THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 221


__ADS_3

🍀 LURUH 🍀


*****


Selamat membaca..


 


“Abang rasa .. cinta Abang sudah mengekang kebebasan Drea. Abang sadar diri sudah. Abang terlalu banyak mengatur hidup kamu. Sekali lagi, Abang minta maaf. Drea baik – baik ya? Maaf, kalau Abang menghalangi kebahagiaan Drea. Abang cinta Drea, tapi Abang tidak mau Drea merasa terbelenggu akan itu. Abang pamit ya, Drea ...”


“A-baanng..”


“.....”


“A-baanng..”


“.....”


“Abaaaaannggg!!...”


“Hey. Hey...”


“A-baanng.. huu .... huu....”


“Little Star...”


“Huu.... Huu ... jangan pergi Abaang.... hiks... jangan pergi...”


“Little Star ... hey ...”


“Hiks.... Hiks ... Hiks ....”


Cup!


Sebuah sentuhan dari benda kenyal yang Andrea rasa dipipinya, membuat dia membuka matanya perlahan.


Menemukan sesuatu yang nampak bidang selurusan yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


“Mimpi buruk, hem?”


Sentuhan dari tangan seseorang dimata Andrea yang basah pun, ia rasa dengan lembut.


Membuat Andrea membuka lebih lebar matanya, mengerjap beberapa kali. Menurunkan jejak air mata yang masih


menggantung, lalu menyeka sedikit kasar dengan tangannya sendiri.


“Drea mimpi buruk?”


Andrea terkesiap disaat yang sama pandangannya terhenti pada sepasang lensa berwarna hazel yang kini


bersinggungan menatapnya. Teduh, seperti selama ini sejatinya. Berikut senyuman dan ada rasa hangat disekitar pipinya.


Rasa hangat yang Andrea rasa dipipinya yang berasal dari dua tangan kokoh, yang pemiliknya sedang berbaring


miring didepannya sekarang.


“A.. Abang...”


“Iya.... Ini Abang...” Suara selembut beledu itu terdengar lagi ditelinga Andrea.


“Abaaaang!! ...”


Sudah, histeris lah Andrea. Dua tangannya langsung melingkar pada leher seseorang didepannya. Yang ia peluk


dengan ketat, dengan bahu Andrea yang mulai nampak bergetar.


“Jangan pergi Abaang..”


“Drea ....”


“Jangan pergi.... Drea minta maaf...”


Andrea melirih, seiring isakannya yang terdengar.


“Drea .... jangan menangis, hem?. Abang disini, ga kemana – mana” Punggung Andrea dielus dengan lembutnya,


seiring kecupan yang sampai dirambut Andrea. Andrea melonggarkan rangkulan tangannya. Mendorong kebelakang tubuhnya untuk dapat melihat lagi wajah orang yang barusan berbicara.


“Abang ....” Andrea melirih lagi. Ia pandangi baik – baik wajah laki – laki didepannya, yang tangannya kembali mengusap mata Andrea juga pipinya.


“Iya ini Abang, Drea ...”


Varen tersenyum lalu mengecup kening Andrea yang masih sedikit terisak itu. Lalu membawa Andrea yang


melirih setengah terisak dalam pelukannya. Menempelkan wajah Andrea pada dada bidang Varen yang tertutup kaos berwarna hitam.


***


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam”


“Hey Bang!” Daddy Dewa yang sedang menonton pertandingan sepak bola bersama dua Daddy yang lain serta


Nathan itu serentak menoleh dan menyapa saat melihat Varen muncul di Kediaman, menghampiri mereka semua.


“Score?”


“Baru mulai”


“Dari mana aja lo Bang?”


“Kepo”


“Sudah makan, Bang?”


“Belum sih, tapi nanti lah. Belum lapar juga”


“Drea mana?. Sudah tidur?” Tanya Varen pada mereka yang ada bersamanya saat ini.

__ADS_1


“Belum sih, tadi Dad lihat setengah jam lalu. Tapi ga tahu kalau sekarang” Sahut Daddy Jeff. "Dia mengurung diri terus itu, Bang"


“Ya sudah, aku lihat Drea dulu kalau begitu”


Varen bangkit dari duduknya.


“Bujuk makan kalau memang belum tidur Bang. Sedari siang Drea ga keluar kamar. Makanannya juga ga disentuh sama sekali”


“Iya tuh Bang. Tadi juga Desti bawain makan malem ke kamarnya, disuruh bawa lagi sama Drea. Mami, Mama sama Nenek juga ga ampuh nge bujuk dia makan”


Varen terpaku sesaat. Lalu terdengar ia menghela nafasnya pelan, sedikit berat. Seperti ada rasa bersalah


disana. Lalu pamit lagi untuk segera ke kamar Andrea.


****


“Little Star ...”


Varen memanggil Andrea pelan saat sudah memasuki kamar Little Starnya itu, karena sosok pemilik kamar tak ada diranjangnya, padahal malam sudah mulai larut. Varen mempercepat langkahnya, karena ia melihat sepasang kaki yang kadang tertutup tirai yang bergerak akibat hembusan angin.


