THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 349


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


*************************************************************************


MEJIKUHIBINIU


🌈🌈🌈🌈🌈🌈


Selamat membaca ..


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia...


Kamar pribadi Poppa dan Momma ....


“Heart..” Poppa melingkarkan tangannya pada Momma yang berdiri dihadapan pintu balkon kamar yang tertutup.


Hari sudah mulai larut, namun Momma belum beringsut ke peraduan dimana Poppa sudah menunggunya, meski Poppa sempat sibuk dengan laptop diatas pangkuannya.


Momma menoleh dan tersenyum, sedikit mendongak menatap wajah Poppa yang juga sedang menatapnya itu.


“Jangan terlalu banyak berpikir Momma, nanti Momma cepat tua....” Goda Poppa.


Momma terkekeh. “Momma masih gress oke? Empat puluh lima tahun juga belum sampe” Sahut Momma. “Bukannya Poppa yang sudah hampir jadi lansia?”


Membuat Poppa terkekeh geli karena ucapan Momma.


“Enak saja” Protes Poppa. “Aku masih bisa membuatmu menjerit keenakan apa kamu lupa, Momma?.. mau


dipraktekkan sekarang?”


Momma pun cekikikan.


Poppa membalikkan tubuh Momma hingga kini menghadapnya.


“Sedang memikirkan soal Little Star dan Abang?”


Momma mengangguk tanpa ragu. Poppa pun tersenyum.


“Aku hanya prihatin dengan hubungan mereka, kalau Drea masih kekeh menyalahkan Abang soal calon anak


mereka yang terpaksa harus dikorbankan itu” Ucap Momma. “Ya aku paham perasaan Drea, tapi juga ga tega sama Abang”


Poppa kembali menyunggingkan senyumnya.


Di tangkupnya wajah Momma oleh Poppa dan Momma langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Poppa.


“Bukan hanya kamu yang prihatin, Heart” Ucap Poppa. “Kami semua juga sama. Tapi Little Star dan Abang pasti akan bisa melaluinya.. percayalah. Toh kita juga pernah bertengkar hebat bukan? Tapi kita bisa melewatinya”


Momma mengangguk. Lalu merubah posisi tangannya ke punggung Poppa, yang semula melingkar di leher Poppa.


“Mereka saling mencintai. Dalam. Ya seperti kita ini ..” Ucap Poppa sembari mendekap Momma yang merengkuhnya. “Jadi semua ini pasti akan mampu mereka lewati. Jadi jangan khawatir yang berlebihan, hem?”


Momma mengangguk lagi sambil mengeratkan rengkuhannya pada Poppa dimana Poppa mengecup mesra pucuk kepala Momma.


“Aku tidak ingin kamu malah jatuh sakit nanti” Ucap Poppa lagi.


Hingga kemudian Momma menengadahkan kepalanya dan membuat senyuman yang tertuju pada Poppa yang


memandangnya penuh arti dengan memberikan senyuman yang sama seperti halnya Momma.


Nampak jelas ada cinta dan perasaan yang mendalam di kedua orang yang usianya sudah tak lagi muda itu.


Namun pasangan muda, belum tentu bisa mengeluarkan aura cinta yang mendalam seperti Momma dan Poppa ini.


Yang kadang juga sesekali ribut kecil, namun yah kebucinan dari cinta yang berlebihan seperti halnya pasangan-pasangan lain dalam keluarga mereka tidak akan membuat keributan atau cekcok antar pasangan itu akan berlarut-larut.


**


“Sungguh.. Hanyalah Dirimu Yang Aku Cintai .. Dan Sungguh .. Ku ‘Kan Disisimu Hingga Ku Mati ..”


**


“I love you, Abang... maaf jika Drea sempat menyalahkan Abang ... Drea ...”


“No! Stop it! Jangan meminta maaf, aku mohon .... aku tidak mempermasalahkan sikap kamu ke aku, Little Star.....”


“.........”


“Cukup dengan kamu yang tidak membenciku setelah ini, aku sudah bahagia ...”


“Drea ga mungkin benci Abang... ga mungkin, dan ga akan pernah..”


“Terima kasih Little Star... itu... sudah lebih dari cukup .... I love you ... that much..”


