
✴ FREEDOM – KEBEBASAN ✴
**************************************
Selamat membaca ....
*“Lo beneran ga ikut nih ke **Xaviour**, Ya?”*
“Mau gue, sumpah”
“Tapi ..???”
“Bingung ijinnya”
“Ya tinggal ijin apa susah sama ortu lo? Jangan dibawa ribet”
“Mereka di London. Dan lagi gue juga harus ijin sama Bebeb Abang gue juga kan..”
“Nah lebih bagus kan?. Tinggal telpon aja ijinnya malah lebih gampang”
*“Ijin ke**Club**gitu?. Lo pikir ada orang tua yang akan mengijinkan anaknya yang masih sekolah main ke **Night Club**?. Belum lagi tuh Bebeb Abang gue. Yang ada gue malah kena omelan panjang kali lebar kali tinggi”*
*“Aduh Ketua Osis**stupid **banget."*
"Sudah mau pensiun!"
"Ya elo jangan bilang mau ke Klub lah. Lo bilang aja ada temen yang ultah. Gitu aja lo puyeng”
“Astagfirullah, Hey kalian para perempuan calon penghuni neraka, jangan ajak – ajak si Drea ikutan jadi jablay kek lo berdua. Udah bener dia dijalan yang lurus, jangan kalian cemari wahai para fakgirl!”
“Babi! Sembarangan mulut lo!”
“Hahahahahahaha”
“Lo sendiri sama itu para fucek boy juga mau kesana kan lo?”
“Oh jelas itu mah. Gue mau mepet si Isyana”
“Pasti mau lo acak – acak itu anak orang”
“Yah kalo dia mau masa gue nolak?”
“Najis!”
“Bodo yang penting enak!”
“Gue bilangin mamah lo ya, Yo. Biar dia tau anaknya itu bejat sebenarnya”
“Coba aje lo. Gue pake bolak – balik tau rasa”
“Hahaha”
“CK! Berisik ah!”
“Lo beneran ga mau ikut nih, Ya?”
“Dibilang Mauu!!.. tapi gue masih pusing gimana caranya! Kalau ijin bilang ke Ultah teman, pasti orang tua gue dan Bebeb Abang gue tuh detail tanyanya, siapa, dimana rumahnya, acaranya dimana. Kalau gue bohong, pasti ketahuan. Kalian lupa tuh, pagar betis gue, si Ammar? Pasti dia bakal ngadu kemana gue pergi”
*“Sayang banget padahal ada **Headhunterz**tahu di Xaviour nanti malem. Ish! Ga sabar gue!”*
“Iyes! Rahim gue langsung anget baru ngebayangin mukanya doang”
*“Oh ya Ampuun .. iya ya ada **Headhunterz**nanti malam disana .. iiih ..”*
“Sekali lagi nih gue tanya, lo mau ikut ga?. Kalo mau ikut gue bilang si Amir nih, biar nambahin akses masuk. Kapan lagi lo, bisa liat Headhunterz perform langsung. Mumpung dia sempet mampir ke Jakarta”
“Oke gue ikut!”
“Beneran cin?!”
“Udah ijin emang?!”
*“Ga bakal boleh kalau ijin ke**Club**!”*
“Jadi?”
“Sneaking around lah! (Mengendap – endap lah!)”
“Yakin lo?!”
“Yakin!”
“Caranya? Tapi kalo lo kena masalah sama bonyok en tunangan lo gue ga ikutan loh ya?!”
“Iye. Yang ada entar kena imbas gue malah dikeluarin lagi disangkain ngasut elu. Mana mau ujian kelulusan pula. Jangan sampe aja gara - gara lo ikut kita masa depan gue dipertaruhkan”
“Memang kalian berdua penghasut!”
“Ahahaha ..”
“Jadi rencana lo?”
“Gini, Bla.. bla.. nah nanti pas pulang sekolah gue naik mobil lo ceu”
“Itu bodyguard lo?”
“Suruh ikutin aja dibelakang”
“Oke”
“Nah nanti, gue tunjukkan rute tempat aman kalian tunggu dan jemput gue”
“Oke! Siap 86!”
****
‘Jemput jam berapa?’
