
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
***********************************************************************
JUNCTURE
( Jeda )
Selamat membaca ...
*************************
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith....
“Kak Alva mau apa?”
“Ini mau ambil buah untuk Little Star dan aku”
Varen yang sudah membawa Andrea kembali ke kamar mereka itu berpapasan dengan Via saat ia turun ke dapur.
“Mau buah apa? Sini Via bantu Kak”
Via menawarkan bantuan.
“Tidak perlu kok Vi”
“Kak Alva, Via ini adeknya Kak Alva juga, jadi Kak Alva jangan sungkan kalo mau suruh Via apa gitu”
Varen tersenyum.
“Iya Vi” Jawab Varen “Thanks ya”
“Kalo Kak Alva mau share dan tukar pikiran sama Via, Via bakal seneng banget Kak. Soalnya wajah Kak Alva
terlihat masih menyimpan beban disini ..”
Via menunjuk kepalanya sendiri.
“Dan disini” Lalu Via menunjuk dadanya.
Membuat Varen menghentikan kegiatannya sejenak.
Varen menghela nafasnya sembari kedua tangannya memegang pinggiran meja marmer dalam dapur yang biasanya digunakan untuk menyediakan hidangan.
“Maaf Kak, apa tentang calon anak Kak Alva dan Drea ...?”
“Iya ...” Jawab Varen lemah.
“Kak Alva belum mengatakannya pada Drea?”
Varen menjawab dengan anggukan. “Aku masih sedikit ragu untuk mengatakannya pada Drea, Vi...” Ucap Varen pelan.
“Jangan Kak .... jangan merasa ragu”
“Aku takut Little Star akan sangat terluka .....”
Varen nampak sendu.
“Pasti Kak. Drea pasti terluka. Tapi Via rasa Drea akan sangat mengerti alasan Kak Alva. Jadi untuk memberitahu kenyataan tentang calon anak kalian pada Drea, kalau menurut Via lebih cepat lebih baik. Setidaknya Kak Alva tidak terlalu merasa terbebani lagi perihal ini, bagaimanapun sikap Drea nanti ..” Tutur Via.
“Via benar, Abang”
Mama Jihan datang dari arah belakang Varen dan Kevia.
“Jika Abang memang berniat jujur pada Drea tentang calon buah hati kalian, lebih baik jangan ditunda terlalu lama. Agar kamu tidak terlihat begitu terbebani seperti ini”
“Iya Mama Bear ...”
Varen tersenyum tipis.
“Makasih ya.. Mama Bear .. Via ..” Varen kemudian merengkuh salah satu Mom – nya yang merupakan ibu kandung Nathan itu.
“Sama – sama Abang Varen yang ganteng!” Ucap Mama Jihan yang kemudian mengacak pelan rambut Varen
sembari tersenyum.
***
Varen yang sudah membulatkan tekad, seiring keputusan yang dia sudah ambil apapun resikonya. Meski ia tahu
kalau Andrea pasti akan terluka dan sedih, seperti yang dikatakan Poppa.
Dan beberapa waktu lalu pun Varen sempat mengobrol dengan Kevia serta Mama Jihan yang menyarankan agar
Varen tak menunda lebih lama untuk mengatakan kebenaran tentang calon buah hatinya dan Andrea, jika memang si Abang ingin mengungkapkan nya pada Andrea.
Jadi Varen kini sudah bersama Andrea dan mengatakan kebenaran tentang calon buah hati mereka yang terpaksa harus dihilangkan.
**
“Ingat apa yang tadi aku ceritakan ke kamu saat perjalanan kembali kesini?”
“Tentang..”
“Tentang rekan bisnis aku yang memutuskan untuk mengangkat janin, calon buah hati mereka dari perut istrinya..”
__ADS_1
“........”
“Rekan bisnis yang aku katakan itu .. adalah aku sendiri..”
“Ap-a, Bang.....??”
“Iya itu aku, Little Star. Yang mengiyakan persetujuan untuk mengangkat janin di perut kamu ...”
**
Pada akhirnya semua tentang kehamilan Andrea yang singkat saja berikut keadaan janin dan keputusan yang
Varen ambil untuk mengeluarkan calon anaknya dan Drea bahkan tanpa menunggu keadaan Andrea stabil telah Varen ungkapkan. Bukan tanpa alasan, toh Dokter Alan juga mengharapkan Varen cepat mengambil keputusan.
