen sudah lelah atau jengah. Yang jelas, baru ini, sesuai cerita John, Varen sepertinya


benar – benar marah pada Andrea.


“Wa’alaikumsalam, Boy. Aku sudah mendengar apa yang terjadi semalam”


“Aku membentak putrimu. Maaf untuk itu”


“Lalu sampai memukul Arya?”


“Karena dia sok jadi pahlawan”


“Kudengar kamu mengeluarkan ancaman untuk Narendra, tak hanya Arya”


“Jika dia masih mencoba menguji kesabaranku, ya. Akan kulakukan ancaman ku. Tak hanya pada Arya, tapi seluruh keluarga Narendra”


“Apa kamu marah hingga membentak Drea, karena cemburu pada Arya?”


“Bukan soal kecemburuan Pop. Cemburu ya ada. Tapi bukan itu garis besarnya. Ini tentang bagaimana rasanya tak dihargai. Itu saja. Oleh putrimu” Ucap Varen dengan suaranya yang terdengar tenang.


“...”


“Ya aku paham”


“Aku sudah pernah bilang pada Momma kalau aku tak pernah ingin mengekang Andrea. Selama ini aku sering


membebaskannya melakukan hal – hal yang dia suka. Aku kadang protes memang soal eksitensinya di sosial media, tapi hanya sebatas itu. Tak pernah mengeluarkan larangan padanya untuk itu”


“...”


“Ya, aku akui, aku sering melarang dia untuk banyak hal. Semata – mata karena aku begitu mengkhawatirkannya kala aku tidak berada didekatnya. Mungkin dia merasa terkekang akan itu. Padahal jika dia bertanya, untuk pergi ke Klub Malam, aku akan mengijinkan, meski dengan beberapa syarat.”


“...”


“Tapi coba lihat?. Baru ini aku merasa tak dihargai, dan itu oleh seseorang yang aku anggap begitu berarti. Padahal selama ini juga jika dia merengek pada laranganku, pada akhirnya aku akan memberikannya ijin untuk melakukan hal tersebut, yah dengan beberapa syarat memang. Mungkin dia tak nyaman akan itu.”


“Lalu rencanamu?”


“Aku tak punya rencana, Pop. Aku hanya sedang introspeksi diri. Apa yang kurang dari apa yang selama ini aku


berikan untuk Andrea. Dia memang mencintaiku mungkin, tapi dia juga takut padaku. Dan aku tak ingin begitu .. Aku ingin dia menghargaiku, bukan takut padaku”


“Lalu pernikahan kalian? Bukankah kau begitu tak sabar untuk itu?


Varen terkekeh kecil.


“Memang, aku tak sabar. Tapi mungkin disitu juga letak kesalahanku, hingga ia sampai pergi dengan mengendap –


endap. Mungkin Drea merasa, kebebasannya akan hilang sebentar lagi, karena merasa aku memaksanya untuk menikah secepat ini”


“So? (Jadi?)” Tanya Poppa. “Mau kamu batalkan?” Sambung Poppa.


“Terserah saja, Pop. Aku selalu berusaha untuk membuat Andrea bahagia selama ini. Aku ingin menikahinya dengan segera, karena aku cinta, aku takut kehilangan. Tapi jika menurutnya itu akan merenggut kebebasan masa remajanya, ya sudah. Aku bisa apa?”


“....”

__ADS_1


“Aku ingin Drea bahagia, diatas segalanya. Tapi kalau dengan pernikahan yang mungkin terlalu cepat ini dia merasa aku membelenggunya, aku tak mau. Jadi ya sudah senyaman Andrea saja, aku takkan lagi memaksa. Jika dia mau memuaskan dulu dirinya silahkan saja.”


“Kukira kau akan pakai prinsip ku”


“Takkan kulepas, meski ia mau melepas?” Varen terkekeh kecil lagi. “Sayangnya aku tidak bisa setega itu pada Andrea, Pop. Aku tak mau jadi penghalang dalam hidupnya. Kebebasan apalagi kebahagiaannya. Aku yang terlalu memaksakan, mungkin. Jadi ya.. jika Andrea ingin bebas, maka silahkan saja. Akan aku bebaskan”


“Kau yakin dengan kata – katamu itu, Bocah tengik?” Canda Andrew, Varen terkekeh lagi.


