THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 113


__ADS_3

##  SATU KEBAHAGIAAN  ##


*********


Selamat membaca.....


“Bagaimana Prita, Sweety? Prita dan bayi – bayinya baik – baik saja kan?.” Ara yang baru saja tiba di rumah sakit berbicara pada Fania yang kebetulan baru saja keluar dari kamar perawatan Prita yang sudah dipindahkan dari ruang bersalin.


“Alhamdulillah sehat itu si Priwitan ame bayinya pada.” Sahut Fania. “Dapet sepasang.”


“Alhamdulillah....”


“Sesuatu.”


“Jadi melahirkan secara normal itu Prita, Kak Fania?.”


“Jadi.”


“Kami kedalam dulu kalau begitu ya?.” Ucap Dewa dan Fania mengangguk.


Fania pun mempersilahkan Ara yang datang bersama Michelle dan Dewa, sementara ia ingin melakukan panggilan telpon ke Andrew.


**


“Halo semua....”


Dokter Clarissa yang nampaknya sudah berganti pakaian dan hendak pulang karena jam prakteknya sudah berakhir itu datang ke ruangan tempat Prita dirawat. “Eh, Clarissa.” Mom menghampiri dan memeluk Dokter Cantik yang merupakan anak temannya itu.


“Oh iya ini untuk dua malaikat kecil.” Dokter Clarissa memberikan sebuah bingkisan berupa kotak berpita pada John dan ia pun menyalami Prita.


“Repot – repot Dokter.” Ucap Prita seraya tersenyum.


“Ga repot kok, memang sudah disiapkan....” Sahut Dokter Clarissa.


“Terima kasih ya....”


Dokter Clarissa pun mengangguk dengan tersenyum pada Prita dan John dan mereka semua pun terlibat obrolan ringan.


***


Dokter Clarissa yang tak lama berpamitan selesai menjenguk Prita dan kedua bayi kembarnya berjalan ke arah pintu ruangan bersama Ara. “Gimana Ris, dapat ga?.”


Ara bertanya sambil senyum – senyum.


“Dapat dong.” Jawab Clarissa sembari juga tersenyum. "Baru aja nih, asisten aku kirim."


“Kirim ya?.” Ucap Ara yang nampak sumringah dan Dokter Clarissa yang nampak sumringah itu kemudian mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Lalu dokter cantik itu nampak mengirimkan sesuatu ke ponsel Ara. “Oke, sudah masuk.” Sahut Ara yang menoleh dan melihat kiriman dari Dokter Clarissa pada aplikasi chatnya. "Tapi ingatkan asisten kamu untuk menghapus yang asli."


"Sudah pasti itu sih. Tenang saja, off the record." Dokter Clarissa mengangkat jempolnya sembari tersenyum lagi,  lalu beranjak pergi untuk pulang.


“Kasak kusuk apaan sih Ibu Peri?.”


“Sini deh, Sweety.”


Ara setengah menggeret Fania kearah luar ruangan. Ara juga melambaikan tangannya pada Michelle agar juga ikut


bersamanya dan Fania.


***


“Habis ngapain sih kalian?.” Tanya John ketika ketiga mahmud itu kembali lagi keruangan Prita.


“Ada aja.”


“Gosip palingan!.” Celetuk Dewa.


Michelle, Fania dan Ara hanya cengengesan.


Pada akhirnya fokus semua orang yang hari ini sudah berada bersama Prita pun tertuju pada sepasang bayi kembar milik John dan Prita yang juga diletakkan diruangan yang sama dengan ibunya. Dua bayi mungil kembar berbeda jenis kelamin itu menambah deretan cucu pewaris kerajaan Adjieran Smith.

__ADS_1


“Have you guys already prepared names for these two little angels?. ( Apakah kalian sudah menyiapkan nama untuk dua malaikat kecil ini? ).”


Dad bertanya pada John dan Prita.


“Sudah Dad....”