‘11’
‘Oke’
****
‘Kita udah sampe’
‘Wait’
****
“Gila! Nekat .. nekat..”
“Kalau ga begini, mana bisa gue tahu dunia malam?”
“Yakin ga ketahuan?”
“Hundred persen ( Seratus persen ). Parents yang ada disini sudah tidur semua. Kakak gue si Nathan, lagi ada
acara sama teman – temannya”
__ADS_1
“Bukan di Xaviour kan? Kegep lo yang ada”
“Bukan. Tadi gue sudah pastikan”
“Bukannya dirumah lo CCTV tuh bertebaran?”
“Yang dari pintu tadi sudah gue akali CCTV area dekat situ”
“Amazing lah!”
“Miracle Andrea .. Always Amazing dong gue!“
“Oke dehhh, ga sabar gue mau ketemu Akang Heady”
"Go sista! Jangan pakai rem!"
“Crowd banget gilaa!! ..”
“Udah reserved table belum?”
“Santai , kita gabung sama si Isyana, Hani en yang lainnya. Mereka udah sampe dari tadi”
“Tuh mereka!”
“Kuy!”
“Minum Ya!”
“Apa tuh?”
“Tequila!”
“Alcohol, No!”
“Coba dikit, ga bakal mabuk!”
“Mm.. okelah”
“........”
*“S*t! Terbakar mulut gue!”
“Hahahaha!!..”
“On the Floor yuk ah! Asik banget ini lagunya!”
“Ayo!”
***
“Eh, Drea?!”
“Kak Arya?!”
“Kamu sama siapa?”
“Teman – Teman”
“Memang dapat ijin dari Uncle Andrew?”
“Hehehehe”
“Wah.. mulai bandel nih ya!”
“Hahaha, sekali – sekali Kak!”
“Next time deh Kak. Gue ga lama juga disini. Lagipula tanggung ah udah turun begini”
“Okelah. Gue tinggal dulu sebentar. Jangan sampe fly loh ya!”
“Siipp ..”
****
“Lagi Drea Tequila nya? Masa one shot doang?”
“Oh No, no! Ga enak! Gue pesan soft drink aja!”
“Halaaah!!! ...”
“Turun lagi yuk ah!”
“Kuy!”
***
“Drea, lo ga balik? Udah hampir jam dua loh ini”
“Iya bentar lagi”
“Balik sama siapa?”
“Nih mereka!”
“Balik sama gue aja ya, gimana?”
“Ok- .. Ah!!!”
***
“Ab..... Abang?????”
“You totally dissapointed me, Miracle Andrea!. (Kau benar – benar mengecewakanku, Miracle Andrea!)”
“Ab..... Abang.. aku..”
“Pulang!”
“I-iya.. Abang ..” Andrea nampak sekali kaget dan ketakutan. Wajahnya sudah mulai pias, memandangi wajah Varen yang rahangnya nampak mengetat.
“Ce - pat!”
Varen menyentak tangan Andrea, mencengkram nya kuat.
“Sa – sakit Abang ..” Rintih Drea, kala Varen menariknya sedikit kasar.
“Bang. Jangan berlebihanlah!” Arya bersuara menahan lengan Varen yang satunya.
Teman – teman Andrea pun nampak juga mulai pias seperti Andrea saat melihat Varen yang tahu – tahu muncul di Klub tersebut.
“Jauhkan tangan lo dari gue” Ucap Varen datar, sambil melirik pada tangan Arya yang sedang menahannya, namun
tangan satunya tetap mencengkram kuat tangan Andrea, yang orangnya mulai meringis.
“Toh, Drea juga ga sampai mabuk” Ucap Arya lagi. “Lo nyakitin dia”
“Jangan ikut campur”
“Lepasin di Bang! Lo itu terlalu mengekang kebebasan Andrea!”
__ADS_1
“Gue bilang jangan ikut campur!!”
Bugh!
“Abang!!!”
Satu pukulan dihadiahkan Varen ke wajah Arya yang langsung terhuyung ke belakang. Seketika Varen dan mereka yang berada didekatnya pun langsung menjadi perhatian orang – orang yang ngeh akan adanya keributan.
