
# SINYAL KE – UWU - AN #😚😚😚😚😚😚😚😚😚
Selamat membaca ...
Jakarta, Indonesia
Prita dan John sudah menyelesaikan makan malam mereka.
“Sudah kenyang?.” Tanya John pada Prita sembari ia tersenyum.
“Gila kali gue kalo ga kenyang makan segitu banyak.” Sahut Prita sambil memegang perutnya.
Namun sepertinya perut yang sudah menampung sushi, steak dan kentang goreng itu tidak berubah. Masih terlihat nampak rata dibalik kaosnya.
Memang benar yang dibilang Fania. Ga akan ada makanan yang mubazir selama ada si Priwitan.
John terkekeh. Geleng – geleng melihat semua makanan yang tadi ia beli ludes tak tersisa.
Namun John memang senang Prita yang seperti itu. Prita yang ga ada jaim - jaimnya, sama kek kakaknya, begitupun keluarganya. Yang kembali lagi sudah bersikap biasa padanya.
“Sudah Prita, nanti pagi juga ada maid yang membersihkan Penthouse ini.” Ucap John yang melihat Prita membereskan peralatan makan dan minum yang tadi mereka gunakan sekaligus seperti akan mencucinya, karena Prita sudah berdiri didepan wastafel.
“Ilah timbang cucian piring segini doang pake nunggu besok pagi. Kelamaan nunggu pagi. Kalo dulu nih, gue apa Kak Fania ga langsung cuci piring habis makan, besoknya si mamah pasti kasih gue sama kak Fania daon pisang buat makan.”
Cerocos si Priwitan dan John terkekeh lagi.
“Masa mama Bela sekejam itu sih?.”
“Yah ga percaya.” Ucap Prita. “Si mamah tuh kalo soal ngajarin gue sama Kak Fania, kejam. Kalah ibu tiri sama die sih.” Prita bercerita sambil mencuci piring.
“Oh ya?.”
“Hemmmmm.... tapi ga apa – apa sih. Kan jadinya gue sama si kakak ga males – males amat.”
“Tapi anaknya mama Bela dan papa Herman hebat – hebat kan jadinya karena didikan mereka?.”
“Hebat apaan tau.”
“Yah hebat karena kamu dan Fania jadi mandiri.”
“Kak Fania yang the best sih kalo soal mandiri.” Ucap Prita yang telah menyelesaikan cuci piringnya. “Inspirasi gue tuh dia, biar gesrek begitu juga kadang – kadang.” Sambungnya sambil terkekeh. John pun ikutan terkekeh.
“Oh iya Prita, setahu Kak John kan kamu bukannya mendalami Gymnastic?. Kenapa Gymnastic nya kamu tinggalin. Sekarang lebih fokus ke dance?.”
“Bosen sih di Gymnastic. Monoton juga.”
Prita dan John melipir ke ruang santai dan duduk disana.
“Sejak kapan lebih mendalami dance?. Udah pro kayaknya.” Ucap John.
“Sebenarnya sih barengan sama Gymnastic. Tapi karena waktu itu ada kompetisi Gymnastic antar sekolah, terus pihak sekolah nunjuk gue sebagai perwakilan dari klub olahraga, ya akhirnya malah keterusan. Seru ikut kejuaraan – kejuaraan. Sering menang pula.”
“Kenapa kamu ga teruskan jadi athlete?.”
“Ga punya passion kesana.”
“Hemmmmm ... jadi sekarang mau fokus jadi dancer?.”
“Mmm gimana ya bilangnya. Dibilang fokus ya fokus. Gue suka, gue lakuin lah. Seperti passionnya kak Fania pada musik, ya seperti itu juga passion gue sama dance.”
“Yeah, I can see it. (Ya, aku bisa melihatnya).” Sahut John atas ucapan Prita.
“Gue tuh pengen seperti Kak Fania, yang banyak bisanya. Tapi kakak gue itu the one and only.”