Avaro Darwin Smith dan Alisha Darwin Smith menjadi nama untuk sepasang malaikat kecil John dan Prita yang telah lahir ke dunia. Berharap keduanya dapat menjalani hidup sesuai arti nama mereka, yakni bijaksana dan mulia.


**


Prita hanya menginap selama dua hari di rumah sakit. Berhubung ia lahiran secara normal dan proses kelahirannya tidak bermasalah, jadi tidak ada masalah untuk itu. Satu bayi Prita dipegang oleh Mom dan yang satu lagi dipegang oleh Mama Bela.


Sementara Fania dan yang lainnya menunggu di rumah, kecuali Andrew, Reno dan Jeff yang masih on the way dari tempatnya masing – masing.


Satu kebahagiaan lagi untuk keluarga besar Adjieran Smith, setelah duka dari kehilangan putra kedua Jeff dan Jihan.


**


“Hahahaha!.”


Reno yang sudah berada di Jakarta bersama Andrew dan Jeff, sedang kompak tertawa bersama Dad sambil memandangi layar ponsel Ara yang dipegang Reno saat ini, disaat yang lainnya sedang berbincang bersama John dan Prita yang juga ikut duduk berkumpul diruang santai keluarga.


Dewa, Andrew dan Jeff serta Papa Herman yang penasaran akhirnya mendekati kedua pria yang sedang tertawa sambil menonton video itu. Lalu tak lama tawa susulan mereka pun juga ikut terdengar.


“Nanti gue tuntut itu si Clarissa karena menyebarkan aib ....” Celetuk John karena ia tahu sumber gelakan yang terdengar dari enam laki – laki didekatnya itu.


Para wanita pun terkekeh. Termasuk Prita. “Dahsyat banget proses kelahiran kamu ya Prita?.” Ucap Jihan yang sudah menonton video itu duluan dari para lelaki yang baru menontonnya sekarang.


“Fyuh, bukan dahsyat lagi....” Sahut John. “Nih, masih berbekas....”


John sepertinya spechless kalau ingat apa yang menimpanya saat mendampingi Prita melahirkan.


**


Flashback on...


“Ya Tuhaaann, seharusnya kamu memilih operasi saja, Sugar....”


 “Iya, Iya ... maafkan aku, Sugar. Aku khawatir melihat kamu kesakitan seperti ini.”


“Iya ini akibat perbuatan siapa, coba?!.”


“Iya.... maaf....”


“Aw sakitt!!!!....”


 “Sabar Sugar ...”


“Sabar! Sabar! Kamu ga ngerasain sih sakitnya kayak apa?!.”


Cepret!. ( Satu Kepretan mendarat di lengan John ).


“Sepertinya sudah saatnya.” ( Suara Dokter Clarissa ).


“Ayo sayang, kamu mengejan ya, tarik nafas ... buang perlahan ....”


Prita pun mulai mengejan.


“Sakiiit Ya Allah ...”


“Tahan ya Sugar....”


“Tahan! Tahan! Sakit ini tau gaaa?....” ( Kerah kemeja John di remas Prita yang sedang mengejan ).


“Ayo sedikit lagi.” ( Dokter Clarissa berbicara lagi ). “Tarik nafas panjang, sekali dorong seperti yang diajarkan dikelas kehamilan ya?.”


Prita mengangguk dan John juga latah mengangguk sekaligus ikut menarik dan membuang nafas kek dia yang mau lahiran.


Prita melakukan yang disuruh oleh Dokter Clarissa dan ia pun mengejan dengan kuat.

__ADS_1


“Ouch, sakiit...” ( John mengerang pelan karena Prita remasan Prita ditangannya pindah ke rambut John ).


John hendak melepaskan pelan tangan Prita dari kepalanya, tapi Prita keburu menjambak rambutnya.


‘Ya Tuhaaan .....’


Oee... Oee...


Suara seorang bayi yang sudah meluncur itupun terdengar dan seketika John merasa haru.


“Anak pertama kalian laki laki.” ( Ucap Dokter Clarissa cepat, lalu ia fokus lagi pada Prita ). “Sekali lagi mengejan seperti tadi.


