THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 214


__ADS_3

🌷  EDISI TUKAR PIKIRAN  🌷


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat membaca ....


Author’s POV


 


Alvarend Aditama Smith ....


Abang Varen...


Putra pertama dari Reno dan Ara yang hadir setelah empat tahun pernikahan mereka. Saat Reno dan Andrew


sudah kembali bertemu dengan Little F nya. Cucu pertama di dalam Keluarga Adjieran Smith. Anak yang tampan, mewarisi ketampanan Daddynya, juga kecantikan Mommynya.


Seiring waktu Varen tumbuh menjadi anak laki – laki yang tampan dan cerdas seperti Daddy dan Mommynya.


Namun juga Varen tak banyak bicara, cool bak Daddynya. Varen kelewat cerdas, juga pemerhati seperti sang Mommy.


Dan, meski tak ada hubungan darah dengan Keluarga Adjieran Smith, karena sang Daddy merupakan anak angkat


dari Gappa nya, seiring waktu wajah Varen malah justru mirip Gappa alias Dad Anthony saat muda.


Tak ada yang nampak menonjol selain itu. Lalu saat Andrea hadir, seperti tak ada yang lain dipandangan mata


Varen dan pikirannya.


Hanya Andrea dan Andrea. Gadis kecil yang sejak lahir begitu disayanginya, dilindunginya dengan sepenuh hati. Bahkan kadang Varen yang marah jika Andrea dimarahi.


Dulu, saat Varen bilang, selamanya Andrea akan selalu menjadi milikku, para Mommies dan Daddies serta Kakek dan Nenek, tersenyum dan tergelak saja. Mungkin, itu refleksi dari perasaan seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya.


Tapi saat Valera hadir, yang notabene adik kandungnya. Ternyata sikap Varen pada Andrea tak berubah. Yah Varen


tetap menyayangi Valera juga melindunginya. Tapi tak se-over protektif sikapnya pada Andrea.


Seiring waktu, Andrea pun sama. Gadis itu sedari kecil begitu memuja dan kelewat mencintai Abangnya. Sangat


posesif, namun Varen tak nampak terganggu dengan itu. Bahkan kalau diperhatikan, Varen kerap kali tersenyum jika Andrea minta ini itu, menyuruh dan melarangnya sesuka hati dan akan Varen lakukan apa maunya Andrea.


Oh ternyata, saat dewasa barulah Varen benar - benar terbuka. Kata – katanya saat kecil dulu dengan mengklaim kalau Andrea adalah miliknya, ternyata tak hilang ditelan waktu. Varen mencintai Andrea dengan caranya. Cara yang tak biasa.


Alasan mengapa Varen selalu ingin berada didekat Andrea. Kemana Andrea pergi Varen pasti ada, begitu  istilahnya. Varen tertawa jika Andrea mengompoli-nya saat bayi, saat Andrea balita, Varen juga sering membantu Andrea mandi, menyuapinya, menemani Andrea bermain, mengajari Andrea, bahkan menina bobokan Andrea hingga sering Varen juga ikut terlelap disamping Andrea.


Bahkan Varen yang paling panik saat Andrea menangis kencang dan bilang,


“Huwaa!!! **** * aku berdaraaah!!!”


Dimana kala itu Momma dan Mommynya tertawa, ketika melihat Varen datang tergopoh dengan satu troli tampon


yang ia beli sendiri di apotik karena tidak paham soal pembalut wanita.


Saat Andrea menangis dan mengatakan kalau intinya berdarah dan para Mommiesnya sedang tak ada, Varen panik sendirian. Padahal dia bisa tanya pada beberapa pelayan wanita di Mansion nya.


Itulah Abang yang begitu over protective pada Andrea. Bahkan Varen tak segan memukuli anak nakal yang berani mengganggu Andrea. Hingga akhirnya Varen berkuliah di luar negeri untuk meraih cita – citanya. Baru itu benar – benar terpisah jarak dengan Andrea.


Para Mommies dan Daddies serta Kakek dan Neneknya pikir, seiring waktu, Varen yang sudah dewasa itu akan


menemukan kehidupan baru di bagian dunia yang lain. Toh celotehan soal perjodohannya dan Andrea pun seolah tak ia tanggapi dengan serius. Mungkin Varen mau atau sudah menemukan pengalih dari Andrea.


Namun nyatanya tidak, Varen teguh pada pendiriannya. Otak dan hatinya tetap setia pada Andrea, setiap hari, jam bahkan detiknya Varen selalu merindukan Andrea dari tempatnya tinggal saat berkuliah sampai ia membangun bisnisnya sendiri disana, hingga ia benar – benar meminta Andrea pada sang Poppa dan Momma sebelum gadis itu berusia tujuh belas tahun.


