THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
BONUS CHAPTER


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛


Selamat membaca ..


⬛⬛⬛⬛⬛⬛


Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London, Inggris ..


Rery sudah melangkah masuk ke dalam Mansion Utama keluarganya yang berada di London itu.


“Mister Rery?????”


Salah seorang maid di Mansion sama terkejutnya saat melihat Rery seperti para penjaga pintu Mansion, saat melihat Tuan Muda mereka yang katanya sedang pergi ke Perkebunan anggur itu tahu-tahu sudah kembali lagi ke Mansion, padahal belum beberapa lama Rery pergi keluar dari Mansion bersama orang tuanya.


“Where’s Ann?. (Dimana Ann?)...”


“In Miss Valera’s room, Sir.... (Di kamar Nona Valera, Tuan)...”


“Thanks Courtney” Ucap Rery yang kemudian melangkahkan kakinya dari hadapan salah seorang maid dalam Mansion Utama itu.


****


Rery memilih untuk pergi ke kamar pribadinya dahulu. Untuk meletakkan tas, lalu mengganti bajunya karena kaos dan jaket yang Rery kenakan sedikit basah oleh keringat.


Baru setelahnya Rery akan menyusul ke kamar Valera untuk menemui Ann.


Rery sudah meletakkan tas ransel yang tadi ia kenakan sembarang di atas sofa dalam kamar pribadinya itu.


Kini Rery juga sudah mengganti baju yang ia kenakan tadi dengan kaos santai rumahan dan hendak bergegas ke


kamar Valera.


Drrttt .... Drrttt ....


Namun langkah Rery tertahan, karena merasakan ponselnya dalam saku celana yang disetel ke model diam hanya


disetel dengan getar saja itu, terasa bergetar lama.


‘Pasti Poppa atau Momma....’


Rery mengambil ponselnya. Dan tepat seperti prediksi Rery, panggilan yang masuk dari ponselnya itu dari sang Momma.


“Benar kan? ..” Gumam Rery yang memang panggilan telepon pada ponselnya yang bergetar itu benarlah dari sang


Momma.


Wali kelas Rery memang menyimpan nomor sang Momma, yang sudah mendapat ijin langsung dari Momma dan Poppa untuk wali kelas Rery menyimpan nomor sang Momma dan menghubunginya disaat darurat atau jika memang ada hal yang penting mengenai Rery, atau bahkan Ann lewat Momma Fania.


Mungkin Rery yang membatalkan dirinya untuk mengikuti kunjungan dari sekolahnya untuk murid seangkatan Rery adalah sesuatu yang penting untuk Momma Fania tahu, menurut sang wali kelas.


Jadi Rery pun sudah menduga, panggilan telepon dari nomor Momma itu pasti berkenaan dengan hal tersebut. “Iya


Momma” Sahut Rery saat ia telah menggeser tombol hijau di ponselnya dan langsung menempelkan ponsel tersebut di telinganya.


Sesuai prediksi Rery juga, Momma yang menelpon menanyakan tentang informasi yang Momma dapat dari wali kelas Rery soal sang anak bungsu kandungnya yang meminta diturunkan dari bis wisata yang sebelumnya ia tumpangi.


“Iya benar ....”


“Aku terpikir akan Ann dan kurasa aku harus bicara padanya”


“Iya aku tahu. Aku juga sudah sampai Mansion Utama ....”


“Ada. Sedang di kamar Val ...”


“Belum. Ini baru aku mau susul. Aku meletakkan tas dan berganti baju dulu”


“Iya Momma ....”


“Love you more”


Rery kemudian meletakkan ponselnya sembarang, setelah selesai menjawab semua pertanyaan Momma dan setelah Momma memutuskan sambungan teleponnya.


***


Rery sudah melangkah keluar dari kamarnya, hendak ke kamar Valera. Namun ekor mata Rery menangkap, jika pintu kamar Ann yang memang bersebelahan dengan kamarnya itu terbuka.


