
⭕⭕ PERBANYAK ISTIGHFAR ⭕⭕
****************************************
Selamat Membaca .....
**************************
“Hanya memastikan. Karena kalau Abang bohong, atau Abang berteman tapi mesra dengannya, aku akan terbang
ke Massachusetts dan akan aku gunduli kepalanya.”
Varen geleng – geleng saja.
‘Masa iya Drea sampai berani melakukan itu?.’
“Jangan mempertanyakan kenekatannya Abaaaang... Mommy Ichel sih kasih tahu aja....”
Varen menoleh pada Mommy Ichel yang sudah berdiri didekatnya dan kini sedang menepuk – nepuk pundak Varen dan berbisik ditelinganya, seperti tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya tentang ucapan Andrea tadi.
Tiga Mommies yang lain hanya mesam – mesem saja.
“Momma itu wanita paling nekat di keluarga ini. Jadi bisa saja kenekatan itu turun ke Drea. Jadi saran Mom, berhati – hatilah dengan ucapanmu.”
Mommy Ichel pun berlalu ke kamarnya sembari mesam – mesem.
“Coba saja kalau tidak percaya, tantang dia melakukan apa yang tadi dia bilang. Jika itu hanya gertakannya, Abang bisa potong telinga Mommy.”
Gantian Mommy Ara yang menghampiri Varen dan menepuk – nepuk pundaknya. Varen memandang malas pada
Mommy Peri yang juga mesam – mesem.
“Abaaaaannnnng!!! ....” Suara nyaring sudah terdengar dari lantai dua. “Mana ponsel nyaaaaaa?????! ...”
“Lihat kan?.” Ucap Mommy Ara.
“Yaaaaaa sebentaaaaar!!!....” Varen buru – buru melangkah ke lantai dua menuju kamarnya. ‘Gue kira Little Star hanya iseng bilang mau mengecek ponsel gue!.... Ternyata benar yang Mom Ichel dan Mommy bilang.’
“Perbanyak istighfar ye Bang.” Celetuk Mami Prita dan Mama Jihan.
“Abaaaaannnnng!!! ....”
“Comiiiiiinnnnnggggg.”
****
“Sudah puas?.” Tanya Varen pada Andrea yang nampaknya sudah selesai mengutak – atik ponsel Varen sampai
mereka sudah setengah perjalanan menuju Mal seperti keinginan Andrea sebelumnya.
“Sudah. Nih, ponsel Abang. Drea kembalikan.” Drea memberikan menyodorkan kembali ponsel Varen yang sudah
ia cek dengan detail itu.
“Kamu saja yang pegang dulu. Abang kan sedang menyetir.” Ucap Varen.
Andrea mengangguk dan memasukkan ponsel Varen ke dalam tas selempang kasualnya.
“Abang masih hafal ya jalanan Jakarta?.”
“Lupa, kalau Abang kamu ini jenius?.”
“Oh iya, ya. Hehe.”
“Little Star ....” Panggil Varen pada Andrea yang kini sedang memperhatikan jalanan di luar kaca mobil penumpang.
“Hum? .....”
“Jangan diulangi lagi.”
“Tentang?.”
“Berkelahi di Sekolah.”
“Ooohhhh ...”
“Abang ga suka Drea seperti itu.”
“Ya habis mereka yang mulai duluan. Aku tidak pernah menanggapi sebelumnya. Tapi apa yang terakhir itu benar – benar keterlaluan Abang.”
“Memang apa yang mereka lakukan sampai kamu berkelahi dengan siswi di sekolah kamu itu?.”
“Mereka menghinaku, membuang tasku, dan menyiramkan Spaghetti diatas kepalaku.”
“Mereka sampai berbuat begitu?!.”
“Hum.”
“Apa kamu mengganggu mereka duluan?.”
“Kenal pun tidak. Lagipula Abang kan yang paling tahu aku. Apa selama ini aku pernah berperilaku buruk saat di St. George?.”
Varen manggut – manggut.
“Lalu kenapa mereka sampai mengganggumu seperti itu?.”
“Gara – gara Kak Arya yang mereka pikir dekat denganku.”
Varen menoleh sebentar.
“Arya?.”
“Arya anaknya Uncle Rico, masa Abang lupa?. Adiknya Kak Sony.”
“Ah iya, iya.”
