THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 288


__ADS_3

🍀 YANG HARUS DIKETAHUI 🍀


Selamat membaca ..


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


“Lagian yang pergi dari sini selain Eshal, itu anak cewe semua yang mukanya cakep – cakep kayak Eshal. Filia.. Halyn... sama Lina”


Kevia terdiam sesaat. Andrea memperhatikan. “Kenapa Vi?” Tanya Andrea. Kevia menggeleng dan tersenyum


kemudian. “Benar itu yang dia bilang?”


“Iya benar” Jawab Kevia.


“Aneh kan?”


“Mungkin kebetulan aja kali La”


“Ya terserah aja sih”


‘Memang agak aneh sih ..’ Kevia membatin.


‘Ini cewe lagi bener apa engga ya?. Kalau benar rasanya butuh diselidiki ga?’


Andrea juga membatin sembari memandangi gadis yang dipanggil La oleh Kevia itu.


‘Tapi ini anak bukannya ketergantungan narkoba ya?. Mereka yang ketergantungan narkoba parah bukannya suka halu?’


Otak cantik Andrea sedang berpikir dan menimbang.


‘Ah nanti gue bicarakan aja sama Abang soal omongannya ini cewe’


“Atau jangan – jangan Mba Emali itu ....”


“Ehem!” Suara deheman seorang wanita membuat gadis yang dipanggil La oleh Kevia itu langsung bungkam seketika.


“Mba Emali”


“Via, apa kabar?”


“Baik Mba. Mba sendiri apa kabar?”


Kevia berdiri untuk menyambangi wanita yang ia panggil Emali barusan untuk menyapanya diikuti Andrea. Wanita bernama Emali itu pun langsung menyahut dan memeluk Kevia dengan akrab. “Aku baik dong”


‘Kok dia melihat si Lala begitu?’ Batin Andrea saat dia menangkap kalau wanita bernama Emali itu memberikan


pandangan tajam pada gadis yang tadi mengobrol setengah berbisik padanya dan Kevia saat wanita itu memeluk Kevia.


“Ini ...?” Tanya Emali karena tidak mengenali Andrea.


“Ini Andrea, Mba. Adiknya suami aku”


“Oh, maaf. Kita belum pernah ketemu soalnya ya?”


“Iya ga apa – apa” Sahut Andrea. “Halo, aku Andrea”


“Emali”


“Iya. Setiap Andrea ikut aku kesini dari sejak aku belum menikah, Mba kebetulan pas sedang ga ada disini. Waktu nikahan aku juga mba ga dateng baik akad maupun resepsi. Sibuk banget”


Emali terkekeh kecil mendengar cerocosan Kevia.


“Iya maaf maaf. Pas banget bentrok soalnya. Maaf ya Vi” Ucap wanita bernama Emali yang sepertinya cukup akrab dengan Kevia.


“Santai Mba. Yang penting doanya”


“I ...”


“Emali..” Seorang wanita paruh baya muncul dari belakang Emali dan langsung melempar senyuman pada Kevia


dan Andrea.


“Eh Ibu Dilara”


“Mereka ini, siapa?”


Wanita itu bertanya sambil mendekat pada ketiga orang wanita muda yang sedang berdiri dan mengobrol saling


menyapa. Masih mempertahankan senyumnya.


‘Ini mungkin ibu yang dimaksud Lala?’


“Oh ini Via, Ibu. Kevia. Dulu dia pernah tinggal disini bersama kami”


Emali memperkenalkan Ibu tersebut pada Kevia dan Andrea.


Ibu tersebut sedikit mendekat lagi pada Kevia dan Andrea.


Kevia dan Andrea sedikit merasa aneh dengan sikapnya. Bahkan ibu tersebut sampai memegang dagu Kevia.


“Cantik sekali”


Ibu tersebut memuji, tersenyum namun Andrea merasa ada yang aneh dengan senyuman dan tatapannya pada


Kevia termasuk juga pada dirinya.


“Kamu ....” Ibu itu menjeda ucapannya karena saat ia ingin juga menyentuh dagu Andrea, istri si Abang itu


memundurkan satu langkahnya untuk menghindar.


“Saya tidak suka disentuh oleh orang asing”


“Oh, maaf ..”


Ibu itu meminta maaf pada Andrea yang memandang datar padanya. Suasana pun jadi canggung sesaat.


