THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 271


__ADS_3

RELIEVED – LAPANG DADA


**************************************


Selamat membaca .....


***************************


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


Kamar Pribadi Daddy Jeff dan Mama Jihan


“Maafin Drea ya Mama Bear?”


“Drea minta maaf untuk apa, hem?”


“Iya karena Drea, secara ga langsung kan, Mama Bear jadi seperti ini?”


Mama Jihan menggeleng dan membelai kepala Andrea.


“Engga sayang, Drea sama sekali ga salah. Justru Mama yang berterima kasih, karena Drea, Mama tahu wujud asli anak Mama...”


“...”


“Laki – laki tak berhati ...”


Gantian Andrea yang menggeleng cepat. Sementara Mami Prita, Mom Ichel dan Nenek Yuna bingung harus berkomentar apa. Hanya bisa menyanggah pelan saja ucapan Mama Jihan barusan.


“Jangan ngomong gitu, Kak...”


“Iya, Mama Bear ... jangan bicara begitu ... Nathan bukan tak berhati, dia hanya...”


“Kesalahan Nathan bukan sekedar ‘hanya’ Drea ... dia merusak seorang gadis, lalu gadis itu hamil, lalu tega menghilangkan anaknya sendiri?!”


“Mama Bear ...”


“Ya Tuhaaaaannnnn, aku pikir aku sudah mendidiknya dengan benar?!”


Lagi – lagi Mama Jihan menangis. Membuat mereka yang melihat pun merasa teriris.


Susah ya jadi orang tua memang, mungkin itu pekerjaan tersulit.


Mendidik anak.


****


“Sudah ya? Jangan terlalu kamu pikirkan. Semua akan baik – baik saja, Little Star...” Varen sudah membawa


Andrea turun untuk melanjutkan sarapan bersama Mami Prita, Mom Ichel dan Nenek Yuna. “Mama Bear juga sudah lebih tenang sekarang kan?”


Andrea mengangguk.


“Ya sudah makan dulu” Ucap Varen.


***


“Abang...”


“Hem?”


“Abang mau ke kantor apa gimana?”


“Kenapa Drea mau pergi ke suatu tempat?. Kalau kuliah Abang online, lagipula kan menyesuaikan waktu London jadi baru jam delapan malam nanti Abang standby di depan pc”


“Engga sih, Drea ga mau pergi kemana – mana. Justru Drea mau bilang, kalau Drea ga mau masuk kuliah hari ini”


“Huuumm.. ya sudah kalau begitu”


“Abang kalau memang mau ke kantor, ya ga apa. Drea juga di rumah aja. Drea rasanya tak enak hati pada Papa dan Mama Bear. Udah gitu si Tan – Tan pergi. Drea tambah merasa bersalah”


“Ga perlu merasa begitu, sayangnya Abaang ...... bukan salah kamu, okay?. Sudah berkali – kali Abang bilang”


“Yaa Drea merasa ga enak aja, Abangku thayank” Varen dan Andrea sama – sama terkekeh.


“Ikut Aku saja yuk?”


“Ke?”


“Bertemu Rendy”


***


Varen dan Andrea menyambangi Rendy di apartemen pria itu. Kebetulan Rendy juga sudah kembali dari dinas


malamnya di Rumah Sakit.


“WHAT?!” Rendy spontan memekik setelah Varen menjelaskan hubungan Kevia dan Nathan. “Lo ga ngadi – ngadi kan Ren?!”


“Kurang kerjaan memang gue?. Lagipula si Jo itu adik gue. Ngapain gue fitnah adik gue sendiri?!” Varen


menjawab santai pada Rendy yang nampak syok itu, bahkan sampai memegang dadanya.


“Ah gila si Jo! Sarap adek lo!”


“Memang”


Sementara Rendy dan Varen saling bercakap, Andrea hanya diam mendengarkan.


