
Sebelumnya Emak Ucapin Happy New Year 2022.
Semoga Tahun Ini Penuh Kebaikan dan Keberuntungan Bagi Kita Semua.
Aamiin.
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
AT THE POINT OF THE MADNESS
(Diujung Kegilaan)
Selamat membaca ...
Hospital (Rumah Sakit)
“Kenapa Aina kamu bawa Ji?” Tanya Poppa kala melihat Mama Jihan datang menyusul Momma dan beberapa lainnya yang sudah lebih dulu sampai setelah kloter sebelumnya pulang bersama anak kedua Papa dan Mama Bear itu.
“Dia merengek ingin bertemu Daddy nya dan Nathan, termasuk ingin melihat Kakak Drea nya”
Poppa mengangkat tubuh mungil Aina ke atas pangkuannya kemudian.
“Dan kalian tahu sendiri kalau putri kecil itu adalah ratu drama!”
Poppa dan yang lainnya terkekeh mendengar celotehan Mama Jihan yang tertuju pada anak keduanya itu yang
memasang wajah polosnya di hadapan mereka.
“Papa Bear dan Kaka Tan – Tan mana Poppa? Teruss Abang juga mana?”
“Mereka bertiga sedang ada pekerjaan, Sweety”
“Poppa bisa hubungi Daddy dan bilang sama Daddy kalau Cinder Aina ada disini?”
Poppa pun mengangguk pada Aina.
Dan Aina pun menunjukkan rentetan giginya yang sedikit tak utuh itu.
“Poppa, apa Kaka Andrea sakit parah?”
Bocah perempuan ceriwis berusia tujuh tahun itu bertanya dengan polosnya.
“Tidak Sweety” Daddy R yang menyahut, menjawab pertanyaan Aina.
“Aku boleh mendekati Kaka Andrea?” Tanya Aina.
“Tentu saja”
“Pergilah”
Poppa menurunkan Aina dari pangkuannya, dan ia pun ikut berdiri untuk mendekat ke brankar Andrea yang sempat siuman namun sudah tertidur lagi.
Ada Momma dan Mama Jihan juga Kevia yang berada didekat Andrea, yang kemudian hendak menelpon kecuali
Momma yang mendekati Poppa.
“Aina...”
Kevia memanggil adik ipar kecilnya itu sebelum bocah tersebut mendekati Andrea.
“Iya Kaka Via?”
“Tapi Aina jangan sentuh Kakak Drea ya?. Takutnya nanti Kakak Drea kaget. Ya?”
Kevia memberikan pengertian pada Aina yang ditakutkan menyentuh Andrea dan membuat istri kecil si Abang itu
menjadi histeris.
Karena sedikit banyak, Kevia maupun seluruh keluarga yang lain sudah tahu tentang kondisi Andrea saat ini.
“Iya Kaka Via”
“Ya sudah”
*****
“Poppa”
“Ya, Mommanya Poppa?”
Momma terkekeh kecil melihat wajah Poppa yang selalunya sering sekali menggodanya.
Momma dan Poppa memang punya panggilan kesayangan, namun jika di depan anak – anak mereka, panggilan Poppa dan Momma lah yang disematkan.
Karena kebetulan saat ini sedang ada Aina jadi Poppa dan Momma saling menyebut panggilan yang biasa anak –
anak mereka ucapkan.
“Kaka Drea cantik. Sakit aja cantik”
Celotehan Aina yang membuat Poppa dan Momma yang berada tak jauh darinya menoleh sebentar dan tersenyum
pada bocah yang berdiri disamping Andrea dan patuh untuk tidak menyentuhnya.
“Sudah hubungi Abang?”
“Kaka Drea cepet sembuh ya?”
__ADS_1
“Tadi sudah”
“Apa Abang benar – benar melakukan hal yang seperti dia bilang ke aku?”
“Tidak perlu kamu pikirkan dulu ya?. Sudahlah. Abang itu aku, R dan pria yang lainnya”
“Kaka Drea .....” Suara Aina terdengar lagi disela Poppa dan Momma saling berbicara dengan pelan itu.
Poppa dan Momma berbicara sedikit berbisik dan berdiri saling berhadapan, menyamping dari brankar Andrea.
“Tidak perlu ditanyakan lagi, tidak usah dibahas lagi ..... sekuat apapun kita mencoba menghalangi, kemarahan Abang tidak mungkin dapat di redam seperti halnya aku jika hal seperti ini terjadi pada kamu”
Momma manggut – manggut pasrah.
“Ya sudah”
“Poppa.....”
“Sudah selesai melihat Kakak Drea, Aina?”
