
♣ MAJU TERUS PANTANG MUNDUR ♣
Selamat membaca .....
***
Bandung. Jawa Barat...
“Hai Ji.” Sapa Jeff pada Jihan saat wanita itu membukakan pintu rumahnya.
“Hai Jeff.” Sapa Jihan balik. “Masuk.”
“Daddyyy!!!.” Nathan terlihat berlari dari dalam rumah saat melihat Jeff datang.
Jihan dan Jeff terkekeh gemas melihat ulah anak mereka itu yang selalu seperti itu setiap Jeff datang. Mereka pun duduk di ruang tamu Jihan itu, dengan Nathan yang sudah duduk disamping Daddynya sambil membongkar paperbag yang diberikan padanya.
“Kamar aku sudah hampir penuh dengan mainan Jeff.”
“Baru hampir. Belum penuh, kan?.” Ucap Jeff menanggapi ucapan Jihan barusan.
Jihan memutar bola matanya malas.
“Ya kalau kamar itu penuh dengan mainan, aku dan Nathan tidur dimana coba?.”
“Kita bisa tidur di kamar Nene kan, Ma.”
Nathan ikut nimbrung dengan polosnya. Jeff terkekeh mendengarnya.
“Daddy, kita jadi ke Disneyland?.”
“Jadi dong!. Sabar ya pokoknya bulan depan Daddy ajak Nathan naik pesawat ke tempatnya Naruto.” Ucap Jeff sambil cekikikan, Jihanpun ikutan cekikikan.
“Ibu mana?.”
“Sedang keluar sebentar.”
“Daddy.”
“Kenapa jagoan?.”
“Daddy kenapa ga tinggal sama Nathan dan mama disini?.”
Jihan nampak terkejut dengan pertanyaan Nathan barusan. Jeff melirik pada Jihan.
“Teman – teman Nathan yang disini mama sama papanya tinggal sama – sama, kok Daddy engga?.”
Jeff menggaruk kepalanya yang tak gatal atas pertanyaan Nathan barusan. Masih bingung untuk menjelaskan pada anaknya dan Jihan yang baru berusia lima tahunan itu. Toh kalau dijelaskan pun Jeff bingung merangkai kata – kata untuk menjelaskan pada Nathan , juga belum tentu anaknya itu paham.
“Coba tanya mama?.”
Jihan langsung mendelik saat Jeff melemparkan pertanyaan Nathan pada dirinya.
‘Gue mau tahu dia akan jawab apa.’
“Eng.. itu ...”
“Mama sama Daddy lagi marahan ya?. Makanya Daddy ga tinggal disini sama Nathan dan Mama?.” Tanya Nathan dengan polosnya.
“Jagoan Daddy nih, sok tahu ya ..”
Jeff menciumi putranya itu saking gemas sampai akhirnya ia berhenti menciumi anaknya itu karena Nathan menjambak rambutnya saking kesal atas ulah Daddynya itu.
“Dad nih, aku kan bukan dedek bayi lagi dicium – cium begitu.” Nathan mencebik kesal pada Jeff dan Jihan spontan terkekeh.
“Oh iya Jeff, aku buatkan kamu kopi dulu.”
“Okay.”
****
“Nak Jeff ga buru – buru, kan?.” Ibunya Jihan bertanya pada Jeff saat dirinya sudah kembali dan nampak sedikit sibuk merapihkan meja makan. “Makan malam disini aja ya?.” Ucapnya.
“Kalau tidak merepotkan.”
Jeff tersenyum.
“Halah basa – basi!.”
Jeff tergelak mendengar sahutan ibunya Jihan yang sudah akrab dengannya itu. Jihan sendiri nampak tersenyum melihat keakraban Jeff dan ibunya itu. Entah kenapa sang ibunda nampak bisa akrab dengan Jeff, sementara dengan Liam tidak begitu.
‘Ini orang padahal mukanya sombong minta ampun waktu pertama kali dateng. Sampe sekarang juga sama, tapi
ibu kenapa malah bisa akrab sama dia.’
“Oh iya Bu, mohon maaf ya sebelumnya.”
“Kenapa Nak?.” Tanya ibunya Jihan dan Jihanpun ikut menoleh.
“Saya kan janji mau membelikan rumah yang ada kolam renangnya pada Nathan, jadi kira – kira kalau saya carikan rumah seperti yang Nathan mau, apa Ibu keberatan?.”