Namun tak ada yang berani mendekat. Memang tidak terlalu nampak jelas siapa yang sedang ribut, namun beberapa pria berbadan besar, bersetelan rapih yang berdiri tegak itu, kiranya menahan langkah mereka, yang mungkin sekedar ingin lihat lebih dekat.
“Sekali lagi lo sentuh gue, sekali lagi lo dekati Andrea, yang gue hancurkan bukan hanya satu Narendra”
Varen kemudian berlalu, menyentak lagi tangan Andrea yang matanya sudah berkaca – kaca. Varen pun tak lagi bicara, hingga sampai dia dan Andrea sudah masuk ke dalam mobilnya.
***
“Abang, Drea ..”
“Jangan bicara, mulutmu bau alkohol”
“Tapi Drea ga mabuk, Abang..”
“Aku bilang diam!”
Andrea tak ayal langsung mengendikkan bahunya. Pertama kali, untuk yang pertama kali si Abang kesayangan membentaknya. Andrea pernah dibentak Poppa juga Mommanya kalau dia nakal. Tapi
Abang Varen loh ini, orang yang selalu sabar dan selalu membelanya.
Orang yang tidak pernah sekalipun memarahinya dengan keras selama tujuh belas tahun ini. Kalau Andrea sudah menjengkelkan nya, paling banter Abang hanya mendengus, mendiamkan Andrea sebentar sampai gadis itu sadar akan kesalahannya, lalu pasti akan dibaiki lagi.
Tapi baru saja, Abang Varen nya membentak tanpa ragu. Tak terlihat juga akan membaiki Andrea, karena setelah itu mata dan wajahnya lurus kearah jalanan, dan nampak ia mencengkram setir mobil.
Andrea takut, sumpah dengan Abang saat ini.
Bahkan saat ini , Abang lebih menakutkan dari saat ia memarahi dan memberi peringatan pada Danita waktu itu.
Andrea tertunduk lesu dengan jantung yang berdegup tak santai. Mau bicara lagi untuk minta maaf pada Varen,
namun ia urungkan karena Varen tak lagi menoleh padanya setelah membentak Andrea. Andrea hanya sekilas melirik, rahang Varen yang nampak mengetat itu nampak sedikit bergerak, dengan bibir yang terkatup rapat.
Andrea berharap beberapa menit kemudian dalam perjalanan, akan ada usapan lembut dikepalanya yang sedang
ia tundukkan itu, sambil sesekali menghapus air matanya sendiri. Berikut suara lembut Abang, yang sungguh ingin Andrea dengar saat ini.
Namun sayangnya Abang bergeming dengan sikap dingin nan menyeramkan nya hingga sampai ke Kediaman. Bahkan tak menunggu Andrea turun dari mobil, Varen langsung berjalan masuk sendirian ke dalam Kediaman.
“Abang ..” Andrea melirih pelan, dibelakang Varen yang berjalan santai didepannya, namun tak ada tanda – tanda si Abang berbalik saat Andrea menyebut panggilannya.
Seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk mereka bahkan tak berani menegur saat melihat wajah Varen yang kaku dan tak bersahabat itu. Andrea masih mengekori Varen dengan juga berjalan pelan, sambil memainkan jari di ujung jaketnya dan sesekali menunduk, lalu melirik punggung Varen.
“Abang ..”
Sekali lagi Andrea mencoba memanggil Varen dengan suara yang mengiba saat sudah sampai ke lantai dua
Kediaman.
BRUAK!!
Pintu kamar Varen dibanting tepat dihadapan Andrea kala laki – laki itu memasuki kamarnya. Bahkan ia menutup dengan membelakangi Andrea. Membuat gadis itu syok, kembali mengendikkan bahunya karena Abang malam ini.
Air mata Andrea luruh tanpa ragu lagi. Bahkan terlihat pintu langsung terkunci di kotak yang ada didinding samping pintu. Kini kamar Varen tak bisa sembarang dimasuki, tak bisa dibuka oleh kunci biasa, karena sepertinya Varen mengaktifkan password untuk mengunci kamarnya.
Tanda, kalau Varen benar - benar tidak ingin diganggu
Andrea masih terpaku didepan kamar Varen dengan air mata yang sudah kian membasahi wajahnya.
