THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 162


__ADS_3

🌹   HAPPINESS   🌹   Kebahagiaan


Selamat membaca ..


**********************


“Ya udah kalo ngantuk. Mama mau panggil itu anak – anak, Apple Candy nya sudah jadi.” Ucap Mama Anye.


“Fania masuk dulu ya Ma. Rebahan bentar, nti Fania nyusul kalo emang ga bablas ketiduran ye?.” Sahut Fania.


“Udah istirahat aja.”


“Iya Ma.” Fania mengangguk.


**


Fania melangkah perlahan menuju ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri. ‘Puyeng amat pala gue.’ Batin Fania. ‘Anemia akut ape gue ye?.’ Fania melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi sambil memijat pelan pelipisnya, karena merasa kepalanya lumayan pusing.


Fania menghela nafasnya setelah mencapai kamar mandi dan berdiri didepan wastafel sambil memandangi dirinya dalam cermin.


“Perasaan nih hari gue cuman bikin brownies, ama bantuin Kak Ara nyortir desain. Kenapa cape banget perasaan?.” Fania menggumam, sambil mengusap tengkuknya yang terasa dingin kemudian bersendawa.


Fania mengusap – usap perutnya.


“Sebah amat ini perut... makan ga kira – kira si lo Jol!.” Ia berbicara sendiri dengan pelan. “Sssss ..”


Fania kembali memijat pelipisnya kala pusingnya datang lagi, sedikit lebih membuatnya pening dari sebelumnya. Ia mengusap wajahnya namun seketika merasakan tubuhnya seolah akan limbung hingga Fania mencengkram tepi wastafel dengan kedua tangannya.


“Pusing banget ini kepala.”


Fania berusaha untuk keluar kamar mandi dan berjalan perlahan.


Bruk!


Baru setengah jalan, tapi tubuh Fania keburu ambruk ke lantai kamar mandi pribadinya dan Andrew.


****


“Mommy Ichel cek dulu dibawah ya?.”


“Iya Mommy.” Sahut Nathan, Varen dan Andrea.


Michelle pun kembali mengangkat Michelle dan berjalan untuk melihat keberadaan Fania dilantai bawah.


****


“Momma ...!!.”


Baru saja Michelle akan melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga, tapi suara Nathan yang ia dengar seperti memekik sedikit keras, membuatnya mengurungkan langkahnya untuk turun dan segera berbalik menuju kamar Fania dan Andrew.


Nathan terlihat akan berjalan menuju pintu kamar saat Michelle masuk karena memang pintu dibiarkan terbuka. “Kenapa Nathan?. Ada Momma nya?.”


“Mommy ..”


“Kenapa?.”


“Momma jatuh di kamar mandi.” Ucap Nathan dengan matanya yang berkaca – kaca.


“Apa?!.”


“Aku dan Abang udah bangunin Momma tapi Momma ga bangun juga ..” Ucap Nathan lirih. Michelle langsung berlari menuju kamar mandi setelah menurunkan Mika dengan cepat dan meminta Nathan menjaganya.


“Andrea, pergi dengan Kak Nathan, panggil Poppa!.”


“KAK FANIA!!.”


“Mommy ..”


“Ya Tuhan .. Kak Fania.” Michelle buru – buru membantu Varen untuk mengangkat tubuh Fania yang tergeletak miring dilantai kamar mandi.


“Momma sudah seperti ini saat aku membuka pintu kamar mandi, Mommy.”


“Ya sudah panggil Poppa cepat!..”


“Iya Mommy.”


****


“Poppa! ..”


“Kenapa Sweety??? ...”


“Mom-ma ..”


***


“Ya Tuhan, Little F! ..”


Reno buru – buru menghampiri Michelle yang mencoba mengangkat Fania dan langsung menyambar tubuh Fania dari pegangan Michelle seraya mengangkatnya cepat.


***


“........“Kak Fania!!....” Suara Michelle terdengar samar – samar di ruang tengah.


Semua orang yang berada di ruang tengah spontan saling tatap.


“Is that Michelle voice? Did you guys hear?. (Apa itu suara Michelle?. Apa kalian mendengarnya?).”


Jeff memastikan.

__ADS_1


“Fania ..”


Ara buru – buru melangkah diikuti yang lainnya.