“I love you too... as always, Abang...” Dikecupnya kening Varen oleh Andrea lalu mendekatkan wajahnya dan Varen hingga hidung mereka bersinggungan. Senyuman pun terpatri di wajah keduanya.


Entah siapa yang mulai, raga yang tadinya berjarak atas permintaan salah satu pihak berdasarkan perasaan yang terselubung sedikit kecewa kini sudah kian rapat. Wajah yang tadinya hanya hidung saja yang bersinggungan, kini tak hanya hidung yang bersinggungan namun bibir sudah saling bertautan.


Menghapus jejak kemarahan, menggantinya dengan perasaan cinta yang dalam satu sama lainnya.


Andrea menghapuskan semua pedih dihatinya atas rasa kehilangan, Varen menghapuskan semua pilu dihatinya


atas penolakan dan tudingan dari yang paling tercinta.


“Terima kasih ya, Little Star?” Ucap Varen dengan wajahnya yang sudah diselimuti kelegaan setelah tautan


bibirnya dan Andrea terlepas perlahan


“Sama-sama Abang” Sahut Andrea dengan senyuman. “Terima kasih juga karena Abang sudah begitu mencintai


Drea, dengan segala kekurangan Drea”


Kemudian dua insan itu saling memandang, menyalurkan kehangatan atas kerinduan yang sedikit menyeruak


didalam hati, meski sebelumnya tetap saling berdekatan namun rasa ‘jauh’ cukup mendominasi.


Sekarang, tidak lagi.


Hangat itu sudah kembali.


Senyuman tak henti-hentinya Andrea dan Varen saling lempar, menyalurkan bahagia yang sudah kembali ke


tempatnya.


Varen sendiri hampir tak berkedip memandangi Andrea yang kini sudah dipangkunya hingga istri kecilnya itu sudah bergelayut manja padanya.


Menyusuri garis wajah imut Andrea dengan senyum yang selalunya mampu dengan telak memporak-porandakan


dunia Varen.


“Kamu adalah kelemahan dan kekuatan terbesarku Little Star ..”


**


Cahaya mentari pagi mulai membiaskan langit kelamnya malam. Beberapa orang saja yang baru nampak keluar


dari kamarnya. Dua Kakek-kakek dan empat nenek-nenek sih tentunya. Sementara sisanya masih belum kelihatan batang hidungnya. Mungkin karena begitu larut para anak muda dan yang tak lagi muda namun usianya masih dibawah para kakek dan nenek itu bercengkrama hingga larut malam.


Bahkan Subuh ini tidak ada subuh berjamaah yang biasanya dilakukan jika mereka sedang berkumpul semua di


Kediaman Utama termasuk sepasang pentolan Keluarga Cemara, tapi terkecuali Papa Lucca, Mama Fabi dan Adrieanna yang berbeda keyakinan dengan yang lainnya. Tapi tetap para kakek dan nenek yang waspada akibat umur yang sudah renta menunaikan kewajiban mereka di kamar masing-masing.


Tidak juga menggedor tiap-tiap kamar anak dan cucu mereka, hanya nanti saat berkumpul kala sarapan akan ada


celetukan interogasi, “Pada sholat Subuh ga kalian?” Entah dari Gamma atau pun dari para tetua yang lainnya.

__ADS_1


Jika ada para anak dan menantu yang menjawab tidak, maka akan ada sedikit omelan yang berbunyi..


“Orang tua itu kudu ngajarin yang bener sama anak-anaknya, apelagi kalo soal ibadah” Biasanya Ake atau Ene yang nyeletuk begitu.


Dan biasanya para anak dan menantu itu akan menyahut dengan beragam jawaban.


“Iya, bablas ketiduran lupa pasang alarm”


“Iya maap, khilap”


“Abis semaleman ditindih bebek raksasa, jadi susah bangun pas subuh..”


“Ngeles aje kayak bajaj .. udeh pada tua inget!” – Ene Bela itu sih yang suka nyeletuk begitu.


“Iyaa!” Para anak dan menantu selalunya kompak menjawab selepas dicerocosin.


“Ambil yang baik-baik aja dari Dads dan Moms kalian, yang jelek-jelek jangan..” Nah itu biasanya Oma Anye atau Nenek Yuna yang bicara begitu.


Dan para cucu akan kompak juga menyahut ‘iya’ atau manggut-manggut saja.