“Iihhh mau kemana? Ini masih ada satu lagi!.” ( Prita mencekal kencang tangan John yang tadinya hendak berjalan melihat bayi berjenis kelamin laki – laki yang baru saja dilahirkan ).


“Oh iya, iya aku lupa....”


“Ayo dorong.” ( Dokter Clarissa mengarahkan Prita ).


“Akku tercekikk inni.... suggaarr ....”


John berkata sedikit terbata karena Prita meremas dua sisi kerah kemejanya.


Oee... Oee...


“Perempuan.” ( Dokter Clarissa mengangkat bayi kedua John dan Prita sembari tersenyum pada pasangan didepannya itu. Senyum lega sekaligus senyum geli pada proses kelahiran yang sedikit heboh itu, termasuk juga para asistennya yang mesam – mesem ).


“Hhhh.... Terima Kasih Tuhaaan....” ( John menarik nafas lega karena kedua bayinya lahir dengan selamat, bersamaan dengan kelegaan yang akhirnya lepas dari ‘kdrt’ dari Prita selama proses kelahiran. ‘Ara yang melahirkan Varen dengan normal saja ga sampai se extrem si Sugar perasaan....Nanti kalau Sugar hamil lagi, gue akan memohon pada Mama Bela untuk mendampinginya saat akan melahirkan.’


**


“Ya ilah ga seberapa kali itu, sama sakit yang aku rasain ....”


“Iya, iya ...” Papi John pun pasrah.


“Ah kamu aje yang lebay, Priwitan.” Celetuk Mama Bela. “Mamah waktu ngelahirin kamu ama si Kajol kaga ampe gitu amat ngunyeng – ngunyeng laki.” Sambungnya.


“Dih Mamah ngelahirin Kak Fania ama Prita kan ke pisah, nah ini Prita sekali dua!....” Si Priwitan ga mau kalah. Prita melirik pada John.


Merekapun terkekeh. “Ye baguslah, sekalian jadinya kan. Beli atu gratis atu.”


Si Kajol nyeletuk.


“Bagus sih bagus. Die enak nanem doang, yang ngerasain kan Prita ngeden kek ape coba itu sakitnya. Mana ada anak laki yang katanya sakitnya bedobel – dobel, nambah si Alisha kan sakitnya Prita jadi tiga kali lipat.” Cerocos si Prita membuat John cengengesan, lalu mencium gemas pipi istrinya yang lagi ngedumel itu.


‘Sakit sih sakit memang. Aku juga tahu itu. Tapi penderitaan aku juga ga kalah parah.’


“Apa?. Ngedumel dalem hati nih ya si Papi.”


“Engga Mami.. aku ga ngedumel kok. Aku sedang bersyukur pada Tuhan karena kamu memberikan aku sepasang malaikat nan menggemaskan seperti maminya.”


“Eleh.”


“Ya udah sama – sama deh ngerasain penderitaan. Kan bikinnya juga udah ngerasain enaknya. Iya kan?.”


Mama Anye menimpali. “Betul itu!.”


“Tau jangan cuman doyan bikin aje. Giliran hamidun, ngelahirin, ngeluh....”


“Iya benar tuh yang kakak kamu bilang. Syukuri aja ya?. Yang penting kan kamu selamat, sehat melahirkan bayi kita ini nih. Coba lihat, sebanding kan dengan sakit kamu saat melahirkan, menggemaskan begini kedua anak kita.” Ucap John yang sedang menggendong bayi laki – lakinya. Serta menunjuk bayi perempuannya yang sedang di gendong oleh Mom. "Aku bangga kok sama kamu, kuat melahirkan normal dua bayi sekaligus."


“Inget ya, habis aku selesai nifas jangan buru – buru minta jatah. Aku mau KB dulu. Kalo ga sabaran nanti aku minta Dokter Clarissa jahit lagi biar rapet..”


“Obras sekalian!....”


***


To be continue...


Ritualnya dongs my bebi bala – bala semua

__ADS_1


Loph Loph


__ADS_2