
♥♥♥ SAYYAAANNGGG – ABANG ♥♥♥
Selamat membaca .......
Jakarta, Indonesia
The Daddies yang tadi berjalan – jalan pagi kini sudah kembali ke Rumah Utama bersama Fania, Prita dan tiga krucil yang ikut dengan ketujuh Moms dan Dads mereka berjalan – jalan sekitar Komplek Rumah Utama keluarga mereka.
“Loh ada apa ini?.”
Ara yang sedang bersama Valera dan pengasuhnya serta Rery yang sedang dijemur sebentar sesuai anjuran para nenek untuk setiap bayi yang baru lahir. Yah selain memang juga dianjurkan untuk kebaikan pun terkejut melihat Andrea yang nampak habis menangis dan dalam gendongan Daddy R, serta Varen yang diapit oleh Poppa dan Mommanya itu nampak berwajah kesal. Dan Fania merangkul bahu Varen.
“Ga apa – apa.”
Reno yang menyahut sambil melihat Rery yang sedang dijemur oleh Ara, yang kemudian diambil oleh Fania.
“Ini dahi Andrea kenapa?. Memar begini?.” Ara nampak khawatir melihat dahi Andrea yang sedikit benjol dan merah seperti habis terkena benda tumpul.
“Aku di lempar bola basket oleh anak – anak nakal di lapangan.”
“Ya Ampuun!.” Ara setengah memekik nampak lebih gusar dari emaknya. “Kok bisa?. Dan ini Varen?.”
“I’m okay Mom (Aku baik – baik saja Mom).”
“Abang berkelahi?.”
Varen mengangguk pelan. “Iya Mom.” Dan Ara membulatkan matanya. Kaget juga mengetahui Varen yang pendiam dan lumayan tertutup dan cool kecuali dalam lingkup keluarganya atau orang – orang yang ia kenal baik itu sampai berkelahi.
“Sudah lebih baik kita masuk dulu, sekalian obati luka Drea dan Abang. Kami juga belum sarapan.”
“Iya Ra. Kasihan nih mereka pasti sudah pada lapar lagi. Nanti cerita didalam aja sekalian.”
Ara pun mengangguk dan mereka semua pun masuk ke dalam rumah untuk sarapan bersama dan mengobati memar di dahi Andrea, dan sedikit lebam di dekat bibir Varen. Yah kehebohan kembali terjadi lagi didalam rumah, dari mereka yang kaget melihat kondisi Varen dan Andrea yang malah memiliki sedikit luka setelah jalan – jalan pagi bersama para Moms dan Dads mereka.
**
“Jadi, apa yang terjadi?. Memang kalian ga bersama mereka saat kejadian?.”
Ara masih penasaran dan kini seluruh keluarga sudah berkumpul, kepo kenapa si Abang yang biasanya nampak tenang itu sampai berkelahi. Luka Varen dan Andrea juga sudah selesai diobati.
"Kami memperhatikan mereka dari Pujasera. Biasanya juga ga ada masalah kan." Sahut Reno.
“Kenapa kamu sampai berkelahi, Abang?.” Ara menghadapkan Varen padanya.
“Jangan marahi Abang Mommy, Abang tadi membela aku karena anak – anak nakal itu merebut bola basket kami saat aku dan Tan - tan sedang main dan Abang ingin mengambilkan minum untuk aku dan Tan – tan.”
Andrea mendekati Ara yang sedang menghadapkan Varen padanya.
“Lalu saat Abang mau mengambilkan kembali bola basket kami anak nakal itu malah melempar bolanya ke kepala Andrea.” Nathan ikut bersuara dan mendekat disamping Andrea. “Mereka duluan yang menyerbu Abang.” Ucap Nathan lagi.
“Aku hanya membela adik – adikku, Mom.” Ucap Varen santai.
Ara menghela nafasnya. Sementara tujuh orang yang tadi berada ditempat kejadian membiarkan anak – anak itu menjelaskan kembali pada orang di Rumah Utama, karena tiga krucil itu sudah menjelaskan pada tujuh orang Moms dan Dads yang bersama mereka tadi.
“Terlebih lagi mereka melukai Andrea, dan itu benar – benar membuatku marah.”
Ara lagi – lagi menghela nafasnya sambil memandangi Varen.
“Tapi jika menurut Mommy aku salah, Mommy silahkan menghukum aku...” Ucap Varen lagi sambil memandangi balik sang Mommy.
“Jangan hukum Abang Mommy ...”
“Iya jangan hukum Abang Mommy Ara ... Tadi aku mau bantu Abang waktu salah satu dari mereka memukul abang duluan, tapi abang melarang aku untuk membantu dan meminta aku menjaga Andrea.”