“Aaaww!!!..”


Rery yang akhirnya membelokkan kakinya untuk menyambangi kamar Ann langsung saja segera berlari setelah


mendengar teriakan mengaduh kesakitan dari kamar Ann.


“Ann!”


Dimana Ann sedang meringkuk diatas ranjangnya dengan memeluk perutnya sendiri dan menggigit bibir bawahnya,


berikut wajah Ann yang nampak pucat.


“Kamu kenapa Ann??!!..”


“Sa – kiit Re – ry ..”


“Perut kamu sakit?..”


Ann mengangguk lemah.


“Jatuh atau terhantam sesuatu?!”


Ann menggeleng lesu. “I’ve got my period ( Aku sedang datang bulan )”


“Wajah kamu pucat sekali Ann..” Rery duduk bersimpuh di atas kedua lututnya sembari merapihkan rambut Ann yang berantakan.


“Sa – kiit sekali Re – ry ..” Ann meringis dan Rery pun panik.


“Kok sampai kesakitan seperti ini Ann? Bulan kemarin sepertinya kamu ga kesakitan seperti ini?”


“Sa - kiit juga biasanya, tapi kali ini lebih sakit.. Aaww!! ..” Ann mengaduh lagi dan membalikkan badannya. Rery bertambah panik karena Ann nampak sudah mengeluarkan airmata.


”Kita ke Rumah Sakit ya?!” Rery mendudukkan dirinya di atas ranjang Ann dan mengusap dahi Ann. “Sampai keringat dingin begini Ann..” Ucap Rery sembari menyeka dahi dan airmata Ann.


“A – ku ga kuat bangun Rery.. sa – kiit..” Lirih Ann sembari meringis. Rery sampai mengusap wajahnya akibat


frustasi melihat keadaan Ann saat ini.

__ADS_1


“Tunggu sebentar!” Rery bergegas bangkit dari ranjang Ann, lalu Rery menyambar ponsel Ann yang berada di atas


nakas samping ranjang Ann.


“Sa – kiit...”


“Halo, Mam?...”


Rery kemudian berbicara panjang lebar di ponsel setelah terhubung dengan nomor yang ia hubungi.


Mudah saja bagi Rery untuk memakai ponsel Ann, karena Ann memang tidak melindungi dengan sistem keamanan apapun ponsel yang Ann pakai selalunya.


***


“Mama Fabi bilang, ada obat untuk sakit kamu ini Ann?” Ucap Rery seraya bertanya setelah ia selesai melakukan


panggilan telepon itu.


Ann mengangguk lesu atas pertanyaan Rery barusan. “Aku sudah minum, tapi sakitnya tidak hilang...”


Ann berkata lirih.


Tadi sudah sekuat tenaga Ann bangun mencari obat penghilang nyeri yang disediakan di kamarnya dalam Mansion


Utama dan sudah meminumnya.


Sembari Ann meletakkan satu ponsel lain miliknya yang Rery tidak tahu, di dalam laci nakas samping tempat tidurnya.


Hanya saja efek obat yang tadi diminum Ann itu, tidak ada rasanya di perut Ann kali ini.


Mungkin juga karena obat itu tidak tertelan sempurna, karena Ann langsung mengunyah dan menelan obat tersebut


tanpa dibantu dengan dorongan air minum.


“Sebentar ..”


Rery kembali bergerak cepat, kini menuju pintu kamar Ann.


“VAL!”


Rery berseru dengan kencangnya.


“VAL!”


“Ada apa Rery?!”


Suara Rery yang sangat kencang itu membuat si pemilik nama yang memang kamarnya berada di samping kamar Ann langsung saja melesat keluar dari kamarnya.


“Val!, Ann! ...”


“Ann kenapa?!”


“She’s suffering a lot Val .. ( Dia sangat kesakitan Val.... )”


Valera sedikit terkejut.


