
Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye
*******************************************************************************
NOSTALGIA
******************
Selamat membaca...
****************************
“Kita ini di Italia nanti akan nginep di Mansion nya Lucca atau gimana?”
“Kayaknya sih....”
Momma yang menjawab pertanyaan Mama Jihan yang memang duduk di satu bagian bersamanya, Poppa dan Daddy Jeff dalam kereta api yang beberapa gerbongnya di sewa oleh keluarga Adjieran Smith sebagai sarana transportasi mereka berkeliling beberapa negara di Eropa, setelah dari Switzerland.
“Ya, D?”
“Iya”
“Dad juga ingin berkunjung ke Ravenna”
“Heemm ...”
“Kenapa memang?”
“Engga, tanya aja. Apa muat ini kalo semuanya nginep di tempatnya Lucca?”
“Ya tidak.....”
“Nah itu makanya, kalau keluarga inti kita aja kan udah pas banget di sana kalo pas kita nginep semua disana kayak gini ... yang lainnya gimana?”
“Pasang tenda di halaman Mansion nya itu si setan alas, Ji. Kalo kaga numpang di kandangnya si Pupuma!.....”
Empat orang itu pun terkekeh, lalu kembali menikmati perjalanan dengan pemandangan indah yang terbentang diluar jendela kereta api yang sedang melaju diatas rel yang menghubungkan dua resort pegunungan terkenal di Switzerland.
Perjalanan kereta api The Adjieran Smith menuju tempat – tempat indah lainnya dari Switzerland hingga sampai Italia nanti ini, terkenal sebagai perjalanan dengan pemandangan terindah di dunia.
Dengan kaca panorama besar yang berada di sisi – sisi kereta, akan memudahkan dan membuat puas mata para penumpang kereta perjalanan antar Eropa itu untuk melihat pemandangan yang mereka lewati, terutama pemandangan pegunungan Swiss.
***
Author POV
Melewati jalur situs salah satu Warisan Dunia, kereta api yang ditumpangi oleh The Adjieran Smith berikut seluruh kerabat mereka yang ikut berpesiar itu, menghabiskan waktu selama kurang lebih beberapa jam, melewati ratusan jembatan, puluhan terowongan serta melintasi jalur kereta yang berada diketinggian sekitar dua ribu dua ratusan meter lebih di atas permukaan laut untuk sampai ke Italia.
Nantinya rombongan tersebut akan menginap di Mansion pribadi Papa Lucca dan Mama Fabi yang berada Viterbo, Italia.
Sementara beberapa ada yang memilih untuk tinggal di Hotel dan berjalan-jalan sendiri, tentunya akan berkumpul kembali pada waktu yang telah ditentukan, saat nanti mereka akan meninggalkan Italia.
Dan untuk mereka yang ingin tetap bersama The Adjieran, ada mansion yang berada tidak begitu jauh dari mansion pribadi Papa Lucca dan Mama Fabi, yang disewakan untuk para kerabat The Adjieran Smith tersebut.
Author POV off ...
***
Viterbo, Italia ......
“Setiap kali melewati jalanan ini yang aku ingat hari itu ya Kak Fania? ...”
Mom Ichel berkata sembari ia menoleh pada Momma yang juga berada di mini bus eksklusif dengan beberapa orang lainnya saat melewati sebuah jalanan yang nantinya akan melintasi perkebunan anggur milik Papa Lucca.
Momma pun langsung mengangguk seraya tersenyum.
“Still always remember, Vla? ( Masih selalu ingat, Vla? )” Momma berucap pada Uncle Vla, berikut istrinya, yang juga berada dalam mini bus yang sama dengannya dan Mom Ichel.
“How can I forget that moment? ( Bagaimana aku bisa melupakan momen itu? )”
“Momen apa?”
__ADS_1
Kevia yang ingin tahu tentang apa yang dibicarakan tiga orang tersebut pun nyeletuk.
“A precious moment, when I accompanied two amazing and brave women to find out those Dads and Gappa’s condition”
“( Momen berharga, saat aku menemani dua wanita menakjubkan dan pemberani untuk mencari tahu kondisi para ayah itu dan Gappa )”
Uncle Vla akan selalu nampak berseri jika membahas apa yang telah dilewatinya oleh Mom Ichel dan Momma, kala sesuatu yang besar pernah terjadi dalam keluarga The Adjieran Smith itu.
