THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 79


__ADS_3

  SYUBIDUPPAPPAW  ## Bagian 2 ( Dua )


 


PART INI  SEDIKIT MENGANDUNG UNSUR KEDEWASAAN YANG BISA BIKIN DUDUK KAGA TENANG 😄😄😄


AWAS MUPENG !!!


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat membaca...


John sudah berada didalam kamarnya. Ia tersenyum mendapati Prita yang sedang duduk disofa sambil menonton televisi.


“Hey, Sugar.... aku pikir kamu sudah tidur.”


Prita tersenyum. “Prita tunggu Kak John.”


John menarik Prita dalam pelukannya.


“Kenapa, hem?.”


“Kenapa apanya?.”


John meraih dagu Prita. “Wajah kamu tegang.” Cup!. John mengecup pipi istri kecilnya itu. “Sudahlah Sugar, jangan terlalu dipikirkan.”


“Soal?.”


“Menjalankan kewajiban kamu sebagai istri. Aku akan melakukannya saat kamu sudah siap. Dan selama kamu belum siap, aku akan sabar menunggu. Jadi jangan terlalu dipikirkan, hem?. Aku tidak ingin melihat kamu tertekan.” Prita tersenyum mendengar ucapan John sambil memandangi wajah suaminya itu.


“Prita bukannya tertekan Kak.” Ucap Prita. “Prita hanya gugup.”


“Ya sudah, pokoknya jangan terlalu kamu pikirkan ya?.”


John membelai lembut wajah Prita.


“Istirahatlah. Aku mau mandi dulu. Tidur duluan ga apa – apa.” Ucap John.


Prita mengangguk. “Prita ambilkan baju ganti buat Kak John kalau gitu.”


John mengangguk lalu melangkah menuju kamar mandi.


***


Prita sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya di dalam walk in closet. Saat ini ia sudah membaringkan dirinya diatas ranjang, namun matanya belum ia pejamkan. Jantungnya mulai berdebar saat pintu kamar mandi terdengar dibuka.


Jantung Prita juga makin berdebar saat John sudah keluar hanya dengan sebuah handuk yang terlilit dibagian bawahnya.


Prita meneguk salivanya. Tubuh six pack suaminya dengan rambut yang setengah basah itu sedikit banyak membuat gelenyar aneh muncul didalam dirinya. John tersenyum mendapati Prita yang sudah berada di ranjang, dengan selimut yang menutupi dirinya.


‘Sabar.. sabar...’ John menguatkan dirinya dalam hati, meski rasanya ia enggan untuk berjalan ke dalam walk in closet dan memakai baju. Rasanya ia ingin belok langsung ke atas ranjang dan menyingkap selimut yang menutupi tubuh istri kecilnya itu.


“Pakaian Kak John sudah Prita siapkan di walk in closet.” Suara Prita membuyarkan lamunan John yang kemudian tersenyum pada istri kecilnya itu.


“Iya. Makasih ya, Sugar.” Ucap John yang kemudian langsung berjalan menuju walk in closet.


**


“Kak...”


John baru saja mengenakan bawahan piyamanya, saat sebuah suara wanita yang sangat tidak asing ditelinganya membuat John menoleh dan terpaku di tempatnya sambil menelan salivanya. Menatap suatu pemandangan indah sekaligus membuat jantung John berdebar menuju kencang.


“Prita ... sudah siap kalau Kak John mau melakukannya sekarang.”


“Sugar .... kamu .....”

__ADS_1


Prita tersenyum dengan manisnya pada suami yang kini sedang memandanginya dengan wajah yang terkejut dan suara yang sedikit terbata. John memang nampak sangat terkejut setelah ia menengok saat mendengar suara Prita memanggilnya dan mendapati kalau istri kecilnya itu kini tengah berdiri di pintu walk in closet dengan hanya menggunakan gaun tidur tipis yang mengekspose lekukan dan bagian atas tubuhnya.


Wajah Prita sudah terlihat merona. Ragu – ragu, namun ia tetap berjalan mendekati suaminya dengan senyuman yang Prita rasa terbaik untuk ditunjukkannya pada John.


‘Ga masalah kalo istri yang mulai duluan, Priwitan. Paling kaga lo kasih kode lah ke laki lo. Lagian, nakal dikit sama suami sendiri sah – sah aje, kok!.’ Ucapan Fania tadi terngiang lagi di otak Prita.


“Um ... apa Prita terlihat aneh... Kak?.” Tanya Prita saat sudah berada dihadapan suaminya yang memandanginya hampir tanpa kedip itu.


“No Sugar, you... you look amazing...... ( Tidak Sayang, kamu .... kamu terlihat menakjubkan ... ).” Puji John. ‘Dan meng - g*****hkan.’ Batinnya sambil lagi ia menelan salivanya lagi karena, gaun tidur Prita yang tipis serta berpotongan leher rendah itu membuat sepasang aset indah sang istri sudah nampak jelas karena Prita yang sudah berada cukup dekat dengannya saat ini.


