THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
BONUS CHAPTER


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠


Selamat membaca.....


Para orang tua yang masih tampan dan cantik diusia mereka, selain tetap gagah dan bersahaja menikmati peran


mereka sebagai kakek dan nenek yang rasanya masih pantas jika anak Varen featuring Andrea dan anak Nathan featuring Via memanggil mereka dengan Daddy dan Mommy, karena wajah para Dad dan Mom seolah tak menua.


Sementara para tetua, yakni Gappa, Gamma, Ake, Ene, Oma dan Nenek yang masih nampak sehat diusia renta mereka itu juga menikmati waktu bersama dua cicit mereka.


Dan para tetua itu berharap, dapat diberi umur panjang, setidaknya sampai bisa melihat semua cucu mereka, yang


belum dewasa menjadi dewasa, hingga menikah dan berbahagia.


**


Hingga waktupun bergulir lagi..


Dan para adik pun beranjak besar serta bertambah usia.


“Have you decided which University that you want to take, Mika? .. ( Sudah memutuskan Universitas mana yang akan kamu pilih, Mika? .. )”


Itu, Papa Lucca yang bertanya pda Mika yang sedang berada di London saat ini.


“Not yet Papa. ( Belum Papa ) ..” Jawab Mika seraya menggeleng.


“Aku dan Daddy nya itu sudah mengingatkan untuk segera memilih Universitas, tapi anak ini belum juga memutuskan mau kuliah dimana? Universitas apa? Kalau masih setengah hati untuk kuliah, untuk apa repot menyambat kelas akselerasi buru-buru???..”


Mom Ichel yang juga berada di London bersama Daddy Dewa dan Ares berikut Aina yang turut serta datang bersama Mika itu ber cerocos ria.


Papa Lucca tersenyum sembari mengacak pelan rambut Mika. “Why you haven’t decided, hem?.. ( Kenapa kamu


belum memutuskan, hem? .. )” Tanya Papa Lucca.


Mika mengangkat bahunya pelan sembari melipat bibirnya. “I still confused ( Aku masih bingung ) Papa..”


“Masih bingung kenapa, Sayang?” Mommy Ara pun ikut bertanya.


“Ya bingung saja Mom ..”


“Kamu bingung antara ingin kuliah di London atau di Indo, hem, Mika?” Tanya Mom Ichel.


‘Sebenarnya aku ingin sekali kuliah di Stanford .. Tapi..’ Batin Mika.


“Or you already have some of University that you want and you confused to choose one of it?..”


“( Atau kamu memiliki beberapa pilihan yang kamu minati dan kamu bingung memilih satu diantaranya? )”


“Yes ( Iya ), Gappa .. “ Jawab Mika pada Gappanya seraya mengangguk.


“What major that you want to take, Baby? ( Mau ambil jurusan apa kamu, Sayang? ) ....”


“Business, Mam ..”


“Mau disini atau di Indo atau di tempat lain? ..” Mommy Ara kembali bertanya.


Mika tidak langsung menjawab.


“Kalau tidak ingin berkuliah disini atau kamu bosan di Indo, Mom pikir Stanford is also great ( juga bagus ). Atau Harvard? ..” Sambung Mommy Ara.


“Entahlah Mom ..”


“Kenapa ga di Stanford aja si, Ka? Ada Kak Arya kan disana..”


Mika sontak melirik pada Rery yang barusan berbicara itu.


“Trus kenapa gitu kalau ada dia disana?” Ketus Mika.


“Ya kan enak ada yang kenal, Ka”


Mika mencebik. ‘Justru karena ada itu orang disana, makanya aku malas deh ke Stanford meski ingin ..’ Batin Mika.


“Eh bener juga yang dibilang Rery tuh, Ka!..”


“Apanya yang benar, Momma?..”


“Stanford kan akademi bisnisnya juga bagus, nah kalo kamu kuliah disana, kebetulan Arya juga masih disana,


meski kayaknya bentar lagi dia lulus, paling engga ada yang kamu kenal, jadi lebih leluasa tanya-tanya. Kan tahun pertama kamu pasti penyesuaian, siapa tahu ada yang cari gara-gara? Kalau masih ada Arya kan paling engga ada yang bantu kamu, lindungi kamu”


“Mom setuju itu dengan Momma ..”


“Aku tidak ingin kuliah di sana kok ....”


“Tapi jika tidak salah, bukannya kamu pernah bilang kalau kamu itu tertarik ya untuk kuliah bisnis di Stanford?...”


Mom Ichel kembali nimbrung berbicara.


“Hanya tertarik, bukan berarti sangat ingin Mom Ichel ku sayaaangg.....”


“Ah seingat Mom kamu tertarik sekali cari-cari info tentang Stanford waktu itu....”

__ADS_1


“Aku hanya sedang membandingkan saja waktu itu dengan beberapa Universitas lainnya ...”