“Padahal, kalau andai aja gue tahu, kalau itu si Jo punya kelakuan pada Via. Asli udah gue hajar abis itu adik lo yang ga ada akhlak!”


“Memang lo siapanya Kevia?”


“Yaa bukan siapa – siapa sih, cuman dia udah macam adek buat gue. Sama macam lo sama Drea dulu dan adik – adik lo yang ga sekandung itu. Pasti lo ngamuk kan kalau ada adik lo yang di macem – macemin orang?”


“Memang adik – adik gue. Pasti gue ngamuk. Disahkan secara hukum. Hubungan keluarga jelas tertera. Lo udah mensahkan itu si Kevia jadi adik angkat lo?”


“Yaa enggaa, belum siiiih...”


“Berarti lo ga ada hak untuk menghajar adik gue” Ucap Varen enteng saja.


“Ck! Ga pernah menang gue kalau debat sama lo!”


“Makanya lo jadi dokter jantung kan?. Ga perlu debat sama pasien lo. Orang mereka tidur kalau berhadapan sama lo”


“Akh! Whatever lah!”


‘Hmm, berdebat sama Abang sih, susah menangnya’ Batin Andrea.


“Tapi gue heran, waktu itu gue sempet cari tahu loh tentang siapa pacarnya Kevia. Tapi ga ada cerita kalau dia deket sama Jo”


“Kan sudah gue bilang, lo itu Cuma jago membelah dada orang doang. Lainnya payah!”


“Abang!”


“Memang benar begitu”


“Santai Drea, Abang Rendy sudah terbiasa dengan sikap dan sifat Abang Varen kamu ini nih! Udah kebal!”


Drea hanya tersenyum saja, sementara Varen memasang wajah woles nya.


Rendy memutar bola matanya malas.


“Suami kamu nih, selain suombong nya naudzubillah kalo sama cewe – cewe. Mulutnya tuh kalo ngomong jarang ada manisnya. Untung aku sabar sama dia”


“Memang sudah seharusnya begitu. Kalau bukan karena rekomendasi gue, lo paling hanya jadi dokter di pedalaman atau di Puskesmas!”


“Tuh kan?!”


Andrea terkekeh jadinya.


“Harap maklum ya Kak Rendy ....”


“Bukan lagi Dreaaa sangat memaklumi aku mah. Kalo engga, kalo bukan karena dia teman yang banyak jasanya


sama aku, ogah banget deket – deket Abang Varen kamu ini nih!”


“Bersyukur makanya jadi


teman gue. Eh, gue anggap teman. Ga gampang tau lo ada diposisi lo nih.  Bisa gue anggap teman itu posisi terhormat tau ga?!”


‘Ampun deh si Abang nih....’ Andrea geleng – geleng, tapi dia terkekeh saja melihat Bebeb Abang, suami tersayang


itu dengan kepedeannya yang luar biasa.


“Ya ya ya ya. Asal lo bahagia Tuan Alvarend Aditama Smith!”


Tiga orang itu pun terkekeh bersama pada akhirnya.


“Terus jadinya kalian berdua nih maksudnya nemuin gue mau tanya soal Kevia pasti?”


Rendy bangkit dari duduknya untuk mengambilkan suguhan untuk dua tamunya itu. Berbicara sambil membuka


kulkasnya.


“Kan? Ga sia – sia berteman sama gue. Pintar jadinya”

__ADS_1


“Whatever .....”


“Iya Kak. Kalau boleh aku mau tanya soal Kevia”


Andrea berbicara setelah mengepret lengan si Abang yang kemudian cekikikan.


“Drea mau tanya apa? Nomor telponnya Kevia?” Tanya Rendy.


“Kalau bisa lo jadi perantara lah, ketemu langsung aja, kalau tahu – tahu Drea telpon dia nanti awkward jadinya”


Rendy manggut – manggut mendengar ucapan Varen.


“Memang Kevia ga cerita kalau ketemu aku, Kak?”