“Tidak masalah” Ucap Andrea. “Maaf kalau saya sedikit tidak sopan pada Anda”


“Jangan khawatir, saya bukan orang yang gampang tersinggung kok”


Ibu itu kemudian menoleh pada Emali.


“Ya udah, Emali saya pergi dulu ya”


Kemudian si Ibu pamitan pada Emali.


“Iya, Bu Dilara” Sahut Emali yang nampak begitu menghormati wanita tersebut.

__ADS_1


“Yuk, saya pamit dulu ya. Sampai ketemu lagi. Siapa tadi nama kalian?”


Ibu bernama Dilara itu beralih pada Kevia dan Andrea.


“Saya Kevia dan ini Andrea” Jawab Kevia.


Dilara tersenyum lagi. “Cantik namanya. Pas sama orangnya”


Kevia tersenyum tipis.


“Makasih”


“Yuk saya permisi. Ayo anak – anak semua, Ibu pergi dulu ya ...” Ucap Dilara pada anak – anak panti yang sedang berada di ruangan yang sedang ia singgahi itu. Hanya beberapa anak yang menyahut padanya.


Setelahnya memandang sebentar pada Kevia dan Andrea dengan pandangan yang membuat Andrea entah kenapa merasa sedikit kurang nyaman.


“Yuk, Kevia, Andrea. Ibu permisi ya. Sampai ketemu lagi” Ucap Dilara lalu berbalik untuk pergi.


Baru dua langkah namun Dilara berhenti dan sedikit menoleh.


“Emali, bisa ikut saya sebentar?. Ada hal yang lupa saya mau bilang ke kamu tadi”


“Baik Bu” Emali kemudian langsung mengekori Dilara.


***


“Vi”


“Kenapa Drea?”


“Kamar mandi sebelah mana?”


“Kamu keluar dari ruangan ini terus lurus aja ke sebelah kanan, agak serong dikit”


Andrea mengangguk.


“Okay Thanks”


“Mau dianterin?” Kevia menawarkan.


Andrea menggeleng.


“Memang aku Rery?” Sahut Andrea dan Kevia terkekeh kecil.


Andrea pun melangkah menuju kamar mandi yang letaknya tadi Kevia arahkan.


***


Andrea menghentikan langkahnya saat mendengar sayup – sayup suara orang berbicara namun seperti setengah berbisik dari ruang tamu panti tersebut.


“Tapi Bu Via sudah bukan penghuni panti ini dan dia juga sudah menikah. Rasanya sulit Bu”


“Saya ga mau tahu Emali. Saya mau gadis yang bernama Kevia itu, juga gadis yang bersamanya”


‘Maksudnya apa itu Ibu bicara begitu. Yang dia maksud itu Via dan gue kan?’ Andrea membatin.


“Tidak baik menguping pembicaraan orang lain”


Sebuah suara pria terdengar dari belakang Andrea yang membuatnya sedikit terkejut lalu menoleh.


Emali sepertinya mendengar suara pria tersebut karena dia juga sudah berada didekat Andrea kini.


“Sepertinya gadis cantik ini menguping pembicaraan kalian”


Ibu yang bernama Dilara juga sudah berada didekat Emali.


“Benarkah itu?”


“Saya hanya mau ke toilet”


Andrea melirik sinis pada pria yang menegurnya tadi.


“Jangan sembarangan!”


Lalu Andrea membalikkan tubuhnya dan hendak menjauh dari ketiga orang tersebut. “Toilet tamu ada disebelah sana”


“Ga jadi sudah ga ingin” Andrea meninggalkan ketiga orang tersebut dan kembali ke ruangan tempatnya tadi.


***


“Cepet banget Drea?”


“Ga jadi, tiba – tiba ga ingin” Sahut Andrea setelah ia mencapai ruangan tempatnya tadi berada.


“Kamar mandinya kurang nyaman ya?”


“Engga kok Vi” Sahut Andrea lagi. “Oh iya Vi rasanya..”


“Via ... Andrea ..” Andrea tak bisa melanjutkan kata – katanya karena Emali sudah datang kembali di ruangan tempatnya dan Kevia berada.


“Mba Emali, sudah pulang tamunya?”