“Poppa ..... itu”
Tangan Aina menunjuk ke arah brankar Andrea, didetik yang sama bunyi dari sebuah alat yang tadinya stabil, kini terdengar mulai cepat.
***
‘ The Playground ‘
“Buka matamu lebar – lebar”
Daddy Jeff berkata dengan tetap menahan tengkuk Nathan dengan cengkramannya.
Selama beberapa detik, mau tidak mau Nathan membuat bola matanya menyaksikan apa yang terjadi didalam
ruangan yang ada di hadapannya itu.
“AAAARRRGGHHHH!!! .....”
“Jika kau merasa dirimu adalah bagian dari para pria Adjieran Smith maka kau sudah harus membiasakan dirimu dengan hal – hal seperti ini”
Nathan tak menyahut, hanya raut wajahnya yang nampak diliputi kengerian, berikut jakunnya yang naik turun.
“Ini bukan soal ‘berlaku kejam dan tidak berperikemanusiaan’. Tapi ini menyangkut bagaimana kau membela
wanitamu jika kau memang benar – benar mencintainya”
Nathan masih tak menyahut.
“AAAARRRGGHHHH!!! .....”
“............”
Suara jeritan dan rintihan memohon pengampunan yang berasal dari dalam ruangan, termasuk dengan apa yang
sedang terjadi di dalamnya, membuat bulu kuduk Nathan meremang dengan sempurna.
“Kau! BERANI MELECEHKAN ISTRIKU!!! BERANI MENEMPATKAN TANGAN KOTORMU PADANYA!!!”
“A ..... am..... puunnnnn ..... sa – saya be..... belum sampai..... ngapa – ngapain..... istri ..... an –
an, da.....”
CTAAARR!
Suara cambukan pun terdengar lagi sampai beberapa kali berikut jeritan dan rintihan sebelum Varen membuang
dengan kasar sebuah benda panjang berwarna hitam dari tangannya.
“Gi .... ta..... yang menyuruh .... sa – ya .....”
“Black! Give me a tongue cutter!. (Berikan aku pemotong lidah)”
“Ini Tuan”
“KAU! KARNA KAU! ISTRIKU MENJADI TRAUMA! KAU\, AKAN MEMBAYARNYA\, MOTHE*F*C*E*R! (BA*INGAN KEPARAT!)”
“Amp.... amp – unnnn .....”
“Aku, terpaksa, harus membunuh calon anakku sendiri, karna perbuatanmu, heh! Akan kubuat kau menderita dengan teramat sangat, sebelum aku memotong – motong tubuhmu..... Buka mulutnya!” Repet Varen.
“Ti.... dak ..... ja – ngan .....”
***
Nathan masih dipaksa Daddy Jeff untuk menyaksikan apa yang tengah Varen lakukan pada pria yang hampir
menodai Andrea.
Suara deringan ponsel dari saku Nathan dan Daddy Jeff terdengar pelan, namun keduanya mengabaikan deringan
tersebut.
“Ap – apa kalian akan membiarkan Abang melakukan itu .....?.....” Tanya Nathan yang sedikit terbata, saat melihat Varen sudah memegang suatu alat ditangannya dengan sebuah bilahan perak di tengah sebuah alat yang menyerupai tang itu.
Dan Varen menyuruh anak buah mereka untuk membuka paksa mulut pria yang sudah didudukkan di sebuah kursi
lalu di ikat bak kedua tangan dan kakinya bak terpidana mati, yang akan menerima hukuman suntik mati atau disetrum hingga mati.
__ADS_1
“Posisikan dirimu, jika kau adalah Abang saat ini, Jonathan Alton Smith. Apa kau tidak sehancur Abang jika Via yang berada diposisi Little Star.....??? .....”
Nathan terdiam. Ia memikirkan memang ucapan Papi barusan, tetapi tak menampik kalau ia sudah cukup merasa ngeri setelah melihat Abang mencambuk pria tersebut dengan membabi buta, bahkan beberapa bagian kulitnya sudah terkelupas, lalu kini Abang akan memotong lidah pria tersebut dengan tangannya sendiri.
Namun naasnya bagi Nathan, kini Daddy Jeff malah menggiring Nathan untuk masuk ke dalam ruangan tempat
Varen akan melakukan satu eksekusi lagi.
Disaat yang bersamaan, kini ponsel Papi yang terdengar berdering.
***
“Aku, terpaksa, harus membunuh calon anakku sendiri, karna perbuatanmu, heh! Akan kubuat kau menderita dengan teramat sangat, sebelum aku memotong – motong tubuhmu..... Buka mulutnya!”