“Oh, jadi yang Via temui itu kamu yang katanya kamu samperin dia waktu lagi makan?”


“Iya”


“Dia ga cerita detail sih, ya dia cerita semua tentang keluarganya, kisah cintanya yang tragis, tapi ga pernah nyebutin nama. Gue baru tahu dia ternyata punya keluarga di Jakarta aja, pas dia udah pindah kesini dibawa Marsha” Jelas Rendy. "Iya dia cerita juga soal dia ketemu sama salah satu keluarga dari cowo masa lalunya beberapa waktu lalu"


“Memang tadinya Kevia dimana?”


“Bogor”


“Tinggal sama siapa Kak?”


“Teman – temannya yang se-frekuensi. Aku sudah cerita kan soal pribadinya Kevia waktu itu sama kamu Drea?”


Ucap Rendy dan Andrea mengangguk paham. “Sakit pikirannya, tapi ya bukan gila juga”


“Depresi dia?”


“Yaa bisa dibilang begitu. Tapi ga parah, Cuma waktu pertama ketemu sama gue dikenalin Marsha ya Via anti sosial banget. Aware sama orang luar di luar itu panti. Tapi cukup dekat dengan mereka yang satu permasalahan dengan dia. Tapi akhirnya dia mau sih membuka diri sama gue sampe sekarang”


“Berarti si Via itu dekat sama Marsha?”


“Ya memang si Marsha yang nemuin dia dipinggir jalan pingsan. Marsha udah bisa nebak kalau Via itu sedang menghadapi masalah yang berat, plus kondisinya lemah. Habis keguguran karena obat pembersih kandungan .. Sampai akhirnya Via mau terbuka pada Marsha, lalu dia minta tolong sama Marsha supaya bawa dia jauh dari Jakarta”


“Kasihan, Kevia ....”


“Pas banget kan memang Marsha punya panti yang dia dirikan bersama teman – temannya untuk anak – anak yang bermasalah macam Kevia di Bogor. Yang broken home, sampai yang ya itu hamil diluar nikah. Pas diajak kesana, malah si Via yang menawarkan diri untuk tinggal disana”


“Masih tinggal disana?”


“Engga. Tahun ini diajak Marsha tinggal di Jakarta. Sama dia di apartemennya. Yuk gue temenin kalau mau ke tempatnya Marsha” Rendy nampak bersemangat.


“Modus lo!”


“Hahaha! Kan ada alesan. Kebetulan dong. Lagian juga gue memang mau ketemu Via. Mau nanya soal kuliahnya”


“Kevia kuliah?”


“Sedang dibujuk Marsha”


“Humm...”


“Mau ke tempat Marsha sekarang?” Rendy menawarkan.


“Tapi Kak Rendy baru pulang dinas? Ga lelah emang?”


“Engga lah kalau urusannya mau ketemu Marsha sih!”


Rendy terkekeh.


“Telpon dulu deh lebih baik. Pastikan Marsha dan si Kevianya memang ada disana” Usul Varen.


Rendy mengangguk dan langsung mengambil ponselnya yang sedari tadi berada diatas meja didepannya. Lalu menghubungi orang yang dimaksud dan berbicara sebentar.


“Marsha sedang di sebuah stasiun TV sekarang. Gue baru inget dia bilang hari ini ada jadwal syuting sebagai narasumber. Via sama dia”


Varen dan Andrea manggut – manggut. “Ya udah gini aja, nanti lo cerita deh garis besarnya ke Marsha. Dan kapan si Kevia itu bersedia menemui gue sama Drea, atau mungkin gue bawa si Jo langsung sekalian. Tapi tanyakan dulu sama yang bersangkutan, takutnya dia keberatan”


“Oke lah, nanti gue hubungi gimana – gimana nya setelah gue bicara dengan mereka” Ucap Rendy.


Varen dan Andrea mengangguk lalu pamit kemudian.