“Memang kamu dekat dengan Arya sekarang?.”
“Biasa saja. Hanya bertemu di Sekolah itu juga. Lagipula Kak Arya juga sudah kelas tiga. Dan Abang juga tahu aku lebih banyak di rumah membuat konten. Aku bahkan belum pernah pergi dengan teman perempuan di kelasku sampai sekarang.”
__ADS_1
“Ya kamu cobalah. Pergi bermain dengan mereka, agar tak gampang boring seperti sekarang dan ga bosan selalu dengan Nathan.”
"Ya nantilah lihat saja. Poppa juga belum bilang kapan aku bisa kembali ke Sekolah lagi."
"Memang kamu diskors?. Setahu Abang tidak."
"Entah. Aku sih ikut saja Titah Poppa."
"Ya sudah nanti sampai rumah kita tanya Poppa soal itu."
Andrea manggut – manggut. Varen mengacak – acak rambutnya. Tak lama mereka berdua pun sampai di tempat
tujuan dan menghabiskan waktu berdua saja. Bak seperti sepasang kekasih, padahal kakak beradik meski tak sedarah. Diluar keposesifan Andrea pada sang Abang.
“Kan kalau seperti itu makin terlihat cantik. Daripada cemberut.”
Andrea melebarkan senyumnya pada Varen.
“Thank you ya Abang.. sudah mau menemani Drea hari ini.”
Varen tersenyum dengan manisnya pada si Little Star yang pada dasarnya memang masih kekanakkan.
‘Daripada dia ngambek lagi. Bisa runyam, kuliah gue nanti tak tenang.’ Batin Varen. “Sama – sama.” Ucapnya. ‘However (Bagaimanapun), apa sih yang engga untuk kamu Little Star?.’ Varen membatin lagi. “Ya sudah, bagaimana kalau sekarang kita nonton?.”
Andrea mengangguk antusias. “Eh iya, Televisi aku gimana?. Abang kan sudah janji loh!.”
‘Ck!. Ingat aja!.’
“110 inch loh Bang, ga kurang satu inch pun!.”
“Ya, ya. Nanti Abang pesankan.”
“Sekalian cari disini aja sih Bang, kan tinggal kirim ke rumah?. Jadi nanti malam aku sudah bisa menonton TV di kamar aku sendiri.”
“Kalau yang kamu mau seperti yang ada di ruang santai, ya disini tidak ada. Adapun harus pesan dulu Little Star ....”
“Oh okelah!.” Andrea manggut – manggut. “Saranghe Abaangg...”
Andrea bersikap sok imut sambil membuat simbol dengan jempol dan telunjuknya.
Varen hanya mesam – mesem saja dibuatnya.
***
“Abang tunggu di luar ya?.”
Varen menghentikan
langkahnya saat dia dan Andrea sudah selesai menonton film di Bioskop dalam Mal tersebut, kala Andrea mengingat ingin membeli sesuatu dan kini mereka berada di depan sebuah Merchant dalam Mal yang dirasa tabu bagi Varen untuk memasukinya. Karena Andrea mengajak Varen ke sebuah Toko Pakaian Dalam Wanita.
“Ih Abang, masa tunggu diluar sih?.”
“Iya Abang tunggu diluar aja Little Star, masa Abang masuk kedalam sini?.”
Varen masih memaku kakinya di depan Toko tersebut. Apa yang terpampang di etalase saja sudah membuat matanya jengah, apalagi kalau harus masuk dan melihat segala bentuk dan model penutup jeroan wanita itu.
“Lagipula nanti sajalah kamu beli barang – barang yang kamu butuhkan disini dengan Momma atau siapa gitu?.”
‘Astaga ...’ Varen mengusap wajahnya sambil mendengus pelan. “Drea!. Apa – apaan sih?!. Ini ditempat umum jangan seperti itu.”
“Memang kenapa?. Aku hanya berkaca, tidak mengganggu orang lain.” Sahut Andrea lagi dengan santainya.
Varen mengucap nyebut but but dalam hatinya.
“Ya sudah, ya sudah. Ayo Abang temani kamu masuk.” Varen buru – buru menggandeng Andrea. Daripada itu anak terus – terusan membusungkan dadanya, membuat si Abang salah tingkah. Pada orang lain dan pada dirinya sendiri. Karena di umurnya yang sekarang Varen sudah masuk kategori pria dewasa yang paham soal hal – hal yang menjurus.
