THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 56


__ADS_3

Ma acih buat nyang selalu setia menunggu Upe – nya ini novel.  😚😚


***


♥ DEJECTION  ♥  Kekesalan*****


Selamat membaca .....*****


Bandung, Jawa – Barat, Indonesia...


“.....”


‘Now I can get it .... (Sekarang gue paham), kenapa tiga saudara laki – laki gue itu selalu merasa in secure (cemas) berlebihan bila Ara, Fania dan Prita didekati pria lain ..’


“.....”


‘Cinta .. heh ..... mereka tampak bodoh saat cemburu dan kebucinan menghampiri mereka. Tapi sialnya, saat ini gue pun merasakannya. Sial! Benar – benar sial!.’


“Jeff....”


“Ya?.” Jeff terhenyak dari lamunannya saat Jihan menyentuh tangannya yang menempel pada kemudi mobilnya. “Apa?.”


“Apa yang sedang kamu pikirkan?.” Tanya Jihan walau sedikit ragu untuk bertanya.


“Bukan apa – apa.”


***


Jeff dan Jihan lebih banyak diam selama perjalanan dalam mobil Jeff. Sibule gila sendiri seringnya mendengus kesal namun pelan saat ia teringat saat Liam melamar Jihan tadi. Meski pada akhirnya dengan jelas Jihan mengatakan kalau wanita itu mencintainya pada Liam.


‘Cih!.’ Jeff berdecih dalam hatinya. Satu sisi hatinya mengejek dirinya sendiri yang pada akhirnya bisa jatuh cinta yang sesungguhnya pada seorang wanita. Bahkan berkelahi hanya karena memperebutkan seorang wanita pun tak pernah terbayangkan oleh Jeff sebelumnya. ‘Norak!' Dulu ia beranggapan.


Namun sekarang Jeff seperti menjilat ludahnya sendiri. Tak disangka hari ini ia sampai berkelahi dengan seorang laki – laki yang dulu bahkan lumayan dekat dengannya sebagai teman. Baik dalam bisnis maupun ‘bersenang – senang’. Hanya karena hati Jeff terbakar cemburu melihat wanita yang dicintainya itu sedang dilamar oleh laki – laki lain.


“Tidak seharusnya kamu melakukan hal seperti tadi, Jeff.” Jihan akhirnya bersuara.


“Berkelahi maksud kamu?.”


“Iya .. tidak seharusnya kamu memukul Liam tadi.”


Jeff menepikan mobil lalu mematikan mesinnya dipinggir sebuah taman yang kebetulan ia lewati.


“Kamu sedang membelanya?.” Ujar Jeff seraya bertanya dengan nada suara dan tatapan yang sedikit sinis.


“Aku bukan membela Liam. Aku hanya tidak suka melihat kamu seperti tadi. Dan memang seharusnya kamu tidak


memukul Liam. Dalam hal ini, dia tidak bersalah, Jeff.”


“Jadi aku yang bersalah dalam pandangan kamu? Apa kamu ingat kalau dia yang memulai?.”


“Bukan Liam. Tapi kamu.” Ucap Jihan. “Kamu yang memulainya Jeff. Kamu yang memprovokasi Liam dengan mencium aku tadi. Jelas dia marah dan tidak terima.”


“Apa?.”


“Aku bahkan belum membicarakan soal kita padanya. Jadi kalau Liam merasa tak terima kamu yang tiba – tiba mencium aku, ya wajar kalau dia emosi seperti tadi. Aku belum sempat memutuskan hubungan dengannya. Dan aku sudah bilang pada kamu beri aku waktu ..”


“Diam..”


“Pada kenyataannya saat ini, aku belum mengatakan putus dengannya. Meski ya aku akui, aku memang sudah mencintai kamu. Tapi kamu terlalu menuntut, Jeff. Kalau kamu diposisi Liam, bagaimana perasaan kamu kalau melihat kekasih kamu dicium oleh pria lain? Kamu pasti ga terima kan? Kamu pasti..”


“AKU BILANG DIAM!.”