Apa Varen bersedia berkorban dengan mengorbankan janin di perut Andrea yang memang sangat tipis harapan,
atau mempertahankan dengan segala konsekuensi yang bisa saja lebih menyakitkan didepan.
Jika ditanya bagaimana perasaan Varen, hatinya hancur sudah pasti.
Anak yang memang sangat ia harapkan dari pernikahannya dan Andrea harus dia korbankan demi keselamatan sang ibu ke depannya, dan dengan pertimbangan untuk kebaikan janin tersebut yang jika dipertahankan kemungkinan besar akan membuat anak mereka hidup dengan kondisi yang tidak normal entah fisik atau penyakit bawaan.
Dan diatas segalanya, memang semua tentang Andrea, apalagi nyawa istri kecilnya itulah yang menjadi poin penting pengambilan keputusan Varen untuk mengangkat janin calon bayinya dan Andrea. Kembali lagi ke apa yang selalunya Varen rasa sejak Andrea lahir ke dunia, dimana disaat yang sama Varen sudah mencintainya.
Kalau Varen,
Tidak dapat hidup di dunia, dimana tidak ada Andrea di dalamnya.
**
Bagaimana Andrea setelah Varen mengatakan kalau pernah ada janin yang hidup didalam perutnya, kenyataan
kalau Andrea pernah hamil namun dengan sangat terpaksa janin dalam perutnya itu tidak dipertahankan hidupnya untuk berkembang didalam sana, di perut Andrea.
Bahkan tak menunggu untuk membiarkan Andrea tau walau sekejap saja.
Andrea geram, pada Varen yang dianggapnya tega pada calon bayi mereka.
Diatas itu, kesedihan Andrea tak terkira besarnya, seiring lubang besar dalam hatinya yang muncul dan terasa
begitu menyakitkan bagi Andrea.
“Abang jahaaat! .....”
Teriakan histeris Andrea saat Varen mengatakan kebenaran yang menyakitkan tentang kehamilan yang tidak pernah ia ketahui.
“Abang Tegaaaa!!!..”
Tudingan yang Andrea lontarkan pada Varen dengan kehisterisannya.
“Kenapa Abaaannnnngggg????! ...”
berikut sakit yang terasa begitu menyesakkan dadanya melihat Andrea yang nampak begitu terluka dan menudingnya sebagai orang jahat.
Namun sebenarnya, luka dan sakit di hati Varen lebih besar dari yang Andrea rasa. Namun semuan tudingan
Andrea, Varen terima dengan lapang dada.
**
“Aku mungkin jahat..... bukan mungkin, tapi iya, aku jahat”
“........”
“Membuat kamu tidak memiliki kesempatan mengetahui dan merasakan kehamilan kamu, aku jahat.....”
Dipandangi terus wajah Andrea oleh Varen lekat – lekat.
“Mengambil keputusan untuk menghilangkan calon bayi kita, aku lebih jahat .....”
Bulir air mata lolos lagi dari celah kelopak mata Varen.
“Tapi semua itu hanya karena satu alasan, Little Star ...”
“........”
“Karena aku tidak bisa untuk hidup, bahkan mencoba pun aku tidak mau. Jika aku harus hidup .... dalam dunia.....
dimana kamu tidak ada didalamnya”
Varen bergetar, baik suara dan tubuhnya. Tertunduk kemudian karena tak mampu menahan agar buliran air
matanya tidak sampai lolos dari kedua kelopak matanya.
Karena semua sakit sudah lebih dulu Varen rasa, sejak ia melihat kondisi Andrea setelah tragedi penculikan nya.
Ada luka yang terbentuk saat melihat Little Star tercintanya bersikap bak orang kurang waras, hingga tak
mengenalinya meski tak lama.
Lalu luka Varen kian menganga, karena dia seolah tak diberi pilihan untuk menghilangkan mimpi terbesarnya, yakni calon bayinya dan Andrea.
Semata – mata, karena Varen ingin bintang kecil yang selalu menjadi penerang hidupnya tidak terancam bahaya.
Dan luka itu kini bertambah, atas sikap dan tudingan Andrea hingga istri kecilnya itu nampak mulai membencinya, karena setelah bicara dan menangis, Andrea tak sedikitpun menolehkan wajahnya pada Varen.
__ADS_1
Tapi tak apa, Varen rela.
Sikap Andrea ini adalah konsekuensi yang sudah Varen duga sebelumnya.
Sekali lagi tak apa. Biar saja dia yang menanggung sakitnya, asal Andrea tidak lagi terancam bahaya.
