
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
*************************************************************************
LOVE SPELL
( Mantra Cinta )
********************
Selamat membaca ...
‘Sebenci apapun kamu padaku Little Star, bagiku kamu adalah bintang kecilku yang akan selalu kupastikan ada tidak hanya disaat malam. Yang akan aku jaga dan aku sayangi hingga sampai nafasku terhenti’
Tersungging senyuman di bibir Varen saat melihat Andrea sudah mulai beringsut menyelimuti dirinya sendiri diatas ranjang.
‘Tidur yang nyenyak, bintang kecilku. Semoga esok, aku terbangun dengan sapaan indah senyummu’
Varen masih tegak dalam duduknya di sofa dalam kamar pribadinya dan Andrea. Matanya masih saja terus memindai Andrea yang nampak sudah membaringkan dan menyelimuti dirinya sendiri di atas ranjang yang biasanya ditempati Varen juga.
Tapi mungkin mulai malam ini Varen sudah harus membiasakan dirinya untuk tidak berbaring disisi Andrea diatas ranjang mereka itu. Varen kemudian berdiri dari duduknya setelah beberapa belas menit dengan sabarnya dia menunggu Andrea terlelap dan pulas tertidur.
Varen berdiri setelah ia yakin kalau Andrea sudah terlelap.
Dan ya, sepertinya dugaan Varen benar kalau istri kecilnya itu sudah pulas tertidur saat ini.
Namun begitu, meskipun kini Varen telah berada di dekat Andrea yang sudah memejamkan matanya itu, Varen
tetap memegang teguh kata – katanya untuk tidak mengganggu Andrea baik saat istri kecilnya itu terjaga atau tertidur sekalipun.
Sampai nanti Andrea bisa memaafkan perbuatannya atas keputusannya soal calon buah hati mereka yang dipilih untuk di korbankan demi keselamatan Little Star tercintanya itu, Varen akan bersabar.
Selama apapun Varen akan tetap bersabar dan membesarkan hatinya jika Andrea benar – benar membencinya. Entah mantra apa yang Andrea punya, hingga sejak kelahiran bintang kecilnya itu Varen sudah benar – benar memujanya selain mencintai Andrea dengan segenap jiwa raganya.
Untung saja Momma bukan titisan makhluk gaib atau keturunannya. Bukan juga ahli nujum ilmu hitam, jadi Varen tidak merasa sedang diguna – guna karena cintanya yang dapat disebut cinta gila pada Andrea.
Varen tersenyum tipis, memandangi wajah Andrea yang sedang terlelap.
“Little Star .. Sayang..” Varen berucap, namun dengan sangat pelan karena takut mengusik Andrea yang belum lama tertidur itu.
Menjeda ucapannya sebentar, Varen sedikit menelisik apakah Andrea terusik oleh suaranya.
“Jika memang kamu membenciku, aku terima. Tapi untuk berhenti mencintaimu, sampai kapanpun aku takkan bisa..”
Kembali Varen bersuara, sembari memperhatikan lamat-lamat wajah Andrea yang ia puja dan biasanya sering ia hujani dengan kecupan.
“You said I’m a bad man .. I am .. ( Kamu bilang aku pria yang jahat.. iya, memang benar.. )” Lirih Varen.
Suara Varen sedikit bergetar.
“Aku pria jahat yang terlalu mencintaimu, yang sanggup menghadapi apapun tapi tidak untuk kehilanganmu. Bencilah aku sepuas hatimu, tapi jika kamu minta aku pergi menjauh, maaf saja aku tidak mungkin melakukannya..”
Ada bulir yang menggenang di sudut mata Varen, namun senyuman juga tersungging di bibirnya masih menatap
Andrea bak seseorang yang memiliki kasih tak sampai.
“I love you, Little Star .. meski esok dan seterusnya, kamu lebih menanggapi angin dari pada aku. Tapi cintaku, jangan pernah kamu ragukan itu” Sekali lagi Varen menyunggingkan senyumnya, menatap wajah dan raga yang selalunya ia dekap kala dirinya dan Andrea berada diatas peraduan dimana Andrea sedang berbaring miring sekarang.