“Sakit PMS itu dia Rery”


“Ann memang bilang begitu, tapi dia terlihat sangat kesakitan Vaall!!”


Valera bergegas ke kamar Ann.


“Akhh ...”


Suara mengaduh Ann baru terdengar Valera saat sudah di ambang pintu kamar Ann.


“Ann!!”


“Vaa-ll..... sak-kiitttt....”


Valera dengan cepat mendekat pada Ann yang nampak sangat kesakitan di atas ranjangnya itu.


“Kamu pucat sekali Ann!... badan kamu juga dingin banget begini ... ambil handuk kecil dan air hangat Rery!”


“I-iya!”


Rery langsung melesat untuk mengambil apa yang Valera suruh ke lantai bawah.


“Kamu benar PMS, Ann?....”


“I-y-a.....”


“Kok kesakitan banget begini ya Ann? ...”


Valera tak bisa menahan untuk tidak panik dan cemas melihat kondisi Ann sekarang ini.


“Ti-dak ta-hu ... tiba-tiba sakit sekali be-gi-ni ...”


“Obat penghilang nyeri sudah kamu minum? ....”


“Su-dah ...”


“Val!”


“Miss Ann?!”


Rery sudah datang kembali ke kamar Ann dan ada Theresa bersamanya yang terkejut juga melihat keadaan salah seorang nona mudanya yang nampak sangat kesakitan berikut wajahnya yang sudah sangat pucat.


“Theresa membuatkan ini! ....”


Rery menunjukkan sebuah kompresan yang sudah diisi air hangat.


“Ya sudah kemari kan!”


Valera langsung menyambar kompresan yang dipegang Rery.


“Letakkan ini di perut kamu Ann, siapa tahu bisa mengurangi sakitnya ...”


Namun kompresan itu tidak diambil Ann, karena gadis itu nampak membolak-balikkan badannya dengan sangat gelisah sembari terus memegangi perutnya.


Hingga pada akhirnya Valera yang dengan cepat meletakkan kompresan itu di perut Ann.


Theresa yang sudah berpengalaman mengurus anggota keluarga The Adjieran Smith itu juga sudah sigap meletakkan punggung tangannya di kening dan leher Ann, lalu mengecek suhu kamar Ann dan mengaturnya sedemikian rupa.


Theresa juga menunggu reaksi Ann atas kompresan air hangat yang sudah ditempelkan Valera di perut Ann.

__ADS_1


“Bagaimana Ann? ....” Tanya Rery dengan wajah cemasnya. Dan Ann menggeleng lemah sembari mengaduh lagi.


“I-ni tidak berpengaruh ...” Ann membawa dirinya bangkit dan memposisikan dirinya seperti orang yang sedang


bersujud.


“Wait, I’ll go get the Eucalyptus Oil! ( Sebentar, aku akan mengambil Minyak Eukaliptus! )”


Theresa yang sigap itu mengingat minyak untuk penghilang nyeri.


“Also the Cajuput Oil! ( Minyak Kayu Putih juga! )” Seru Valera pada Theresa yang sudah berjalan cepat untuk


mengambil minyak yang tersedia di Mansion Utama bersama obat-obatan lainnya.


“Yes, Miss ( Iya, Nona ) ..”


“Aduh Ann, kamu kenapa sih??!!! ...”


Valera yang gusar itu menggaruk-garuk kepalanya selepas kepergian Theresa dari kamar Ann.


“Sampai kesakitan seperti ini?!!!. Apa kamu salah makan mungkin Ann???!....”


Ann hanya menggeleng.


“Jangan begini Ann ..... sakit badan kamu nanti!”


Rery yang sama paniknya dengan Valera itu mencoba membuat Ann yang posisinya seperti bersujud itu untuk


kembali berbaring lagi.


“Ter-lalu sakit, ini Re-ry ...” Lirih Ann.


“Kita ke Hospital sekarang!”


“Kita ke Rumah Sakit ya? ...”


