
PROCESS
( Proses )
♦♦♦♦♦♦♦♦♦
Selamat membaca..
Kediaman Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia....
Suasana di dalam Kediaman diliputi kegelisahan dan kekhawatiran yang teramat sangat setelah Daddy Jeff sampai setelah menjemput Mama Jihan dan langsung membawanya kembali ke Kediaman, lalu menceritakan hal yang telah menimpa Kevia.
Ditambah satu kabar lagi soal Andrea yang belum lama Daddy Jeff dapatkan membuat semua orang di Kediaman Utama, semakin merasa gelisah dan khawatir juga takut pada keselamatan dua putri mereka.
“Kamu beristirahat dulu Mama Bear. Soal Via dan Drea serahkan pada kami. Kalian tunggulah. Akan mereka berdua pasti akan kami selamatkan. Tidak akan kami biarkan sesuatu yang lebih buruk menimpa mereka”
“Kamu mau kemana?”
“Menyusul R dan Andrew”
“Aku ikut Kak”
“No Chel, lo disini temani Jihan bersama Prita dan Ibu. Toh anak – anak juga harus dijaga. Dan lagi ...”
“Kak Fania!”
Mami Prita berseru saat melihat Momma yang datang dan nampak tak sadarkan diri dengan dibawa oleh seorang
Bodyguard bersama Mommy Ara bersamanya juga.
“Ya Allah, Fania!”
“Dia ga apa – apa, nanti aku ceritakan”
“Berikan dia padaku, Rav!”
“Iya, Tuan Jeff” Bodyguard tersebut menyerahkan Momma pada Daddy Jeff yang langsung dibawa ke kamar pribadinya dan Poppa.
****
“Kamu pergilah beristirahat Ra”
Daddy Jeff berbicara setelah meletakkan Momma diatas ranjang pribadi Momma dan Poppa.
“Kamu juga Ji”
Daddy Jeff juga menyarankan Mama Jihan untuk beristirahat seperti halnya Mommy Ara, setelah Ibu Peri mengatakan segala hal yang terjadi hingga Momma sampai dibuat tak sadarkan diri begini oleh Poppa.
“Aku harus disini menjaga Fania, Jeff. Jika kalian belum kembali membawa Drea dan Via dan Fania keburu sadar, meski Andrew bilang Fania akan cukup lama tak sadarkan diri. Aku harus memastikan kalau Fania jangan sampai meninggalkan Kediaman untuk mencoba menyelamatkan Drea dan Via”
Mommy Ara menambahkan penjelasannya. Daddy Jeff, Mama Jihan, Mami Prita, Mom Ichel dan Nenek Yuna
manggut – manggut.
“Aku dan Prita akan menjaga Kak Fania” Ucap Mom Ichel.
“Iya bener” Sahut Mami Prita. “Kak Ara, Kak Jihan istirahat aja dulu sebentar”
“Prita benar. Kamu dan Ara lebih baik istirahat saja terlebih dahulu. Aku akan menempatkan beberapa orang di bawah kamar ini dan beberapa orang yang akan aku minta menyebar di beberapa bagian kediaman, just in case Fania sudah terbangun sebelum kami kembali dan dia bersikeras untuk pergi menyusul”
“Ya sudah kalau begitu”
“Kalian baik – baik di rumah. Aku pergi dulu”
***
Sementara itu di tempat lain...
Varen dan Nathan sudah sampai di sebuah Rumah Sakit swasta dimana Niki dibawa oleh orang – orang yang
menyelamatkannya kala menemukan ia terluka di sebuah jalanan sepi dekat kampus Andrea.
Varen sudah melihat keadaan Niki yang meskipun belum sadar akibat biusan, namun luka tusukan di perutnya
tidak terlalu dalam jadi kondisi Niki tidak terlalu fatal, selain bekas – bekas pukulan di sekitar dada, perut, serta wajahnya.
Varen dan Nathan juga sudah berbicara panjang lebar dengan orang yang menemukan Niki dan tidak ada petunjuk
soal Andrea dari orang tersebut.
“Mar, tempatkan seseorang disini untuk menemani dan menjaga Niki”
“Baik Tuan”
“Berikan orang yang menolong Niki kompensasi, kau lihat saja dulu kondisinya”
“Ya Tuan” Sahut Ammar lagi.
“Kirim orang untuk mengikutinya juga”
“Baik Tuan”
“Lo curiga sama orang itu, Bang?”
“Tidak memang. Gue ga merasa ada yang ganjil dari sikapnya tadi. Hanya, antisipasi diperlukan”
“Sony call nih!”
Ponsel Nathan berdering dan Varen mengangguk, kemudian Nathan langsung menjawab panggilan Sony.
Disaat yang bersamaan Rendy dan Marsha datang ke Rumah Sakit tempat Varen dan Nathan berada sekarang.