*****


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


Nathan sudah tiba di kediaman utama.


Jantung Nathan berdebar kencang saat tiba di kediaman. Rasanya sudah tak sabar bertemu Abang, mau tau


kelanjutan omongan si Abang soal ‘dipertemukan’ dengan Kevia.


maaf untuk yang kesekian kalinya, terutama memohon pada Mama Jihan agar tak membencinya. Yang Nathan lihat sang Ibunda tercinta amat terluka.


“Akan aku tebus semua, Ma .. kesalahanku pada Kevia, dan pada kalian juga” Dan Mama Jihan menganggukkan


kepalanya, hingga spontan Nathan pun langsung memeluknya.


Ya seperti itu lebih baik rasanya. Biar bagaimanapun Nathan putra yang disayangi Mama Jihan dan Daddy Jeff. Mereka memaafkan, namun dengan catatan. Yang tanpa ragu Nathan iyakan.


****


“Drea ...”


“Taaan!!!..” Andrea langsung bangkit dari duduknya saat melihat Nathan datang ke kamar pribadinya dan Varen.


“Maafin gue ya Taaan.....” Andrea langsung terisak sembari memeluk Nathan dengan spontan. Nathan tersenyum sembari memeluk balik Andrea.


Varen tersenyum saja melihat interaksi keduanya yang memang akrab itu.


“Minta maaf buat apa coba?”


Nathan menarik pelan dan lembut tubuh Andrea, melepaskan pelukan sembari menghadapkan Andrea padanya yang menghapusi air matanya itu, Nathan ikut membantu menyeka air mata Andrea dan menyisir sedikit anak rambut Andrea dengan jemarinya.


“Karena gue kaannn.. lo jadi susah begini, dimarahin sama Papa dan Mama Bear.. hiks!” Isak Andrea.


“Enggalah! Apaan sih?. Gue ga merasa di susahin sama lo Cute giirll .. malah gue mau bilang makasih, udah


dibantuin bebasin sedikit beban gue” Sahut Nathan yang kemudian memegang kepala Andrea dan menggoyangkan nya pelan. “Udah jangan nangis ah!”


“Habis gue merasa bersalah .. sedih juga lihat Mama Bear termasuk sikapnya ke elo”


“Ga apa – apa Dreaa.. tadi gue udah bicara lagi sama Mama kok. Dia sama Dad sudah maafin gue” Sahut Nathan


lagi. “Duduk ah!” Mengajak Andrea duduk disofa bersama si Abang.


“Beneran?”


“Iya. Gue akan buktikan memang gue menyesal, memang gue memperbaiki semua. Menebus salah gue sama Via,


entah gimana caranya”


“Ya lo pikirkanlah!”


“Sedang Abang, sedaang. Sedang gue pikirkan gimana menebusnya. Dari sejak Via pergi juga sudah gue pikirkan. Hanya ya itu, gue pengecut memang ..”


“Maaf ya Tan, gue ga ada maksud bilang begitu ..”


Nathan tersenyum dan mengusap pelan kepala Andrea.


“Santai.. Itu memang kenyataan kok. Ga usah lo bilang juga gue sadar gue ini pengecut. Ga berani bilang pada kalian soal apa yang terjadi antara gue dan Via dan apa yang gue lakukan sama dia. Kesalahan gue, kebodohan gue, kejahatan gue”


“......”


“Tapi, sebenarnya sih, gue sudah berencana akan memberitahukan semua pada Dad dan Mama, Cuma udah keduluan Drea tahu, ya sudah”


“......”


“Tapi maksud gue tadinya, gue mau menemui Via dulu dan bicara sama dia baru gue akan bicara pada Dad, Mama dan kalian semua, bagaimanapun nantinya sikap Via ke gue”


“......”


