
♣ MENGAPA AKU BEGINI ♣
***
Selamat membaca..
***
John melirik arlojinya. Ia tengah berada di dalam mobil sekarang, setelah bosan berada di coffee shop selama satu jam. “Gila udah hampir lima jam!.”
John menggerutu sendiri dalam mobil. Ia bahkan sempat tertidur sebentar saking menunggu si Prita dengan kegiatannya.
Pengen masuk sih sebenarnya. Tapi takut nanti si Prita ngambek lagi. Itu anak udah bilang kalau John ga boleh ada disana. Bukan member dance kata Prita. “Ngapain aja sih dia sampai empat jam begini?.”
John mulai tak sabar.
“Perasaan gue waktu menemani si Kajol dan beberapa cewe aerobic hanya dua jam!.”
Ia menggerutu sendiri. Waktu menemani dan menunggu Fania dua jam saja dia udah ngomel – ngomel.
Ini sudah hampir lima jam dia menunggu si Prita tanpa ia sadari, tumben – tumbenan, dibetah – betahin.
“Kenapalah gue jadi begini.”
John pun keheranan sendiri.
“Gue susul aja deh. Biarin aja ngambek. Nanti gue cium tahu rasa!.”
***
Lagi dan lagi, saat John memasuki gedung tempat Prita berada disalah satu lantainya, ia kembali menjadi pusat perhatian para cewe – cewe yang kebetulan ada disana, meskipun ia hanya berpenampilan santai dengan tambahan jaket kasual.
“Permisi.” John bertanya pada seorang cewe yang kebetulan berpapasan dengannya saat ia sampai dilantai dimana tadi dia mengantar Prita.
“Iyah?.”
Cewe itu sumringah, menyahut dengan sok imut. Cantik memang, tapi entah kenapa John tak berminat.
“Kamu dari kelas dance atau..?.” Tanya John pada cewe itu.
“Iya.” Cewe itu menyahut cepat.
“Apa kalian sudah selesai?.”
“Masih taking video.” Ucap cewe itu. “Ada yang bisa aku bantu?.” Ia bisa menawarkan dan menampilkan seutas senyum yang lumayan menawan. Tapi John lagi lagi tak merasa berminat, malah sedikit risih dengan cara cewe itu memandangnya.
“Apa aku boleh melihat?.” Tanya John pada cewe itu.
“Tentu aja boleh.” Sahut si cewe dengan cepat yang nampaknya sedang mencoba tebar pesona pada John. “Aku antar.”
'Si Prita nih, tadi dia bilang gue ga boleh tinggal diarea studio!.' Batin John sembari mengangguk seraya tersenyum dan mengikuti cewe yang sedang bersamanya itu, sambil membuka jaketnya.
Si cewe yang mengantarnya itu sedikit teralihkan oleh dada bidang sibule koplak saat ia menyadari kalau John sudah melepas jaketnya. Si bule koplak sih ga ada maksud apa – apa, Cuma rada gerah dikit.
__ADS_1
“Kita take video disitu.”
Cewe itu menunjuk ke arah ruangan yang sekitaran nya adalah kaca tembus pandang, dan terlihat ada beberapa kamera dan kerumunan orang yang didominasi oleh cewe – cewe dengan pakaian yang lumayan ketat dan seksi tentunya. Dan memang terlihat sedang ada pengambilan gambar, karena ada dua orang yang nampak sedang meliuk dengan iringan musik yang sayup – sayup terdengar dari luar dinding kaca, dengan kamera yang sedang mengarah pada dua orang yang sedang menari tersebut.
John mengangguk.
“Mau ikut kedalam?. Sebentar lagi giliran aku, kalau kamu mau lihat.” Cewe itu tersenyum nampak seolah menggoda John.
John tersenyum. “Saya disini saja.”
“Oh, ngomong – ngomong kamu ini, temannya Jo?.”
“Jo?.”
“Produser kami.”
“Oh bukan. Saya hanya menjemput teman.”
“Oh ya?. Teman kamu disini siapa namanya?.”
“Prita.”