Dua adik penyayang sang abang itu kompak membela kakak tertua mereka.
“Iya Mommy, tadi Daddy R juga bilang tidak akan menghukum Abang, jadi Mommy jangan menghukum Abang ya?......” Sambung Andrea mengiba dengan wajah polos nan menggemaskan pada Ara lalu memandangi Varen. “Abang tidak salah Mommy.”
Para orang tua dan Varen sendiri pun tersenyum pada Andrea dan Nathan.
“Terima kasih ya.” Ucap Varen pada kedua pembelanya itu dan memeluk keduanya.
__ADS_1
“Tapi Abang jangan berkelahi lagi .. aku takut...” Ucap Andrea sambil memandangi sang Abang dengan tatapan mengiba. “Aku sedih lihat Abang luka – luka ...”
“Iya, Abang minta maaf kalau membuat Drea takut tadi ...”
Andrea mengangguk pelan dan Varen memeluknya lagi.
“Sayannnng – Abaaang ..”
**
“Bagaimana kalau sekarang kalian pergi mandi, hem?.”
“Okay Poppa!...”
Andrea menyahut cepat ucapan sang Poppa dengan tersenyum manis.
“Good girl... (Anak baik)...” Sahut Andrew sambil mengecup pipi Andrea sembari juga tersenyum pada Andrea yang kemudian berlari kecil menuju ke kamarnya yang kini berbagi dengan Mika karena Andrea yang merasa sudah besar itu tidak mau lagi sekamar dengan Varen dan Nathan. “Kalian juga ya?.”
“Oke Poppa! ...” Sahut Nathan sambil mengangkat jempolnya pada Andrew kemudian juga seperti Andrea, ia setengah berlari menuju ke kamarnya. Varen mengangguk pada Andrew yang tersenyum juga padanya dan Nathan.
“Abang...” Ara memegang pundak Varen sebelum putra pertamanya itu menyusul Nathan ke kamar mereka. “Abang
janji ya, yang tadi Abang lakukan jangan diulangi lagi?. Mommy selalu bilang untuk menjauhkan kekerasan, bukan?.”
“Iya Abang, Momma senang Abang membela Drea juga Nathan. Tapi Abang jangan sampai berkelahi lagi ya?. Lihat nih wajah Abang yang ganteng jadi luka begini.”
Fania ikut berbicara sembari mendekat dan tersenyum pada Varen setelah memberikan Rery yang tertidur lelap setelah dijemur dan ia susui.
“Maaf, aku tidak bisa janji soal itu ...”
Varen memandangi para orang tua, kala ia seolah membantah ucapan Mommy dan Mommanya.
“Maaf, bukannya aku tidak mau menuruti ucapan Mommy dan Momma. Tapi aku sudah berjanji pada diriku
sendiri untuk menjaga Andrea. Jadi jika ada yang menjahati nya aku tidak bisa diam saja.”
Para orang tua itupun terfokus pada Varen yang berbicara dengan raut wajahnya yang nampak serius itu.
“All Daddies said, real man not only have to responsible of what they did, but also have to hold promises and never denied it ( Semua Daddies bilang, pria sejati tidak hanya harus bisa mempertanggung jawabkan setiap ucapannya, tetapi juga harus bisa memegang janji dan tidak pernah mengingkarinya ).”
‘Mateng di puun ini si Varen.’ Batin Fania takjub dengan kedewasaan anak berumur sebelas tahun itu.
**
“Sepertinya calon menantu kalian ga akan jauh – jauh Ra, Ren.”
Mama Anye berbicara sembari senyam – senyum setelah Varen undur diri dari mereka. Yang lain pun terkekeh. “Sepertinya begitu.” John yang menyahut, mereka terkekeh lagi. Termasuk kedua orang tua Varen kemudian saling pandang sembari terkekeh sendiri juga.
“Mau kamu Babe, berbesan dengan Donald Bebek?.” Celoteh Reno dan mereka semua terkekeh lagi.
“Emang tadi si Varen ngomong apaan itu pake bahasa inggris panjang bener?.”
Papa Herman kepo.
“Varen bilang dia mengikuti apa yang semua ayahnya ini bilang kalau pria sejati tidak pernah ingkar janji Pa.” Jihan yang menjawab. “Nah kan Varen udah janji tuh katanya sama dirinya sendiri untuk jagain Andrea, jadi kalo nanti ada yang jahat sama Drea lagi dia ga mungkin diam, makanya ga mau janji untuk ga berkelahi lagi.”
“Lah mantep tuh bocah, dewasa bener!.” Mama Bela menimpali.
“Lah laki mah emang kudu begitu. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya."
"Dasa Darma Pramuka kali ah!....."