“Abang ..”
***
Hari sudah terang, namun Andrea masih terduduk di ranjangnya. Semalam, setelah Varen membanting pintu, semua orang tak lama keluar dari kamar mereka masing – masing.
Andrea bahkan masih mematung di kamar Varen saat Papi dan Papa Bear menghampirinya, karena melihat Andrea yang menangis terisak didepan kamar Varen.
“Ada apa, Little Star?”
Pertanyaan yang keluar dari mulut Papi dan Daddy, yang dijawab tangisan makin terisak oleh Andrea, yang
kemudian dipeluk Papi dan dibawa ke kamar Andrea, sementara Daddy Jeff mencoba mengetuk pintu kamar Varen, namun tak kunjung si Abang buka.
“Sudah ya? Besok juga Abang baik lagi”
Papi menenangkan Andrea semalam, saat Andrea menceritakan sebab mengapa Abang nampak begitu marah
padanya. Mami, Mama Bear, Nenek Yuna, Daddy Jeff, bahkan Nathan yang tak lama sampai rumah pun ikut menenangkan Andrea yang isakannya tak kunjung berhenti.
Andrea belum tidur dari semalam. Meski matanya panas, akibat menangis. Namun rasa kantuknya seolah tak ada. Berharap Varen datang ke kamarnya, namun nihil. Varen tak mendatanginya. Bahkan ini sudah jam sembilan pagi, Andrea juga tak ikut sarapan dibawah tadi. Abang pun juga belum muncul di kamar Andrea.
Andrea enggan turun, karena wajahnya sembab. Andrea pikir Varen yang datang membawakannya sarapan, tapi ternyata Mami Prita, yang lagi – lagi menenangkan Andrea dengan ucapan positif, belaian dan pelukan.
***
Vrooommm
Suara mesin mobil yang ia kenal terdengar sayup – sayup ditelinganya saat Andrea tengah berada di balkon. Hendak mengintip balkon sebelah, siapa tahu yang tinggal didalamnya bisa ia lihat meski tak bicara.
‘Abang pergi? Mau kemana pagi – pagi begini?’
Andrea berbalik dan berjalan cepat hendak keluar dari kamarnya.
🎵Let’s Marvin Gaye and Get it On ..🎵
Dering ponsel Andrea terdengar. “Poppa..” Ah, jantung Andrea berdegup takut lagi saat melihat nama Poppa dilayar ponselnya. Sudah pasti Abang mengatakan kelakuannya dan Poppa pasti menelpon untuk memarahinya habis – habisan
“Apa kurang cukup kebebasan yang kuberikan padamu?” Andrea memejamkan matanya saat ia sudah menggeser
tombol hijau untuk menerima panggilan Poppa. Suara Poppa datar saja, namun nada penekanan tersirat di dalamnya.
“Bukan begitu Pop, aku ..... hanya ingin tahu.. semalam ..”
“Apa sulit meminta ijin?”
“Maaf .. Tapi.. Aku .. takut kalian tidak mengijinkan. Aku .. sangat ingin pergi..”
“Apa kau sudah mencoba?”
“Maaf ... Pop ..”
“Kau ingin bebas bukan? Baiklah, aku dan Momma membebaskanmu. Terserah kau mau berbuat apa”
“Pop .. bukan seperti itu maksud Drea..”
“Lakukan apa yang kau mau, lakukan apa yang kau suka. Terserah. Kami sudah memberikan kebebasan berlebih
padamu, bahkan dulu aku lebih mengekang Mommamu dan dia baik – baik saja dengan itu. Masih kurang juga ternyata. Sekali lagi aku katakan, terserah padamu, bergaul lah sesukamu, Miracle Andrea”
“Pop ..”
“Nikmatilah hidupmu, karena tak hanya kami, Abang juga sudah membebaskanmu”
“Mak-maksud-nya ..?”
“Abang bilang padaku, kau tidak akan ia ikat dalam pernikahan saat kau lulus nanti. Kau ingin bebas bukan? Ya sudah, Abang membebaskanmu sekarang”
__ADS_1
***
To be continue..