Raga yang saat ini hanya bisa Varen pandangi saja, demi menghormati keinginan si pemilik raga yang begitu dicintainya. Lalu Varen melangkahkan kakinya dengan sangat perlahan untuk kembali ke sofa tempatnya tadi. Membiarkan Andrea yang tidak ingin Varen berada di dekatnya.
****
“Bila Kau Ragu, Tanyakan Pada Gunung Yang Tinggi. Maka Dia Takkan Mampu Menjawab Pertanyaanmu ..”
--- Hanya Untukmu ---
****
'Aku mungkin jahat..... bukan mungkin, tapi iya, aku jahat'
'Membuat kamu tidak memiliki kesempatan mengetahui dan merasakan kehamilan kamu, aku jahat.....'
'Mengambil keputusan untuk menghilangkan calon bayi kita, aku lebih jahat .....'
'Tapi semua itu hanya karena satu alasan, Little Star ...'
'Karena aku tidak bisa untuk hidup, bahkan mencoba pun aku tidak mau. Jika aku harus hidup .... dalam dunia..... dimana kamu tidak ada didalamnya'
'.............'
'Karena cinta itu bukan sebatas kata – kata manis bukan?'
'Bukan sebatas tangan yang membelai kepala, bukan sebatas tangan yang meraih untuk memeluk ...'
'Tapi cinta itu perbuatan. Dimana pengorbanan, kadang dibutuhkan didalamnya semata – mata untuk membedakan
antara obsesi, dan cinta sejati..'
Mata yang terpejam itu tidak sedang terlelap seperti yang terlihat sebenarnya. Apa yang Varen ucapkan saat pria itu menghampiri ranjang beberapa saat yang lalu, semua didengarnya dengan sangat jelas. Sampai suara langkah kaki yang teramat pelan kala Varen kembali ke sofa pun, masih sepasang telinga yang raganya sedang berbaring miring itu pun bisa ia dengar.
Dan apa yang Varen ucapkan saat kebenaran diungkapkan serta wajah Varen yang nampak sendu itu sedang
terbayang dalam kepala si pemilik raga yang sedang berbaring di atas ranjang, termasuk percakapan Varen dan Mommy Ara saat keduanya mengobrol di depan kamar.
Ada bulir air mata yang dibiarkan jatuh oleh pemilik kedua mata yang mulai basah saat ini.
**Beberapa waktu sebelumnya...
Beberapa asisten rumah tangga dalam kediaman utama keluarga Adjieran Smith datang dengan sebuah tray
aluminium kedekat meja jamuan yang berada di halaman belakang Kediaman, dimana sebagian besar anggota keluarga sedang berada disana.
Membuat mereka yang berada disekitaran meja jamuan pun bertanya-tanya pada Mba Adis yang merupakan kepala asisten rumah tangga di Kediaman menggantikan almarhum sang ibu, yakni Bi Cici, yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga tersebut.
“Permisi Tuan, Nyonya. Saya mau mengambilkan makanan untuk Tuan Andrew, Tuan Lucca dan Den Varen. Mereka mau makan di ruang keluarga katanya Tuan, Nyonya ..”
Mba Adis memohon ijin pada para majikannya yang kemudian manggut-manggut.
Para majikan yang berkumpul itu tidak bertanya macam-macam karena paham situasi dan Andrea sedang berada
bersama mereka juga, dan lebih banyak diam.
“Ya sudah, sini saya bantu siapkan ..”
Oma Anye sudah berdiri mengambil piring makan yang ada di atas tray, lalu memindahkannya ke atas meja makan dengan di bantu oleh salah seorang asisten rumah tangga lain selain Mba Adis.
“Buat mereka bertiga aja Mba Adis?” Tanya Momma yang ikut menyendokkan makanan ke atas piring makan untuk tiga orang yang disebutkan tadi.
Mba Adis langsung mengangguk sekaligus menjawab. “Iya, Nyonya Fania... Hanya Tuan Andrew, Tuan Lucca dan Den Alva saja.. tadinya Den Alva menolak untuk diambilkan makan, tapi Tuan Andrew yang menyuruh agar tetap mengambilkan juga makanan untuk Den Varen”
“Ya sudah kalau begitu...”