“Amber!.”


John memanggil pengasuh sikembar yang turun dengan sangat tergesa dari lantai atas dan langsung mendekatinya.


“Sir!. (Tuan!).”


“What happened?. (Apa yang terjadi?).”


“Mrs. Fania got unconscious, Sir .. Madam .. (Nyonya Fania tak sadarkan diri, Tuan .. Nyonya)..”


“What?!. (Apa?!).”


***


“Heart ..”


Andrew kembali memanggil Fania sambil masih menepuk – nepuk pipi wanita tercintanya itu sekaligus menggoyangkan pelan tubuh Fania.


Andrew dan Reno kompak menghela nafas sedikit lega, kala melihat mata Fania mulai bergerak perlahan. “Heart ..” Panggil Andrew.


“Little F ..” Reno juga ikut memanggil.


“Momma..”


“Engggg ..” Fania memegang kepalanya sambil berusaha untuk bangun namun Andrew menahan pundaknya pelan. “D?.”


“Slow down (Pelan – pelan) Heart. Kamu jangan buru – buru bangun dulu.” Ucap Andrew dan Fania mengangguk lemas. “What happened to you?. (Kamu kenapa?).” Tanya Andrew dengan pelan, namun nada suaranya terdengar cemas.


“Ga tau mungkin anemia, tiba – tiba pusing pas masuk kamar terus aku kekamar mandi dan pas pusing banget abis itu gelap.”


“Ya udah istirahat dulu.” Ucap Reno. “Sebentar lagi Owen datang.”


“Iya Kak..” Sahut Fania pelan.


“Momma..”


“Drea ..” Fania tersenyum pada putrinya yang berlinang air mata itu.


Andrew membawa Andrea lebih dekat lagi disamping Mommanya. Varen dan Nathan juga ikut mendekat pada Fania.


“I’m so sorry Momma (Maafkan aku Momma). Aku tidak bermaksud membuat Momma sakit karena aku nakal.” Ucap Andrea yang masih terisak. Fania tersenyum begitu juga Andrew, Reno dan Michelle yang menggendong Mika dan pada akhirnya meletakkan juga Mika diatas ranjang karena putrinya itu meminta.


“Sayang..”


Fania membawa putrinya yang masih terisak itu dalam pelukan.


“Momma hanya kurang enak badan. Bukan salah Andrea kok.” Fania membelai pelan putrinya itu.


“Tapi Momma tidak apa – apa kan?.” Abang Varen yang juga nampak cemas itu bertanya seraya mendekat pada Fania dan merebahkan dirinya disamping Fania. Nathan juga ikut meringsek didekat Andrea, dan si Mika juga latah ikutan mendekati Fania.


Andrew, Reno dan Michelle tersenyum lebar melihat pemandangan itu.


‘Set dah banyak emen anak gua!..’ Batin Fania geli sendiri.


Namun Fania bahagia, karena para krucil itu terlihat begitu menyayanginya. “Momma!.”


Fania tersenyum pada Mika yang malah meringsek keatas tubuh Fania yang masih dirasa lemas itu. “Mikaaa.” Ucap Fania pelan, namun gemas. Michelle segera mengangkat Mika dari atas tubuh Fania.


“No Mika, Momma is sick. (Jangan Mika, Momma sedang sakit). Let’s go to get Apple Candy, hem?. (Ayo kita ambil Apple Candy, hem?).”


“Apple Candy ..”


Celoteh Mika dan mereka yang ada bersamanya pun tersenyum. “Aku ke bawah dulu ya, sekaligus menunggu Owen datang.” Pamit Michelle. Fania, Andrew dan Reno pun mengangguk.


**


“Jol!.. Kamu kenape?! ..”


“Kaga ape – ape..” Sahut Fania pada Mamanya setelah semua orang dari lantai bawah sudah masuk ke kamarnya dan Andrew.


“Benar kamu ga apa – apa, Fania?.”


“Iya Mom Cuma agak pusing tadi.” Sahut Fania pada Mom.


Pada akhirnya semua orang mendekat dan menanyakan kondisi Fania sampai Owen datang bersama Judith.


“What a coincident you also come, Judith .. (Kebetulan kamu ikut datang, Judith..) I .. (Aku) ..”