Kemudian ketiganya berbicara serius, saat Nathan juga sedang berbicara dengan Sony dalam panggilan telepon.
***
Nathan sudah menyelesaikan panggilan teleponnya, dan Varen menyelesaikan pembicaraannya dengan Rendy dan Marsha lalu mendekati Nathan.
“Ponsel sama tas Drea memang masih di mobil. Lengkap semua isinya. Sony juga udah ngecek kamera mobil,
__ADS_1
gambar Andrea ga ke ambil, tapi gambar orang – orang yang menghajar dan menusuk Niki lumayan jelas terlihat”
Nathan menjelaskan hasil pembicaraannya dengan Sony.
“Ada mobil yang tertangkap di kamera mobil Niki. Ada kemungkinan itu mobil yang bawa Drea”
“Tipe mobil dan nomor polisinya dapat?”
“Tipe mobil Sony udah bisa memastikan, kalau plat sedang di cari tahu dengan jelas, agak buram soalnya”
“Okay!”
Kemudian suara deringan ponsel Varen terdengar dan Varen langsung mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya.
‘Poppa’ yang nampak di layar ponsel Varen dan dengan cepat Varen menerimanya.
****
Nathan langsung bertanya setelah Varen selesai berbicara di telepon dengan Poppa.
“Poppa bilang apa Bang?!” Tanya Nathan gusar dan tak sabar.
Nathan sudah diberikan penjelasan soal penangguhan penyelamatan Via, karena demi Drea juga.
Nathan pun menerima, karena bagaimanapun Via dan Drea sama pentingnya bagi Nathan dengan porsi yang berbeda.
“Papi dan Daddy Boo – Boo sudah mendapatkan informasi soal kemana Via dibawa dan kemungkinan Drea sudah
juga ada disana”
“Kita kesana sekarang?!”
Varen mengangguk cepat dan langsung juga berjalan cepat untuk keluar dari Rumah Sakit.
“Gue ikut!” Rendy mengajukan diri.
“Ayo!” Sahut Varen pada Rendy.
****
Di tempat yang berbeda lagi ....
Andrea masih berpura – pura pingsan saat mobil yang membawanya ia rasakan sudah berhenti.
Otak cantik Andrea masih menimbang – nimbang untuk apa yang seharusnya ia lakukan saat ini, sembari
memasang telinganya baik – baik untuk mengetahui situasi disekelilingnya.
Andrea mendengar suara pintu mobil terbuka.
“Biar aku yang membawanya!”
Andrea mendengar pria yang disampingnya yang ia tahu dan dia yakini adalah tangan kanan Dilara itu berseru disampingnya.
Lalu kemudian pria itu melepaskan ikatan tangan Andrea. Namun Andrea masih tetap diam.
‘Ck! Terpaksa gue biarkan ini orang mengangkat gue’ Batin Andrea saat tubuhnya ia rasakan melayang dan
sepasang tangan berasa dipunggungnya serta dilipatan lututnya.
Andrea tak punya pilihan, karena ia tidak bisa menerka jelas berapa orang yang ada di dekatnya kini dan mau dibawa kemana dirinya itu. Andrea menahan dulu keinginannya untuk membebaskan diri.
Andrea berpikir nantinya pasti dia akan ditempatkan pada suatu ruangan dan setelahnya baru ia akan
memprediksikan semua hal yang akan ia lakukan.
“Kau! Ikut aku menemui Ibu! Jika gadis ini kenapa – napa kau harus menanggungnya!”
“Ba – ik Tuan ....”
‘Ugh! Dilaraa.... sebelum Abang dan Dads datang menyelamatkan gue, gue akan lebih dulu mencari cara untuk
mencabik – cabik muka lo itu!’
Andrea membatin geram.
‘Sekalian nanti gue suruh Abang potong tangannya ini orang! Berani gendong gue!’
****
Di tempat lain lagi......
Varen, Nathan, Ammar dan Rendy sudah dalam perjalanan menuju tempat yang diberitahukan oleh Poppa tadi.
“Jadi bener, ini soal perdagangan gadis – gadis muda untuk dijadikan pe**cur?!” Tanya Rendy pada Varen dan Nathan didalam mobil.
“Ya. Tidak hanya itu”
Abang menjawab.
“Mereka juga melakukan Human Trafficking, terutama anak – anak”
“BA**SAT BANGET ITU ORANG – ORANG!”
Rendy geram sekaligus muak.
Varen dan Nathan sama mengangguk, namun pikiran mereka sedang pada masing – masing wanita tercinta mereka saat ini.
Soal kasus perdagangan prostitusi gelap dan pedagangan anak – anak kecil akan mereka urus setelah mereka berhasil menyelamatkan kedua wanita tercinta mereka.
Seperti itu yang kini dalam pikiran Varen dan Nathan.
