THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 23


__ADS_3

#CARI PERKARA # Bag. 1


😎😎😎😎


Selamat membaca ....


**************Para pria yang sedari pagi tadi pergi untuk bermain golf\, termasuk juga Varen\, kini sudah menyambangi restorannya Keluarga Cemara.


Sementara para wanita yakni Mom, Ara dan Michelle sudah lebih dulu datang ke restoran.


Sayangnya mereka semua datang setelah insiden dengan seorang ibu – ibu super belagu itu telah berlalu.


“Gimana Pah, rasanya maen golep.”


“Mantep dah. Papah berasa kayak anggota Keluarga Cendana kalo maen golep.”


Kedua putri beserta istrinya Papa Herman pun tergelak, termasuk para anggota keluarga mereka yang lainnya.


“Papa sih dari dulu suka diajak ga pernah mau ikut.” Ucap Andrew.


“Yah, Papah minder Ndrew. Malu ikut sama kalian. Pada keren – keren pan.”


“Papa juga ga kalah keren sama kita kok.” Celetuk Reno dan mereka terkekeh lagi.


***


“Gimana masakannya, masih bisa dibilang enak ga?. Apa masih ada yang kurang?.” Tanya Mama Bela saat seluruh anggota keluarganya sudah selesai menyantap makanan mereka yang habis tak tersisa.


“Selalu enak, Ma.” Sahut Ara dan diiyakan oleh yang lain.


“Alhamdulillah kalo gitu sih..”


“Makin enak malah, Ma.” Timpal John.


“Alhamdulillah.” Sahut mama Bela. “Mama udeh ajarin bener – bener itu anak – anak yang pada dibagian masak.


Untung pada nurut. Pada jago juga.”


“Tapi tetap paling enak kalau Jeng Bela sendiri yang membuatnya.” Mom ikut memuji.


“Ah ge – er dah saya dipuji ibu negara.”


“Mekar dah tuh idungnya.” Celetuk si Prita.


“Sirik aje Priwitan.”


****


Para pria sudah memisahkan diri dari meja tempat mereka berkumpul saat makan tadi, terkecuali Varen yang masih duduk bersama para nenek, mama dan tantenya. Sedangkan para pria dewasa pergi melipir ke area merokok dibagian samping restoran.


“Nah itu dia tuh Pak!. Perempuan kurang ajar yang tadi ngatain dan maki – maki Ibu!.” Seorang wanita datang dengan beberapa laki – laki berwajah sangar dan langsung menunjuk – nunjuk Fania yang kebetulan sedang berdiri sembari bercanda dengan para wanita dikeluarganya.


“Ck! Topo dapur dateng lagi. Bawa pasukan lagi.”


“Woles aje woles.” Fania menghadapkan dirinya pada wanita yang ternyata adalah ibu sombong yang tadi sudah membuat keributan di restoran. Fania pasang badan, tapi tak bergerak dari tempatnya.


“Ada apa Fania?. Siapa mereka?.” Tanya Mom sedikit khawatir yang melihat kedatangan seorang wanita yang sepertinya seumuran dengannya bersama dengan beberapa laki - laki berwajah sangar.


“Bukan apa – apa, Mom. Cuma orang - orang yang suka cari masalah.” Sahut Fania.


“Kan mama bilang juga apa, orang kayak begitu jangan dilayan, Kak.” Mama Bela juga ikut khawatir.


“Udeh santai aje. Mau liat sampe dimane.” Ucap Fania santai. “Jagain aje itu bocah – bocah.”


“Apa kamu?! Mau ngomong apa kamu sekarang?! Kamu pikir saya main – main sama ucapan saya tadi?!. Ini saya bawa suami saya. Biar dihancurkan sekalian restoran kamu!. Tadi kamu menghina saya! Dasar perempuan kurang ajar!. Diem kamu sekarang?!. Takut?!.” Cerocos perempuan itu pada Fania dengan pongah.


“Jadi kamu yang tadi menghina istri saya?!.” Hardik salah satu laki – laki berwajah sangar pada Fania, yang merupakan suami dari ibu sombong itu. Tampilannya seperti angkatan memang, tapi beberapa pria yang bersamanya nampak seperti para preman.


“Maaf, tolong anda – anda ini bicaranya biasa saja ya?.” Michelle angkat suara, berdiri disamping Fania.