Rery dan Valera berbicara dalam waktu yang bersamaan.


Namun Ann yang sibuk dengan rasa sakit di perutnya, yang terasa begitu menyiksanya itu tak menyahut.


“Ann?.....” Rery mendekatkan wajahnya dengan wajah Ann, yang mulai tak terdengar merintih lagi, namun nampak


sudah lemas.


Ann juga terlihat sedang mengatur nafasnya.


“Call Ambulance! ( Panggil Ambulans! )”


Valera berseru panik karena Ann sudah nampak mulai tak berdaya.


“Lama datangnya Val!”


Rery tak kalah paniknya dengan Valera.


"Ya Terus gimana dong Reryy?????"


“Ann?.. Ann?..”


Namun Rery tak menyahut karena ia sudah beralih pada Ann lagi.


Valera juga mendekati Ann yang matanya kini sudah terpejam.


“Ann?!..”


“Ann!”


Valera dan Rery pun makin panik karena Ann sepertinya sudah tak sadarkan diri.


“Ann!!!”


“Call Uncle Oweeen! ( Hubungi Uncle Oweeen! )”


Rery berseru kencang pada Valera.


Dan Valera pun segera mengangguk serta langsung menyambar ponsel Ann untuk menghubungi Dokter Owen seperti yang diserukan oleh Rery.


“Hubungi Papa Lucca dan Mama Fabi juga Val! Siapa tahu mereka belum berangkat ke Italia! ...”


Valera juga segera mengangguk.


“Uncle Owen will come soon! ( Uncle Owen akan datang secepatnya! )”


Valera berkata pada Rery selepas ia bicara dengan Dokter yang kesemua anak-anak dalam keluarganya memanggil  Dokter Owen dengan sebutan ‘Uncle’ karena memang sudah dianggap keluarga oleh para orang tua dan tetua dalam keluarga mereka.


Rery hanya mengangguk saja, sembari mencoba menyadarkan Ann setelah mengecek nadi dan hembusan nafas di


hidung Ann. Kemudian ia bersama Valera membetulkan posisi tidur Ann, lalu menyelimutinya. “Cari handuk kecil di bathroom, lalu basahi dengan air hangat Rery!....”


Rery mengangguk cepat dan langsung bergegas untuk melakukan yang Valera minta, sementara Valera kemudian mencoba menghubungi Papa Lucca dengan ponsel Ann.


Sembari juga Valera menepuk-nepuk pipi Ann untuk menyadarkannya. Hingga tak berapa lama Theresa datang dengan Ben, lalu mengusulkan untuk membawa Ann ke Rumah Sakit.


Valera mengatakan pada Theresa dan Ben jika ia sudah berhasil menghubungi Dokter Owen. Dan meminta keduanya menghubungi mereka yang tinggal dalam Mansion, yakni para orang tua yang sedang tidak ada semua di Mansion Utama saat ini, kecuali Papa Lucca karena Valera sudah berhasil menghubunginya dan berbicara pada Papa Lucca tentang kondisi Ann sekarang ini.


“Kenapa Val?.....”


Rery yang sudah membawakan handuk kecil yang sudah ia basahi dengan air hangat itu sontak bertanya karena Valera yang saat Rery keluar dari kamar mandi sedang mengoleskan minyak yang Theresa bawa ke perutnya, terlihat sedikit aneh.


Valera mengkode agar Rery lebih mendekat “Eh Rery, lihat deh ....” Valera menyingkap sedikit kaos Ann hingga


perut Ann terlihat. “Jangan-jangan Ann kesakitan karena ini? ...”


Rery langsung mendelik melihat lebam di perut Ann.


“Apa Ann dianiaya seseorang?”


***


🍹 BONUS CHAPTER 18 🍹


Ditunggu Bon-chap yang ke 19 ye


Jangan lupa tinggalkan jejak


Tararenkyu buat kalian yang masih setia dimari

__ADS_1


__ADS_2