Lagian emang si Varen sayang bener ama si Andrea. Jangankan orang, si Nathan aje kalo gangguin Andrea ampe nangis, si Varen yang ngomel ama tuh bocah.” Sahut Papa Herman.
“Iye bener – bener. Si Varen tuh kelewat sayang ama si Andrea. Opeeer.... Opeeer ape tuh?.”
Lidah Mama Bela ke sangkut.
“Oper sini itu pastel!.” Celoteh Prita yang kemudian terkekeh sambil menyambar piring berisi pastel didekat Mama Bela duduk.
“Ah, Priwitan!. Jadi lupa deh ah mau bilang oper ape sih tadi, udeh diujung lidah perasaan.”
“Over protektif Ma.” Ucap Andrew.
__ADS_1
“Nah iye itu! Oper Protektip tuh si Varen ama Andrea!.” Timpal Mama Bela. “Jodoh ape entar gede nye?. Lah kocak tapi. Besan serumah!.” Ngekeh sendiri.
“Ga ape – ape, udeh ketauan bibit , bebet ama bobot nye. Kaga sedarah ini, biarin aje kalo jodoh sih Ren, Drew. Itu si Andrea sama si Varen.” Ucap Papa Herman.
“Pacar lima langkah dong!. Ngapel tinggal belok aje ke kamar sebelah.”
Celetukan Mama Bela membuat semua orang terkekeh geli.
**
“Abang, Dad, Mom dan Val serta Oma akan kembali ke rumah. Kamu mau disini saja atau mau ikut dengan kami?.”
“Kalau Drea ikut, aku ikut pulang ke rumah kita. Tapi kalau Drea disini aku juga akan tetap disini, Dad.”
“Little Staar.”
Reno bertanya pada Andrea yang sedang bermain game konsol bersama Nathan.
“Iya Daddy R....” Sahut Andrea sambil meletakkan konsolnya yang langsung di sambar oleh Mami Prita yang dari tadi nunggu giliran.
“Little Star mau ikut Daddy R dan Mommy Ara ke rumah kami atau mau disini saja?.”
“Aku mau disini dulu Daddy, kan aku harus jagain Rery.” Jawaban Andrea membuat Daddy R menarik sudut bibirnya.
“Ya sudah kalau begitu. Give Daddy R and Mommy Ara a hug then ( Peluk Daddy R dan Mommy Ara kalau begitu ).”
Andrea pun memeluk kedua ayah dan ibu selain Poppa dan Mommanya itu.
“Nathan mau ikut ke rumah adik Val?.”
“Nathan ikut Abang sama Drea.” Sahut Nathan santai menoleh sebentar pada Daddy R tapi kemudian kembali fokus pada permainan yang ia mainkan bersama Mami Prita.
“Abang ikut pulang dengan Daddy R dan Mommy Ara?.”
“Kalau Drea maunya disini, ya Abang akan tetap disini. Kalau Andrea mau ikut ke rumah Daddy R, Abang pun akan menemani Andrea juga kesana. Hem?.” Varen menatap gemas pada Andrea.
“Jadi Abang akan selalu sama – sama aku?.”
“Pintar Little Star nya Abang!..” Varen mencubit gemas hidung mungil nan mancung Andrea. “Kan Abang sudah janjiii.”
“Oh iya ya...”
Yang berada didekat Andrea tersenyum lebar melihat tingkah dan ekspresi menggemaskan Andrea.
“Abang akan sama – sama aku terus kan berarti?.”
“Iya Little Star ... kan Abang sudah sering bilang kalau Abang akan selalu dekat dengan Drea ...”
“Janji?.” Andrea mengajak Varen membuat janji ala pinky promise dengan kelingkingnya.
“Janji.”
Varen pun melingkarkan kelingkingnya di kelingking Andrea.
“Sayannnng – Abaaang ..”
“Sayang Drea ...”
**
“Romantis bener itu bocah dua kecil – kecil perasaan Papah.” Celetuk Papa Herman yang sedang duduk di sofa bersama Mama Bela dan Andrew dan John didekatnya.
“Sayannnng – Abaaang ..Papah!.” Timpal Mama Bela yang mengikuti gaya si Andrea yang memeluk Varen. Andrew dan John ngekeh lagi aja dah.
“Apaan si Mah.”
“Biar kayak Andrea noh ama si Varen. Imut kan Mamah kek si Andrea?.”
“Imut apaan. Geli yang ada! ...”
“Ah, sok beut iye si Papah!. Awas ye entar malem kalo minta kekepan!.”
“Cah elah!. Nangkelande diubek – ubek!. Eh die ngambek!.”
__ADS_1
**
To be continue...