“Tapi menurut Gamma ya Mika, lebih baik kamu berkuliah disini saja jika memang tidak ingin di Indo, ada kami kan


disini? Selain disini kamu tidak akan terlibat masalah karena hampir semua orang disini tahu keluarga kita, toh kami tidak akan khawatir dengan keberadaan kamu jika berada di tempat berbeda dengan kami semua ...”


Mereka yang nampak seperti sedang berdiskusi itupun manggut-manggut.


“Tapi kalaupun iya, Stanford juga oke menurut Gamma kok Mika, Papi John kan lulusan sana. Selain disana ada


keluarga Uncle Lawson, dan benar tadi yang Momma bilang, ada Arya kan disana, dia bisa bantu kamu, toh? ..”


“Aku ga ingin ke Stanford kok Gamma...”


Mika menyahut sembari menyambar sepotong cookie dari piring di atas meja.


“Lagipula, kalau aku ingin ke Stanford itu ga ada hubungannya dengan si Arya itu ...” Tambah Mika.


“Kak Arya dong Mika...”


“Iya, iya...” Sahut Mika.


“Ya pokoknya kalaupun aku mau ke Stanford, aku ga butuh itu cowo untuk bantuin aku. Kalau masalah penyesuaian, aku tidak ambil perduli soal itu. Ada yang mau berteman denganku ya sudah, tidak pun tidak masalah bagiku. Jika soal ada yang cari gara-gara denganku, please, hellow... coba tolong ingat-ingat aku berasal dari keluarga mana hayo??? ....”


“Ya iya sih memang ..”


“Nah itu Mommy Peri paham ...”


“.....”


“Aku ini siapa, keluargaku siapa, sekuat apa keluargaku coba? hem? Hem? .....” Mika menggigit cookiesnya kemudian.


“Ya, ya, ya ..”


“Memangnya The Dads tidak akan menempatkan bodyguard disekelilingku jika aku jauh dari kalian? ....”


Mika berbicara lagi sembari mengunyah cookiesnya.


“Telan dulu makanan kamu, baru lanjut bicara, Mika ....”


Mika manggut-manggut pada Daddy Dewa yang barusan berucap.


“Tidak mungkin, kan?.. Jadi, meskipun aku memutuskan untuk kuliah di Stanford jelas aku tidak membutuhkan


bantuan cowok fanboy nya Kak Drea itu....” Jelas Mika. ‘Memang sehebat apa dia, sampai aku harus membutuhkan bantuannya? Cih!’


“Ya paling tidak, jika tidak ingin berkuliah di sana atau London dan di Indo, kamu berkuliah di mana ada keluarga


kita yang berada disana...”


“Ya sudah lebih baik segera pikirkan mau berkuliah dimana, agar kami dapat cepat mengurusnya, jika memang


kamu ingin segera berkuliah .... Tapi jika ingin menunda juga ya terserah kamu itu sih!...”


Mika manggut-manggut sembari menikmati cookiesnya.


“However, why you seems doesn’t like to that Uncle Rico’s last son? ( Bagaimanapun, mengapa sepertinya kamu


tidak menyukai anak terakhir Paman Rico itu )”


“Just don’t like, he such an ‘act like a cool guy’ boy ( Tidak suka aja, dia itu cowok yang sok keren ). Irritating for me ( Menyebalkan saja bagiku )”


“He is cool! ( Memang dia keren kok! )”


Valera menimpali ucapan Mika yang langsung saja memutar bola matanya malas.


“Keren dari mananya coba?!” Tampik Mika. “Sadboy gitu! Ish! Jangankan harus interact sama dia setiap hari, ketemu aja aku malas!”


“Hati-hati loh, nanti sebal, sebal eh taunya suka loh nanti kamu sama dia, Ka? ...”


Valera menggoda Mika yang langsung mendelik padanya.


“Never! ( Ga akan pernah! )”


“Never say never ( Jangan bilang ga mungkin ), Mika .... nanti kejadian loh!”


Valera kembali menggoda Mika sembari cekikikan, sementara para Dad dan Mom yang berada didekat kedua gadis


muda tersebut. berikut Gappa dan Gamma mesam-mesem saja.


“Hey Val, usia aku belum sampai tujuh belas tahun ya, baru hampir. Jadi aku tidak memikirkan soal cowok! Memang


aku ini kamu yang cita-citanya menikah diusia muda??? ..”


“.....”


“Dan satu hal lagi ya, he-is-not-my-type! ( dia-bukan-tipe-ku! ) So never! Ever! I ever like that boy names Arya Narendra! ( Jadi tidak akan mungkin! Tidak akan pernah! Aku suka sama itu cowok yang namanya Arya Narendra! )”


“Ciee .. katanya ga suka, tapi itu menyebut nama Kak Arya, lengkap gitu?? ....”


“Vaaallll!!! ..”


“Ahahaha! ..” Valera spontan tergelak meski Mika melemparnya dengan potongan cookie. Disaat yang sama sebuah suara datang menyapa.