Karena Varen sudah memutuskan, sudah memantapkan niat, kalau saat Andrea berusia tujuh belas tahun, Varen akan menyampaikan perasaannya pada Andrea, isi hatinya tentang dirinya yang mencintai Andrea, menginginkannya, lalu mengikatnya erat, se-erat eratnya sebagai seorang pria. Serius meminta Andrea pada kedua orang tua gadis yang dicintainya itu.


Author’s POV off


****


Kisi dari Daddies dan Mommies...


 


Dulu Abang meminta mainan, sekarang Abang meminta pelaminan. Dimana Abang berkata,


“Aku akan menikahi Andrea, saat ia lulus sekolah nanti.”


Dan kami, membulatkan serentak mata kami, memekik terkejut atas permintaan dalam ucapannya yang pasti, memandang pada si Abang yang nampak santai dan balik memandangi kami tanpa ragu. Dimana Andrew langsung nyeletuk,


“Apa kamu sedang mabuk?.”


Lalu dengan santainya Abang menjawab.


“Apa kalian pernah melihatku menyentuh minuman keras?.”


Benar, Abang tidak pernah menyentuh yang namanya minuman keras. Ia tetap bergaul seperti biasa saat kuliah hingga bekerja di Amerika. Tapi Abang bisa menjaga perilakunya.


Lalu kemudian Reno bersuara,


“Are you out of your mind? (Apa kamu sudah gila?).”


Hingga perdebatan yang tidak sengit pun terjadi antara Reno dan putra sulungnya tentang Andrea yang mana ayah


kandungnya sedang memijat pelipisnya, menghadapi keras kepalanya si Abang. Yang meski aslinya tak berdarah Adjieran Smith, namun ia sudah ditetapkan sebagai Pewaris Utama keluarga mereka.


“Terserah jika kalian menganggapku gila. Tapi ya anggap saja begitu. Aku gila, karena aku tidak ingin ada secuil resiko kehilangan Andrea.”


“Abang..”

__ADS_1


Fania bersuara


“Jika kalian tetap menghadang jalanku, akan ku tunjukkan seberapa gilanya aku.”


Tapi Abang keburu menyela Fania.


“Kalian harus menyetujui keputusanku untuk menikahi Andrea saat ia lulus nanti.”


Begitu kata Abang kemudian saat menoleh dengan santainya setelah sampai didekat tangga.


“Karena jika tidak, akan ku hamili Andrea.”


Dengan berani dan santainya Abang berbicara. Dimana saat itu juga semua mata membulat sempurna menatapnya juga dengan mulut kami yang terbuka lebar.


Terutama mata Reno dan Andrew yang tak hanya membulat matanya, namun juga terbuka mulutnya. Dan Fania rasanya mau pingsan karena pendengarannya atas kalimat Abang itu. Dan kemudian,


“Bocah tengik! Kau bilang apa barusan?!.”


Andrew berkacak pinggang menatap si Abang yang tangannya sudah berada di reling tangga.


“Aku bilang, jika kalian tidak setuju aku menikahi Andrea saat ia lulus nanti, maka akan ku hamili dia.”


Masih bicara dengan santainya, si Abang berkata. Tersenyum pula.


Nathan juga ikut memperhatikan sang Abang, yang karenanya Nathan bisa melongo saja.


“Ka –“


“Be-ra-ni kamu Alvarend Aditama Smith!!!”


Reno menjegal langkah si Abang yang hendak naik, sembari memiting leher putranya itu sebelum Andrew


melanjutkan kata – katanya dengan telunjuknya yang sudah terangkat. Reno menyeretnya, menyeret Abang dengan mengunci lehernya, yang mana datar saja itu mukanya saat sang Daddy mendudukkan kembali Abang ke tempatnya tadi.


“Apa kamu sadar dengan ucapanmu, Bocah tengik?!.”


Reno nampak sangat gemas yang mengarah kesal pada si Abang, karena sat bertanya tangannya ikut menepak


kepala Abang yang tetap nampak santai.


Begitu Reno dan Andrew suka memanggil si Abang jika laki – laki muda itu sudah mengesalkan mereka. Yah, memang nampak tengik jika keras kepalanya itu sudah sampai ke ubun – ubun nya si Abang.


“Sangat sadar.”


Reno mengusap kasar wajahnya, seperti ingin mencekik leher putranya yang menjawab dengan enteng, santai dan datar. Namun Reno hanya nampak gemas sendiri. Varen ini prototypenya Reno. Cool, nampak tenang dipermukaan. Hanya sesekali nada suaranya berubah, itupun kalau hanya ia panik soal Andrea.


Selain itu yah, begitulah pembawaan Abang, tenang selain bersahaja seperti para Daddies dan Gappanya meski usia si Abang belum sampai dua puluh lima tahun. Pembawaan Abang yang bersahaja diusia muda itu mewarisi Daddy dan Poppanya. Namun abang lebih seperti Dad Anthony dan Reno yang setenang air dikolam dari luar.


