
AKU DIMATAMU# Part 1
******************************
Happy reading...
**
Indonesia
“Eh Jeff, gue mau tanya sama lo.” Tanya John pada Jeff, selepas mereka sudah kembali ke Indonesia. Dan kini mereka berdua sedang berada didalam mobil menuju ke rumah wanita bernama Jihan, ibu dari Nathan yang notabene adalah anaknya Jeff hasil dari kecelakaan ranjang dengan wanita tersebut.
“Apa?.”
“Soal ucapannya si Kajol.”
“Yang mana?.”
“Tentang perasaan lo ke si Jihan.”
**
Flashback on
Bandung, Jawa – Barat, Indonesia.
Jeff membenarkan kemejanya saat sudah berada didepan rumah Jihan, namun ia belum memarkirkan mobilnya.
Entah kenapa Jeff merasa harus selalu tampil in – style saat akan menemui anaknya. Entahlah. Yang jelas ada gelenyar aneh dihatinya saat kembali bertemu dengan wanita bernama Jihan itu, terlebih lagi saat sudah dipastikan kalau anak laki – laki Jihan yang bernama Nathan itu adalah anak biologisnya. Namun masih samar menganggap dirinya sudah jatuh cinta pada Jihan.
Sejak Jeff mengetahui kalau Nathan adalah benar – benar anak biologisnya, ia jadi sering bolak – balik ke Bandung untuk menemui sang putra, sekalian sama ibunya yang terlihat makin cantik dimata Jeff dari yang terakhir dia ingat. Namun akhir – akhir ini, wanita bernama Jihan itu intens datang dalam mimpinya.
Sedikit mengusik hati Jeff yang berpikir apa ia jatuh cinta pada ibu dari anak biologisnya itu. Namun seringnya masih ia tepis kan, karena rasanya ia belum yakin kalau itu cinta. Mungkin hanya rasa akan adanya Nathan, dan karena nasehat – nasehat yang ia dapat dari keluarganya untuk memberikan Nathan keluarga yang utuh. Ia masih menimbang – nimbang untuk mengajak Jihan menikah dan merawat Nathan dalam keluarga yang sempurna.
“Perlu gue coba ga ya?.”
Jeff menggumam sendiri kala itu.
“Coba ajalah, kalau memang dia mau gue nikahin. Ya udah.”
Jeff sedikit melongok dari kaca mobilnya sebelum masuk ke halaman rumah Jihan.
Namun Jeff menghentikan mobilnya saat ia melihat pemandangan di halaman rumah Jihan.
“Dia sudah punya pacar?.”
Jeff menggumam sendiri saat melihat Jihan nampak sedang berpelukan dengan seorang pria yang kemudian pergi setelah mencium kedua pipi dan kening wanita itu. Yang Jeff tahu memang Jihan belum menikah. Namun tak mengira kalau wanita itu punya seorang kekasih.
“Sialan!” Jeff tak lama masuk ke halaman rumah Jihan. Dan wanita itu nampak tersenyum canggung saat Jeff sudah memarkirkan mobilnya dihalaman.
“Hai.” Sapa Jihan saat Jeff sudah ada dihadapannya.
“Hai. Tadi pacar kamu?.” Tanya Jeff to the point. ‘**Haish, ngapain lo tanya sih Jeff?. Jangan bilang lo cemburu.’ Batinnya bermonolog kala itu.**
“Iya.”
“Hmmmm.”
Flashback off
***
“Soal ucapannya si Kajol”
“Yang mana?.”
“Tentang perasaan lo ke si Jihan.”
Jeff tak langsung menjawab.
“Kan bilang, gue ga mau egois dengan mengganggu hubungan dia dengan pria itu yang sudah terjalin sebelum gue datang.” Sahut Jeff kemudian.
“Gue ga nanya urusan lo mau gangguin pacar orang atau engga. Yang gue mau tahu, lo sebenarnya cinta ga sama
si Jihan?.” Timpal John. “Gue lihat lo uring – uringan sejak tahu si Jihan sudah punya pacar.”
Jeff terkekeh.
“Daripada sibuk ngurusin gue, lebih baik lo ngaca. Tanya diri lo dengan pertanyaan yang sama yang lo tanyakan ke gue tadi.”