“Nak Jeff...” Ucap ibunya Jihan. “Dengan Nak Jeff bertanggung jawab pada Nathan aja ibu sudah senang. Jadi Nak Jeff jangan terlalu merepotkan diri.”
Jihan sendiri belum berkomentar.
“Saya tidak merasa direpotkan kok, Bu.” Sahut Jeff. “Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Nathan. Ya untuk ibu dan Jihan juga yang sudah merawat Nathan dengan baik sebelum saya bisa bertemu dengan dia.”
“Terima kasih ya Nak Jeff.” Ucap ibunya Jihan. “Ibu terserah Jihan saja. Tapi maaf ya, kalau ibu boleh bicara. Diatas segalanya, Nathan itu lebih memerlukan orang tua yang lengkap sebenarnya.” Wanita itu melirik pada putrinya.
Sementara Jihan nampak sok sibuk mengatur makanan diatas meja makan.
__ADS_1
Jeff mencerna ucapan ibunya Jihan barusan. ‘Ini ibu kasih kode ke gue atau apa nih?.’
“Piringnya lebih itu, Ji.”
“Oh ini memang sengaja aku lebihkan, Bu.” Ucap Jihan. “Liam akan datang juga.”
‘Ck!.’
“Oh, ya sudah kalau begitu.”
“Assalamu’alaikum.” Sebuah suara terdengar dari arah ruang tamu yang pintunya terbuka lebar.
“Wa’alaikumsalam.” Jihan dan ibunya spontan menjawab salam.
Sementara Jeff hanya menjawab salam dalam hati sambil memandang sebal pada kedatangan Liam malam ini.
‘Wa’alaikumsalam! Ganggu aja!.’
****
Jeff hanya bisa menahan dongkol dan tak tenang sambil berkali – kali melirik ke arah ruang tamu dimana Liam dan Jihan sedang berduaan, sementara ia sendiri sedang menemani Nathan bermain, dan ibunya Jihan sedang membuatkan susu coklat untuk cucunya itu.
“Bu.” Jeff meninggalkan Nathan sebentar untuk menghampiri ibunya Jihan yang sedang berada di dapur.
“Ya Nak Jeff?. Mau ibu buatkan kopi?.”
“Engga Bu, makasih. Ada yang ingin saya tanyakan soal mereka.” Jihan menunjuk Jihan dan Liam dengan kepalanya.
“Ada apa Nak?.”
“Hubungan mereka sejauh apa, Bu?.”
Jeff sedang memastikan.
“Yang ibu tahu mereka sudah berhubungan selama beberapa bulan. Tapi sejauh mana keseriusannya ibu juga kurang tau, Nak.” Ucap ibunya Jihan.
“Apa Liam pernah berbicara pada ibu secara pribadi tentang kemana hubungannya dengan Jihan akan berlanjut?.”
“Belum sih. Tapi Jihan itu memang punya trauma tentang pernikahan.”
“Trauma?.”
Ibunya Jihan mengangguk.
“Iya. Dulu dia pernah hampir menikah Nak Jeff, tapi saat tengah mempersiapkan pernikahan dengan calon suaminya terdahulu, ternyata dia diselingkuhi. Dan yah, Jihan agak sedikit stress waktu itu.”
Jeff manggut – manggut.
‘Oh makanya dia ke klub malam itu ya?. Tapi bagus juga sih, ketemu gue kan akhirnya.’
“Mungkin Liam pernah mengajaknya serius, tapi sepertinya Jihan belum siap untuk menikah.” Ucap ibunya Jihan lagi. “Kalau dari keseriusan sih, sepertinya Liam itu cukup serius pada Jihan. Toh dia juga perhatian dan terlihat menyayangi Nathan.” Sambungnya.
“Begitu ya.”
“Kalau begitu saya mau meminta izin pada Ibu.”
Ibunya Jihan mengernyitkan dahinya.
“Izin?.”
“Iya Bu.”
“Izin untuk apa, Nak?.” Tanya ibunya Jihan sedikit bingung.
“Izin untuk membawa anak Ibu ke pelaminan.”
***
Setelah selesai berbicara dengan ibunya Jihan, Jeff kembali untuk menemani putranya yang sedang bermain namun sudah nampak mengantuk itu.
“Jagoan Daddy, sudah dulu ya bermainnya. Sekarang jagoan harus tidur, oke?.” Ucap Dad pada Nathan dan anaknya itu mengangguk.
“Daddy temenin Nathan bobo ya?.”
“Oke!.”
Nathan nampak sumringah dan langsung merentangkan tangannya meminta gendong, karena matanya sudah nampak sayu.