__ADS_1


Fania menyentuh tangan Michelle, mengkodenya untuk mundur. “Tapi Kak ....”


“Jangan sok – sok an ikut campur kamu!.” Si ibu sombong menghardik Michelle sambil tolak pinggang.


“Udah Chel, urusan gue ini.” Ucap Fania lalu kembali menghadap pada dua orang yang sedang membentak – bentak itu. Fania juga mengkode pada Mom dan Ara agar jangan masuk campur menghadapi orang gila.


Wkwkwkw...


“Maaf ya Pak, saya ga merasa menghina istri Bapak ya. Saya hanya memberi penjelasan tentang menu yang ada direstoran ini, tapi istri Bapak itu malah berlaku tidak sopan pada kami. Wajar dong, kami membela diri.” Jelas Fania. “Nah istri Bapak seenaknya menghina kami, kalau dihina balik kenapa ga terima, coba?. Jangan nyubit kalo ga mau dicubit lah.”


Fania berkata dengan santai.


“Yang sopan kamu kalau ngomong sama saya!.”


Pria itu menghardik Fania lagi sembari mengarahkan telunjuknya didepan wajah Fania.


Fania tetap santai.


“Pak, saya ngomongnya kurang sopan apa ya sama Bapak?. Bapak sendiri yang datang langsung marah – marah dan membentak – bentak saya, persis seperti istri Bapak yang tadi sudah menghina ibu saya.”


“Berani – beraninya kamu ya!. Kamu tau siapa saya?!.”


‘Duh itu anak – anak ga denger ini keributan apa?.’ Mom semakin gelisah, celingukan ke arah smoking area.


“Kamu jangan sok – sok an menantang saya ya!. Saya Cuma tinggal ngomong ini restoran bisa langsung saya suruh hancurkan!.”


“Siapa yang nantangin Bapak sih? Bapak tanya saya jawab. Kenapa jadi mau segala menghancurkan restoran saya?. Bapak jangan sembarangan.”


“Yang sopan kamu kalo ngomong sama saya! Nantangin saya, kamu?!.”


PRAAANNNGGGGG!


Laki – laki itu secara tiba – tiba membanting beberapa alat makan dari meja didekatnya.


“HEY!!!!.”


*****


Andrew bersama para pria sedang berada di smoking area yang ada diarea samping restoran. Duduk santai sambil menikmati kopi mereka.


“Sore mungkin. Gue mau ke R Corp dulu sebelumnya.”


Andrew manggut – manggut.


“Tuan Anthony apa akan tinggal disini?.” Papa Herman bertanya pada besannya itu.


“Tidak Pak Herman, di London banyak juga yang harus saya dan istri saya urus.”


Papa Herman manggut – manggut.


“Jadi pulang bareng Reno ya?.”


Dad mengangguk.


“Bersama dengan Jeff juga.”


“Tenang Pa, John ada disini kalau Papa mau main golf lagi.” Celetuk John bersamaan ponselnya berdering.


“Iya Pa, aku juga masih disini kok.” Timpal Dewa.


Para pria itu terkekeh sementara John nampak menerima panggilan sambil langsung berjalan kearah luar.


“Ndrew!.” Sebelum melangkah John memanggil Andrew sambil menunjuk ke arah dalam resto. “Gue urus yang didepan.” Ia terlihat sedikit buru - buru.


Andrew dan yang lainnya langsung menoleh ke arah dalam resto. Sambil memperhatikan John dan menelaah kalimat si bule koplak yang terakhir.


“Gue susul si John.” Ucap Dewa.


“Siapa mereka?.” Jeff menggerakkan kepalanya menunjuk kedalam restoran. Sudah berdiri dari duduknya seperti yang lainnya.

__ADS_1


“How Dare!. ( Berani – beraninya! ).” Andrew menatap kearah dalam sambil bergumam dengan matanya yang menyalang menunjukkan amarah, ia langsung melesat kearah dalam resto.


“Kurang ajar dia!.” Reno ikut gusar melihat seorang pria menunjuk nunjuk Fania dan sepertinya sudah memecahkan barang.


***


“Yang sopan kamu kalo ngomong sama saya! Nantangin saya, kamu?!.”


PRAAANNNGGGGG!