“Little Star ...”


Andrea sedang ia lihat duduk dilantai balkon dengan menekuk kakinya, wajahnya ia sembunyikan sekaligus ia


topang kan diatas kedua tangan yang juga tertopang diatas kedua lutut Andrea yang sedang ditekuk itu.


“Little Star .. Ini sudah malam, kenapa masih duduk disini, hem?. Nanti kamu sakit”


Varen kemudian berjongkok disamping Andrea yang tak meresponnya.


“Ya Tuhan Drea, badan kamu dingin begini”


Varen membuka jaketnya dan langsung membalut tubuh Andrea yang tertekuk bergeming itu.


“Maafkan Abang, Little Star ...” Lirih Varen yang langsung menggendong Andrea yang sepertinya sudah tertidur itu.


Varen merebahkan Andrea yang wajahnya nampak sembab itu diatas ranjangnya. Menyelimuti Andrea, setelah


menjauhkan jaket yang tadi ia sangkut kan dari punggung Andrea. Dan kini Varen sudah menggantikan jaketnya dengan selimut pada ranjang Andrea ketubuh gadis itu hingga sampai ke lehernya.


Sepertinya Andrea sudah cukup lama berada di balkon, karena lengannya begitu dingin akibat terpaan angin malam yang cukup berhembus kencang. Membuat si Abang tak ayak kembali merasa bersalah.


Setelahnya Varen berjalan sedikit cepat lagi menuju balkon. Mengambil ponsel Andrea yang tercecer dilantai balkon disamping gadis itu berada tadi. Lalu menutup rapat – rapat balkon kamar Andrea dan menurunkan suhu pendingin ruangan, karena tubuh Andrea yang terasa dingin tadi. Varen menengok Andrea sebentar yang nampak pulas dengan wajah yang masih sembab. Lalu berjalan perlahan menuju pintu, berjalan ke kamarnya sendiri.


Buru – buru mengganti kemejanya dengan kaos rumahan tanpa mengganti celana jeansnya. Lalu bergegas lagi ke kamar Andrea. “Little Star..” Varen berujar pelan, sembari menutup pintu kamar Andrea dengan perlahan. Gadis itu masih berada ditempatnya saat Varen meninggalkannya sebentar tadi.


Andrea masih diatas ranjangnya. Tubuhnya sedikit meringkuk kini.


Matanya pun masih nampak terpejam, namun terdengar isakan pelan, membuat Varen melebarkan langkahnya.


“Little Star..” Varen menelusupkan dirinya kedalam selimut yang sama dengan Andrea.


Membelai dari mulai kepala, hingga bahu Andrea yang bergetar berikut suara isakan, juga menyeka air mata yang keluar dari mata Andrea yang terpejam.


“A-baanng..”


“Little Star ..”


“A-baanng..”


“Abaaaaannggg!!...”


“Hey. Hey...”


“A-baanng.. huu .... huu....”


“Little Star...”


“Huu.... Huu ... jangan pergi Abaang.... hiks... jangan pergi...”


“Little Star ... hey ...”


“Hiks.... Hiks ... Hiks ....”


Cup!


Varen mengecup pelan pipi Andrea yang sedikit basah itu.


“Mimpi buruk, hem?” Ucap Varen sambil terus menyeka airmata Andrea yang terus saja turun, meski sudah Varen seka dengan intens namun lembut dan perlahan. Nampak mata Andrea mulai bergerak, terbuka sedikit, lalu mengerjap perlahan.


Tak lama Andrea membuka lebih lebar matanya, mengerjap lagi beberapa kali. Menurunkan jejak air mata yang masih menggantung, lalu menyeka sedikit kasar dengan tangannya sendiri.


“Drea mimpi buruk?” Tanya Varen pelan dan Andrea nampak terkesiap lalu menatap netra Varen yang kini memandanginya dengan tersenyum sambil menangkup wajah Andrea dengan kedua tangannya.


Dengan lembut Varen tangkup wajah Andrea sambil ia berbaring miring, setelah merendahkan tubuhnya agar


wajahnya sejajar dengan wajah Andrea.


“A.. Abang...”


Andrea kemudian bersuara.


“Iya....”


“Abaaaang!! ...” Andrea terdengar histeris dan langsung melingkarkan tangannya dileher Varen dengan kuat. Bahu Andrea bergetar, membuat dada si Abang mencelos.


“Jangan pergi Abaang..”


Suara Andrea terdengar parau ditelinga Varen.


“Drea ....”


“Jangan pergi.... Drea minta maaf...”


Andrea melirih, seiring isakannya yang terdengar. Lagi, hati Varen rasanya nelangsa.


“Drea .... jangan menangis, hem?. Abang disini, ga kemana – mana” Punggung Andrea dielus Varen dengan


lembutnya, seiring kecupan yang ia darat kan dirambut Andrea. Andrea melonggarkan rangkulan tangannya. Mendorong kebelakang tubuhnya, lalu menatap Varen dengan matanya yang masih berkaca – kaca.