“Tapi Nathan habiskan dulu susunya ya.”
Jeff menyodorkan mug bergambar naruto milik Nathan agar putranya itu menghabiskan susu yang baru diminumnya setengah.
“Good job jagoan Daddy.”
Jeff mengacak – acak rambut anaknya setelah Nathan menghabiskan susunya.
“Setelah ini Nathan sikat gigi dulu, baru bobo ya?.”
“Iya, Dad...” Nathan merentangkan tangannya lagi dan kali ini Jeff langsung menggendongnya sambil melirik ketempat Liam dan Jihan tadi berada.
‘Pulang juga dia.’
Jeff iseng berjalan ke arah luar saat melihat Liam dan Jihan sudah tidak adalagi di ruang tamu sambil membawa Nathan dalam gendongannya. Namun rahang Jeff seketika mengeras karena apa yang dilihatnya saat ini. Matanya memandang tajam dan hatinya gusar bukan main melihat Liam mencium Jihan tepat dibibirnya.
‘Sialaaannn.’ Batin Jeff kesal dan marah.
Ia langsung berbalik untuk membawa Nathan ke kamarnya. Karena putranya itu sudah nampak terlelap.
***
__ADS_1
Jihan datang ke kamar tak lama setelah Jeff merebahkan Nathan diatas ranjang dan mengatur posisi tidur anaknya itu.
“Maaf ya Jeff, jadi kamu yang menidurkan Nathan.”
“Aku Daddynya kan?.” Sahut Jeff sedikit ketus.
‘Kenapa mukanya jadi dingin begitu sih?. Karena ada Liam apa ya?.’ Batin Jihan yang sedikit ngeri melihat wajah Jeff yang nampak sedikit sinis memandangnya.
“Sudah puas mesra – mesraan nya?.”
“Apa?.”
“Aku tanya, sudah puas mesra – mesraan dengan kekasih kamu itu?.” Jeff melangkah mendekati Jihan. Berbicara
pelan karena takut Nathan terganggu, namun Jeff memandang tajam pada Jihan.
Jihan terdiam sambil memandangi Jeff yang melangkah mendekatinya. Jihan spontan memundurkan langkahnya karena tatapan Jeff nampak sedang mendominasi dirinya.
Namun langkah Jihan terhenti karena pintu kamar yang tertutup. “Ka – mu... mau apa ..” Jihan terbata. Jantungnya terasa berdebar karena Jeff sudah mengunci posisinya saat ini sembari memandanginya hampir tak berkedip.
“Aku mau kamu.” Ucap Jeff pelan namun pasti.
CUP!.
Tanpa aba – aba Jeff langsung mencium bibir Jihan. Satu tangannya memegang tengkuk Jihan dan satu tangannya lagi meraih pinggang ibu dari anaknya itu.
Jihan yang mendapat serangan tiba – tiba dari Jeff itu sontak saja kaget bukan main. Ia meronta, berusaha melepaskan diri dari Jeff yang mencium bibirnya itu, namun ia kalah tenaga dengan Jeff.
“Jangan berisik atau kamu akan membangunkan Nathan dan ibu.” Bisik Jeff setelah melepaskan ciumannya.
“Le-pas... Jeff .....” Ucap Jihan pelan namun tajam sambil kembali meronta.
‘Bahasanya si botak tuh apa ya, kalau si Kajol lagi ngambek?.’ Batin Jeff teringat ucapan Andrew yang kadang suka jadi inspirasi disaat – saat tertentu 😄. ‘Oh iya.’
Jeff sepertinya sudah mengingat salah satu jargonnya Andrew untuk Fania.
“Tak akan aku lepas, meski kamu mau melepas.”
“Jangan keluar dari batasan kamu, Jeff!.” Ucap Jihan pelan dan kini wanita itu melotot pada Jeff. “Ingat kalau aku sudah punya Li ...”
"Hmmmphhhh ..."
Jeff membungkam Jihan dengan ciumannya lagi dibibir wanita itu. Meraupnya sedikit kasar, tak perduli pada Jihan yang kembali meronta. Jeff terlalu cemburu melihat Liam yang mencium bibir Jihan tadi.
“Lepaskan Jeff....” Jihan mendorong pelan dada Jeff yang mengukungnya. Jeff melepaskan karena ia lihat Jihan sudah sedikit tersengal.
Jeff tersenyum miring. Masih menyudutkan Jihan didinding pintu.
