THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 218


__ADS_3

💐 VAREN - ANDREA 💐


 


Selamat membaca .......


 


Tidak salah kalau semua anggota Keluarga Smith mengatakan kalau Varen itu pawangnya Andrea, selain Poppa.


Kalau pada Poppa memang Andrea takut setengah mati. Selebihnya Andrea woles, termasuk pada sang Momma.


Takut iya kadang – kadang kalo si Momma lagi serius. Tapi selebihnya woles. Bahkan kalau si Cute Girl sedang ngambek pun, Momma kadang sulit membujuknya, begitu juga Poppa.


Tapi Varen berbeda.


Varen tak pernah memarahi Andrea dengan nada tinggi. Tapi kalau Andrea sudah mulai menjengkelkan baginya,


Abang akan menarik nafas, menghembuskan pelan dan sesuatu akan muncul diotaknya kemudian, lalu Andrea akan berhenti berulah.


Yah, kecuali saat Andrea menghindarinya gara – gara Danita waktu itu. Tahu – Tahu Abang datang, berkata datar namun tatapannya tajam.


Baru itu, Andrea merasa takut pada Varen.


Selebihnya, Varen seperti punya banyak mantra untuk membuat Andrea takluk dengan perkataannya, hingga gadis itu lulut dengan ikhlas.


****


“Little Star.... Abang hubungi Poppa ya?”


“Apa?! Mau mengadu?!”


“Mau minta Poppa segera kembali lagi kesini. Abang akan nikahi kamu minggu ini juga”


“Ah gila!!!”


“Sudah berani mengatai Abang gila, hem?”


“Ya lagian Abang, bicara sembarangan! Ya Abang gila lah kalau mau menikahi Drea minggu ini juga. Memang menikah ga butuh persiapan?! Belum lagi nih Drea, masih se-ko-lah! Catat tuh! Masih Se-ko-lah!”


“Habis Drea seperti ini, keras kepala sekali”


“Siapa suruh mau sama Drea!”


“Waaaah anaknya Poppa .... semakin berani ya, sekarang sama Abang, hem? Okelah kalau begitu”


“Apa?!”


“Poppa sudah sampai London pasti ini kan?”


“Abang!”


“Kembalikan ponsel Abang”


“Engga!”


“Ya sudah”


“Ih, kembalikan ponsel Drea!”


“Barter kalau begitu”


“Hish!”


***


“Sudah keluar dari kamar Drea sana! Darah tinggi Drea lihat Abang sekarang! Terserah sana kalau mau hubungi Poppa. Pasti Poppa juga akan bilang, ‘Bocah Tengik, apa kau sudah gila?!’”


“Abang yakin tidak, kalau Abang memberikan alasan yang cukup kuat”


“Pede!”


“Hmmmm ... Poppa akan bilang apa ya, kalau Abang bilang, Abang sudah menodai anaknya?...”


“Mak ... maksud.....”


“Dibunuh sih tidak, paling – paling dipukuli, yah habis itu langsung dinikahi deh! ....”


“Ap ... Ap...”


“Dalam tiga hari Poppa akan sampai kesini pasti. Dan kamu... say goodbye pada sekolah. Hem? Mau coba? Abang


hubungi Poppa ya?... Drea siap – siap aja .....”


"Poppa ga mungkin percaya! Abang juga perlu bukti yang akurat! Drea juga bisa membantah kalau itu cuma karangan Abang!"


"Abang anggap itu tantangan. Kalau Drea mau lihat apa yang Abang bisa lakukan, hem?"


“Eh.... jangan! Jangan!”


“.....”


“Iya udah, Drea ngertiin Abang, oke?. Abang, Bebeb Alva yang paling ganteng di seluruh semesta?. Mau kerja iya kan di Massachusetts?. Iya udah, kerja deh Abang kerja sana. Drea ikhlas, Drea Ridho.”


( PUK! PUK! PUK! )


“Abang kerja untuk masa depan kita kan? Iya kan? Abang mau berangkat kapan? Ah iya lusa? Oke..... ga masalah ... Drea kan pengertian orangnya .... Sa-yang Abang .....”


****


‘Little Star ..... Little Star...’


Varen senyum – senyum sendiri dalam jet pribadi yang membawanya kembali ke Massachusetts untuk menengok dan menyelesaikan masalah di Perusahaannya setelah di informasikan oleh Stevan, teman sekaligus orang kepercayaannya. Sekali lagi, ia selalu berhasil membuat Andrea berhenti merajuk dengan caranya.


Meski rasanya sedikit terasa lebih berat kalau berjauhan dari Andrea sekarang, sejak Andrea sudah tak lagi menjadi sekedar adik bagi Varen.


