
HERE FOR YOU
(Disini Untukmu)
*************************
Selamat membaca...
**********************
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia.......
Varen berdiri terdiam sendirian di halaman depan Kediaman Utama saat malam kian menjelang, menyalakan sebatang rokok lalu menatap langit.
Varen dapat memiliki waktunya sendiri saat ini, karena Andrea sedang bersama keluarganya yang lain di dalam Mansion. Sementara ia seperti sedang merenung dalam berdirinya sembari mengepulkan asap ke udara dari rokok yang ia hisap.
“Bagi – bagi kalo ada yang mengganjal di hati”
Varen sontak langsung menoleh ketika ada seseorang yang bersuara di belakangnya, sembari menyalakan sebatang rokok yang sudah terselip di bibirnya.
“Your brother was right!..... (Adikmu itu benar ....)”
“Heeeemmm.... usia mu masih kepala dua namun keningmu yang berkerut itu membuatmu bahkan tampak lebih tua dari kami”
Varen menyunggingkan senyumnya, kala saat ia menoleh tidak hanya Nathan yang menyusulnya ke pekarangan depan Kediaman Utama tapi juga para ayah tampan yang saat ini sedang berkumpul semua di Kediaman.
Sementara para ibu dan adik – adik berikut para kakek dan nenek tanpa terkecuali bercengkrama bersama Andrea dan Kevia di ruang santai keluarga.
“What’s bothering you (Apa yang sedang mengganggu pikiranmu), hem?”
Daddy Jeff merangkul, lalu menepuk – nepuk bahu si Abang yang wajahnya memang seperti sedang terbebani akan sesuatu.
“Kami harap kau sudah tidak lagi memikirkan pe**cur tua itu berikut kaki tangan dirinya dan dua back up nya di negeri ini yang sudah kau musnahkan itu, dalam sindikatnya dua keparat Rusia itu”
“Heeeemm.... that old hooker is getting nuts I guess, after she lost her daughter just like that (pe**cur tua itu aku pikir akan menjadi gila, setelah dia kehilangan anak perempuannya dengan cara seperti itu)”
“Terlebih dia sudah tidak punya apa – apa lagi. Semua asetnya sudah kami bekukan, suaminya akan mendapatkan hukuman mati”
“I even vanished her ‘boyfriend’ (Aku bahkan menghabisi ‘kekasih’ nya). Cih! Dasar tidak tahu malu!”
“Sean dan Rico sudah mengurusnya. Jika dia tidak menjadi gila, hukuman mati juga akan sampai padanya”
“Kaki tangannya yang masih tersisa dan berada dalam penjara juga akan diberikan hukuman yang paling berat Sean bilang”
“Iya ...” Varen manggut – manggut. “Aku tidak sedang memikirkan itu lagi.....”
Varen menghisap dalam rokok yang hampir menjadi puntung itu sebelum membuangnya. Lalu mengepulkan asapnya ke udara.
“Lagipula aku sudah merasa cukup puas memberi ganjaran pada dua pria laknat itu dan dua orang yang paling
bersalah atas kondisi Little Star sebelumnya”
“Lalu apa yang sedang mengganggu pikiranmu, hem?”
“Little Star....”
“Apa ada keluhan lain, selain tubuhnya yang kau bilang sedikit dingin tadi?”
“Tidak sih...” Jawab Varen. “Obat dari Marsha dan Uncle Alan cukup bisa diandalkan, meskipun aku masih sedikit khawatir dalam tahap observasi kondisi Little Star ini”
Varen menghembuskan nafasnya dengan berat sebelum menatap satu – satu para ayah tampannya berikut Nathan
yang masih menghisap batangan nikotin dan mengepulkan asapnya ke udara.
“Tapi ada hal lain yang juga membebaniku saat ini”
“Katakanlah, Boy.....”
“Kebenaran tentang calon buah hatiku dan Little Star, yang belum aku beritahukan padanya”
***
Varen sudah lebih dulu masuk ke Kediaman setelah berbicara panjang lebar dengan enam ayahnya dan juga Nathan.
Sudah waktunya membawa Andrea untuk istirahat, meskipun Varen sendiri belum merasa mengantuk.
“Kak Drea mana, Val?”
“Sudah naik ke kamar dengan Momma, Mom dan Mami”
“Kak Drea mengeluhkan sesuatu?”
“Tidak sih, hanya sedikit lelah saja katanya”
__ADS_1
“Heeemm... ya sudah Abang ke kamar dulu kalau begitu”
"Okay, Bang"
****
Varen berpapasan dengan ketiga ibunya saat hendak masuk ke kamar pribadinya dan Andrea.
“Moms” Sapa Varen pada tiga wanita yang amat disayanginya itu dari beberapa wanita dalam keluarga mereka yang juga amat ia sayangi.
“Eh, Abang....”