John mengernyitkan dahinya menoleh pada Jeff yang sedang mengemudikan mobil.
“Gue ga paham maksud lo.” Ucap John.
“Prita!.”
__ADS_1
“Hubungan Prita dengan pertanyaan gue ke elo soal perasaan lo ke Jihan?.”
“Halah. Ga usah pura – pura bego!. Lo pikir gue ga tahu?.”
“Tahu apaan?.”
“Lo sebenarnya cinta kan sama si Prita?.”
**
“Selama hampir dua tahun ini aku berusaha menghindari dia. Ya faktor sakit hati gara – gara bentakannya waktu itu. Tapi faktor utamanya adalah ... aku ingin menghilangkan dia dan segala rasa padanya dengan aku yang menjauh. Meski kadang ga tega juga sih, kalau dengar Kak Fania atau yang lainnya bilang...”
‘**Udah si Prit, maapin itu si John. Kasian tau dia merasa bersalah banget dengan elo yang musuhin dia sampai selama ini.’**
“Aku sudah memaafkan sih sebenarnya. Catet ya, aku udah maafin dia soal dia yang waktu itu membentakku dan memandangku dengan amarah gara – gara menurutnya aku menjelek – jelekkan kekasihnya saat itu.”
“Tapi coba lihat yang terjadi sodara – sodara, itu cewek kejadian kan ninggalin dia untuk balik lagi kemantan lakinya. Sukurin!. Jahat ya aku, tapi emang itu yang spontan langsung keluar dari mulut aku waktu Kak Fania cerita soal itu”
“Tapi aku juga ga berniat untuk tiba – tiba nongol saat hubungan dia baru ‘the end’ dengan cewe yang bernama Aila itu. Dih emang aku cewe apaan?.”
“Daan, sampai hari ini pun aku belum membuka akses untuk dia berkomunikasi dengan aku. Nanti lah pasti bakal ketemu juga.”
“Selama hampir dua tahun ini aku menyibukkan diri dengan hobi yang aku tekuni, Gymnastic. Bahkan sudah mengikuti puluhan kompetisi bahkan sampai ke Luar Negeri. Dan ikut jejak Kak Fania juga akhirnya dalam bermusik.”
“Tapi aku hanya bisa nyanyi, ga bisa main alat musik juga seperti kakakku si Kajol yang Superb itu. Jangankan maen gitar, betulin kran aer aja dia bisa”
“So saat kegiatan di Gymnastic sedang off, aku akan terima job nyanyi yang kebanyakan dari kenalannya Kak Fania waktu dia masih aktif di panggung dulu.”
“Bangga sih, ternyata Kak Fania itu bisa dibilang bintangnya tiap cafe tempat dia manggung, terutama yang reguler. Kakak aku gitu loh. Seng ada lawan.”
“Tapi sayang.... semua kesibukan itu hanya sesaat mengalihkan. Pada akhirnya, saat senggang, si bule koplak kampret itu suka asal nyelonong masuk kepikiran aku. Sialan”
“Belum hilang ternyata. Ck, bener-bener sialan. Karena rasa yang masih nempel ini yang membuatku enggan bertemu dengannya. Takut berharap lagi, takut kecewa lagi.”
“Tapi rasaku masih sama padanya. Aku masih mencintainya. Dia.. John Smith ...”
♥ Prita’s Diary ♥
**
Sebuah Kafe di daerah Setiabudi, Bandung
“Prit, lima menit lagi on – stage ya” Ucap salah seorang pemain Band pada Prita yang minggu ini sedang punya jadwal event di Bandung bersama Band yang sering manggung bersamanya di Kota tersebut.
“Wokeh!.”
**
But I Can’t Help Falling in love With You
Oh, Shall I Stay, Would It Be A Sin?
Oh, If I Can’t Help Falling In Love With You🎶
**
“Lo sebenarnya cinta kan sama si Prita?”
John termangu di kamar hotel sambil menunggu waktu berlalu. Setelah Jeff menurunkannya di Hotel tempat mereka menginap selama semalam karena Jeff berencana untuk mengajak Nathan, putranya berjalan – jalan esok hari. Dan hari ini si bule gila sedang menengok putranya juga dan John memilih untuk memisahkan diri dari Jeff, mencari hiburan sendiri.