“Tinggal sedikit lagi sih tadinya, gue dapat sedikit informasi keberadaan Via. Di Bogor katanya” Andrea dan Varen saling lirik sesaat. “Tapi detailnya belum tahu, dan baru minggu – minggu ini rencananya gue akan susuri Bogor bareng Sony”


“Sony tahu tentang lo dan Kevia?” Tanya Varen.


“Belum lama gue ceritain sama dia, saat gue bener – bener intens cari Via dari bulan kemarin” Jawab Nathan.


Nathan terdiam, termenung sesaat.


“Gue jahat, jahat banget sama dia. Padahal gue tahu dia sakit karena papanya, tapi gue menambah lukanya. Tapi seharusnya juga dia ga perlu pergi, gue sayang, cinta sama dia terlepas apa yang gue lakukan sama calon anak gue dan Via. Gue ga pernah berpikir buat mainin dia. Sama sekali engga..”


Ada air yang nampak terproduksi disudut mata Nathan.


“Tapi dia malah pergi. Dan bodohnya ya gue pasrah aja, saking pengecutnya gue, saking gue takut memberitahukan kelakuan bejat gue.. gue yakin, Via pasti benci gue sepenuh hati”


“Ya sudah, yang penting lo sudah menyesali dan mau memperbaiki sekaligus menebus kesalahan dan kekhilafan lo itu”


“Iya Bang.. “


“Ya udah mandi sana!” Celetuk si Abang.

__ADS_1


“Iyaa ..”


Tapi Nathan belum bergerak dari duduknya.


“Terus tadi, hal yang lo bilang ditelpon Bang? .. lo bilang mau mempertemukan gue dengan Via?”


“Ya makanya mandi sana” Sahut Varen.


“Jadi, hari ini juga Bang?!” Nathan sumringah. “Hari ini juga lo mau mempertemukan gue dengan Via?!”


“Ya”


****


This time ( Saat ini ) ....


Sebuah area pemakaman ...


“Bang....”


“Hem?” Varen yang sedang berjalan bergandengan dengan Andrea itu menyahut pada Nathan yang raut wajahnya


kebingungan, namun nampak juga ada ketakutan.


“Eeeeuuummm, kok kita kesini Bang?”


“Mau ziarah”


“Ck!. Iya gue paham ke kuburan pasti mau ziarah. Masa mau party?”


Varen dan Andrea cekikikan.


“Cuma kan tadi, lo bilang .... mau ajak gue ketemu Kevia?”


“Memang”


“Nah terus kesini?....”


Jujur Nathan takut, kan Abang sama Drea bilang mau ajak dia ketemu Kevia. Tapi kenapa mereka malah mengajaknya ke tempat pemakaman?.


‘Engga mungkin, kan....?’ Batin Nathan sedang menduga, ia bergidik seiring hatinya yang ketar – ketir.


Tapi waktu Andrea membuka semua keburukannya di depan keluarga soal perbuatannya pada Kevia kan, Andrea


bilang bertemu dengan Via di sebuah Mal?. Baru beberapa hari yang lalu, bahkan belum seminggu.


Tapi kan umur ga ada yang tahu?. Lebih – lebih ... yang Nathan tahu, dulu .... Kevia selalunya berusaha mengakhiri hidup.


‘Engga engga! Jangan Tuhan, jangan!!’


Drea sempat cerita kalau Kevia tambah cantik, lebih cantik dari fotonya di dalam ponsel Nathan. Teduh, enak dipandang. Masa .... tahu – tahu ...???.


‘Engga! Ga mungkin!’


“Kenapa?”


Andrea bertanya. Ia dan Varen menghentikan langkah mereka, karena Nathan yang tiba – tiba menghentikan


langkahnya.


‘Gue ga mau! Gue ga mau melihat Kevia, kalau .... kalau yang harus gue temui adalah pusaranya .... Engga!’


“Than?”


“Tan, lo kenapa?”


Andrea kembali bertanya, karena Nathan nampak linglung sambil menatap diam paving block dibawah kakinya.