Terlebih, Varen sudah merasakan bibir merah muda Andrea yang terasa manis bak semangka tanpa biji baginya.


‘Bisa – bisa di  Massachusetts Abang susah tidur ini, Little Star....’ Batin Varen yang sedang memandangi wajah Andrea di foto dalam dompetnya.


***


Waktu bergulir ....


Varen intens bolak – balik ke Jakarta dalam dua bulan ini. Demi bibir rasa semangka, Abang rela menempuh perjalanan puluhan jam diudara demi Andrea. Hanya sekedar ingin bertemu langsung, memeluk dan yah cium bibir yang paling diniati Abang, meski kadang hanya bisa dua hari berada di Jakarta.

__ADS_1


Tapi paling tidak lumayan lah bagi Abang. Dua hari itupun sangat berharga untuknya.


“Abang, Drea rindu” Andrea dan Varen seperti biasa intens berkomunikasi baik di sosmed, telpon, chat, atau lewat panggilan video seperti saat ini. Andrea duduk didepan laptop diatas meja belajarnya, dan wajah Varen terpampang disana.


“Iya Abang juga”


“Abang kapan kesini lagi?”


“Nanti setelah dari London”


“Oh iya, ya, Abang mau ke London”


“Hum... Drea sudah makan?”


“Sudah”


“Little Star....”


“Hum?.....”


“Sudah memilih design gaun pernikahan?”


Deg!


Jantung Andrea terasa diketuk sesuatu. Ah, iya hanya dalam hitungan tiga atau empat bulan lagi, saat ia lulus nanti, ia akan langsung dinikahi oleh si Abang kesayangan. Andrea hampir lupa.


 “Mommy sudah menyiapkan beberapa rancangannya khusus untuk kamu kan?”


Andrea mengangguk dihadapan kamera.


“Sudah menjatuhkan pilihan?” Tanya Varen.


“Sudah”


Abang tersenyum.


“Tapi yang dirancang Mommy Peri untuk yang acara resepsi, termasuk jas pengantin Abang. Nanti pas Abang ke London, kemungkinan Abang akan diukur ulang kata Mommy, soalnya otot lengan Abang tuh makin besar, Abang ga mengkonsumsi steroid kan?...”


Varen terkekeh kecil. “Mana ada, Abang konsumsi barang seperti itu” Sahut Varen. “Ini murni karena olahraga”


Andrea manggut – manggut.


“Oh iya, yang di urus Mommy Ara sama Momma kan untuk pakaian resepsi, nah untuk yang akad nikah katanya, pakai jasa designer disini aja. Drea tunggu Abang kesini aja biar bisa memilih sama – sama mau gunakan jasa siapa. Biar enak diskusinya kalau bertemu langsung”


Akad Nikah – Ah, Varen jadi tak sabar rasanya mendengar kata itu keluar dari mulut Andrea barusan.


“Kalau Mommy Ara sih, menyarankan designer yang mengurus baju pernikahan Papi-Mami, sama Papa dan Mama Bear ...”


Dilayar laptop Varen sedang tersenyum. Angannya sedang terbang membayangkan hari bahagianya datang.


“Abang...”


Varen sedang membayangkan, hari dimana Andrea duduk disebelahnya saat ijab kabul dikumandangkan.


Varen mencintai Andrea, Little Starnya. Dan tidak ada sedikitpun keraguan akan itu. Bagai kata yang tak sempat diucapkan kayu pada api yang menjadikannya abu.


Seperti sebait lagu milik Ungu, “Bila kau ragu, tanyakan pada gunung yang tinggi... Maka dia takkan mampu menjawab pertanyaanmu”


Jika nilai 100 itu sempurna, ibaratnya. Maka hanya 1 saja yang sempurna bagi Varen di dunia. Andrea, Miracle Andrea, Little Starnya.


“Abang!”


“Abang nih, Drea bicara panjang lebar. Abang malah bengong. Sedang memikirkan apa sih?.”


“Kamu. Apalagi”


“Ih Abang, makin jago aja menggombalnya nih” Goda Andrea.


“Mana ada gombal, memang benar begitu. Abang sedang memikirkan kamu”


Andrea tersenyum simpul.


“Orang kita lagi bicara gini, ngapain Abang pikirkan Drea coba?. Bohong aja kali. Jangan – jangan Abang ketemu sama cewek seksi berbikini, jadi Abang kepikiran eh Drea deh jadi alasan kenapa Abang bengong”


“Enak saja bicara!”


Varen dengan tampang sebalnya. Andrea terkekeh kecil. Andrea tahu kalau si Abang Embebnya itu terlampau bucin padanya. Andrea jadi kadang suka menggodanya. Soalnya muka Abang jadi ngegemesin kalau cintanya pada Drea dipertanyakan.