“Little Star sudah tidur, Bang...”
“Iya Bang, sana kalau mau lanjut kumpul sama bapak – bapak lagi”
“Aku jaga Little Star saja, Moms ...” Sahut Varen pada tiga ibunya itu.
“Take your time, Abang ..... kami juga belum mengantuk dan mau duduk – duduk disini saja kok sambil menonton”
Mommy Ara menunjuk sebuah tempat di bagian tengah lantai atas yang ada didepan kamar Varen dan Andrea dan beberapa kamar lainnya yang bersebelahan dan bersebrangan. Momma dan Mami mengangguk.
“Takut ganggu Drea kalau kita nonton didalem”
Momma kemudian mengelus kepala Varen dengan lembut dan menghentikan tangannya di garis rahang si Abang.
“Kami bertiga ini perawat yang baik tau? .... nanti juga berdatangan perawat – perawat lain yang hobi nonton drama” Ucap Momma.
Varen terkekeh kecil.
“Jadi kalau kamu mau menghabiskan waktu sebentar dengan para Dads silahkan saja, Bang”
“Tau sih Bang, santai – santai lah sana. Toh Drea juga di rumah sudah. Dia udah tidur, obatnya juga sudah diminum, jadi kamu setidaknya bisa sedikit merasa tenang sekarang ...”
Varen pun mengangguk.
“Memang kamu sudah mengantuk?” Tanya Momma.
“Belum sih, Momma.....”
“Nah, ya sudah sana kalau mau spending men time sama bapak – bapak lemes” Timpal Mami.
“Nanti kami akan sering – sering menengok Drea di kamar. Ga di tutup rapat nanti kamarnya. Tivi juga ga akan besar volumenya, jadi kalau Drea butuh sesuatu kami gampang tahu”
Varen mengangguk lagi.
****
“Little Star sudah tidur Bang?” Tanya Papi John saat melihat Varen datang menyambangi dirinya dan enam pria lainnya di ruang billiard.
“Sudah Pi! ...”
Varen bergabung dengan enam Daddiesnya dan juga Nathan yang sedang berkumpul di ruang main billiard itu. Ia
kemudian mengambil stik billiard lalu menggantikan Daddy Dewa untuk bermain melawan Papa Bear.
Sementara di meja billiard satunya Bapak Bebek dan Makhluk Astral yang sedang bertanding.
Dan Papi, Daddy R serta Nathan asyik bermain kartu.
Ruang billiard itu ricuh dengan suara para pria yang asyik dengan permainan yang mereka mainkan.
Hingga selang satu jam lebih berlalu dan minuman yang disuguhkan oleh asisten rumah tangga sudah habis.
Namun The Hot Daddies dan Nathan nampak belum ingin beranjak dari sana.
Varen yang akhirnya duluan bersuara untuk undur diri, setelah melirik jam dinding berbandul dalam ruangan tersebut.
“Duduklah dulu, sudah mengantuk memang?. Aku ingin bicara soal kaki tangan para kriminal itu”
“Cih! Mengatakan orang lain kriminal, tidak berkaca diri”
“Kau sendiri?”
“Bagiku mereka yang kau maksud bukan kriminal. Tapi para Bang**t ba**ngan keparat!!! .....”
“.....”
“Karena mereka Little Star harus menderita! Karena mereka aku harus membunuh anakku sendiri!”
“Calm yourself, Boy..... (Tenangkan dirimu, Nak) .....”
Nathan yang berada di samping Varen juga ikut menenangkan si Abang yang kini nampak frustasi dengan
__ADS_1
merangkul bahunya saat Papa Lucca menyentuh garis rahang Varen sembari menatapnya lekat – lekat.
“I’m frustrating Pap. I still don’t know how tell her about our expectant late baby..... (Aku frustasi Pap. Aku masih tidak tahu bagaimana harus mengatakan pada Little Star tentang calon bayi kami yang sudah tiada)”
“.....”
“Aku takut memang, tak sanggup membayangkan jika Little Star membenciku. But that’s okay, it would be fine for me (Tapi itu tidak mengapa, aku tidak masalah). Aku akan mencoba menerimanya dengan lapang dada jika Little Star sampai membenciku”
“.....”
“Namun yang paling aku takutkan justru Little Star akan tersakiti, aku takut dia larut dalam kesedihannya nanti”
“.....”
“Jika Little Star menyalahkanku tak apa..... toh memang kesalahan ada padaku yang lalai menjaganya..... tapi aku khawatir dia kembali menyalahkan dirinya sendiri dengan spekulasi yang ia punya dalam pikirannya.....” Cerocos Varen.
“Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri terus – terusan, Boy”
“Your Dad was right..... we can’t predict some of incoming things that might be happened in our life (Dad – mu benar..... kita tidak memprediksi beberapa hal yang akan datang dalam hidup kita)”
“.....”