“Oh.” Cewe itu hanya ber oh ria, namun raut mukanya sedikit berubah setelah mendengar nama Prita. “Aku tinggal kedalam, ya. Masuk aja kalau mau lihat.” Ucapnya dengan senyuman yang dibuat se-mempesona mungkin. John mengangguk.
“Thanks ....”
“You welcome.”
**
“Mana itu si Priwitan?.” John berdiri kini. Penasaran belum lihat sosok Prita diantara orang – orang yang kebanyakan dancer itu.
Dua penari yang sedang ambil gambar saat John datang tadi nampak sudah selesai karena terlihat dan terdengar orang – orang bertepuk tangan. John beringsut dari tempatnya mendekati area yang dikelilingi dinding kaca. Ada beberapa cewe yang uwow seperti sedang latihan disalah satu sudut yang ia dekati dari luar.
Yah, setidaknya gerakan eksotis mereka yang nampak seperti sedang latihan dan terlihat bersemangat itu lumayan bisa membuat John cuci mata. Ditambah dengan tubuh langsing, pakaian ketat dan perut yang rata. Tapi lagi – lagi John hanya sekedar memuji. Kalau John yang dulunya sebelas dua belas dengan si Jeff kalau soal cewe meski tak seliar Jeff, pasti john sudah mengantongi selusin nomor telpon para cewe yang ada disitu. Setelahnya dia hanya tinggal memilih saja.
Namun sejak si Priwitan mulai mengganggu kestabilan otak dan hatinya. Tak lagi ada cewe – cewe yang menarik minatnya. Sejak beberapa waktu terakhir, otak dan hatinya dipenuhi oleh segala hal tentang Prita. Gadis itu sanggup membuatnya susah tidur, yang John anggap adalah rasa bersalahnya dan kegelisahan saat Prita memusuhinya. Membuat hidupnya sedikit tak tenang selama kurang lebih dua tahun.
Prita tak secantik kakaknya, tak juga sekalem Aila, tak se-elegan Ara dan Michelle, tapi segala hal tentang gadis itu bisa membuat tidurnya tak tenang. Terlebih lagi penampilan Prita sekarang tak seperti gadis kecil, tak juga seperti ABG.
“Mana sih dia?....” Mata John masih mencari – cari. Tanpa dia sadari ada beberapa mata yang sedang mengagumi sosoknya yang sedang berdiri didekat pintu kaca. Masih diluar. Belum ingin masuk.
Pandangan John teralih ke tempat dimana kamera tadi mengambil gambar dua orang yang menari, dan kini sudah berganti.
Sepertinya masih ada pengambilan gambar lagi, dan kini ada seseorang yang dipastikan cewe sedang berdiri untuk shooting koreo sepertinya. Seksi dan sintal, sedikit jauh dari tempat John berdiri sekarang, namun nampak jelas terlihat padatnya bongkahan belakang si cewe yang sudah berada di depan kamera tersebut dan sedang bersiap, namun sayangnya membelakangi kamera sambil berpose.
Sayup – sayup musik terdengar dari dalam, pengambilan gambar sudah dimulai lagi sepertinya. Karena seiring musik yang dimulai gadis yang sedang berada didepan kamera itu juga mulai menggerakkan tubuhnya. Namun masih belum berbalik. John memperhatikannya. Lumayan lah itung – itung nunggu si Priwitan, pikirnya.
“Menarik ....”John memperhatikan cewe yang sedang menari itu.
Pinggul polos yang nampak mulus itu sedikit menjadi perhatiannya selain bongkahan belakang si cewe yang tercetak dari balik celana berbahan kaos tapi lumayan ketat juga.
‘Eh?.’ John memicingkan sedikit matanya saat cewe yang sedang menari dan sedang si shoot itu berbalik, dengan masih bergerak seirama dengan musik. ‘Prita ..?.’ John penasaran, ia berjalan kearah pintu untuk masuk ke dalam studio.