__ADS_1


“Abang ....” Andrea melirih lagi. Ia memandangi Varen dengan sendu. Tangan Varen kembali mengusap mata Andrea juga pipinya.


“Iya ini Abang”


Varen tersenyum, lalu mengecup kening Andrea yang masih sedikit terisak itu. Lalu membawa Andrea yang melirih setengah terisak dalam pelukannya. Menempelkan wajah Andrea pada dada bidangnya yang tertutup kaos berwarna hitam.


“Abang .... Abang jangan pergi ..”


Hanya itu saja yang sedari tadi keluar dari mulut Andrea dengan lirih dan parau, bersamaan dengan air mata Andrea, yang lagi – lagi meluncur turun dari matanya. Membuat tenggorokan Varen rasanya tercekat. “Maaf..”


****


“Drea belum makan dari siang katanya?”


“Drea ga lapar, Abang”


“Jangan seperti itu, nanti Drea sakit gimana?”


Andrea tak menyahut. Ia merekatkan rangkulan satu tangannya di pinggang Varen dan menempelkan pipinya  didada bidang si Abang kesayangan yang masih berbaring miring disisinya itu.


Andrea menggelengkan kepalanya. Ia tak melepaskan rangkulannya, masih merapatkan dirinya pada tubuh Varen.


Andrea takut untuk melepas. Takut si Abang pergi dan tak kembali padanya lagi.


“Makan ya? Makan bareng Abang? Abang juga belum makan, dan Abang ga mau Drea sakit”


“Abang aja. Drea ga lapar”


“Abang ga berarti ya buat Drea?”


Andrea kemudian mendongak.


“Hem?. Drea ga mau mendengar kata – kata Abang? Abang ga berarti buat Drea, iya?”


“Engga!”


Andrea langsung menyanggah.


“Abang berarti! Abang berarti buat Drea!”


‘Eeehhhh ..’


“Abang jangan bilang begitu! Hiks .. Hiks ...”


“Drea...”


“Drea sedih, Drea sakit dicuekin Abang! Abang marahi Drea, bentak Drea silahkan! Drea ga mau Abang pergi! Abang itu berarti banget buat Drea tau ga???! ...”


“I – iiiya Abang ga pergi... tapi..” Varen sedikit meringis tak nyaman.


Pasalnya tadi Andrea mendorong tubuhnya hingga terlentang, saat gadis itu menyanggah kala Varen bilang kalau dirinya tak berarti buat Drea.


“Drea bunuh diri nanti loh ya kalau Abang pergi!”


“Jangan dong, jangan bicara begitu.... Abang marah ya kalau Abang bicara begitu” Varen mencengkram pelan tangan Andrea. 'Tapi ini, aduh!' Batinnya mulai gelisah


“Habis Abang sih ... segala bilang Abang ga berarti buat Drea!”


Andrea memukul pelan dada Varen yang terlentang.


“Yaa su – sudah ya...” Varen tergugu. “A- abang ambil makanan dulu, ya..”


“Engga! Nanti Abang bohong! Tahu – tahu malah Abang pergi!”


“Engga, Abang ga pergi ... janji ..”


Varen mencoba menenangkan Andrea. Andrea memukul pelan dada Varen, berikut tubuhnya yang sedikit bergerak.


“Ta- tapi ....”


Karena Varen mulai merasa sedikit tak tenang.


“Mulai sekarang kemana Abang pergi, Drea ikut! ...”


‘Oh, Ya Tuhaannnn....’ Varen meringis tak nyaman.


Bukan masalah Andrea yang bilang dia mau ikut kemanapun Varen pergi.


Tapi masalahnya adalah, setelah tubuh Varen didorong dan dibuat terlentang oleh Andrea, entah sadar atau tidak, gadis itu langsung duduk diatas perut sixpack si Abang.


Memukuli pelan lagi dada Varen, meremat sedikit kaos Varen, sambil tubuh Andrea yang ikut bergerak pelan seraya merajuk.


Varen lapar, tadinya. Tapi laparnya hilang sekarang, berganti dengan rasa... ah, sudahlah.


“Iya Abang janji, ga kemana – mana. Udah ya, Drea berat nih” Bukannya Drea yang berat maksud Abang kayaknya


sih.


Lebih berat untuk ... ah, sudahlah.


“Turun ya ...?”


Abang membujuk, karena Andrea masih bergeming duduk diatas perutnya.


‘Kalau engga turunan dikit deh duduknya. Geser agak kebawahan’ - Dalam hati Abang


Oops, si Merah bertanduk nongol sambil cengengesan diotak Abang.


****


To be continue...


Noted: 


**Emak bukan Dzat pembolak – balik hati loh ya...


 


Yamet Kudasi**

__ADS_1


Cuma kadang demen maenin hati 


Awokwowkwkwkwk


__ADS_2