“Tapi kamu ga kalah hebat sama Fania kok Prita, kalian sama hebatnya.”
“Enggalah Kak. Jauh gue sih kalo dibandingin sama Kak Fania.”
“Jauhnya?.”
“Coba lo sebutin apa yang dia ga bisa?.”
John tampak berpikir.
“Ga nemu kan?. Sesuatu yang kira – kira Kak Fania ga bisa?.” Ucap Prita lagi. “Susah nyari sela kelemahannya dia sih. Makanya gue bangga jadi adiknya.”
“Makanya kamu takut ya, sama kakak kamu itu?.”
“Takut iya, tapi lebih karena sayang gue ke dia makanya gue patuh sama Kak Fania. Dia nge - jagain gue banget soalnya. Dan dia udah cari uang sendiri dari sebelum dia lulus SMA.”
Prita masih bercerita dan John masih setia mendengarkan. Rasanya tak bosan mendengar gadis cantik didepannya ini bercerita soal kebanggaannya pada kakak perempuannya itu.
“Pokoknya kakak gue iu motivator plus inspirasi gue. Tapi susah juga kalo mau ngikutin dia.” Ucap Prita lagi. “Manusia yang rasa penasarannya tingkat dewa, yang Cuma takut sama mamah n papah serta Tuhan Yang Maha Esa kayaknya itu dia.”
Prita dan John spontan tergelak.
“Memang kakak kamu satu itu unpredictable banget.”
__ADS_1
“Kayak perpaduan Aphrodite si dewi kecantikan, Lara Croft sama Mak Lampir ye, Kak?.” Ucap Prita yang kemudian tergelak dan John juga ikut tergelak, tertawa terbahak – bahak dengan ucapan prita barusan.
**
London, Inggris..
Uhuk .. Uhuk ..
"Siape yang lagi ngomongin gue ini?."
**
Jakarta, Indonesia ....
Prita dan John terdiam sejenak kemudian.
“Ya udah deh kalo gitu, Kak. “ Ucap Prita sambil merapihkan tasnya setelah dirasa cukup mengobrol dengan John. “Thanks ya.”
“Thanks buat apa?.”
“Buat ngebolehin gue masuk apartemen lo ini dan memakai ruang olahraga lo tadi, trus buat makanan yang enak banget sama buat kamar mandi lo deh.” Prita kemudian berdiri. “Makasih ya udah baik banget sama gue.”
“Kamu mau apa?.”
John heran karena Prita sudah berdiri dan menyelempangkan tali tas dibahunya.
“Pulanglah.” Sahut Prita.
“Pulang?.” John mengernyitkan dahinya. “Kok pulang?. Kamu kan mau menginap disini?.”
“Ya tadinya. Tapi Kan ternyata kok John pulang kesini?.”
“Memang kenapa?.”
“Ya ga enaklah guenya. Nanti lo malah terganggu dengan keberadaan gue.”
“Terganggu bagaimana sih?. Justru Kak John senanglah kalau ada teman.” Ucap John. ‘Bahagia malahan Kak John kalau Prita disini..’
“Ga apa – apa Kak, gue balik aja. Bawa mobil juga kok.” Sahut Prita sembari tersenyum.
“Ga boleh!.”
******
“Ga boleh!.”
“Ih, apaan sih ah. Udah gue mau balik. Lo mendingan istirahat sana Kak.”
“Ih, gila kali lo. Mana gue tega coba lihat lo anter gue pulang ke Bekasi sementara lo baru banget nyampe dari London.”
“Ya udah kamu jangan pulang. Menginap disini kalau memang kamu kasihan sama Kak John kalau mengantar kamu ke Bekasi.”
“Lo beneran ga merasa terganggu kalau gue nginep disini?.”
“Sama sekali tidak.”
“Ya udah.”
******
“Kamar tamunya itu kan, Kak?.”
“Iya.”
“Ya udah gue tidur duluan ya, lo juga. Met istirahat.”