“Ti.... dak ..... ja – ngan .....”
“Biarkan saya yang melakukannya Tuan”
Varen menatap Black dengan tajam, tanpa berucap.
“Maafkan saya Tuan” Black menurunkan pandangannya, lalu sedikit memundurkan tubuhnya.
Varen kembali pada pria yang sudah dibuka paksa mulutnya oleh dua orang anak buahnya yang lain.
“Kau mau pilih yang mana?”
Varen mengangkat dua benda kehadapan si pria yang raut ketakutannya jangan ditanya, belum lagi luka cambukan yang cukup banyak ditubuhnya, yang sedang dibuka paksa mulutnya.
“Yang satu adalah pemotong lidah dengan mata pisau terbaik, meskipun kecil ukurannya, tapi ini bisa memotong lidahmu dalam sekejap mata. Dan pisau kesayanganku ini terbuat dari baja Damaskus. Jangankan lidahmu, bahkan ini dapat mengiris lehermu dan kau masih akan sempat melihat darahmu yang keluar dari sini ....”
Varen meletakkan bagian halus pisau di leher orang tersebut yang nampak berkali – kali menelan jakunnya, menggeleng penuh permohonan dan tatapan iba, bahkan air matanya sudah turun dengan derasnya.
“Bahkan sebelum kau sempat melakukan apa – apa.....” Sambung Varen dengan menampakkan seringainya yang
menyeramkan.
Lalu Varen seolah sedang bingung dengan kedua benda di tangannya.
Tahu, kalau Daddy Jeff dan Nathan ada didekatnya sekarang, dengan santainya Abang bertanya.
“Kalau menurutmu aku harus menggunakan yang mana, Papa Bear .....?.....”
“Keduanya bagus!” Sahut Daddy Jeff dengan santainya, dan kini satu tangannya kembali mencengkram tengkuk Nathan.
“Hemm ..... kurasa aku akan memotong lidahnya dulu, agar penderitaannya sedikit panjang, sebagaimana Little
Star”
“Bang .....” Suara Papi John terdengar bersamaan dengan satu tangannya yang menyentuh pundak si Abang yang
sudah memberikan pisau dengan ukuran medium bergerigi di bawahnya pada Daddy Jeff untuk di pegangi.
Sementara si Abang sendiri sudah mencengkram dagu si pria dan meminta Black untuk membuat lidah si pria
yang akan ia eksekusi itu terjulur.
Abang tak melanjutkan apa yang ingin ia lakukan saat mendengar Papi memanggil sambil menyentuh pundaknya.
Abang sontak menoleh. “Apa kau coba menghentikanku Pi?” Ucap Abang seraya bertanya pada Papi.
“Kau harus segera kembali ke Rumah Sakit sekarang”
*****
Hospital (Rumah Sakit)
“Poppa.....”
“Sudah selesai melihat Kakak Drea, Aina?”
“Poppa ..... itu”
Tangan Aina menunjuk ke arah brankar Andrea, didetik yang sama bunyi dari sebuah alat yang tadinya stabil, kini terdengar mulai cepat.
Deg!
Momma dan Poppa sontak saja merasa gelisah dan sedikit panik, begitupun mereka yang menyadari bunyi salah satu mesin yang berbunyi cepat dengan garis dan angka yang kian meningkat juga dengan cepat.
“Aina dengan Mama Jihan dulu ya?”
“Panggilkan Marsha atau perawat!” Ucap Poppa dengan cepat dan Momma yang mengangguk cepat juga.
Tepat saat Poppa hendak menghampiri Andrea bersama Daddy R, Mommy Ara dan Rery, juga saat Momma hendak sampai ke tombol pemanggil perawat, Andrea terbangun dengan tiba – tiba di atas brankar nya yang sontak saja mengejutkan semua orang yang melihatnya, selain mereka juga nampak panik.
"Drea...." Momma memanggil dengan sangat pelan.
“Little Star.....”
Juga yang lainnya yang spontan menyebut panggilan kesayangan Andrea, saat istri kecil si Abang itu terbangun dengan sangat tiba – tiba dengan wajah yang seolah baru saja mengalami mimpi yang sangat buruk, dan buliran keringat nampak di dahinya.
“Little Star.....” Poppa dengan sangat pelan memanggil Andrea lagi, namun seolah ia terpaku di tempatnya, Poppa juga cukup takut – takut untuk mendekati Andrea jika Andrea sampai terkejut dan histeris. Karena wajah Andrea nampak seperti sedang sangat syok.
“Pop – Pop..... pa .....”
*****
To be continue...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan Jejaaaaakkkk ....