Dewa tak melanjutkan kata – katanya karena Lucca langsung menyambar dengan pertanyaannya pada Owen dan


Judith.


“Are you guys just came from hospital?.. (Apa kalian berdua langsung datang dari rumah sakit?) ..”


“Stupid. Of course they are.. (Bodoh. Tentu saja iya).. Are your eyes blind? (Apa mata lo buta?). They even still wear their white coat (Mereka bahkan masih pakai jas dokternya).”


Timpal John pada pertanyaan Lucca yang mundur selangkah dari dekat Owen dan Judith sambil menutup hidung


dan mulutnya. “Hoek! Hoek! ...”


Tiba – tiba  Lucca berlari ke dalam kamar mandi Andrew dan Fania tanpa ba bi bu lagi. Fabiana langsung mengejar suaminya, sementara Dewa dan John cengengesan. Dan beberapa orang yang masih berada di kamar pribadi Andrew dan Fania seketika memperhatikan Lucca yang berlari dengan cepat ke dalam kamar mandi.


“Hoek! Hoek! ...” Suara Lucca yang nampaknya sedang muntah itu terdengar dari dalam kamar mandi.


“That’s what I tried to say!! .. (Itu yang mau gue bilang tadi!! ..).”

__ADS_1


Dewa berceloteh lalu tos kepal dengan John. Judith tersenyum dan sepertinya paham maksud Dewa dan John yang menunjuk pada Lucca, sementara Owen sudah mulai memeriksa Fania. Jeff mendekati Dewa dan John yang masih cengengesan.


“What’s wrong with him?. (Kenapa dia?).” Tanya Jeff.


“Sepertinya Ghost Buster akan mengeluarkan Casper dari persembunyian! ..” Celetuk John yang kini sudah cekikikan. Dewa juga sama.


“Haaaa ..”Jeff paham dan ikut cekikikan.


*****


“How is she Owen? Something’s wrong with her health?. (Bagaimana keadaannya Owen? Ada yang salah dengan kesehatannya?).”


Andrew bertanya pada Owen, sambil juga melirik Judith yang sudah mendekat.


“Her blood pressure is very low. But, it’s normal thing. (Tekanan darahnya sangat rendah. But, itu hal yang biasa).” Owen berdiri dari duduknya, melirik Judith dengan tersenyum. Lalu istrinya itu pun duduk disisi ranjang dekat Fania lalu meraih tangan Fania lagi.


“I know you are strong women who won’t be easy to get sick, if you get coincidence .. there must be one thing, I guess. (Aku tahu kamu wanita kuat yang tidak mudah sakit, jadi kalau tiba – tiba pingsan.. itu karena satu hal, menurutku sih).” Ucap Judith sambil merogoh kantong jas dokternya.


Fania, Andrew dan Reno belum paham, namun Ara sudah terlihat menerbitkan senyumnya. Sepertinya ia paham maksud perkataan Judith barusan.


“Hoek! Hoek! ...” Suara Lucca yang sedang muntah sedikit membuat mereka yang mendengarnya spontan melirik ke kamar mandi. lalu kembali lagi dengan urusan Fania.


“This.. (Ini ..) ..” Fania menggantungkan kalimatnya saat Judith menyodorkan sebuah benda yang ia tahu dengan sangat, namun sudah lama tak menyentuhnya.


“She... (Dia..).”


“Standard question, are you in period times?. (Pertanyaan standar, apa kamu sedang dalam masa menstruasi?).”


“Supposed to be, but .. (Seharusnya sih, tapi..).”


Fania menutup mulutnya. Andrew yang berada disampingnya itu merengkuh bahu Fania.


"Aku ingat siklus hitungan haid aku seharusnya seminggu yang lalu, D... And I haven't.. get that untill now .. (Dan aku belum .. dapat sekarang..) .."


“Well, I think we know why you suddenly got coincident. (Yah, sepertinya kita sudah tahu mengapa kamu tiba – tiba pingsan).” Ucap Judith seraya tersenyum pada Fania dan Andrew. “Congratulation. (Selamat). Another cute angels will come to complete your happiness. (Satu malaikat menggemaskan akan muncul untuk melengkapi kebahagiaan kalian).”


“D..”


“Finally Heart.. (Akhirnya Heart) .. Andrea akan punya adik.” Andrew menciumi pucuk kepala dan pipi Fania yang sedang menatapnya dengan tersenyum bahagia.