“Mau kemana?.”
“Ya itu ke kamar tamu lah. Masa ke dapur.”
“Yang suruh kamu tidur di kamar tamu?.”
“Terus gue tidur di sini?.”
“Sana, di lantai dua. Kamu tidur dikamar Kak John. Biar Kak John yang tidur di kamar tamu.”
***
“Aaa bule koplak nape so suwiiiit banget si sekarang.”
Prita sudah menempati kamar John di Penthouse laki – laki itu.
“Kan bisa sia – sia ini gue coba ilangin rasa ....”
Guling – guling ga karuan di ranjang milik John.
“Napa gue jadi girang banget gini si???.”
__ADS_1
Masih bergumam sendiri.
“Nongol lagi bisa – bisa ini cintahkuh pada muh.”
Prita memegang dadanya.
“Tapi ... gue kok ngerasa di suka sama gue ya?.”
Prita menghela nafasnya sambil memandang langit – langit kamar John.
‘Oh Hati.... jangan sampe kegeeran.’
Prita membatin.
‘Prita.... jangan terlalu berharap supaya nanti lo ga sakit untuk yang kedua kalinya.’
*****
‘Sudah tidur belum ya dia?.’
John sudah melangkah ke lantai dua menuju kamarnya dalam Penthouse.
Tak bermaksud apa – apa, tapi John rasanya masih ingin mengobrol dengan Prita.
“Kak John, belum tidur?.”
John sedikit tersentak karena tiba – tiba Prita sudah berada ditangga juga sebelum John sampai ke kamarnya.
“Eh, Prita?. Kamu juga belum tidur?.” John sedikit terbata.
John kembali terpaku saat melihat Prita saat ini. Celana training ketat serta kaos kebesaran yang digunakan prita serta rambutnya yang diikat asal – asalan justru membuat Prita nampak cantik dimata John.
Susah kalo udah bucin sih.
“Mau isi air minum.” Prita menunjukkan botol plastik yang sedang ia pegang. “Lo mau ngambil sesuatu di kamar lo, Kak?.” Tanya Prita karena melihat John seperti mau ke kamarnya.
“Oh – iya.” Sahut John tapi dia tak mengayunkan langkahnya.
“Ya udah gue ambil minum dulu ya.” Ucap Prita yang meneruskan langkahnya menuju dapur.
***
Prita sudah kembali dari dapur.
“Udah?.”
“Apanya?.”
“Tadi katanya mau ambil sesuatu di kamar lo?.”
“Oh .... “ John sedikit kikuk. “Ga jadi.”
“Beneran?. Gue mau langsung tidur nih.” Ucap Prita. “Lo mau ambil baju ganti?.”
“Ini kan sudah ganti baju. Ada beberapa pakaian yang Kak John bawa dari London.”
Prita manggut – manggut. “Ya udah kalo gitu, gue kekamar ya?.”
John mengangguk.
“Prita......”
“Apa Kak?.”
Cup!.
John meraih pelan kepala Prita dan mengecup singkat kening gadis itu.
“Sweet dream (Mimpi Indah). See you tomorrow (Sampai jumpa besok).”
Ucap John seraya tersenyum sambil melangkah ke kamar tamu.
Jangan ditanya bagaimana ekspresi si Priwitan saat ini.
***
Prita memegang dadanya saat ia sudah berada didalam kamar John yang ia tempati malam ini. Tak kuasa menahan debaran yang sedang bertalu didadanya saat ini. Ia tak sangka, agak syok lebih tepatnya saat John memberikan kecupan selamat malam dan selamat tidur di keningnya tadi.
‘Ya Tuhan ..... itu tadi .... maksudnya apa .....?.’
Prita spontan memegang keningnya.
***
John tak bisa menahan dirinya untuk tak tersenyum lebar saat sudah berada didalam kamar tamu.
‘Kenapa ga langsung gue cium bibirnya saja tadi?.’
__ADS_1
***
To be continue....