__ADS_1
“Aku gabung dengan mereka lah kalau begitu juga!”
Daddy Jeff berdiri dan mengangkat piringnya, lalu beranjak menuju ruang keluarga.
Yang pada akhirnya diikuti oleh para pria lainnya sebagai bentuk solidaritas pada si Abang yang sedang gegana, termasuk para anak laki-laki dari mulai Rery sampai dengan Ares, kecuali Gappa dan Ake yang tetap bertahan di meja jamuan bersama para wanita dan anak-anak perempuan.
****
“Tambah makannya Drea? ... makan kamu sedikit sekali”
Mom Ichel menegur Andrea yang lebih banyak terdiam dan nampak seperti sedang menekur setelah ia
menghabiskan makan malamnya.
Andrea terkesiap.
“Ada yang Drea rasain sakit?”
Ake Herman yang duduk di dekat Andrea itu membelai lembut kepala cucunya.
“Engga kok Ke’. Drea baik-baik aja. Ake jangan khawatir sama Drea terus ya?... Ene, semua juga...”
“Ya wajarlah kita orang ini ngawatirin Drea, kita semua ini kan sayang sama Drea ... apalagi noh si Abang, die yang paling ngawatirin Drea, yang paling sedih ame kondisi Drea, apalagi waktu Drea di Rumah Sakit ..”
Ene Bela berkata-kata.
“Maap ye Drea, bukan Ene nih mau ngebelain Abang... Ene tau Drea pasti sedih. Sakit ati, soal kehamilan Drea, soal anak Drea yang ga selamet ..”
“........”
“Tapi asal Drea tau, yang ngerasa begitu bukan Cuma Drea doangan. Kita semua juga sama sedihnya, sakit ati... soal calon anaknya Drea sama Abang .. tapi Drea coba deh pikirin kalo Drea jadi Abang.... istrinya diculik, hampir di apa-apain ama orang jahat. Terus dicekokin macem-macem obat ampe ilang kendali, terus abang disuruh ambil
keputusan antara hidup dan mati ape yang Abang cintai”
“........”
“Ape ga nyesek itu kalo jadi die? ..”
Andrea melirik ke arah kaca dimana suasana di dalam ruang keluarga tembus terlihat dari tempatnya duduk saat ini.
Ada abang beserta para Dad dan saudara laki-lakinya yang lain.
“Ene paham yang Drea rasain .. emang Ene ga pernah kehilangan bayi, ga pernah ngerasain hamil tapi ga punya
kesempatan buat tahu sebelumnya. Tapi Ene pahaaaaammm bener, perasaan Drea sebagai perempuan” Sambung Ene Bela.
“........”
“Tapi sedihnya Drea, sakitnya Drea, itu sedih dan sakitnya Abang...”
“Ene benar Drea....”
Nenek Yuna menimpali.
“Bukan kami semua ini membela Abang, bukan... tapi kami ini lihat, bagaimana sedih, sakit dan terlukanya Abang atas semua yang terjadi pada kamu... meskipun Abang tidak pernah menunjukkannya didepan kami”
“Abang hancur, Ya’!...” Ada Nathan yang tahu-tahu muncul didekat mereka yang masih berada di meja jamuan
halaman belakang. “Gue, Kak Rendy, Ammar, Uncle Lingga... kami berempat lihat sendiri betapa hancurnya Abang, waktu Uncle Alan telpon Abang soal calon anak lo dan Abang ... Hancur, Ya’! Abang bener- bener hancur!.... Seumur hidup, baru itu gue melihat Abang sehancur itu. Gue aja sakit Ya’, lihat Abang sampai begitu!....”
Mata Andrea berkaca-kaca, termasuk juga Nathan dan semua yang berada didekat keduanya.
“Abang loves you more than everything in this world, Baby ( Abang mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini, Sayang ). So please don’t hate him ( Jadi tolong jangan membencinya ) ...”