“Want to make sure?. (Mau memastikan?).” Tanya Judith dan Fania mengangguk cepat.


“Kenapa itu dia?.”


Andrew menatap pada Lucca yang baru keluar dari kamar mandi dengan dipapah Fabiana. Sementara tiga pria yang berdiri itu nampak cengengesan pada Lucca, dan tak lama Prita datang dan langsung menyambangi kakaknya setelah bertanya pada John perihal Lucca.


***


“Another husband who loves his wife that much. There will be another baby except Andrew and Fania’s. (Satu lagi pria yang terlalu mencintai istrinya. Akan ada bayi lain selain bayi dari Andrew dan Fania). Seems .. (Sepertinya) ..”


“I can see that Owen .. (Gue bisa lihat itu Owen)..”


“Judith check his wife.. (Judith cek tuh istrinya dia..). “ Celetuk Dewa yang sudah mendekati Judith dan Fania juga Andrew yang membantu Fania untuk ke kamar mandi, menunjuk pada Lucca yang terduduk lemas di sofa. Jeff juga ikut mendekat.


“Kajol kenapa, Drew?.” Tanya Jeff.


“Andrea akan punya adik sepertinya.” Ucap Andrew sumringah. “Dah awas gue mau bantu Fania memastikan.”


“Beneran?!.” Ucap Jeff antusias.


Prita yang sudah mendekat pada kakaknya pun langsung berbinar. “Lo hamil Kak?!.” Seu Prita sama antusiasnya dengan Jeff, sementara Dewa juga ikut tersenyum lebar.


Fania mengangguk. “Iya kata Judith, ini gue mau tes ..”


"Asyikk!." Prita pun bergeser dari tempatnya dengan cepat agar Fania dan Andrew bisa cepat ke kamar mandi. “Papi kita bakal punya ponakan lagi!.”


“Beneran?!..”


“Anak kita akan bertambah dua sih sepertinya.” Timpal Reno.


“Buruan minta Judith cek Fabiana sekalian.” Celetuk Dewa.


“Fab!.” Jeff mendekati Fabiana.


Fabiana yang sedang menemani Lucca duduk disofa pun berdiri, karena Lucca tidak ingin dua dokter itu mendekat padanya, karena tak tahan dengan bau rumah sakit dan mungkin juga obat yang masih menempel dijas dokter milik Owen dan Judith. Dua Dokter itu hanya terkekeh kecil dan Judith langsung membawa Fabiana untuk diperiksa, meminjam ranjang milik Fania dan Andrew.


***


“Wah, tambah ramai ini rumah sama anak bebek season dua dan casper nanti kalau mereka lahir.”


“Hahaha, iya benar kamu Jeff..” Sahut Ara dengan tawanya berikut Reno, Jeff, Prita , John dan Dewa yang ikut tertawa. Sementara Lucca masih sibuk menutup hidung dan mulutnya karena tidak ingin bau Owen dan Judith yang seperti rumah sakit itu tercium lagi olehnya. Ia ingin segera pergi dari sana, namun Fabiana masih diperiksa Judith.


“Kalau si Kajol hamil anak kedua masih bisa gue bayangkan ngidamnya. Nah itu! ..” Jeff menunjuk Lucca dengan kepalanya.


“Iya, ya Jeff. Gue ngidam es podeng waktu si kembar. Setan alas ngidamnya apa kira – kira?.”


“Asal jangan minta dibakarin kemenyan aje!.” Celetuk Prita asal. Dan lima orang yang bersamanya spontan cekakak.


“Besok kita pergi beli dupa kalau begitu sekaligus bunga tujuh rupa.”


“Hahahahaha.. parah lo R..”


“Tanah kuburan ga sekalian?!..”


Mereka pun ngakak lagi.


Sementara yang diomongin masa bodoh dengan enam orang yang sedang kasak kusuk dan tertawa terbahak - bahak, karena Lucca ora paham pembicaraan mereka.


Lucca sendiri sibuk memandang sinis pada Owen yang menjadi sumber mualnya hingga ia muntah - muntah hebat. Tak sadar kalau dirinya sedang jadi bahan gibahan.

__ADS_1


***


To be continue ..


__ADS_2