“Sudah ratusan kali dibilang, jangan meragukan, apalagi menyangka Abang yang bukan – bukan”


“Iya maaf deh... gitu aja marah”


“Bukan marah, sebal!”


Andrea terkekeh lagi.


“Ugggghhh ngegemesin banget cih Bebeb Alva kalau begitu mukanya”


Varen masih memasang raut wajah sebalnya, tapi dalam hati dia mesem – mesem.


“Ya sudah sana, istirahat, lalu mimpikan Abang. Awas kalo engga!”


“Dih, mimpi mana bisa diatur coba?”


Andrea bersungut dan Varen terkekeh kecil.


“Ya sudah nanti Abang buat alat pengatur mimpi khusus buat kamu yang isinya Abang semua”


‘Abang apa Doraemon?’ Andrea membatin geli. “Iya deh, terserah Abang. Asal Abang bahagia!.”


“Ya bahagianya Abang kan kamu”


“Aduh Abang nih, udah ah. Nanti Drea bisa kena diabetes gara – gara Abang”


Andrea dan Varen sama – sama tertawa kecil kemudian.


“Ya sudah ya Abang, Drea matikan sambungannya. Abang jangan terlalu diforsir kerjanya. Jangan terlalu banyak minum kopi. Abang kan kalau disana makannya ga teratur. Suka lupa kalau Drea ga ingatkan” Pesan dari calon istri Solehah.


“Iya Sayang”


Ah, Drea jadi malu sendiri.


“Abang sudah berhenti minum kopi juga. Abang menunggu kopi yang special soalnya”


“Saint Helena?. Black Ivory?”

__ADS_1


“Bukan”


“Black Ivory bukannya yang paling special? Itu kopi kan per pound nya lebih dari 500 US Dollar. Kopi Luwak saja kalah jauh harganya dari Black Ivory. Kopi apa yang lebih special dari Black Ivory. Bukannya itu kesukaan Abang juga?”


“Ada yang jauh lebih special dari itu”


“Kopi apa memang?”


“Ko – Pi nang kau dengan Bismillah”


Anjayyyyy...


Emak **** juga lo, Bang!


***


Waktu bergulir lagi....


Tengah malam waktu Jakarta,


“Kangen banget” Varen bergumam dalam mobil sambil senyam – senyum sendiri di kursi penumpang belakang. Sembari melihat foto Andrea di galeri ponselnya. Setelah sebulan full Varen belum sempat ke Jakarta akibat kesibukannya.


Terakhir juga bilang pada Andrea, kalau baru bulan depan akan ke Jakarta. Tadinya, tapi setelah cincin pernikahannya jadi, Varen jadinya tak sabar untuk segera menemui Andrea. Ingin mengepaskan lingkaran cincin pada jari Andrea, karena Varen ingin semua begitu sempurna di hari bahagianya dengan Andrea nanti.


Varen tiba di Jakarta, tapi tak memberitahu kedatangannya pada Andrea. Ingin memberi kejutan, sekaligus tak


sabar ingin menunjukkan cincin pernikahan yang sudah jadi, ia pesan khusus dari perancang perhiasan terkenal di London, langganan keluarganya.


****


Varen melirik jam diponselnya saat ia sudah sampai di Kediaman Utama. Keadaan sudah sepi, meski ini malam minggu, sudah masuk hari minggu sih. Sudah jam satu pagi soalnya. Dan hanya seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu utama, yang juga nampak sedikit terkejut karena tidak ada pemberitahuan kalau Tuan Mudanya akan datang hari ini.


Varen langsung naik tangga menuju kamar Andrea. Berharap tak dikunci, karena memang seringnya tidak. Hanya


ingin melihat sebentar, lalu mengecup keningnya sekilas, mengobati rindu sebentar. Tak berniat mengganggu dan membangunkan Andrea dari tidurnya. Toh Varen juga merasa sedikit lelah. Varen tersenyum melihat Andrea yang sedang meringkuk dalam selimutnya.


Pelan – pelan Varen membuka pintu tadi, yang seperti biasa memang jarang Andrea kunci, ada atau tidak Varen di Jakarta. Pelan – pelan Varen masuk, melangkahkan kaki, agar tidur Andrea tidak terganggu.


Varen mengernyitkan dahinya saat sudah dekat ke ranjang Andrea.


‘Drea sakit?’ Batin Varen, karena tumben sekali Andrea menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut saat tidur. ‘Ah, ya Tuhan’ Varen langsung tersadar, kalau Andrea bisa sulit bernafas jika ia membalut tubuhnya dengan selimut serapat itu.


Varen menyibakkan selimut Andrea dengan amat perlahan.