“Sudah Vi” Sahut Emali. “Oh iya kalian udah pada makan. Kalau belum ayo makan dulu”


“Makasih Mba, tapi kami sudah makan tadi. Aku dan Andrea bisa bicara secara pribadi dengan Mba Emali?”


“Bisa dong Vi. Ayo, ke ruangan Emba”


“Iya”


***


Kevia dan Andrea sudah berada di satu ruangan yang nampak seperti sebuah kantor di panti tersebut.


Kevia dan Andrea duduk bersebelahan disebuah sofa panjang dalam kantor bersama dengan Emali yang duduk


bersebrangan dengan keduanya. “Via mau bicara apa?”


“Ibu tadi, siapa?”


“Ibu Dilara”


“Iya tahu kalau namanya. Dia kesini ada keperluan apa?” Sambar Andrea sembari menatap Emali dengan tatapan malas.


“Ibu Dilara sudah tiga bulan terakhir menjadi donatur disini” Sahut Emali. “Nah dia baru sempat tadi kunjungan kesini, karena biasanya anak buahnya yang datang kesini membawa berbagai macam bingkisan untuk anak – anak selain uang yang dia berikan melalui transfer”


"Dia tahu darimana tentang Panti ini?"

__ADS_1


"Loh kan  Mba Marsha pernah diundang di acaranya Pak Edy, untuk memperkenalkan panti ini berikut visi dan misinya"


"Oh iya" Sahut Kevia. “Mba masih terima donasi dari dia?” Tanya Kevia kemudian.


“Ya masih Vi. Kan dalam satu minggu ini penghuni panti sudah bertambah, sejak Marsha membangun tempat di


belakang untuk anak – anak cowok yang punya masalah yang sama dengan anak – anak cewek yang berada disini sebelumnya”


“Memang Kak Marsha ga ada bicara sama anda?” Gantian Andrea yang bertanya. “Anda ga seharusnya menerima


lagi donasi dari luar, karena keluarga kami yang akan menjadi donatur tunggal di tempat ini” Tambah Andrea.


“Oh ya?”


“Iya Mba Emali, aku dan suami aku juga Andrea dan suaminya sudah berbicara dengan Kak Marsha soal itu”


“Um, Mba Marsha sih belum kasih tahu aku soal itu”


“Ya udah ga apa – apa, sekarang Mba Emali kan sudah tahu, Teh Marsha juga sudah menyetujuinya. Nanti Via bilang sama teteh buat bicara hal itu sama Mba”


“Oh iya”


”Jadi kedepannya Mba Emali jangan lagi membuka pengumuman soal donasi” Jelas Kevia. “Termasuk dari Ibu yang tadi”


“Ya kalau soal engga buka info soal donasi ke publik lagi sih iya bisa emba hentikan. Tapi kalau soal Ibu Dilara, ya rasanya ga enak dong dia selama ini sudah memberikan donasi dalam jumlah yang ga sedikit, terus tahu – tahu kita suruh stop, nanti dia tersinggung. Dia sudah menjadi donatur tetap selama tiga bulan ini soalnya”


“Saya rasa itu bukan urusan kami”


Andrea menyela sambil memandang datar pada Emali yang sejenak terdiam sambil memandang Andrea. Kemudian Emali tersenyum. “Tapi saya mementingkan etika. Ibu Dilara itu sudah begitu dermawan loh, masa mau ditolak begitu aja?”


“Ya harus. Kan sudah dibilang keluarga kami akan menjadi donatur tunggal panti ini. Maaf bukan sombong ya, saya rasa donasi dari keluarga kami bahkan bisa membuat satu panti lagi seperti ini di tempat lain dan memang terbukti kalau Kak Marsha sedang membangun panti seperti ini di Bandung kan saat ini?”


Andrea menyerobot lagi untuk bicara.


‘Ga tahu siapa Keluarga Adjieran Smith apa?’ Batin Andrea. ‘Oh iya lupa ini kan Indo, ga kenal – kenal amat sama


keluarga gue. Ah, coba di London. Pasti lihat gue aja dia gemeteran’


“.....”


“Lagipula, Kak Marsha selaku pemilik sudah menyetujui. Kenapa anda nampak begitu bersikeras mempertahankan


Ibu yang tadi sebagai donatur disini?. Apa jangan – jangan ada hal terselubung antara anda dan Ibu tadi?”