Kata – kata Jeff dimobil tadi soal Prita, sedikit mengusiknya.
“Cinta? Sama si Priwitan ..?.” John menggumam sendiri.
Tersenyum sendiri sambil memegang dadanya.
‘Iya kayaknya Prita.. Kak John sepertinya memang jatuh cinta sama kamu.’ John menghela nafas panjang
dan berat. 'Dan gue merasa seperti seorang fedofil sekarang.'
Meraih ponselnya dan membuka galeri foto
“Ya Tuhan Prita, kamu tahu ga sih kalau Kak John ini tersiksa dimusuhin kamu sampai seperti ini?”
Lagi – lagi John menggumam sendiri, sambil memandangi salah satu foto Prita yang tersimpan digaleri ponselnya.
Lamunan John buyar, karena ponselnya tiba – tiba berdering.
“Yo Bry.”
“Lo jadi ke Bandung John?”
“Ini gue udah di Bandung.”
“Jadi mau hangout bareng ga?.”
__ADS_1
“Jadilah. Suntuk gue udah dari tadi nunggu kabar dari lo!.”
“Ya udah gue jemput apa mau dateng sendiri ke kafe tempat anak – anak kumpul?”
“Jemput!. Si Jeff lagi sibuk sama anaknya.”
“Hotel mana?.”
“Hotel yang biasa kalo gue ada disini”
“Oke. Tunggu di Lobi. Sepuluh menit lagi gue sampe.”
“Okay"
**
John sudah bersama Bryan dan sudah sampai di sebuah kafe di daerah Setiabudi, Bandung.
“Mereka udah sampai?.”
“Bentar lagi”
“Ya udah masuk duluan lah. Haus gue.”
Bryan mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe tersebut bersama John.
Pandangan John tertuju pada panggung yang ada di ujung dalam kafe tersebut. “Gue jadi inget si Fania kalo lihat panggung Live Music”
“Iya benar.” Sahut Bryan.
Disaat yang bersamaan seorang waitress kafe menghampiri mereka berdua.
“Permisi, Kak. Ada yang bisa dibantu?” Tanya si waitress itu sopan dan ramah.
“Ya. Reservasi atas nama Bryan?.” Jawab.
“Oh, sebentar.” Si waitress nampak memanggil temannya yang lain. Yang kemudian datang menghampiri. “Reservasi atas nama Kak Bryan.”
“Oh, mari Kak.” Waitress yang membawa sebuah daftar itu menunjukkan dan mengantar Bryan dan John ke meja
mereka.
“Live Music malam ini ga ada, Mba?” Tanya Bryan pada si waitress yang mengantar ia dan John ke meja mereka.
“Ada Kak, Cuma lagi break. Baru aja. Nanti setengah jam lagi baru mulai sesi keduanya.”
“Oh”
“Silahkan dilihat dulu buku menunya, Kak. Nanti kalau sudah siap order, bisa panggil saya atau rekan saya yang lain.”
“Oke.”
“Permisi.”
**
“Eh iya, John. Si Prita adiknya Fania itu, sekarang kan ikut jejak kakaknya jadi vokalis. Lo tau kan?. Gue pernah liat dia manggung di J&L juga bareng band kakaknya dulu. Tapi ga sempet ngobrol sih”
‘Mending. Gue boro – boro bisa liat dia sekarang. Nomor gue aja masih diblok!.’
“Bagus juga suaranya si Prita. Keren kayak Fania. Cuma emang tetep kakaknya yang juara kalo soal aksi panggung sih.”
“Oh ya?. Gue bahkan belum pernah lihat dia manggung, Bry!.” Sahut John.
“Masa?. Gue pikir lo bakalan jadi bodyguardnya malahan. Kayak waktu lo ngawal si Fania dulu.”
‘Gue berharap. Sangat bahkan!.’
“Eh, itu bukannya?....”
Pandangan Bryan tertuju pada sosok wanita berpakaian casual dengan rambut yang di kuncir kuda, dengan topi yang menghiasi kepalanya dan penampilannya secara keseluruhan tampak seperti seorang vokalis.
“Prita!.”
**
To be continue.........
Cie cie nungguin kelanjutan pasti deh ya?
Ritual dulu ah
LIKE
VOTE
__ADS_1
KOMEN