“Maafkan aku Little Star ...”
Varen sudah menghapus air matanya, menghela berat nafasnya.
“Meski aku sangat berharap kamu mau memaafkan aku, tapi aku tidak meminta apalagi memaksa kamu memaafkanku .. aku terima jika setelah ini yang ada hanya kebencian dalam hati kamu untuk aku ..”
Varen tersenyum, namun senyum itu mengurai sebuah kegetiran sembari menatap Andrea yang masih
memalingkan wajahnya dari Varen dengan suara isakan yang masih terdengar dari mulut Andrea berikut dirinya yang sesenggukan.
“Tak apa jika setelah ini kamu ingin mencipta jarak denganku, demi Tuhan aku ikhlas menerima jika itu bisa menebus kesalahan aku pada kamu dan calon buah hati kita. Tapi jangan minta aku pergi, karena sampai mati tidak akan aku sanggupi”
“Kalau begitu, jangan berdiri didepanku, karena aku sedang tak ingin melihat wajahmu”
Varen menggigit bibirnya sendiri.
“Baiklah ..”
Jawaban Varen yang keluar dari mulut Varen seiring dengan senyumannya atas ucapan Andrea barusan.
“Beristirahatlah Little Star, aku janji saat kamu terbangun nanti, meski aku akan selalu ada di dekatmu, aku hanya akan berdiri di belakangmu. Namun yang penting, mataku dapat selalu menangkap keberadaan kamu”
**
“Little Star tidur, Bang? ..”
Mommy ara bertanya saat ia datang ke depan kamar pribadi Varen dan Andrea selepas Varen yang menghubunginya via ponsel.
“Sudah, Mom ..” Jawab Varen yang nampak lesu.
“Kenapa Abang?”
Mommy Ara memperhatikan wajah putranya yang nampak lesu dan sedikit sembab itu. Dan lagi si Abang
mengajaknya bicara di luar kamar pribadi putranya itu, meski pintu kamar Varen biarkan terbuka.
“Aku sudah mengatakannya Mom. Tentang calon anak kami pada Little Star ....” Lirih Varen, menatap sang Mommy lalu menyungging tipis dimana sunggingan itu memancarkan getir di dalamnya.
“Itu keputusan yang baik, Abang....”
Mommy Ara menyentuh lembut wajah sang putra yang nampak terluka.
"Toh diberitahukan lebih cepat, akan lebih baik. Dan itu dari mulut kamu sendiri.."
Tak perlu bertanya bagaimana, Mommy Ara sudah bisa menebak bagaimana kondisi pembicaraan Varen dan
Andrea yang pasti menimbulkan luka dihati keduanya.
Varen meminta pelukan dari sang Mommy dengan gestur tubuhnya.
“Little Star mungkin sudah membenciku sekarang...” Ucap Varen dengan suaranya yang sedikit parau.
“Kamu sabar ya? ..”
“Iya Mom ...”
Ibu dan anak itu saling melempar senyum kemudian.
“Jangan sedih. Kalau sampai Little Star membenci kamu rasanya tidak mungkin. Dia hanya butuh waktu, Mom yakin itu ...”
Varen mendengus sekaligus tersenyum getir.
“Kenyataannya seperti itu Mom... Little Star membenciku...”
“......”
“Little Star sudah menegaskan ... kalau dia tidak mau melihat wajahku lagi...”
Ada cekat yang mengikat di tenggorokan si Abang.
“Tak apa Abang, semua akan indah pada waktunya... Kamu harus yakin akan itu”
Dibelai lagi wajah sang putra oleh Mommy Ara dengan lembutnya.
“Little Star butuh waktu untuk mengerti dan memahami ... makan berikanlah waktu sebanyak yang ia butuhkan ... bersabarlah untuk menanti hal yang indah itu datang. Karena waktu jua nanti yang akan menunjukkan, seberapa besar pengorbanan kamu, seberapa besar cinta kamu pada Little Star”
“......”
“Karena cinta itu bukan sebatas kata – kata manis bukan?”
“......”
“Bukan sebatas tangan yang membelai kepala, bukan sebatas tangan yang meraih untuk memeluk ...”
“......”
“Tapi cinta itu perbuatan. Dimana pengorbanan, kadang dibutuhkan didalamnya semata – mata untuk membedakan antara obsesi, dan cinta sejati...”
__ADS_1
To be continue..
Ternyata sudah tembus jumlah episodenya BSS ini The Smith's sampai sini.**