Mata Varen spontan membulat, karena yang terbalut selimut itu bukan Andrea, melainkan bantal dan guling yang


dibuat sedemikian rupa, seperti Andrea yang seolah tertidur.


“Little Star ....” Varen mencari Andrea diseluruh penjuru kamarnya.


Kosong.


‘Di kamar Nathan apa?. Begadang lagi itu anak berdua?’


Varen memanjangkan langkahnya menuju kamar Nathan.


Kosong juga.


Ah iya, Pohon Matoa dan atap rumah. Barangkali Andrea ada disana, hobi manjat kan dia?. Abang seketika teringat. Mencari ke kedua tempat yang ia kira, termasuk halaman belakang, kolam renang, sasana dan ruang gym, hingga pada akhirnya Abang menjelajah ke sekitar rumah hampir keseluruhan, bahkan ke kamar adik – adiknya selain Nathan. Andrea ga ada juga.


“Kemana dia?”


Varen menggumam, wajahnya kesal campur khawatir. Ia kembali lagi ke kamar Andrea, lalu meraih ponselnya sendiri. Menghubungi nomor Andrea kemudian.


Tidak terdengar suara ringtone ponsel Andrea di kamarnya, kala Varen menghubungi nomor Andrea. Sialnya, panggilan Varen pun terabaikan. Coba menghubungi Nathan, pun sama. Panggilannya terabaikan. Lalu mengetik pesan dan mengirim pada Nathan dan Andrea. Tak langsung dibaca.


Varen bergegas ke kamarnya, membongkar tas kecilnya yang sudah diletakkan asisten rumah tangga didalam kamar pribadinya. Mengambil satu ponsel keramat, yang lama tak ia sentuh karena hubungannya dan Andrea baik – baik saja, ancaman pengganggu hubungannya pun sudah raib. Namun ponsel itu ia selalu bawa kemanapun meski posisinya tidak diaktifkan.


“Apa .... apaan?!”


Wajah Varen berubah nampak gusar, setelah mengecek isi ponsel Andrea dari ponsel kloning khususnya. Rahangnya mengetat saat ia melihat posisi keberadaan Andrea yang tergambar jelas di ponsel khususnya itu. Tak menunggu lagi, Varen langsung bergegas ke garasi. Mengambil kunci mobil yang tergantung disana, lalu mengeluarkan mobil dengan tergesa setelah pintu garasi ia buka dengan remote yang terhubung dalam mobilnya.


Dalam mobil Varen gusar, wajahnya mengetat sambil terus menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya, menuju tempat di mana Andrea berada yang tergambar diponselnya.


***


Dan disinilah Varen sekarang, sudah berada dalam sebuah Klub Malam yang terkenal di Jakarta. Salah satu Klub Favorit para kawula muda di kota tersebut.


Klub malam mewah dengan interior klasik, Live DJ dan Full Service Bar.


Mata Varen mencari – cari di area Klub yang amat bising dan sangat ramai itu.


Varen tak sendiri, dia dengan kuasanya sudah menyuruh beberapa orang untuk memastikan keberadaan Andrea didalam Klub tersebut.


Varen memang tak terlalu bergaul di Jakarta, namun kolega dan beberapa teman – teman berikut kerabat keluarganya tersebar di kota tersebut.


“Tuan!”


Seorang pria berbadan tegap menghampiri Varen dengan tergesa lalu berbisik ditelinga Varen karena bisingnya


keadaan dalam Klub.


Varen kemudian diarahkan ke suatu sudut.


Pria berbadan tegap tadi mengarahkan telunjuknya. Dan mata Varen menemukan apa yang ia cari. No, seseorang yang ia cari, yang membuat rahangnya mengetat, dengan raut wajah yang menyiratkan ketidak sukaan yang amat sangat.


Disana Andrea berada, sedang meliuk – liukan tubuhnya dengan beberapa gadis sebayanya. Tak ada pria didekat


mereka memang, tapi sungguh Varen tetap tak suka melihatnya.


Varen mengayunkan lagi langkahnya.


Matanya menatap tajam, saat ada seorang laki - laki yang menghampiri Andrea. Laki – laki yang ia tahu itu siapa, dan kini sedang berbisik ditelinga Andrea.


Rahang Varen kian mengetat. Langkahnya ia perlebar, mendekat ke tempat Andrea berada.


Tangannya dengan cepat menarik Andrea, membuat gadis itu kaget begitupun mereka yang berada di dekatnya.


“Ab..... Abang?????” Wajah Andrea jangan ditanya ekspresinya. Dentum jantungnya mengalahkan suara Bass DJ


bahkan rasanya saat ini.


“You totally dissapointed me, Miracle Andrea!. (Kau benar – benar mengecewakanku, Miracle Andrea!)”


***

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2