Kemudian tiga orang yang memiliki kenangannya sendiri itu pun bercerita dengan antusias tentang apa yang pernah mereka lakukan saat datang ke area sekitar Mansion pribadi Papa Lucca itu, berikut cerita tentang apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya.
Yang akhirnya cerita nostalgia pun sambung menyambung dari mereka yang mengalami momen tersebut dalam satu mini bus itu. “Wow!”
Kata itu yang kemudian keluar dari mulut Kevia.
***
If you are him, Lucca Valentino .... Please tell me ... if you know where my husband is .... because, you.... are my last hope.....
( Jika kamu adalah dia, Lucca Valentino .... Tolong katakan padaku ... jika kamu tahu dimana suamiku berada... karena kamu ... adalah harapan terakhirku.... )
“Heart....”
Suara berikut sentuhan Poppa di pipi Momma yang sedang melamun itu membuat Momma sedikit terkesiap.
“Kenapa, hem? ....” Tanya Poppa dan Momma langsung menoleh padanya, sekaligus menarik sudut bibirnya.
“Biasa, baper!” Jawab Momma dan Poppa juga menarik sudut bibirnya. “Selalu aku ingat hari itu setiap kali kita kesini ... hari dimana aku merasa kalau itu ujung tenaga aku .... untuk menemukan kamu )”
Poppa membelai lembut sekaligus membingkai wajah Momma dengan jemarinya. “And I feel veery bad about it .... ( Dan aku benar-benar merasa sedih tentang itu... )” Sahut Poppa yang kemudian mengecup kening Momma dan membawanya dalam dekapan.
“I really can’t imagine if Alejandro got slipped with his hand that day, when he pushed Fania into the ground under her knees with the gun stick behind her head.... ( Dan aku tidak dapat membayangkan jika tangan Alejandro terpeleset hari itu, saat dia memaksa Fania berlutut dengan ujung senjata di belakang kepalanya ) .....”
Papa Lucca yang juga masih mengingat jelas, hari dimana Momma bisa menemukan keberadaannya, dan dengan segenap keberaniannya memaksa masuk untuk bertemu Papa Lucca yang dulu, Momma dengar adalah orang yang kejam.
“And I will directly mutilated Alejandro with my own hands in front of your eyes, and I will cut your balls apart from it’s place! ( Dan aku akan langsung memutilasi Alejandro dengan tanganku sendiri di depan matamu, lalu aku akan memotong juniormu, kupisahkan dari tempatnya! )”
“Hahaha!!!!..”
“Dan setelah itu, aku akan membunuh diriku sendiri...”
Poppa kembali menatap pada Momma.
“Karena aku juga tidak sanggup hidup untuk menanggung duka yang pastinya akan terasa begitu menyiksa jika harus kehilangan kamu untuk selamanya, Heart...”
Oh Poppa..
***
Ravenna, Italia ..........
Sebuah kota yang termasuk kota pedalaman di salah satu bagian negara Italia.
Namun begitu, kota Ravenna terhubung dengan Laut Adriatik melalui Canal Candiano.
Dan dikenal karena arsitektur Bizantin dan Romawi akhir yang masih terlestarikan dengan baik.
Juga sebuah kota yang memiliki delapan situs Warisan Dunia UNESCO.
Sebuah kota, dimana memiliki arti dan kenangan untuk Gappa, sebelum dirinya pindah ke Indonesia, lalu kembali ke Inggris dan melegalkan kewarganegaraannya sebagai warga negara Inggris, saat Gappa sudah berhasil mengambil kembali apa yang seharusnya jadi miliknya dengan bantuan para ayah angkatnya, kala sebelumnya sempat dikuasai oleh paman angkat Gappa yang licik dan kejam.
( Cerita detail ada tuh di Life Of A Man )
Wkwkwk – modus promosi terselubung.
***
Sebuah Mansion yang cukup luas lahannya, namun bangunannya tidak seluas Mansion keluarga Adjieran Smith yang berada di London. Karena area luas lainnya di pergunakan untuk lahan pemakaman keluarga.
Para leluhur The Adjieran Smith mungkin bisa dibilang.
Mereka yang pernah berjasa, dengan segenap jiwa juga kasih pada Gappa sejak saat ia kecil, bahkan sebelum Gappa lahir.
