
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
Noted: Buat engkau yang bernama akun Anonymous, yang gampar profilnya item aja kek hati reader macam kamuh ituh, yang udah sering diusir oleh othor - othor laen dari lapak mereka. Tolong hengkang juga iyah dari novel sayyah!
Meskipun komentar kamu ga bakal muncul juga akibat udah di blacklist, tapi mending kamu pergi gih dari novel sayyah yang ini dan novel - novel lainnya. HUSH! HUSH! Sampah tolong kembali ke tempatnya.
#Kasar kan si emak jadinya
Bodo ah!
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Selamat membaca ...
💗💗💗💗💗💗
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith..
“Kak Drea dan Abang baik – baik saja Mom? ...”
Rery yang baru turun dari lantai atas itu langsung bertanya pada Mommy Ara saat ia menyambangi Mommy Ara dan beberapa orang yang bersamanya itu di ruang santai keluarga, karena Rery melihat Mommy Ara dan Abang berbicara.
Mommy Ara tersenyum sembari mengacak pelan rambut Rery yang kemudian mengambil tempat duduk di sampingnya. “Aku mendengar sayup-sayup suara mereka bertengkar ...” Sambung Rery.
Air muka Momma, Mama Jihan, Gappa, Gamma, serta Ake dan Ene yang bersama Mommy Ara dan Rery di ruang santai itu sedikit berubah. “Bertengkar??? ...”
Rery mengangguk.
“Tadi aku dan An baru turun dari lantai tiga dan kami berdua mendengar suara Kak Drea yang sepertinya sedang marah – marah pada Abang”
“Beneran itu Ara, mereka berantem? Makanya tadi kamu ke kamarnya mereka?”
“Cek-cok kali! Kalo berantem pukul-pukulan!”
Ake dan Ene bersuara.
“Ck! Iye! Ape kek! Judulnya ribut!”
“Mulai dah!”
“Nih mamah kamu abisan, nyamber aje kek geledek!”
“Tau ah!”
Ene Bela mencebik pada Ake Herman.
Mommy Ara, Mama Jihan, Gappa, Gamma dan Rery terkekeh saja melihat dua orang yang masih nampak enerjik di usia mereka yang sudah terbilang renta itu.
Sementara Momma geleng – geleng saja melihat Ake dan Ene yang suka ribut ga jelas.
“Coba terusin ceritanya, beneran itu mereka bertengkar?!”
“Ya mungkin... Aku dan An memilih kembali ke kamar kami masing-masing” Jawab Rery.
“Iya mereka bertengkar, Sweety...” Ucap Mommy Ara.
Tujuh orang yang bersama Mommy Ara kemudian menatapnya.
“Apa Abang sudah menceritakan tentang calon anak mereka yang tidak selamat?”
“Iya, karena itu Drea sedikit histeris”
“Lalu sekarang mereka berdua gimana?”
“Abang bilang, saat ini Andrea sedang tidak ingin melihatnya...”
Gappa dan yang lain menghela nafas mereka sedikit berat. “Apa Abang tidak menceritakan semua secara detail, alasan mengapa Abang terpaksa untuk membuat keputusan seperti itu?”
“Sudah Mom. Abang sudah mengatakan segalanya, tapi Drea masih sulit mengerti.... Drea ... masih sulit menerima sepertinya ... terlebih dia sampai tidak tahu tentang kehamilannya sendiri....”
“Kasian banget itu cucu Papah dua. Ya Allah ... mudahan jangan ampe berlarut-larut. Liat keadaan si Drea kemaren waktu di Rumah Sakit aja Papah sedih minta ampun, terus batal punya cicit, sekarang pade berantem begitu. Padahal itungannya si Abang ama Drea kan korban juga, itu perbuatan orang yang pade jahat ....”
“Iye bener Pah, kasian Mamah sama Juleha, sama si Abang juga.....”
“Tapi Abang pasti yang lebih terluka.... hhh ....”Momma kembali menghela nafasnya yang terdengar berat.
“And how are they now (Lalu mereka bagaimana sekarang), Ara?.....”