Lalu akan ada sahutan lagi, “Jangan iya-iya aja!”


Yang kemudian disusul oleh nasihat bijaknya Gappa.


Baru setelahnya acara sarapan akan kembali normal, dengan obrolan dan candaan kadang yang ga berfaedah.


**


Kala matahari sudah mulai kian nampak dan cuitan burung-burung terdengar, baik burung liar maupun burung


peliharaan yang ada didalam sebuah sangkar besar yang terletak di pekarangan belakang maupun depan, kecuali burung-burung yang tidak bisa ber-cuit tapi bisa membesar dan memanjang pada waktu-waktu tertentu, para penghuni lain selain para kakek dan nenek yang sudah bangun duluan kini mulai keluar dari kamarnya masing-masing.


Rata-rata para penghuni Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith akan keluar kamar dengan keadaan yang


sueger dan wangi. Yang memang sudah jadi kebiasaan masing-masing orang. Kecuali jika ada niatan berenang pagi, nah mandinya ditunda dulu sampai selesai berenang nanti.


Para bocah sih biasanya.


Sarapan pagi masih digelar di area pekarangan belakang kediaman, namun bukan dimeja jamuan, tetapi didekat


kolam renang.


Si kembar Avaro dan Alisha, Aina dan Ares sudah asik nyebur di kolam renang dengan Mami Prita, Daddy Jeff dan Mom Ichel yang mengawasi mereka.


Kini semua penghuni Kediaman Utama sudah berkumpul di area pekarangan dekat kolam renang dan masing-masing sudah memegang piring yang berisi sarapan yang berbeda-beda sesuai apa yang disajikan pagi ini.


“Abang sama Kak Drea tidak ikut sarapan bersama kita disini?”


“Aku susulin dulu deh mereka ke kamarnya”


Nathan langsung menimpali ucapan yang berupa pertanyaan dari Rery sebelum ada yang sempat menjawabnya.


Nathan hendak beranjak pergi dari area kolam renang setelah menyuap sesendok bubur ayam dari mangkok yang


dipegang oleh Via, namun langkahnya tertahan karena suara Mama Fabi yang melarangnya.


“Don’t!... (Jangan!)...”


“Memang kenapa, Mam?”


“Bisa saja mereka berdua masih tidur” Poppa menyambar untuk menjawab Nathan. “Kita tidak tahu jika mungkin saja mereka berdua berbicara semalam dan mungkin juga baru tidur”


Nathan pun manggut-manggut.


“Iya juga sih!.. mudahan aja si Cute Girl luluh hatinya abis kita orang kasih pencerahan semalam”


Nathan menyendok lagi bubur dalam mangkok yang tadi dipegang Via dan kini sudah Via berikan padanya.


“Mau kemana Vi?” Tanya Nathan karena Via hendak beranjak menuju meja yang tersaji hidangan untuk sarapan.


“Mau ambil apa?”


“Sama, bubur juga”


“Ini aja berdua aku”


“Nanti kamu ga kenyang”


“Tinggal tambah! ...” Sahut Nathan lagi. “Semangkuk berdua. Susah senang kita tanggung bersama! ..... bukan


begitu sayangku, Kevia?”


“EEEAAA!!!....”


Nathan dengan selingan kekonyolannya sembari cengengesan yang membuat Via geleng-geleng sembari terkekeh, termasuk mereka yang berada didekat Nathan yang jadi cekikikan.


Dan Mami Prita menimpali celotehan si Tan – Tan itu. “Receh banget bule gila anaknya!”


“Hahahaha!!! ...”


Tertawa lah mereka pada akhirnya.


“Terus tadi itu soal pencerahan ke Little Star, pencerahan gimana?” Itu Papi yang nyeletuk bertanya, setelah puas tertawa.


“Ya, waktu kalian pada kumpul di ruang keluarga pas aku mau ambilkan dessert buat kalian itu, kebetulan para kakek dan nenek yang blaem-blaem itu plus para Moms yang ruar biasaa en biasah diluar itu lagi nasehatin Drea soal sikapnya ke Abang”


Nathan yang menjawab duluan.


“Iye, kita orang kasih pengertian gitu sama Drea biar jangan sampe dia benci sama Abang sekaligus terlalu menghakimi Abang” Timpal Mami Prita.