“Tolong jaga bicara kamu ya Andrea, saya menghormati kamu karena kamu adik iparnya Via dan mungkin


kenalannya Mba Marsha. Tapi jangan berpikir kamu bisa memfitnah saya seenaknya” Emali nampak tersinggung. “Tolong ya, dijaga bicaranya”


“Oh maaf jika saya menyinggung anda, tapi berlebihan kalau anda bilang saya memfitnah. Saya kan hanya tanya. Kalau ga merasa, kenapa anda terlihat terganggu?”


“Drea ..” Kevia menyentuh lengan Andrea.


“U – m... ya bukan seperti itu, nada bicara sama tatapan kamu kan seolah menuduh saya”


“Perasaan anda saja”


“Ya udah, gini aja Mba Emali. Sekarang Mba Emali sudah tahu kalau keluarga aku akan menjadi donatur tunggal tempat ini. Nanti aku akan minta Teh Marsha telpon Mba. Sekalian nanti aku bilang juga soal Ibu yang tadi pada Teh Marsha dan aku rasa si Teteh pasti punya solusi buat itu”


“Ya udah kalau begitu”


Emali memandangi Kevia dan Andrea bergantian dengan raut wajah yang sarat akan ketidak terima an.


“Tapi soal Ibu Dilara, kalian perlu tahu kalau dia bukan orang sembarangan. Jika kita, kalian sih terutama menyinggung dia dan dia ga terima, saya takut kalian malah mendapatkan masalah. Mba tahu suami kamu itu dan keluarganya itu orang kaya, karena dari donasi kalian Mba Marsha bisa membeli lahan dibelakang untuk perluasan dan sekaligus membangun lagi tempat baru disini juga membeli dan membangun lahan untuk panti baru di Bandung”


“.....”


“Tapi Ibu Dilara punya banyak koneksi di negri ini yang Emba rasa bisa membuat keluarga kalian kena masalah” Emali menyambung cerocosannya.


‘Heh! Beneran ga tahu keluarga gue dia!’ Andrea membatin sinis. “Anda mengancam?” Tanya Andrea tanpa ragu pada Emali.


“Hanya memperingatkan” Sahut Emali. “Kalian masih muda, belum paham betul soal hidup. Tapi saya sih Cuma bilangin, jangan sampai keluarga kalian kena masalah kalau menyinggung Ibu Dilara”


Andrea tersenyum penuh arti yang hanya bisa dia pahami. Sementara Kevia nampak terlihat sudah merasa tak


nyaman dengan obrolan ini.


“Terima kasih peringatannya”


“Ya udah, aku rasa cukup begitu aja Mba Emali. Selebihnya nanti aku bicara dengan Teh Marsha dan dia yang akan mengambil keputusan” Ucap Kevia. “Aku sama Andrea permisi kalau begitu” Sambung Kevia.


“Oh iya. Tapi maaf ya, Emba ga bisa nemenin kebawah. Soalnya Emba harus lanjut bikin laporan” Ucap Emali.


Kevia dan Andrea kemudian berdiri setelah Kevia menjawab ucapan Emali dengan anggukan lalu keluar dari


ruangan tersebut.


***


Andrea dan Kevia sudah keluar dari sebuah ruangan yang berada dalam area kantor panti.


“Something isn’t right about her (Ada yang janggal tentang dia)” Andrea menggumam pelan namun Kevia mendengar gumamannya.


“Mba Emali?”


“Humm. Dan si Dilara itu”


“Iya sih, aku juga merasanya begitu”


“And now I feel, that what all Lala said could be right (Dan sekarang aku merasa, kalau yang semua yang dikatakan


Lala bisa saja benar)”


“Iya sih, tapi...” Kevia menjeda ucapannya nampak ragu.


“Tapi apa?”


Kevia menoleh ke arah kantor panti lalu mendekat pada Andrea dan berbisik ditelinganya. “Aku khawatir tentang peringatan Mba Emali soal Ibu Dilara itu. Aku takut kalau ternyata yang dia katakan benar, nanti malah keluarga kita yang kena imbasnya” Kevia nampak was – was.


Andrea malah menyunggingkan senyumnya.


“Via, meskipun Indo gonjang – ganjing, keluarga Adjieran Smith, goyang pun engga”


***


To be continue......


Selamat hari minggu

__ADS_1


__ADS_2