‘Tunggu aku Little Star, aku datang sebentar lagi. Bertahan ya sayang?’
‘Maaf Vi, maaf. Seharusnya aku mendampingi kamu ke Panti hari ini’
Varen dan Nathan sama – sama sedang membatin dalam hati mereka.
“Siapa yang sudah sampai di lokasi Bang?”
__ADS_1
“Orang - orang kita masih dalam perjalanan bersama Papi dan Daddy Dewa”
“Daddy Jeff, Poppa dan Daddy R?” Tanya Nathan lagi.
“Mereka sedang mengurus dua orang yang memback up Dilara, setelahnya langsung menyusul. Kita juga tidak boleh sampai mencolok. Bagaimanapun kita belum tahu situasi pastinya, jangan sampai Little Star dan Via menjadi semakin dibawah ancaman jika mereka menyadari ‘keberadaan’ kita”
Nathan manggut – manggut, begitupun Rendy setelah mendengar ucapan Varen.
“Tuan” Ammar bersuara setelah tadi ponselnya berdering dan ia berbicara di telepon.
“Ya Mar?”
“Orang kita sudah berhasil mendapatkan informasi keberadaan Dara”
“Good. Dimana?!”
“GH, Tuan”
Ammar menjawab cepat.
“Gadis yang bernama Lala?”
“Ada juga di GH Tuan. Wanita kepala panti beserta orangnya yang membawa Dara juga ada bersamanya disana”
“Emali Kurang Ajar!! Ga Tau Diri!!!!”
Rendy nampak semakin geram.
“Jadi bagaimana Tuan Alvarend?”
“Keluarkan Dara dari sana. Bawa dia dan gadis bernama Lala ke Rumah Sakit”
“Bawa mereka ke Rumah Sakit tempat gue dan Marsha praktek!”
“Lo call Marsha”
“Oke!”
“Selanjutnya Tuan?”
“Aku akan menghubungi Uncle Rico dan Uncle Sean dulu”
“Baik Tuan”
***
Varen telah selesai menghubungi dua orang Uncle yang merupakan teman para Dadsnya, yang salah satunya merupakan orang tua dari sahabat Nathan dan juga mantan rivalnya Varen yang pernah mencoba mengejar Andrea, Sony dan Arya.
“Keluarkan Dara dan Lala sekarang, Mar. Uncle Rico dan Uncle Sean akan mengurus penggeledahan GH”
Varen menurunkan perintah pada Ammar. Ammarpun langsung menyahut sigap.
“Bawa juga wanita si kepala panti dan kaki tangannya”
“Baik Tuan Jo”
“Bawa saja mereka ke ‘Playground’ milik para Dads”
“Playground?”
Rendy sedikit gagal paham. Nathan juga belum tahu persis apa itu ‘Playground’ alias ‘Taman Bermain’ milik para Dadsnya.
Setahu Nathan, kalau tidak salah ia pernah mendengar kalau itu sebuah tempat untuk menginterogasi orang –
orang yang pernah bermasalah dengan para Dad mereka.
Tapi dimana dan bagaimana sebenarnya ‘Playground’ itu Nathan tidak pernah tahu.
Nathan belum sampai pada titik seperti Varen yang sudah capai sekarang.
Abangnya satu itu selain otaknya super tokcer, cara berpikirnya dan kerjanya sudah dapat dikatakan menyamai para Dad mereka.
“Akan gue bawa lo kesana kalau memang lo ingin tahu”
Rendy manggut – manggut menanggapi ucapan Varen. Lalu kemudian Ammar berbicara lagi.
“Untuk mengeluarkan Dara dan Lala, jika ada perlawanan dari pihak GH Tuan?”
“Bereskan ditempat”
Aura dingin sedikit terasa dari raut wajah Varen.
“Jika Uncle Rico dan Uncle Sean lama datangnya. Semua yang ada sangkut pautnya dengan Dilara, habisi saja”
Rendy dan Nathan menatap si Abang.
“Kecuali Emali dan kaki tangannya, yang lain habisi tanpa sisa. Tak perlu dikasihani”
“Baik Tuan”
“Kau paham maksudku kan Ammar?”
“Saya paham Tuan”
“Semua yang berhubungan dengan mereka yang berani menyentuh Little Starku, harus membayarnya dengan mahal”
‘Nih orang kenapa sekilas jadi nyeremin perasaan gue’ Batin Rendy.
‘Gue memang geram setengah mati pada mereka yang berani menculik Via, gue juga ga sabar ingin memberi
pelajaran pada mereka‘.
Nathan sama sedang membatin seperti halnya Rendy yang sedang memperhatikan ekspresi Varen.
‘Tapi lihat ekspresi Abang sekarang, kok gue agak – agak merinding’
****
To be continue ....
__ADS_1