Papi John pun manggut-manggut termasuk Poppa dan Daddy R yang berada didekatnya. “Tapi seharusnya kalian kan tidak membahas itu pada Little Star?.. Bukankah Abang sudah mengatakan untuk tidak membahasnya dan membuat Little Star menjadi terbebani dan tertekan nantinya?”


Daddy R mengingatkan.


“Sepertinya sih tidak akan sampai seperti itu, Hon ... sewaktu kami membahas soal masalahnya Little Star dan Abang, Little Star sendiri tidak menunjukkan kemarahan atau ketidak sukaan kok. Dia bahkan bilang tidak akan sampai membenci Abang” Mommy Ara menimpali.


“Syukurlah kalau begitu...”


Ada kelegaan yang tampak di wajah Daddy R, Poppa dan Papi John.


“Hopefully there’s something good about them today ...(Semoga ada kabar baik dari mereka hari ini) ....”


Mama Fabi berucap dengan penuh harap yang diaminkan oleh mereka yang berada didekatnya saat ini.


“Sepertinya sangat baik!” Celetuk Nathan dengan tersenyum lebar, lalu menunjuk ke arah dari dalam rumah dengan


kepalanya berikut mulutnya yang ia monyong kan.


“Abang sama Kak Drea sudah baikan, yeay!!! ....” Valera berseru sumringah yang ikut melihat pemandangan yang bikin adem dari dalam rumah.


“Alhamdulillah ...”


“Syukurlah ...”


Ucapan yang spontan terlontar dari semua orang kala melihat Varen dan Andrea datang dengan kemesraan yang biasanya selalu terlihat dari keduanya.


“Selamat pagi semua ...”


“Pagi ....”


“Morning ...”


Varen dan Andrea menyapa semua orang dengan senyuman yang menampakkan bahagia di wajah mereka, dan disambut dengan rona bahagia dari semua orang juga, melihat Varen yang datang dengan menggendong belakang Andrea seperti yang biasanya dia lakukan dengan senyum yang nampak sumringah.


Andrea minta diturunkan di tempat dimana Poppa dan beberapa orang yang barusan mengobrol bersamanya

__ADS_1


berada, duduk diantara Poppa dan Daddy R.


Lalu Varen beranjak untuk mengambilkan sarapan untuk Andrea dan dirinya dalam satu piring seperti seringnya juga.


“Sudah merasa lebih baik?”


“Sudah Poppa”


“Glad to hear itu, Baby ... (Senang mendengarnya, Sayang ....)”


“Iya Dad....”


Andrea merengkuh manja Daddy R yang merengkuhnya balik sembari tersenyum lebar.


“Drea sudah merasa lega sekarang .... sedih juga lihat Abang. Ga tega ...”


“Lain kali kalo Abang, melakukan sesuatu jangan dulu dipandang sebelah mata Ya’ ...”


Nathan berucap.


“Iya Tan – Tan” Sahut Drea.


“Karena jalan tol dalam kota dikabarkan padat ...” Kata Nathan. “Kalo lo cuekin Abang sampai empat belas purnama Ya’, Kamu jahat!”


“EEEAAA!!!....”


“Ranggaaaa Kaliii aaaahh!!!”


**


Senyuman menghiasi wajah semua orang pagi ini. Kehangatan sinar ramah mentari pagi, mengurai juga pada


setiap anggota Keluarga Adjieran Smith yang sedang berkumpul dan bercengkrama itu.


“Ngomong-ngomong soal orang-orang yang menculik Via dan Drea itu sudah dipenjarakan sama semua


komplotannya?” Nenek Yuna bertanya.


Mereka yang mendengarnya manggut-manggut, terutama para pria yang terlibat langsung memberantas orang-orang yang sebagian sudah dilibas habis oleh mereka. “Sudah Bu .... Ibu tenang saja. Sudah diurus itu semua. Jadi tidak perlu dipikirkan apalagi dikhawatirkan lagi.... Kami sudah mengurus mereka semua”


Nenek Yuna pun manggut-manggut, termasuk para nenek dan ake yang tidak tahu persis apa yang sudah para anak ataupun menantu laki-laki mereka itu sudah lakukan, termasuk dua cucu laki-laki mereka yang paling besar.