Satu tangannya membelai lembut pipi Jihan.
Jihan berdiri gugup dengan punggungnya yang tersandar didinding pintu, sambil beberapa kali menelan salivanya. Rasanya ia ingin marah, dan seharusnya ia marah karena Jeff sudah bisa dibilang sedang melecehkannya. Tapi ada hal lain dihatinya yang membuat Jihan merutuki dirinya sendiri saat ini.
‘Jihaaan lo murahan!. Kenapa lo malah senang dicium sama dia sih?.’ Batin Jihan yang merutuki dirinya sendiri.
“Aku rasa aku jatuh cinta..”
“A – pa?.” Jihan terkejut mendengar ucapan Jeff barusan. ‘Apa?!.’ Hatinya ikut terkejut juga.
“Bukan hanya merasa. Tapi aku memang sudah jatuh cinta pada kamu, Ji.” Ucap Jeff sambil masih membelai lembut pipi Jihan dan kini juga menelusuri garis rahang Jihan yang wajahnya nampak gugup itu.
‘Oh Tuhan...’ Batin Jihan yang kembali terkejut.
Kini Jeff meraih dagu Jihan dan mendongakkan wajah itu pada wajahnya yang sedikit menunduk.
“Dan aku tak bisa menerima penolakan ..”
“Je –“
Jihan lagi – lagi tak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Jeff sudah membungkam lagi bibirnya dengan ciuman.
Kali ini ciuman Jeff lebih lembut dari yang sebelumnya. Menuntut tapi lembut dan dalam, seperti mengantarkan perasaannya pada Jihan.
‘Maaf Liam.’
Jihan memejamkan matanya, tak lagi meronta untuk melepaskan diri dari p*gutan bibir Jeff dibibirnya. Pada dasarnya, Jihan memang memiliki rasa pada Jeff. Dulu, ia sempat sering memperhatikan Jeff saat ia masih bekerja di Perusahaan Smith yang berada di Jakarta.
Hanya sekedar mengagumi, karena saat itu Jihan sudah memiliki kekasih dan berencana akan menikah. Namun
impian pernikahannya kandas karena kekasihnya berselingkuh tepat didepan matanya dengan wanita lain diatas ranjang saat Jihan memergoki, dan hal itu yang membawa Jihan bertemu dengan Jeff di sebuah klub malam.
Sejak itu Jihan tak berhenti memikirkan Jeff.
Meski Jeff sempat menawarkan diri untuk bertanggung jawab saat mengetahui ia masih p*rawan saat mereka melewatkan malam panas waktu itu. Namun Jihan menolak, karena ia merasa dirinya tak pantas untuk bersama dengan seorang Jeff Alton Smith kala itu.
Tak juga ingin menikah hanya karena laki – laki itu merasa bersalah padanya. Jihan rasanya naif kala itu. Tapi yah, Jihan adalah wanita pada umumnya yang memiliki impian atas pernikahan berlandaskan cinta. Hingga sampai akhirnya ia hamil dan Nathan lahir, hingga memutuskan untuk merawat Nathan tanpa memberitahukannya pada Jeff.
Namun saat Jeff muncul kembali dan mengatakan akan bertanggung jawab pada Nathan, Jihan merasa apa yang pernah ia kubur dalam – dalam soal perasaannya pada Jeff perlahan muncul kembali. Terlebih lagi laki – laki itu sering datang mengunjungi Nathan. Namun sekuat tenaga Jihan tahan, karena sadar ia sudah memiliki Liam.
Tapi baru saja Jihan mendengar Jeff mengutarakan cinta padanya. Disatu sisi ia tak percaya, tapi disisi lain sentuhan bibir Jeff yang lembut dibibirnya saat ini sejenak menerbangkan akal sehatnya. Jihan merasa bersalah pada Liam, tapi sungguh ia tak sanggup menolak perlakuan Jeff saat ini.
“Kamu milik aku sekarang, Jihan Shaquita.”
Jeff menyunggingkan senyum setelah melepaskan p*gutannya dibibir Jihan yang nampak sedikit bengkak setelah
mereka saling bertukar saliva itu.
“Ciuman kamu sudah menjelaskan semuanya.” Ucap Jeff lagi. “Bukan Liam, tapi aku. Akulah pemilik hati kamu.”
Sang Casanova menyunggingkan senyum kemenangannya karena Jihan menyambut ciumannya tadi. Membuat Jeff seratus persen yakin kalau Jihan memiliki perasaan padanya.
__ADS_1
****
To be continue ....