“Drea sedang tidur, Dad ...”
“Tadi kamu bilang Drea sedang tidak ingin melihat Abang, Ara?”
“Iya, Mom .....”
“Terus si Abang gimane?”
“Masih ada di kamar, Pa.... walau Drea bilang tidak ingin melihatnya, tapi Abang tidak mungkin mau meninggalkan Drea sendirian, kan?”
“Iye juga sih. Tapi entar kalo si Juleha bangun die masih liat si Abang masih di kamar gimane??? ... ape ga ngamuk entar? ...”
“Ya....... Abang sih bilang kalau dia sudah mengatakan sama Drea kalau Abang akan senantiasa ada di dekat Drea..... tapi menghindari kontak secara langsung saja, sampai Drea sendiri nanti yang menegurnya ....”
“Coba nanti aku bicara sama Drea deh...”
__ADS_1
“Jangan! ..... lebih baik jangan dulu ...”
“Tapi kasian Abang kalau begitu, Kak ......”
“Ga apa, Sweety. Berikan Drea waktu.....”
“Ara is right (Ara benar)...”
“Abang hanya meminta tolong pada kita semua tadi.......”
“Minta tolong ape, Ra? .....” Tanya Ake.
“Membantu Abang untuk memenuhi kebutuhan Drea dan segala yang diperlukannya” Jawab Mommy Ara.
“..........”
“Sementara Abang hanya akan berada berjarak dari Drea meski mereka berada di ruangan yang sama....” Ene Bela dan yang lainnya manggut-manggut paham. “Dan Abang juga meminta agar membiarkan dulu Drea yang seperti itu padanya...”
“..........”
“Abang tidak ingin Drea menjadi tertekan dengan semua omongan kita nantinya apapun itu. Jadi yah, lebih baik kita hargai permintaan Abang untuk saat ini ...”
Kembali semua yang bersama Mommy Ara manggut-manggut paham. “Kalau gitu, Rery coba ke kamar Abang sama Kak Drea ya? Siapa tahu ada yang bisa Rery bantu? ...”
“Ih! Pinter beut cucu Ene. Iye sono gih, liat, kali aje si Abang butuh ape-ape... Entar Rery bilang ke kita orang ye?! ...”
“Iya Ne”
“Hape bawa hape! ... entar WA kalo kamu disuruh nemenin Abang di kamar nye ama kakak kamu itu. Kasih tau kalo ada ape-ape”
“Iya Mommaaa” Sahut Rery yang kemudian berdiri dan langsung bergegas ke kamar dua kakaknya itu.
***
Sesuai apa yang diminta oleh Abang pada semua anggota keluarganya yang berada di Kediaman Utama tanpa terkecuali melalui Mommy Ara, setiap orang bergantian untuk lalu lalang ke kamar pribadinya dan Andrea, terutama para wanita dan seorang asisten rumah tangga yang ditugaskan khusus untuk melayani Andrea.
“Drea ...”
“Ya Mama Fabi?”
Mama Fabi dan Kevia yang kini ada di dalam kamar pribadi Varen dan Andrea.
Mereka berdua sudah mendapatkan cerita soal apa yang sedang dialami Varen dan Andrea saat ini, seperti para anggota keluarga yang lain yang sejak pagi beraktifitas di luar Kediaman Utama dan beberapa sudah berada pulang saat ini
“Do you want to join all of us at dinner, or you just want to eat here? (Kamu mau bergabung dengan kami semua saat makan malam, atau kamu mau makan disini saja?)” Tanya Mama Fabi.
“I will join all of you ... I need some fresh air (Aku akan bergabung dengan kalian semua ... aku butuh udara segar)”
“Ya sudah, aku akan mengatakan pada mereka kalau kamu mau ikut bergabung...”
Kevia tersenyum lalu beranjak dari sisi Andrea.
Sementara Mama Fabi melirik dan tersenyum kecil pada Varen yang berdiri di balkon kamar pribadinya dan Andrea saat ini, sembari memandang sendu kearahnya, dimana ada Andrea di dekat Mama Fabi.