Ditambah John yang jauh lebih tinggi dari Prita, jadi mata John dengan mudahnya dapat melihat dua bukit milik Prita bila ia menurunkan pandangan, meski baru dari atasnya saja.


Meski juga sudah sempat melihat dan merasakannya tadi sore, tapi tetap saja, penampilan Prita saat ini sudah mulai mengobrak – abrik jiwa kelaki – lakiannya.


“Prita sudah siap, Kak ...” Prita mengulang kembali ucapannya diawal sambil memberanikan diri menyentuh dada polos suaminya dengan satu telunjuknya.


John menatap lekat – lekat wajah dan mata Prita.


“Apa kamu yakin, Sugar?.”


“Iya Kak....”


Tatapan mata dan suara Prita sudah membuat John menggelap.


“Aku tanya sekali lagi. Yakin sudah siap untuk memberikan hak aku sebagai suami kamu?.”


Prita mengangguk yakin sambil menatap wajah suaminya.


John sudah mengurung tubuh Prita yang punggungnya kini sudah rapat di dinding walk in closet.


Wangi mint dari nafas John sudah menguar di hidung Prita. Wajah John yang sudah tertunduk itu sudah berada dekat dengannya.


“Jika memang begitu ... jangan menangis nanti, karena walaupun kamu menangis, aku sudah tidak akan mau untuk berhenti.”


John tanpa lagi menunggu menarik tengkuk Prita. Menempelkan bibirnya dan bibir Prita.


Prita sudah membalas ciuman sang suami yang terasa manis untuknya. Saling bermain dengan semangat, sampai kemudian lidah mereka bertemu dan saling juga menyentuh. Membuat keduanya makin merasa lebih panas dari sebelumnya.


John memperdalam ciumannya. Memainkan bibir Prita sedikit kasar sebentar, lalu melepaskannya karena istri kecilnya itu nampak sedikit tersengal. Namun John tak lama – lama membiarkan bibir merah muda itu menganggur. Hanya sepersekian detik, kemudian John menyambar bibir Prita lagi sambil kedua tangannya mengangkat tubuh Prita ala Bridal Style dan membawanya ke ranjang tanpa melepas ciuman mereka.


Kini John sudah mengunci posisi Prita dibawahnya yang sudah ia baringkan diatas ranjang mereka.


John sudah melepaskan bibir Prita yang sedikit nampak bengkak itu, lalu membelainya perlahan. Kemudian telunjuknya bergerak turun hingga sampai ke garis belahan gaun tidur Prita.


Prita memejamkan matanya saat John meremas gemas dua aset berharganya bergantian. Ia juga menggigit bibir bawahnya saat John mulai menurunkan gaun tidurnya. Jantung Prita makin berdegup kencang. Begitu pula John saat gaun tidur Prita sudah tak lagi melekat ditubuh istri kecilnya itu.


Nafas John makin memburu saat bagian atas tubuh Prita terekspose dengan sempurna, karena tak ada lagi kain penghalang di balik gaun tidur yang dipakai Prita tadi. Hanya ada satu penutup dibagian inti saja.


John sudah tak sabar. Tak menyia – nyiakan kesempatan. Ia mulai lagi mencumbui istrinya. Seluruh wajah Prita tak luput dari sentuhan bibir dan tangannya, lalu bergerak turun untuk mengabsen setiap inci tubuh sang istri.


Prita kian menggelinjang dengan serangan John di seluruh tubuhnya itu. Tangannya meremat rambut John dan kadang menekannya kuat. Membuat John menyeringai mengetahui sang istri yang sudah kian terbakar seperti dirinya.


Prita menahan nafasnya saat John melepaskan kain yang menutupi intinya. John bergeser ke sisi ranjang, melepas bawahan piyamanya dan kini ia pun sama polosnya dengan Prita.


Prita tak lagi berpaling saat suaminya itu kini sudah polos sepenuhnya seperti dirinya. Meski senjata John membuatnya sedikit ngeri dan tanpa sadar ia menelan salivanya.


John sudah kembali ke posisi awalnya di atas tubuh Prita. Mengurung tubuh ramping istri kecilnya lagi. Mencumbuinya sebentar dengan bibir dan tangannya. “Relax hem?.” Ucap John sambil memandang Prita lekat – lekat.


Prita pun mengangguk pelan dan pasrah.


John kembali mencumbui Prita sebentar, membuat tubuh Prita kembali menggelinjang tak karuan sambil memeluk leher John dan mengeluarkan desahan tanpa sadar meski masih sedikit tertahan. John sudah tak sabar, tak kuat. Matanya bukan lagi berkabut, sudah terlalu gelap.