“Memang kenapa, Bu? ....”


“Ga apa-apa kalau memang sudah selesai semua, Ibu sih mau mengusulkan kita mengadakan syukuran


kecil-kecilan aja.... ya walaupun ada musibah juga yang menimpa Abang dan Drea, tapi kan semua sudah baik-baik saja sekarang?.... Jadi kenapa kita tidak membuat acara syukuran, agar keluarga ini lebih baik ke depannya ....”


Semua orang menyetujui usulan Nenek Yuna.


“And after that, we can establish a repast. (Dan setelah itu, kita bisa mengadakan sebuah jamuan makan)”


“Liburan aja Gappa!....”


“Aku setuju dengan Mika!....”


Varen mendukung usulan Mika, yang kemudian di iyakan oleh para anggota keluarga yang lain.


“Pesiar kita?....”


“Nah iye bener-bener tuh.... udeh lama Ene kaga naek itu kapal gede! Setuju Ene ama usulan si Tan-Tan!”


“Nah ya udah kita Pesiar aja! ... sekalian ajak aja semua orang yang sudah ikut berkontribusi membantu


menyelamatkan Drea dan Via. Kan hitung-hitung mereka sudah berjasa sama keluarga kita? .... Gimana? .... Sekaligus mengeratkan tali silaturahmi, kan? ....”


Mama Jihan menambahkan.


“Setubuh! Eh setuju!”


Celetukan kepeleset dari mulut Papi John.


“Ye, bule koplak. Udah tua otak mesum ga ilang-ilang!”


“Macam suami lo ga mesum saja, Kajol!” Sahut Papi. "Tuh, sama seperti si Boogeyman!. Makin tua makin mesum!"


"Do not involve me, okay?!. (Jangan bawa-bawa aku, oke?!)" Protes Papa Lucca yang sedang menikmati sarapannya.


Cekikikan pada akhirnya. Dan Gappa pun bersuara. “Okay, deal! We’re going to take a Cruise. (Oke, setuju, kita akan berpesiar)”


Perencanaan liburan dengan kapal pesiar pun dibicarakan langsung oleh semua.


“Okay, soal pesiar sudah deal semua ya?”


“Yes!”


“Lalu kalian para wanita?. Ada lagi yang kalian inginkan?”


“Ah iya, R benar. Kalian katakan sekarang jika ada yang diinginkan. Terutama kamu, Heart. Nanti merajuk dan bilang aku sudah hilang perhatianlah, hilang kasih sayanglah! Jika ada yang kamu inginkan katakan saja sekarang”


“Duh, Poppa emang suami pengertian dah ah!”


Dagu Poppa ditoel Momma yang kemudian menarik Momma dalam pangkuan. Suka lupa umur kalo soal keuwuan.


“Gitu dong .... sering-sering tanyain istri tuh mau apa. Tiap hari kalo perlu! Bukan begitu gengs?!”


“Betul itu Kajolita, sering-seringlah membahagiakan istri, biar rezeki kalian lancar!”


“Cakeeeppp Ibu Peri!!!!....” Timpal Momma. “Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui ....”


“EEEAAA!!!....”


“Jangan bikin hati istri mendung, karena kalian para suami takkan bahagia bila hati istri tersakiti”


“EEEAAA!!!....”


“Sa ae lo Jol!”


“Ck! Kapan kalian kami sakiti, hem?” Celetuk kemudian Poppa kemudian.


“Ya kali ada niatan. Kami kan para istri dah semakin tua, mungkin aja kalian bosan?”


“Sembarangan saja!”


Poppa memencet gemas hidung Momma


“Memang! Sembarangan kalau bicara!”


Daddy R ikut menimpali.


“Kalian tahu persis kalau kami para pria dalam keluarga ini, tidak dapat hidup tanpa kalian wahai para wanita ahli kunci hati kami!”


“Tahu nih kalian, curiga saja terus! Padahal kurang setia apa kami selama ini pada kalian, coba?!”


“Hah! Betul itu yang si bule koplak katakan!”


“Karena apa, Tan?”


“Karena kami tanpa kalian, bagaikan ambulan, tanpa uwiw-uwiw”


**


To be continue ...


Road to an End

__ADS_1


Menuju Akhir Cerita


__ADS_2