“Dan semua hal buruk yang terjadi, yang pernah terjadi..... itu musibah. Mau di sesali pun percuma. Things happened are happened (Hal yang sudah terjadi sudah terjadi)”
“.....”
“Yang penting kita sudah membereskannya. Tinggal kita menata lagi semua pada tempatnya. Masalah Little Star, calon buah hati kalian yang terpaksa harus dikorbankan..... keduanya tidak hanya bagian dari dirimu saja, tapi bagian dari kami juga .....”
“.....”
“Yang merasa sakit bukan hanya kau seorang ..... tapi kami semua pun turut merasakan hal yang sama. Terutama aku dan Dad R – mu. Calon buah hatimu dan Little Star adalah calon cucu kami tahu?. Jika kau takut Little Star merasa tersakiti akan kenyataan bahwa dia pernah memiliki calon buah hati di dalam perutnya tanpa dia tahu, kau
pikir kami akan diam saja?.....” Ucap Poppa.
“Poppa was right. We won’t let you bear the burden by yourself, even if Little Star might be hate you for the decision about your expectant baby and Little star (Poppa benar. Kami tidak akan membiarkanmu menanggung beban sendirian, meskipun Little Star sampai membencimu atas keputusanmu soal calon bayimu dan Little Star)”
“Jangan pernah kau lupakan siapa kita..... keluarga seperti apa kita ini. Sekuat apa ikatan kita dalam keluarga ini, hem?”
“Aku hanya takut, Dad..... aku takut Little Star akan menderita karena merasa bersalah atas apa yang terjadi pada calon buah hati kami .....Saat dia dalam kondisi terburuknya, dia berpikir dirinya yang sudah ternoda membuatnya merasa sangat bersalah padaku. Hingga ..... ya kalian tahulah bagaimana setelahnya.....” Lirih Varen.
“Listen (Dengar), aku paham perasaanmu, ketakutanmu. Karena serupa namun tak sama, aku pernah ada di
posisimu. Little Star akan bersedih setelah tahu kenyataannya itu pasti”
“.....”
“Pertanyaanku, apa kau akan membiarkannya terus bersedih dan kau sendiri terpuruk dalam rasa bersalahmu,
hingga kau melupakan cara bagaimana untuk menghilangkan kesedihan istri kecilmu itu?”
“Tidak, Pop .....”
“Ya sudah, berhenti terlalu – lalu menyalahkan dirimu sendiri”
“Look, Boy..... kami semua pernah lalai menjaga para wanita kami, but you see everything become alright ..... (tapi kau lihat semua akan menjadi baik – baik saja) ..... so does Little Star (begitupun Little Star)”
“Little Star bukan divonis tidak dapat hamil lagi bukan?. Dia hanya butuh waktu untuk pemulihan dan setelahnya kalian buat dan hasilkanlah bayi sebanyak yang kalian mau”
“Even after the worst storm, the sun will shine again (Meskipun setelah badai yang terburuk, matahari akan
bersinar lagi), right?”
Nathan bersuara.
“Bahkan gue dan Via juga masih menunggu keajaiban buat kehadiran buah hati kami sebagai pengganti calon bayi gue yang dengan laknatnya gue hilangkan dengan sengaja. Meski alasan kita jauh berbeda, tapi yang jelas ya gue punya beban rasa bersalah yang sama seperti lo. Bahkan lebih besar, Bang.”
“.....”
“Dan gue berbagi beban dengan kalian kan?. Meski ga menghilang sepenuhnya, tapi semua nampak lebih mudah dijalani. So, you’re not alone (Jadi, lo ga sendirian), Bro!”
Mendengar setiap ucapan para Dad dan Nathan membuat Varen menjadi tenang.
“Remember, everything's gonna be alright (Ingatlah, semua akan menjadi baik – baik saja)”
“And if not getting alright (Dan jika tidak menjadi baik),”
“Dads, will make it Right for sure! (Para ayah, yang akan memastikan semua menjadi baik!)”
Varen dan Nathan terkekeh saja melihat para Dad mereka yang super pede itu. Selain bersyukur juga mempunyai ayah macam ayah – ayahnya ini yang menjunjung tinggi arti keluarga dalam hidup mereka diluar sisi kejam ke enam Hot Daddies itu, hingga ikatan terbentuk begitu kuatnya tanpa sedikitpun pernah goyah.
“Me is you and you are us (Aku adalah kau dan kau adalah kami)... No matter what, this family will always be here for you (Apapun yang terjadi, keluarga ini akan selalu ada untukmu)”
“And keep it in your both head. No matter what will happen in future, our family will find the way for sure even the sky is tumbling down (Dan camkan ini di kepala kalian berdua. Tidak masalah apapun yang akan terjadi di masa depan, keluarga kita pasti akan menemukan cara meskipun langit mulai runtuh)”
__ADS_1
****
To be continue ...