Varen memegang teguh kata-katanya pada Andrea, kalau dirinya tidak akan berada di dekat Andrea sampai Andrea sendiri yang memintanya mendekat. Jadi, jika ada orang yang berada di dekat istri kecilnya itu, Varen akan sedikit ‘menjauh’.
***
Semua orang sudah berkumpul untuk makan malam yang di gelar di ruang jamuan yang berada di halaman belakang Kediaman Utama. Yang memang selalunya makanan untuk setiap acara makan, dari sarapan hingga makan malam dihidangkan disana, mengingat banyaknya jumlah keluarga Adjieran Smith itu. Masalah mereka akan duduk bersama di area meja makan atau tidak itu terserah saja.
“Hey Boy, why are you sitting here?... (Hey Nak, kenapa kau duduk disini? ...)”
“It’s okay Pap! ..”
“It is because Little Star?... (Apa ini karena Little Star? ...)”
Diperhatikan wajah Varen yang kemudian mengangguk oleh Papa Lucca.
“I’m pretty sure you already heard everything that was happened between me and Little Star, don’t you?(Aku yakin kau sudah mendengar apa yang sudah terjadi antara aku dan Little Star, bukan begitu?)”
“Ya I already heard, but doesn’t mean you have to be like this Boy (Ya aku sudah dengar, tapi bukan berarti kau juga sampai harus begini Nak)”
“It’s okay Pap, I’m not hungry yet also..... (Tidak apa Pap, lagipula aku juga belum lapar) ...”
“Stubborn! (Dasar keras kepala!)” Poppa yang sudah beberes diri itu datang dari lantai atas dan langsung mendekati Varen yang sedang bersama Papa Lucca.
Poppa mendengar percakapan kedua orang itu, termasuk hal yang sedang dihadapi Varen dengan Andrea saat ini, berdasarkan cerita Momma.
“Pop ....... bagaimana hari ini? ...” Tapi Varen seolah mengalihkan pembicaraan.
“All done! (Sudah beres semua!). Semua yang harus dilakukan sudah para Dad mu ini lakukan, jadi kau tenang saja! ...”
“Hem, Jonathan is helping too!..... (Jonathan juga ikut membantu!) ....”
“Let him learn how men in this family move (Biar saja dia belajar bagaimana para pria di keluarga ini bergerak)”
“Ya harus memang!. Kalian berdua kan penerus paling dekat dengan kami saat ini!”
“Better we go eat now .... (Sebaiknya kita makan sekarang) .... Come, Abang! (Ayo, Abang!)”
“No Pap (Tidak Pap). Kalian saja”
“Ck! Sudahlah bocah tengik! Kau ikut makan bersama kami! Little Star tidak akan merasa terganggu hanya karena kau duduk makan bersama!”
__ADS_1
“Tidak Pop! Aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman dengan keberadaanku didekatnya untuk saat ini. Dia menginginkan jarak dariku, dan aku mengabulkannya....”
“Hish kau ini!” Desis Poppa.
“You both, old men just go to eat. I will be fine here (Kalian berdua, laki-laki tua pergilah makan. Aku akan baik-baik saja disini) ... aku bisa makan nanti”
Papa Lucca dan Poppa menghela nafas mereka setengah frustasi pada Varen yang memang sulit sekali dibujuk dan diyakinkan jika putra sulung mereka itu sudah mengeluarkan pernyataan.
“Baiklah jika itu keinginanmu Bocah Tengik! Aku akan menemanimu disini”
“Agree! ... (Setuju!....)”
“Hish! Nanti kalian sakit karena telat makan! ....”
Varen mendengus seraya meledek kedua Dad-nya itu.
“Memang kami bodoh macam kau???!!!!.... Ya minta ambilkan makanan bawa kesinilah, stupido!”
Yah begitulah, jika si Abang seringnya begitu keras kepala, Poppa seringnya tidak akan mau kalah.
Yang hingga akhirnya, semua pria dalam keluarga Adjieran Smith melipir ke ruang keluarga demi menemani si Abang yang sedang dirundung sendu, akibat Andrea yang acuh padanya dan juga demi si Abang agar sampai tidak makan.