“Ancam lah, jika kalian mau mengancamku. Maka akan ku laksanakan ancaman ku.”


Tapi keras kepalanya benar – benar seperti Andrew yang pantang dibantah. Poppa seperti berkaca, hanya saja si Abang tak plontos sepertinya.


Dimana Andrew dan Reno mendekat, menunduk, berkacak pinggang dan melotot pada si Abang.


“Apa kau sedang menantang dan mengancam kami bocah tengik?!.”


Disaat yang sama para Mommies menahan geli diperut mereka, juga Daddies selain Daddy R dan Poppa. Nathan tetap terpaku ditempatnya. Berpikir, betapa berani dan gilanya Abang Varen ini.


Dua pentolan di Keluarga Adjieran Smith itu bertemu lawannya. Ya, lawan yang sebanding dengan diri mereka sendiri. Refleksi sikap dan sifat dua Naga hitam itu kini ada ditubuh satu orang yang sedang mereka pandangi sampai mendelik. “Terserah bagaimana kalian menanggapinya.” Naga junior itu tak ada takut – takutnya.


“Benar – benar bernyali besar, heh?!.” Reno tersenyum miring.


“Aku belajar dari siapa?. Nyali kalian teramat besar bukan?. Para Daddies ku yang hebat.”


Lagi, Abang menyahut santai. Membuat tangan yang tadinya berkacak pinggang kini memijat keras pelipisnya.


“Aku akan menikahi Andrea saat ia lulus nanti, sekali lagi aku tegaskan. Jangan buang tenaga kalian untuk menghalangi atau bahkan mengancamku. Karena aku sudah bisa memprediksi langkah apa yang akan kalian bisa ambil, dan antisipasi, sudah aku siapkan. Jadi silahkan kalian cobalah, jika ingin memisahkan aku dan Little Star.”


“Wah, wah, Reno anaknya coba lihat?.” Andrew berkacak pinggang lagi sambil mulutnya mengeluarkan ucapan tak percaya dengan sikap si Abang dan menatap Reno. Ia geleng – geleng sambil kemudian mengelus dadanya sendiri.


‘Kapok!.’ Ara dan Fania membatin.


‘Now you fight you both own shadow (Sekarang kalian lawanlah bayangan kalian berdua sendiri).’ Batin para


Daddies termasuk Papa Lucca yang terkekeh kini.


“Sudahlah, tak perlu berdebat soal ini.”


“Diam kau Bocah tengik!.”


“Jika aku kalian anggap gila karena cinta, apa kabar kalian?.”


“Diam ku bilang”


Reno lagi – lagi menyergahnya.


“Apa perlu aku absen satu – satu tentang kegilaan kalian pada para Mommies ku, hem.... Daddies?.”


“Hish!” Reno mendengus kasar, memijat pelipisnya. Begitupun Andrew.


‘Dia anaknya R kan?. Kenapa lebih mirip dengan sifat gue?! ...’


Dimana Andrew melirik si Abang yang tersenyum tipis, memandanginya, Reno kemudian dua J, Dewa dan Lucca.


Yang akhirnya membuat Andrew berkata,


“Baiklah begini, aku sebagai ayahnya Andrea, tidak akan menghalangi niatmu untuk menikahi putriku kapan pun itu.”


Andrew menyerah, tentang si Abang ia paham, sepaham ia, akan dirinya sendiri.

__ADS_1


Kalau soal Andrea, bocah tengik satu ini pasti tidak akan main – main.


Reno sudah mengangkat tangannya, menyerahkan keputusan pada si empunya anak perawan yang tak mau dilepas oleh putranya.


“Dengan catatan, Tanyakan pada Andrea tentang kesediaannya atas rencanamu itu dan jangan memaksanya!. Ingat itu!” Andrew meletakkan telunjuknya di hadapan wajah Varen yang menunjukkan senyum


tipisnya.


Senyum tengil yang sumpah Andrew sendiri kesal dibuatnya, tapi kenapa senyum itu mirip dengan senyumnya


jika otak liciknya sedang bekerja?.


“Aku tidak pernah memaksa Little Star.”


“Ah sudah diam kau!.” Andrew menatap kesal pada si Abang. “Sana! Kembali ke kamarmu!. Jangan ke kamar Andrea atau akan ku patahkan kakimu!.”


“Aku harus memberikan Andrea kecupan selamat malam. Jika tidak tidurnya tidak akan nyenyak dan tengah malam nanti dia akan bangun dan datang ke kamarku, memintaku menina bobokannya.” Lagi – lagi bocah tengik yang setenang air itu mengapa sangat begitu menguji emosi  Andrew dan Reno saat ini.