__ADS_1
John meneguk salivanya saat ia sudah masuk kedalam studio, sedikit lebih mendekat kearah si penari yang nampak fokus menari, memandang ke kamera. John mengabaikan pandangan takjub cewe – cewe yang menyadari kehadirannya. Matanya tak lepas dari si penari yang sedang ia tatap hampir tanpa kedip itu. Yang memang benar adalah Prita. Sedang menari dengan enerjiknya, meliukkan tubuhnya. Cukup membuat dada John berdebar sedikit cepat, karena penampilan Prita dengan kaos ketat yang hanya sebatas dibawah dadanya, hingga menampakkan perut ratanya dan celana panjang ketat yang karet pinggangnya berada dipinggul ramping Prita.
‘Oops You Think I’m in Love ...’ Prita meliuk dan seluruh tubuhnya bergerak termasuk perutnya yang bergerak ke kiri dan kanan seiring dengan musik yang terputar.
Deg! Deg!.
‘Shit.’ Batin John mengumpat karena rasanya ia tak tahan dengan pemandangan yang menggoda didepannya. Mengumpat karena merutuki dirinya sendiri yang merasa tergiur dengan Prita yang sedang menari itu.
‘I’m Not That Innocent!.’
Suara tepuk tangan membuyarkan lamunan John yang sedang memandangi Prita tadi. Ah, sudah selesai ternyata si Prita menari, John sampai tak sadar. Ia ikut bertepuk tangan dengan jaket yang tersampir dilengannya, sembari coba mengatur nafasnya yang tadi sedikit sesak itu, termasuk jantungnya yang lumayan berdebar.
“Kak John?.” Prita sadar dengan kehadiran John. Ia menghampiri laki – laki itu.
“H-hai.” John sedikit gugup.
“Kirain gue udah balik lo, Kak.”
“Wuih Prita, siapa ituuu?.” Suara celetukan terdengar sebelum John menjawab Prita. Membuat Prita dan John menoleh.
“Kepo!.” John tersenyum dan Prita memandang sebal pada cewe yang kemungkinan adalah temannya itu.
“Kenalin sih Prita!.”
“Bisa kali kekepin gue bentar.”
‘Gatel.’ Batin Prita jengah. Lalu kembali menoleh pada John. Memperhatikan bule koplak yang berdiri didepannya dengan jarak yang lumayan dekat dengannya saat ini. Mata Prita pas berada didepan dada bidang milik John yang tercetak dibalik kaos ketatnya itu.
Tak dipungkiri, kalau teman – temannya di sini jadi pada gatel seketika kalau melihat dada John yang bisa dibilang “senderable” itu kalo kata cewe – cewe mah.
“Sini Kak.”
Prita menarik lengan John dan membawanya kesalah satu sudut studio.
‘Ck. Tebar pesona banget sih ini sibule koplak.’ Batin Prita menggerutu.
Prita sengaja berdiri didepan John, menghalangi para ulet bulu yang terpesona oleh dada bidang John yang “senderable” itu.
“Kok Kak John belom balik?. Trus ini ngapain sih, pake segala buka jaket begini?. Tebar pesona banget, lo!.”
“Siapa yang tebar pesona sih?. Ga usah ditebar memang Kak John mempesona. Lagipula memang Kak John nungguin kamu. Kan sudah Kak John bilang. Kamu pergi sama Kak John, ya kamu tanggung jawabnya Kak Johnlah.” Ucap John.
‘Ah sa ae bule koplak. Bikin gue gremet – gremet gimana gitu.’ Batin Prita tersipu. ‘Ish Priwitan, kaga usah ke-ge-er-an lu.’ Kini batinnya memberi peringatan. ‘Tapi itu ah, napa sih dadanya serasa manggil buat dipeluk. Ah Tuhan, kenapa gue gatel begini siiii.'
’Duh Pritaaa jangan sedekat ini berdirinya sama gue. Kepala Kak John pusing ini..’
Tangan John rasanya gatal ingin memeluk pinggul si Priwitan yang terekspos dengan bulir keringat yang membasahi disekitar perutnya.
‘Ah ya ampun, ini anak sudah membuat gue lemas dan kencang disaat yang sama. Siaallll..’
**
To be continue...
__ADS_1