***
“Maaf, Little Star, kalau kamu harus melihatku saat ini. Aku hanya akan menyiapkan obat kamu lalu aku akan membiarkanmu sendiri.....”
Varen sudah berada di kamar pribadinya bersama Andrea. Selepas makan malam, lalu bercengkrama seperti biasa, kemudian semua orang beranjak untuk pergi ke peraduannya masing – masing saat malam kian larut.
“Diminum dulu ya, obatnya? ... maaf aku masih akan berdiri disini sampai aku melihat kamu meminumnya, Little Star.... setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi ....”
Varen menyunggingkan senyum, dimana tak dilihat oleh Andrea yang masih diam saja serta tidak menoleh padanya.
Namun Andrea mengikuti apa yang Varen katakan, dengan mengambil obat-obatan yang disiapkan Varen untuk dia minum dan pergi tidur kemudian.
“Terima kasih”
Varen yang berterima kasih, karena Andrea tidak membantah untuk meminum obatnya sekalipun istri kecilnya itu masih enggan untuk menatap dan berbicara padanya.
‘Setidaknya kamu masih mau mendengarkan aku, Little Star’
Varen membatin. Mesti rasa hatinya perih, namun Varen tetap besar hati menghadapi sikap Andrea saat ini padanya.
Meski sejak pertengkaran yang lebih kepada kemarahan Andrea saat Varen menceritakan soal janin dalam perut Andrea yang terpaksa harus dipilih untuk tidak diselamatkan, istri kecilnya itu tidak sedikitpun melemparkan pandangan padanya.
“Beristirahatlah, Little Star ... jika ada yang kamu ingin dan butuhkan, kamu bisa menyampaikannya lewat pesan di ponsel kalau kamu memang masih enggan berbicara padaku. Istirahat ya? .... kamu bisa tidur dengan tenang... aku tidak akan mencuri – curi kesempatan.....”
“..........”
“Aku akan tidur di sofa, jadi kamu tidak akan merasa terganggu akan keberadaan aku di sampingmu, jika saat ini aku tidur di ranjang yang sama dengan kamu”
Varen melipat bibirnya sambil intens memandangi Andrea yang sudah duduk di pinggir ranjang.
“Maaf ya, aku jadi banyak bicara ...”
Tangan Varen terulur, hendak membelai kepala Andrea.
Namun seketika terhenti dan menggantung sesaat di udara.
“Kamu bisa tidur dengan nyaman, Little Star ... Nitey nite .... aku permisi....”
Varen melangkah untuk menjauh dari Andrea. Dimana istri kecilnya itu bergeming saja. Tak juga sekedar melirik padanya.
‘Sebenci apapun kamu padaku Little Star, bagiku kamu adalah bintang kecilku yang akan selalu kupastikan ada tidak hanya disaat malam. Yang akan aku jaga dan aku sayangi hingga sampai nafasku terhenti’
Tersungging senyuman di bibir Varen saat melihat Andrea sudah mulai beringsut menyelimuti dirinya sendiri diatas ranjang.
‘Tidur yang nyenyak, bintang kecilku. Semoga esok, aku terbangun dengan sapaan indah senyummu’
***
To be continue ...
Semoga masih enjoy!
Daaannn Buat SITUH yang udeh eike sebutin diatas, pergi jauh - jauh dari sini, OKEHHHHH???!!!
Mau nulis ape juga yang menjatuhkan seluruh othor sejagad pernopelan di Noveltoon, terkhusus di lapak saya tulisan muh itu percuma aje, kaga bakal nongol disindang.
Makan Ati kan situh?!
Sukurin
Emaknya Queen ituh Author paling senga di jagad per - Nopel- Toon - nan
Kritik dan Saran emak terima, Hujatan akan emak tenggelamkan!
Waspadalah!
Awokwkwkwkwk!!!!
Sekian.
Mohon maaf buat para reader yang blaem - blaem dan pastinya luar angkasah baenya, supportnya, karena baca ini cerocosan unfaedah si emak.
__ADS_1
Salam sayang,
Emaknya Queen