Tapi yah, tak mungkin juga disakiti ataupun dihabisi.


“Mau memang, Andrea tidur denganku dikamar yang sama, diranjang yang sama sekarang?. Tapi seharusnya sih tak apa, bukan?. Ya Pop?.” Bocah tengik itu tersenyum dengan arti pada Andrew yang entah apa dalam otaknya.


Si Abang kemudian berdiri dan memandangi Poppa dengan senyum tengilnya.


“Bukankah Poppa juga membuat Momma tinggal sekamar denganmu sebelum kalian menikah?.”


Nah kan, Abang mulai menembakkan pelurunya.


Kalimat yang membuat Poppa sontak membulatkan matanya. Sisanya, menahan tawa.


Kan sudah dibilang, Abang itu memang tak banyak bicara, tapi dia pemerhati. Abang tak pernah bergerak tanpa ia punya persenjataan yang cukup. Otak dalam kepalanya itu seolah terlalu luas untuk memikirkan  segala hal hingga


yang terkecil.


Abang cerdas, jenius dalam soal akademis, teknologi dan sebagainya.


Dan yah, jangan lupa kalau Abang, sejak sebagai Varen kecil itu selalu lebih dewasa pembawaannya dari umur


sebenarnya. Kalau per-andaian, Abang seolah sudah bisa menebak segala hal, dari usianya sepuluh tahun, dimana kecerdasaannya kian nampak.


Hingga saat dewasa, beginilah ia. Entah bagaimana ia tahu segala hal tentang cerita para orang tua dan apa saja itu, para Daddies dan Mommiesnya tak tahu.


“Mau ku ceritakan dongeng kisah cinta keposesifan dari enam Arjuna keluarga ini?. Terutama kisah Poppa dan Momma?. Aku tahu ..”


“Sudah diam!. Sana! Kembali ke kamar mu sebelum kupatahkan kakimu!.” Andrew langsung menyela.


“Mau ke kamar Andrea dulu.”


“Hah terserah!.” Andrea mengibaskan tangannya. “Semoga Andrea mengunci pintunya!.”


“Tidak mungkin, jika pun iya, aku bisa masuk melewati balkon kamarnya.”


“Hah masa bodoh!.”


Dada Andrew kembang kempis rasanya.


“Sudah cepat pergi sana!.”


Reno dan Andrew saling menyahuti si Abang.


Membuat Nathan rasanya ingin tepuk tangan karena baru ini Poppa mereka nampak pasrah, telak kalah. Tak hanya


Nathan yang ingin bertepuk tangan, rasanya semua orang selain Poppa atau Daddy R ingin memberikan standing applause pada si Abang.


Hingga mereka terpikir akan satu hal.


Punya anak pintar itu membanggakan, baik, sangat baik. Tapi punya anak yang terlalu pintar itu rasanya juga kurang baik. Apalagi anak yang pintar menganalisa namun bukan sekedar soal matematika, biologi atau fisika bahkan kimia.


“Jika bukan karena aku menyayanginya, sudah kukuliti hidup – hidup!.” Celoteh Poppa dengan wajah kesalnya.


“Baiklah selamat malam semua.” Ucap Abang yang kemudian berpamitan sambil melangkah dengan tenangnya.


Meninggalkan Andrew dan Reno dengan kesal mereka, sisanya kemudia mendengus, menghela nafas dan kemudian terkekeh memandangi dua orang yang nampak begitu kesal juga frustasi.


***


To be continue ...


***


Give away winner


Selamat untuk kalian dengan nama – nama yang tercantum dibawah ini.


1.     @Finnian Lousiana – Pulsa senilai Rp 75.000


2.     @Aflyda Yanti – Pulsa senilai Rp. 50.000


3.     @Ridha Sulistiasih – Pulsa senilai Rp. 25.000


Author ambil dari Top Fans di Ranking Umum yah, tiga nama ini. Nama teratas di jejeran Top Fans nya The Smith’s.


Mohon maaf, karena hanya bisa memilih tiga nama dengan hadiah yang tak seberapa. Harap maklum yah, popularitas The Smith’s belum sampe seperti Bukan Sekedar Sahabat soale.


Tapi ya biar bagaimanapun ini sebagai apresiasi emak untuk para reader semua. Semoga kedepannya emak lebih baik dan bisa menciptakan karya – karya baru yang layak dibaca. Aamiin.


Terima kasih sekali lagi atas dukungan kalian, tidak hanya pada tiga nama diatas, tapi juga pada semua reader yang masih setia hingga saat ini.


Note: Para pemenang silahkan DM emak di IG @mom_n_queen atau silahkan chat miminnya emak diaplikasi NT / MT @Fanie Sajah.

__ADS_1


Thank you, Loph selalu


__ADS_2