“HEY!!!!.”


Mata Andrew sudah memerah seiring dengan suaranya yang menggelegar, yang mengagetkan semua orang setelah suara alat makan yang dibanting kasar itu.


‘Nah kan Abang Donald dateng, Kelar idupnya ini si Bapak udah.’ Batin Fania bermonolog yang melihat suaminya datang dengan wajah yang amat horor.


Andrew dan suaranya membuat para tamu resto memperhatikannya, juga memperhatikan para lelaki yang muncul


dibelakangnya. Terutama perhatian para kaum hawa, yang disuguhi kehadiran para babang tamvan yang sudah sempat mencuri perhatian dan fantasi mereka saat para lelaki tamvan itu duduk bersama keluarganya.


Tubuh tinggi tegap para pria muda yang jauh diatas rata – rata para pasangan mereka. Ditambah sempurnanya pahatan garis tegas wajah tampan dan dada yang senderable.


“TURUNKAN TANGAN ANDA DARI HADAPAN WAJAH ISTRI SAYA!.”


Eng .... ing ... eng ...


“Oh, kamu suaminya?!.”


“YOU THINK?!. ( ANDA PIKIR?! ).”


Andrew menatap tajam masih dengan suaranya yang menggelegar.


‘Nah lo tau rasa lo Bapak Bebek dateng.’ Batin Prita. ‘Kalo udah begini Pak Bebek berubah jadi Pak Naga. Coba aja, ditelen idup – idup bisa – bisa ini orang rusuh pada.’


“BERANI – BERANINYA ANDA MENGHARDIK ISTRI SAYA, HAH?!.”


Lagi – lagi Andrew bersuara. Kini berdiri tegak diantara Fania dan suami si ibu sombong itu. Ia harus menurunkan pandangan matanya karena si Bapak yang sama belagu nya kek istrinya itu jauh lebih pendek darinya. Meski berotot, tapi tetap saja tak sebanding dengan otot milik Andrew.


Babang tamvan nan kekar ini nampak jelas sedang diselimuti amarah.


“Hey! Jaga mulut kamu! Kamu pikir kamu siapa berani bicara keras pada saya, hah?!.” Bapak sangar itu menghardik Andrew balik.


“Astaga, itu orang tidak tahu apa dia berurusan dengan siapa?.” Bisik Mom pada Ara.


“Ini bukan di London kan, Mom.” Sahut Ara juga berbisik. “Kita kan ga terkenal disini.”


“Oh iya ya.” Ucap Mom masih berbisik. ‘Habis ini orang bakalan kalau menantang anak – anak.’


“Saya akan membuat kamu menyesal berurusan dengan saya! Ngerti kamu???!!!.”


Bapak sangar itu menantang Andrew, sembari melotot dan mengangkat telunjuknya lagi. Tak menyadari keberadaan para lelaki lain yang bersama Andrew di belakangnya.


“Mau membuat saya menyesal, heh?.” Andrew menunjukkan seringai iblisnya yang sudah lama tak nampak. “Boleh


coba.”


Laki – laki itu ikut menyeringai.


“Nantang kamu ya?!.” Ucap laki – laki itu. “Hen, Sa, Don, Ow, hajar ini orang!. Jangan kasih ampun!.” Laki – laki itu memberi perintah pada anak buahnya tanpa menoleh.


‘Gegayaan mau  hajar laki gue. Baru empat. Lapan orang kek gitu juga lewat ama Donald Bebek gue sih. Belom lagi noh, supermen ama robin. Yang dua biji lagi mane tuh?’ Batin Fania sambil melirik pada Reno dan Jeff, sambil celingukan mencari keberadaan John dan Dewa.


“TUNGGU APALAGI KALIAN?!.” Laki – laki itu akhirnya menoleh kearah anak buahnya. Pandangannya kini tertuju pada Reno, Jeff serta John dan Dewa yang baru saja masuk.


“Itu Pak ....” Seorang anak buah si Bapak sombong yang berpenampilan seperti preman itu berucap. Sambil juga memperhatikan empat orang lelaki yang tubuhnya lebih tinggi dari mereka sedang berdiri sambil menyeringai dengan seringai yang bak seringai iblis dan sedang juga mengurut tulang – tulang dijari mereka.


***


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2