Mama Fabi ikut bersuara. Dimana Andrea kemudian menundukkan wajahnya dan Momma serta Mommy Ara sudah
“Pokoknya, kita orang bicara begini sama Drea .... ga ada maksud buat membela Abang, atau memojokkan Drea”
Kini Momma giliran yang berbicara.
“Kehilangan anak dalam kandungan, Momma juga pernah ngerasain meski Momma ga seperti Drea yang ga tahu
kalau sedang hamil. Tapi sedikit banyak Momma ngerti, gimana rasanya, sedihnya, sakitnya kehilangan calon bayi dalam kandungan yang udah Momma impikan sejak lama. Tapi akhirnya, Momma dikasih Drea sama Rery buat gantinya kan?”
Andrea mengangkat wajahnya, menatap sang Momma yang tersenyum padanya. Momma masih membelai lembut kepala Andrea seperti halnya Mommy Ara.
“Kalau Drea mau marah sama Abang, silahkan ... itu hak Drea. Tapi jangan Drea benci Abang, ya?. Abang itu, Masya Allah cintanya sama Drea ... sampai sebenarnya, Abang itu ngelarang nih kita orang membahas dengan Drea seperti ini soal masalah kalian. Tau kenapa? ...”
Momma menjeda ucapannya.
“Karena Abang ga mau Drea merasa tidak nyaman dan tertekan. Takut jika kami dianggap membelanya nanti dan
membuat Drea semakin sedih dan sakit hati.. sampai begitu Abang memikirkan perasaan Drea, padahal Momma dan kami semua tahu kalau Abang juga sama terlukanya. Tapi sekuat tenaga dia tahan dan coba untuk tidak Abang tunjukkan pada kami semua”
Andrea melipat bibirnya. Sebulir air mata lolos dari kelopak matanya yang langsung dihapus Momma.
“Jadi, tolong Drea pikirkan lagi .. jika Drea mau membenci Abang .. hem?”
“Tapi tetap, semua keputusan ada di tangan kamu sayang... Bagaimana Drea mau membawa hubungan Drea dan Abang kuncinya ada di Drea... apapun keputusan Drea, kami, Mom dan Dad R terutama, akan tetap menghargainya...”
“Drea ...” Andrea mulai berbicara.
Dan semua terdiam.
“Drea, - ga benci sama Abang ...”
Andrea sedikit terbata.
“Drea, - hanya kecewa... sangat...”
Meneguk sedikit salivanya sebelum lanjut berbicara.
“Tapi untuk membenci Abang... berpikir pun Drea ga pernah...”
Andrea menatap satu-satu orang yang sedang bersamanya.
“Drea, - cinta sama Abang .... sang-at....” Mata Andrea pun sudah berkaca-kaca kembali.
Menghapus sebulir air matanya, baru kemudian melanjutkan kembali kata-katanya yang sempat terjeda.
“Ta-pi untuk membenci Abang, Drea juga akan bisa .. Anggap saja ... Drea sedang butuh waktu? ...” Andrea
menarik paksa sudut bibirnya. “Ta-pi... engga kok, Drea .. ga akan sampai membenci Abang ..”
“Syukur deh kalo Drea ga sampai benci Abang, karena Abang udah banyak berkorban juga buat Drea ...”
Andrea mengangguk atas ucapan Mami Prita yang ikut bersuara juga.
“Semarah apapun Drea pada Abang, yang harus Drea ingat adalah bagaimana Abang mencintai Drea...”
****
Saat ini ...
__ADS_1
Abang yang akan selalu melindungi Drea dengan tubuhnya...
Abang yang akan selalu berperang dengan jiwa dan raganya untuk Drea...
Abang yang hanya memikirkan Drea saja...
Abang yang bahagia kalau Drea bahagia...
Abang juga yang ikut menderita jika Drea menderita...
Jadi, Drea pikirkanlah lagi bila Drea mau membenci Abang...
Tersungging senyuman disudut bibir Andrea yang kini sudah tak lagi berada di atas ranjang pribadinya dan Varen. Andrea yang memang tidak tidur sebenarnya itu, kini telah beringsut di dekat Varen yang justru sudah terlihat terkapar di atas sofa dengan satu lengannya yang berada di atas kepala Varen.