Suara Jeff keluar dengan kencangnya dari mulut laki – laki itu bersamaan dengan rahangnya yang mengeras. Jeff tampak emosi, dan seketika Jihan yang sangat terkejut itupun otomatis bungkam. Jihan nampak sedikit syok mendengar hardikan Jeff barusan. Wajah pria disampingnya itu kini nampak menyeramkan dibalik ketampanan nya. Jihan paham situasi dan ia diam selain merasakan lidahnya yang terasa kelu saat ini.


“Mau ku antar kembali pada kekasihmu agar kamu bisa menerima lamarannya?.” Ucap Jeff dingin tanpa menoleh


pada Jihan. Ia sudah menyalakan mesin mobil dan melajukan nya kembali.


“Apa ..?”


“Kau tak tega padanya bukan? Akan ku antar kau padanya.”


“Jeff...” Jihan menyentuh lengannya.


“Singkirkan tanganmu dariku.” Ucap Jeff yang sekilas melirik tangan Jihan yang menyentuh tangannya yang menempel pada kemudi.

__ADS_1


“Aku minta maaf Jeff. Aku tak bermaksud menyinggung perasaan kamu.” Ucap Jihan setelah menyingkirkan tangannya dari lengan Jeff yang tadi dia sentuh.


Jeff bergeming tak menyahut.


“Jeff.....”


“Diam. Atau aku akan berlaku kasar. Duduk manis dan akan ku pertemukan kamu dengan kekasihmu itu.” Jeff menggerakkan perseneling mobilnya dengan kasar. Sementara mata Jihan sudah nampak berkaca – kaca.


“Antar aku pulang!.” Jihan memberanikan dirinya. “Antar aku pulang kerumah ibu!.” Seru Jihan yang kemudian meluruskan lagi duduknya. Jeff melirik sebentar sambil melajukan mobilnya dengan hatinya yang sedang merasa kesal setengah mati.


****


“Sudah sampai.” Ucap Jeff dengan datar dan dingin tanpa menoleh atau bergerak dari duduknya dibelakang kemudi. Jihan menoleh padanya.


“Apa kamu tidak ingin menemui Nathan?. Lagipula wajah kamu perlu diobati.” Ucap Jihan yang sudah melepas sabuk pengamannya. Khawatir juga pada lebam didekat bibir Jeff.


“Turun.” Sahut Jeff dengan dinginnya tanpa ia melepas sabuk pengamannya.


“Jeff aku....”


“Aku bilang turun!.”


“Sekali lagi aku minta maaf..” Ucap Jihan dan kemudian keluar dari mobil Jeff. Dan pria yang sedang merasa kesal karena semua ucapan Jihan tadi itu pergi dengan cepat mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumah Jihan, tanpa berkata apa – apa lagi pada wanita yang sedang berdiri menatapnya dari luar mobil.


**


“Munafik!.” Jeff berkali – kali memukul kemudinya karena kesal. Berkali – kali juga mendengus dan menghela nafasnya dengan berat karena kekesalan dalam hatinya.


Jeff melajukan mobilnya dengan gusar menuju Jakarta.


“Persetan dengan cinta!. DIRT! (SAMPAH!).”


****


Jakarta, Indonesia ...


“Sial! Lumayan juga pukulan si Liam.”


Jeff memegang wajahnya dan memperhatikan sudut dekat bibirnya yang sedikit lebam dari kaca wastafel dalam kamar mandi pribadi di apartemennya.


“Haish!.”


Jeff mendengus kesal. Ia segera keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya dan membuka lemari minumannya.


“Women (Dasar wanita).” Jeff menuangkan minuman dalam gelas dan menenggaknya cepat. “Entah bagaimana cara berpikir mereka.”


Jeff mengambil ponselnya dan membuka galeri foto dalam ponselnya itu.


“Especially you, Jihan Shaquita! (Terutama kamu, Jihan Shaquita!).” Jeff berbicara sendiri sambil menatap layar ponsel yang sudah terpampang wajah Jihan disana. Ia menenggak lagi minumannya. Kali ini tak ia tuang lagi kedalam gelas, melainkan menenggaknya langsung dari botol.