__ADS_1


“Excuse me, Sir, Ma’am, Miss.. ( Permisi, Tuan, Nyonya, Nona .. )”


Itu Ben, yang datang menghampiri para majikan terkasihnya.


Pelayan pria yang sudah melebihi usia paruh baya itu masih nampak sehat diusianya dan masih tetap setia bekerja


sebagai kepala pelayan di Mansion milik keluarga yang bersamanya sejak puluhan tahun itu.


Ben menolak dipensiunkan oleh Gappa yang ingin Ben beristirahat di hari tuanya bersama keluarganya, meskipun


istri Ben sendiri, yakni Theresa, juga bekerja di Mansion The Adjieran Smith yang berada di London.


Sementara anak-anak Ben dan Theresa menjalankan usaha toko kue dan roti yang tentunya di beri modal oleh


keluarga tempat Ben dan Theresa mengabdi itu, meski Ben dan keluarganya sudah menolak pemberian itu. Mengingat, jika sudah banyak yang diberikan pada Ben dan keluarganya oleh keluarga tempat mereka mengabdi selama puluhan tahun itu. Dan satu anak Ben, bekerja di salah satu anak Perusahaan Smith’s Company.


“Yes Ben?” Sahut Gappa.


“Mister Kafeel is here, Sir .. ( Ada Tuan Kafeel, Tuan .. )”


Ada mata yang berbinar seiring wajah yang sumringah saat Ben mengucapkan satu nama, dimana sosoknya sudah


berada di belakang Ben dan melempar senyum untuk semua orang.


“Sore semua ..” Sapa Kafeel pada semua anggota keluarga The Adjieran yang sedang berkumpul di Mansion mereka yang berada di London itu.


“Eh Kaka..”


"Halo .."


Mereka yang sedang duduk berkumpul dan bercengkrama di ruang santai keluarga itu pun segera berdiri untuk


menyambut Kafeel dan menyalaminya seraya memberikan pelukan hangat pada Kafeel.


“Tos aja!” Ucap Kafeel saat Rery hendak menyalaminya.


“Oh iya lupa!” Sahut Rery sembari tersenyum lebar, ingat kalau Kafeel selalunya mengajak dia dan saudara


sebayanya untuk tos jika Rery dan saudara-saudari sebayanya itu hendak mencium punggung tangan Kafeel yang sepertinya risih sekaligus sungkan jika harus diciumi tangannya oleh anak-anak dari orang-orang yang dimata Kafeel tinggi derajatnya.


Kafeel juga ber-tos ria dengan Mika dan Ann.


“Kak Kafeeell..”


Kafeel tersenyum, dimana lesung pipinya kemudian terlihat. Menambah kadar ketampanan Kafeel, saat Val


menyapanya dengan nada suara yang manja.


“Hai Val..” Sahut Kafeel yang menjawab sapaan Val.


“Ga mau high five ( tos ), aku maunya cium tangan!” Timpal Val saat seperti halnya pada Rery, Ann dan Mika,


Kafeel sudah mengangkat tangannya untuk mengajak tos tapi Val menggeleng seraya menolak.


Kafeel kembali melemparkan senyumnya pada Val.


“Okaayy ..”


Kafeel pun mau dicium punggung tangannya oleh Val yang kemudian diacak rambutnya pelan oleh Kafeel yang merasa gemas pada Val yang wajahnya memang imut-imut itu, didukung oleh tingkah polahnya yang manja di mata Kafeel.


“Selalu aja sukanya maksa.. dan menggemaskan”


“Kan memang seharusnya seperti itu sikap aku ke Kakak..”


“Iya deh, Val kan anak baik selain cantik luar biasa..”


“Ya, kan harusnya memang begini sikap aku sama calon future husband  ( suami masa depan ) aku!”


Dimana Kafeel spontan terkekeh geli, dan para tetua serta orang tua hampir tersedak dengan ucapan Val yang


frontal itu, dimana Rery dan Ann terutama Mika memutar bola matanya malas, jika Val sudah dihadapkan oleh seorang Kafeel, maka mode genitnya itu otomatis on.


‘Oh Tuhan, mengapa aku punya saudara perempuan yang tidak tahu malu seperti Val?!..’


Suara dalam batin Mika.


‘Mengapa anak kami jadi segenit itu sih?!.. Perasaan, aku sama R tidak seperti itu... Abang pun cool macam Daddy nya..’


Suara dalam batin Mommy Ara.


“Kak Kafeel sabar yah? ..” Ucap Val.


“Untuk?” Tanya Kafeel yang baru saja selesai terkekeh.


“Menunggu aku satu atau dua tahun lagi!”


‘Haishhh ..’ Keluarga Val mendengus dalam hati dengan kompak.


****


🍹 BONUS CHAPTER 3 🍹


Ditunggu Bon-chap yang ke 4 ye

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


Tararenkyu


__ADS_2