‘Maafkan Drea, Abang..’
Andrea merendahkan tubuhnya, bertopang pada kedua lutut, bersimpuh dipinggir sofa dimana Varen nampak
terlelap, namun tersirat segala beban dari raut wajahnya. Tangan Andrea terulur.
Menekuk satu jarinya untuk menyentuh pipi Varen dengan perlahan.
Dimana si pemilik pipi langsung tersentak kaget sembari membuka matanya.
“Little Star?”
Varen berucap pelan, seiring wajahnya yang nampak terkejut saat ini.
Alis Varen bertaut, sembari ia menggosok matanya sendiri, memastikan apakah dia tidak sedang bermimpi.
“Abang jangan tidur disini ya? .. nanti tubuh Abang sakit”
Varen menatap lekat-lekat Andrea yang sedang tersenyum tipis dan berada di hadapannya kini.
Varen tertegun.
“Maafkan- ....”
“Oh Little-Star ..”
Tak ayal Varen langsung membawa Andrea dalam dekapan.
Begitu erat, hingga rasanya Andrea merasa sesak.
Namun Andrea tak melayangkan protes, karena isakan kemudian ditangkap oleh telinga Andrea.
Tangan Andrea ditempelkannya di punggung Varen. Dibalasnya pelukan sang suami yang kini tubuhnya sedikit
bergetar itu.
Varen bahagia, hanya dengan Andrea yang membalas pelukannya saja hatinya sudah bahagia bukan kepalang. Hati Varen yang tadinya berdenyut nyeri tanpa henti itu kini mulai terasa membaik.
“Maafkan Drea ya Abang...?” Andrea berucap pelan dan Varen langsung mengurai pelukannya sembari menghadapkan wajah Andrea dengan wajahnya.
“Jangan! Jangan meminta maaf! Aku tidak pantas! ... aku, aku yang seharusnya tidak berjeda meminta maaf
kamu, Little Star ...” Ucap Varen yang menyeka satu bagian pipinya yang basah karena tangan Andrea sedang menyeka satu sisi pipi Varen yang satunya.
Andrea menggeleng. “I love you, Abang... maaf jika Drea sempat menyalahkan Abang ... Drea ...”
Satu tangan Varen diletakkannya di bibir Andrea seraya kepalanya yang menggeleng.
“No! Stop it! Jangan meminta maaf, aku mohon .... aku tidak mempermasalahkan sikap kamu ke aku, Little
Star.....”
Di tangkupnya wajah Andrea oleh Varen.
“Cukup dengan kamu yang tidak membenciku setelah ini, aku sudah bahagia ...”
“Drea ga mungkin benci Abang... ga mungkin, dan ga akan pernah..” Ucap Andrea.
Yang membuat Varen terharu sekaligus tersenyum bahagia. “Terima kasih Little Star... itu... sudah lebih dari cukup .... I love you ... that much..”
“I love you too... as always, Abang...” Dikecupnya kening Varen oleh Andrea lalu mendekatkan wajahnya dan Varen hingga hidung mereka bersinggungan. Senyuman pun terpatri di wajah keduanya.
‘Karena cinta itu bukan sebatas kata – kata manis bukan?’
‘Bukan sebatas tangan yang membelai kepala, bukan sebatas tangan yang meraih untuk memeluk’
Tapi cinta itu perbuatan. Dimana pengorbanan, kadang dibutuhkan didalamnya semata – mata untuk membedakan antara obsesi, dan cinta sejati...
****
Menatap indahnya senyuman diwajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku ..
Banyak kata, yang tak mampu
Ku ungkapkan kepada dirimu..
Aku ingin engkau selalu, Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Sepanjang hidupku ..
Pasti waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Ku ingin kau tahu ku selalu milikmu
Yang mencintaimu
Sepanjang hidupku..
💝💝💝 Tercipta Untukku – Ungu 💝💝💝
****
To be continue..
Road to an End
Menuju Akhir cerita
__ADS_1
Yang Mungkin Masih Agak Lama
Wkwkwk ...