“Jika dia memintaku pergi, aku akan pergi. Jika keberadaanku tak membuatnya nyaman. Nanti aku akan bicara


padanya. Tidak sekarang, hatiku masih sedikit gusar. Dan Pop very sorry, aku ada sedikit urusan, jadi aku putuskan dulu pembicaraan kita, is that okay?”


“Never mind (Tidak masalah)”


“Ngomong – ngomong Pop belum tidur?”


“Kau pikir aku bisa tidur dengan tenang sebelum aku mendengarkan penjelasanmu?”


“My mistakes, very sorry (Iya aku yang salah, maaf)” Ucap Varen setengah terkekeh, Andrew juga sama. “Salam


sayang untuk Momma, Pop”


“Akan ku sampaikan. Dia sedang kebawah”


“Baiklah. Assalamu’alaikum Pop”


“Wa’alaikumsalam”


"Ah iya, satu lagi"


"Apa?"


"Jangan terlalu sering 'bergulat'. Ingat kalian sudah tua"


"Bocah tengik"



**‘Drea.. Drea tahu apa artinya Drea bagi Abang?. Abang pernah bilang sama Momma, kalau diibaratkan, cintanya Abang seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu pada api yang menjadikannya abu. Apa Drea paham?. Seperti itu cara Abang mencintai kamu. Tapi sekarang seolah Drea tak nyaman dengan hubungan kalian’


‘Setahu Momma Abang bukannya marah sama Drea, tapi dia kecewa dengan sikap kamu. Ya sudah, Abang memilih untuk memberi kebebasan untuk Drea. Karena dia berpikir, dia terlalu mengekang kamu. Menghalangi kebahagiaan kamu untuk menikmati masa remaja kamu’


Andrea menghela nafas berat. Ia tengah terduduk melipat kakinya di balkon kamarnya. Kamar Varen masih gelap dan balkonnya tertutup rapat. Abang belum kembali dan sudah selarut ini. Drea tahu, karena suara mesin mobil Abang belum terdengar. Bahkan Andrea sampai mengecek garasi meski suara mesin mobil Abang tak ia dengar.


Memang mobil Varen belum terparkir lagi disana. Andrea bahkan sampai datang ke rumah Daddy R yang tak jauh dari Kediaman Utama. Tapi Abang juga tak ada disana. Sementara semua panggilannya seolah diabaikan, pesannya pun sama. Hanya dibaca, tak ada yang dibalas.


Mata yang berkaca – kaca itu sudah memproduksi beberapa air mata, yang langsung Andrea seka. Meletakkan


ponsel disamping kakinya lalu menelungkupkan wajah diatas lututnya yang tertekuk. Tak tertahan, Andrea terisak. Baru ini di seperti inikan oleh Abang, Andrea tak tahan. Bahunya mulai bergetar.


Namun kepalanya segera mendongak saat ia merasakan ada tangan yang membelai rambutnya.


“Abang..”


“Ini sudah malam, kenapa masih duduk disini, hem?. Nanti kamu sakit”


Yang Andrea harap – harap sudah berjongkok disampingnya. Sedang menyeka air mata Andrea kini, tersenyum tipis padanya.


“Abang..” Andrea langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Varen yang kemudian mengusap punggungnya.


“Masuk yuk” Andrea langsung mengangguk dan Varen melepaskan tangan Andrea yang melingkar dilehernya dengan perlahan. Abang tersenyum sih, tapi rasanya ada duri yang sedikit menancap di hati Andrea.


Biasanya Abang menggendongnya, tapi kali ini tidak. Apa  ini maksudnya Abang membebaskan Andrea?. Tak lagi mau berinteraksi lebih dekat? Mulai menjaga jarak?.


Hati Andrea berspekulasi.


**


“Abang minta maaf, kalau karena Abang Drea jadi membatasi diri”


“Engga Abang, bukan begitu”


“Abang rasa .. cinta Abang sudah mengekang kebebasan Drea. Abang sadar diri sudah. Abang terlalu banyak mengatur hidup kamu. Sekali lagi, Abang minta maaf. Drea baik – baik ya? Maaf, kalau Abang menghalangi kebahagiaan Drea. Abang cinta Drea, tapi Abang tidak mau Drea merasa terbelenggu akan itu. Abang pamit ya, Drea ...”


*

__ADS_1


To be continue ...*


__ADS_2