__ADS_1
Yang mengajarkan pada Gappa arti sebuah keluarga, ketulusan, kesetiaan dan banyak hal lainnya yang berguna untuk Gappa, hingga ia sampai di titiknya sekarang.
“Dads, Moms, I come again ...... ( Ayah, Ibu, Aku datang lagi ..... )”
Gappa berdiri paling depan di hadapan beberapa nisan berdesain religius, yang nampak terawat di sebuah lahan yang cukup luas.
Sebuah lahan, dengan banyak pepohonan dan bunga disekelilingnya.
Dimana seluruh keluarga dan kerabat mereka yang ikut serta ke Ravenna, berdiri dibelakang Gappa dengan beberapa bunga dalam keranjang serta buket-buket indah dalam genggaman.
“As my promise, for every year, or at least when there’s opportunity to gather like this with all of family members..... I will come, and take them with me, to show all of you, how you’re all taught me that well ( Seperti janjiku, setiap tahunnya, atau setidaknya jika memang kami semua sempat datang dan semua anggota keluarga benar-benar berkumpul .... Aku akan datang, dan membawa mereka semua bersamaku, untuk menunjukkan pada kalian, betapa kalian sudah mengajarkanku dengan sangat baik )”
“........”
“You see, how bigger our family now?. And how tight the bound is. All, because how great all of you were taught me ( Kalian lihat, betapa besar keluarga kita sekarang?. ( Dan seberapa kuatnya ikatan itu. Semua, karena betapa hebatnya kalian yang mengajariku )”
“........”
“I have a lot of kids, totally a lot! .... ( Aku punya banyak anak, luar biasa banyak! )...”
Gappa terkekeh kecil, dimana matanya mulai nampak berkaca-kaca.
“Great sons and daughters who I loved that much, and love me the same way I love them...”
“( Para anak laki-laki, juga anak perempuan yang sangat aku sayangi, dan menyayangiku sebagaimana aku menyayangi mereka ) ....”
“........”
Poppa dan Daddy R memajukan diri mereka merengkuh Gappa yang sepertinya sedikit tercekat itu, sembari merengkuh bahu Gappa.
“And a lot of grandchilds too! ( Dan banyak cucu juga! ).
Gappa tersenyum pada para cucu-cucunya yang juga sama tersenyum padanya.
“I success, still, not only in business, in life, but also in love – of course ( Aku sukses, masih, tidak hanya dalam bisnis, dalam hidup, tetapi juga dalam cinta – tentu saja ) ...”
Gappa terkekeh lagi, dengan menggandeng Gamma kini yang direngkuhnya, juga direngkuh Daddy R yang berdiri di sisi Gamma.
“But the most thing that I very proud, are them.... ( Tapi hal utama yang paling ku banggakan, adalah mereka... )”
Gappa memiringkan tubuhnya, menyunggingkan senyum, menatap pada mereka yang berdiri di belakangnya yang juga tersenyum bersamaan.
“Family! ( Keluarga! )....” Ucap Gappa.
“........”
“Who were tight not only because of blood, but tight because of sincere, as the way all of you to me ( Yang terikat bukan hanya karena hubungan darah, tapi terikat karena ketulusan, sebagaimana perlakuan kalian padaku )”
“........”
“And I can guarantee, our family, will be always together untill the end ...”
“( Dan aku yakinkan, keluarga kita, akan terus selalu bersama sampai akhir ) ....”
Binar kebanggaan di wajah Gappa nampak begitu ketara saat ia seolah sedang mencurahkan isi hatinya di hadapan beberapa makam dimana ayah kandung Gappa berikut para ayah angkat dan satu ayah angkat tersayang Gappa, di makamkan di lahan yang sama.
Hal yang barusan Gappa lakukan, adalah hal yang bisa dikatakan rutin dilakukan oleh Gappa setiap tahunnya, atau disaat-saat tertentu, dimana Gappa datang berikut keluarga inti The Adjieran Smith selalunya.
Mengunjungi makam keluarga Gappa yang memang berada di rumah masa kecil Gappa, yang hingga sekarang masih Gappa pertahankan.
Makam orang-orang yang memiliki jasa besar dalam hati Gappa, dan memiliki tempat khusus dalam hati Gappa.
Makam mereka yang mengajarkan pada Gappa, bahwa ..
Keluarga, adalah tempat dimana hidup dimulai dan tempat dimana kasih dan sayang tidak pernah berakhir.
***
To be continue ...
Road to an end
__ADS_1