***


Tring!!


Tring!!


Tring!!


Ponsel Jeff berdering berkali – kali, namun tak Jeff angkat karena pria itu tertidur disofa dalam apartemennya.


Tring!!


“Ck!.”


Bunyi panggilan keempat barulah mengusik tidur Jeff hingga membuatnya berdecak karena merasa terganggu.


“Siapa sih?.”


Jeff meraih ponsel namun tak mau melihat siapa yang membuat panggilan diponselnya. Ia menekan tombol dipinggir ponsel dan mencoba kembali tidur.


Tring!!


Ponsel Jeff berdering lagi. Kali ini membuat Jeff bangun dari tidurnya. Mendudukkan dirinya sambil menggerakkan


lehernya sebentar ke kanan dan ke kiri serta memutar. Ia melirik jam dinding selurusan dengan matanya.

__ADS_1


Tring!!


Ponsel Jeff terus berdering dan itu membuatnya bertambah kesal. “Siapa yang menghubungi jam segini sih?!.”


Dengan malas dia meraih ponsel dan kemudian alisnya terangkat satu melihat nama pemanggil dilayar ponsel. Jeff memperhatikan jam diponselnya.


“Mau apa dia ..?.”


Jeff menggumam sendiri namun tak langsung menerima panggilan pada ponselnya yang terus berdering itu.


“Persetan!! ..”


Jeff melempar ponselnya kesamping. Ia meraih lagi botol minuman yang baru ia minum tak sampai setengahnya itu. Dering panggilan diponselnya tak lagi terdengar.


Drrttt!


Namun ada nada notifikasi pesan masuk tak lama berselang.


Jeff melirik malas pada ponsel yang berada diatas sofa disampingnya.


Enggan untuk melihat dan membaca. Tapi pada akhirnya ia meraih lagi ponselnya karena rasa penasaran.


‘Aku di lobi apartemen kamu.’


“Apa?!.” Jeff membulatkan matanya. Ia langsung berdiri dari duduknya. "Apa dia sudah gila?!."


Jeff tak membalas pesan tersebut, namun ia meraih interkom yang bisa terhubung dengan resepsionis di lobi apartemennya.


“Apa ada seseorang yang mencariku?.”


“.....”


“Baiklah, suruh tunggu. Aku akan turun.


**


“Darimana kamu tahu aku disini?.” Jeff sudah sampai di lobi gedung apartemen tempat tinggal pribadinya.


“Aku hanya mengira – ngira. Aku .. sudah pernah sekali datang kesini dulu. Dan ... aku masih mengingatnya. Jadi


aku mencoba peruntungan ku.”


“Selain munafik kau bodoh juga ternyata.” Ucap Jeff datar.


“Aku ga perduli kamu mau bilang apa. Aku kesini karena merasa tak tenang.”


“Kalau aku sudah tidak tinggal disini?.”


“Aku akan mencari tahu dimana kamu tinggal. Aku bisa bertanya pada Fania kan?. Aku tidak akan menyia - nyiakan waktuku dari Bandung ke Jakarta dijam segini.”


“Jihan .. Jihan .. entah apa yang ada diotak kamu.”


“Kamu!.”


“Aku? Heh?!.”


“Ya kamu! Pria yang membuat aku menjadi bodoh seketika sampai – sampai aku harus bela – belain mencari kamu


karena hati aku yang rasanya tak tenang.”


“Atas dasar?.” Jeff menundukkan sedikit tubuhnya dan mencondongkan wajahnya pada Jihan.


“Apa kamu habis minum – minum?.”


“Bukan urusanmu!.”


“Aku ingin bicara Jeff.” Ucap Jihan yang memberanikan dirinya memandang pada Jeff yang menatapnya dingin saat ini. Bahkan mereka masih berada di lobi apartemen.


“Aku sudah tidak ingin bicara apapun dengan kamu, Jihan Shaquita!.”


****


To be continue .....


Like dan Komen selalu Author tunggu

__ADS_1


__ADS_2