“Lakukan apapun padaku, jika memang masih sangat sakit. Karena kali ini aku tidak akan berhenti.”


Prita hanya mengangguk saat John berbisik barusan.

__ADS_1


“Akh!.” Prita mengerang saat John mulai memasukinya.


“Sugar ....” John mendorong dengan perlahan dan sangat hati – hati. Meski rasanya dia sudah hampir gila, namun John tidak ingin menyakiti Prita, meski mungkin akan terasa sulit untuk John menahan dirinya agar tidak menjadi tak terkendali diatas tubuh istri kecilnya ini.


Meski tadi sore, rasanya ia sudah menembus sedikit, namun saat ini masih terasa ada yang masih menghalangi saat ia hendak menerobos lebih dalam.


John menekan kembali  dengan perlahan.


Prita mengerang lagi hingga berteriak sambil mencengkram kuat punggung John. Mencakarnya bahkan. Sedikit ada perih yang John rasakan dipunggungnya, namun ia tidak perduli. Rasa nikmat itu mengalahkan segalanya. “Ma – masih sakit Kaak ...” Ucap Prita terbata dileher John sedikit terengah – engah.


“Ma – maaf ..”


John mencoba memenangkan Prita dengan mengecup kening, mata, pipi dan bibirnya. Ia tahu kalau ia sudah berhasil masuk sepenuhnya dan tak mungkin untuk mundur lagi. Cengkraman Prita yang begitu ketat dan hangat dibawah sana teramat sangat nikmat hingga membuat seluruh tubuh John rasa tersengat aliran listrik yang hebat.


John mendiamkan sebentar miliknya. Membuat Prita agar bisa dan terbiasa menerimanya. John mulai bergerak perlahan setelah dirasa Prita sudah sedikit tenang. John menghapus sebulir air mata Prita dengan bibirnya sambil ia terus bergerak secara perlahan. Gerakan John yang perlahan itu, lama - lama kian menaikkan temponya.


John menjadi sedikit tak terkendali, ah bahkan amat sangat tak terkendali.  Membuatnya kini perlahan tapi pasti semakin hampir tak terkendali. Prita tak sanggup menahan desahannya. Meski masih ada rasa sakit yang ia rasa, namun sakit itu hampir tertutup dengan kenikmatan yang sedang dibagi oleh John padanya.


Nafas keduanya sudah mulai tak beraturan.


“Kaaakk .... “ Prita mencengkram lagi punggung John. Pelepasannya akan datang dan John tahu itu.


“Sebut namaku, Sugar ....”


“Kak John.....”


“No, just my name! ....” John menghentak dalam dalam


“Akh!... Joooohhhhnnn ....”


Prita menjerit di pelepasan pertamanya yang terasa begitu dahsyat untuknya. Namun John masih bertahan. Prita yang masih mencoba untuk bernafas dengan benar itu kembali dibuat melayang diantara rasa perih dan nikmat bersamaan.


“Oh, Sugar .....” John berbisik gemas.


Prita sudah lagi hampir mencapai pelepasan keduanya. Rasanya ia akan pingsan kalau John tak juga berhenti.


“Kak, aku ga kuat lagi...”


“Tahan sebentar sugar ....”


John pun sudah hampir sampai pada batasnya. Masih bergerak dengan cepat diatas Prita hingga rasanya gulungan ombak yang sudah ada diatas kepalanya membuat ia menyentakkan sekali dengan keras sambil mengalirkan benih ke rahim istrinya. Berharap salah satu benih itu akan bisa tumbuh menjadi calon bayinya dan Prita.


John pun ambruk diatas Prita. Membenamkan wajahnya di ceruk leher Prita sambil mengatur nafasnya. Masih membiarkan dirinya menyatu Prita.


Nafas John dan Prita masih terdengar tersengal – sengal. Terlebih lagi Prita yang bahkan masih memejamkan matanya setelah tadi John benar – benar membuatnya lemas.


John tersenyum puas di ceruk leher Prita yang sangat berkeringat itu.


Kini John benar – benar merasa bahagia, karena Prita sudah menjadi miliknya secara utuh.


John bergeser ke samping setelah nafasnya sudah mulai teratur. Membawa kepala Prita untuk berada didadanya.


John membuat Prita mendongak agar menatapnya.  “I love you, Prita Eriselena.” Mencium sekilas bibir Prita.


“I love you too .. “


“Jangan lagi panggil aku, Kak.” John sudah keburu protes.


“Om?...” Prita terkekeh.


“Wah minta diperkosa.” John ikutan terkekeh. “Panggil nama aku aja, tanpa embel – embel 'Kak'..”


“Ya udah kalau begitu ..” Ucap Prita. “I love you, too... Papi ..”


***

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2