Nathan terkesiap, memandang pada si Abang dan Drea bergantian. Ia memang ingin bertemu dengan Kevia, sangat!. Tapi kalau begini keadaannya, Demi Tuhan rasanya Nathan ga kuat.


“Kalian ajak gue kesini ....”


“Ya lo katanya mau bertemu Kevia?”


“Disini ....?????”


“Iya”


“Ga jauh kok, itu di blok bagian sana”


Lutut Nathan seolah tak bertulang.


“Ayo!”


“Eng-ga..”


“Kenapa?”


Andrea dan Varen saling tatap sejenak. Karena wajah Nathan nampak mulai pias, terbata mengucap kata sembari menggelengkan kepalanya. “Maksud kalian bertemu Via ... mengajak gue menemui dia, disini .. di pemakaman.. apa Via?..” Nathan tak sanggup meneruskan kata – katanya.


“Lo ya, udah merusak anak orang, lo sakiti, sekarang lo sumpahi” Nathan menatap si Abang yang barusan berucap.


“Maksud Abang..??..”


Nathan gagal paham. Varen menggelengkan kepalanya, memasang wajah malas. “Lo pikir si Kevia udah meninggal karena gue dan Drea ajak lo kesini?”


“I-ya..”


Nathan mengangguk ragu.


Andrea dan Varen terkekeh kecil dan Nathan tetap dengan ekspresi kebingungannya. “ Dasar Stupid! ( Bodoh! )”


“??”


Disaat yang sama ada sosok yang Andrea, Varen dan Nathan kenali mendekat pada mereka.


“Hey Guys!”


“Kak Rendy?”


“Hai Kak” Varen menjawab sapaan sahabatnya itu dengan gerakan kepala dan Andrea balik menyapa si Dokter


jantung itu. Sementara Nathan makin bingung kenapa ada Rendy disana.


‘Asli gue ga ngerti. Segala ada Kak Rendy. Via nya mana?’


“Sudah selesai pemakamannya?”


“Ini baru bubar”


“Hmm. Aunt sama Uncle mana?”


“Masih menemani Istri dari yang berpulang”


“Ya udah”


“Eeeeuuummm .. ini sebenarnya gimana sih Bang?. Lo katanya mau ajak gue ketemu Via, tapi malah ajak gue ke


kuburan gini. Tapi lo bilang juga Via.. kan ga meninggal? ..”


“Nyumpahin si Kevia lo?!”


Rendy tau – tau nyolot.


“Ya bukan gitu..” Sahut Nathan.


“Ingat.. lo ga ada hak..” Celoteh Varen melirik sahabatnya yang nampak sinis pada si Tan – Tan.


“Ck!”


Nathan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Kesal aja gue lihat adik lo ini nih!” Ucap Rendy nampak gemas. “Kalau ingat apa kelakuan no akhlaknya pada Via! ..”


Nathan terkesiap. “Kak Rendy.. kenal sama Kevia??..”


“Kenapa memang?!” Rendy balik bertanya dengan sinis.


“Ya ga apa”


“Hish! Kalau bukan adik lo nih dia, habis sama gue!” Cicit Rendy masih gemas campur sedikit geram.


“Maaf, maaf gue interupsi” Nathan menyela, bingung juga hubungan Rendy dan Kevia apa. Tapi itu urusan nanti lah. “Lo kan bilang mau nemuin gue dengan Kevia, Bang?. Jadi?” Yang penting urusannya ketemu Kevia dulu.


Nathan sedikit mengabaikan Rendy yang sinis menatapnya.


“Ya ini, lo tanya sama dia. Nih, juru kuncinya keberadaan si Kevia” Varen menunjuk Rendy.


“Jadi lo sama Drea ajak gue kesini?”


“Ya jemput si Rendy aja nih. Karena dia yang tahu Kevia ada dimana sekarang”


‘Demi Apa??!!’


****

__ADS_1


To be continue .....


__ADS_2