Melihat Andrea membusungkan dadanya seperti itu, sungguh sedikit mengganggu fokus si Abang. Meski baru lima
belas beranjak ke enam belas tahun, namun bentuk tubuh Andrea sudah lumayan terbentuk. Paras cantik dan bentuk tubuh sang Momma sepertinya tercopas ditubuh Andrea saat ini.
Dan yah bagian tubuh yang tadi dibusungkan Andrea dengan sengaja sudah cukup membusung tanpa dimajukan
lagi. Bisa dibilang sedikit lebih besar daripada ukuran rata - rata dada anak perempuan seusianya.
Andrea berdarah campuran, Poppa dan Mommanya juga bisa dibilang punya fisik dan wajah yang mendekati sempurna. Gen kedua orang tuanya itu terbagi dalam satu tubuh anak perawan yang beranjak remaja yang tumbuh berkembang dengan sangat baik.
Saking sangat baiknya itu perkembangan, tubuh Andrea bak bukan seperti anak yang berusia belasan tahun kalau
ukuran orang Indonesia. Varen pun kadang heran, apa yang Andrea makan hingga poin – poin penting ditubuh depan dan belakangnya itu sudah terbentuk dengan cepat. Membulat hampir pol. Bagaimana nanti saat ia sudah tujuh belas atau delapan belas tahun?.
Biar bagaimanapun Varen itu lelaki normal, meski menyayangi Andrea bak seorang adik, namun tak menampik
desir seorang lelaki akan muncul jika melihat hal – hal yang sensitif bukan?.
“Cepatlah, Abang tidak mau berlama – lama di dalam sini.”
“Iyaaa ...” Sahut Andrea yang kemudian melihat – lihat koleksi dengan di bantu oleh seorang Pramuniaga.
Sementara itu Varen menyibukkan diri dengan ponselnya, agar matanya tak berkeliling. Satu model pakaian dalam wanita yang tertangkap matanya saat masuk tadi cukup membuat darahnya sedikit berdesir.
Satu setel pakaian yang berbahan transparan itu, sempat membuat otak si Abang ngeres. ‘You crazy asss***e\, Varen! (Lo baj***an gila Varen). Bisa – bisanya otak lo sampai kesana!.’
Varen merutuki dirinya dalam hati karena sempat membayangkan Andrea dalam pakaian transparan tersebut. Yah,
meski Little Star kesayangannya itu masih belia dan sifatnya masih kekanakkan, namun tubuhnya tumbuh kecepetan. Varen mengalihkan fokusnya ber whattsap ria dengan para teman dekatnya di Massachusetts sekaligus menanyakan progress tentang bisnisnya.
“Abang!.”
“Hem?.”
“Menurut Abang bagus yang mana?.”
Varen hanya melongo saat dia yang sedang duduk menunduk sambil menatap ponselnya itu mendongak setelah
mendengar Andrea bertanya.
“Mereka bilang kalau untuk ukuran seusia aku, tidak ada sizenya dada aku, adanya model dewasa seperti ini.
Gimana menurut Abang?. Cocok ga untuk aku?. Lucu sih modelnya aku suka. Dan mereka punya beberapa warna.”
__ADS_1
Varen tak terlalu fokus pada ucapan Andrea, tapi lebih fokus pada sepasang kain berpita yang model bawahnya
berbahan semi transparan.
Dan alam bawah sadarnya, lagi - lagi membayangkan Andrea memakainya.
Abang pun nyebut lagi dalam hati.
“Abang! Bagus tidak?.”
“Ba-gus ....” Varen menghela nafas pelan, mulai tak nyaman. Menundukkan lagi wajahnya.
“Benar bagus?. Cocok ga sih untuk aku?.”
‘Oh Tuhan, apa untuk membeli pakaian dalam saja wanita harus sesulit ini?. Hanya tinggal cari ukuran bukan?. Suka, sesuai, bayar!. Kenapa harus ditanya cocok atau tidak?. Dan lagi Drea... Abang ini laki – laki normaal ... Kenapa dalamanmu harus ditunjukkan ke Abang sih?.’
“Abang!.”
“Yaaa, cocok .... bagus ....” Sahut Varen. ‘Cepatlah Little Star aku mohon, jangan lama – lama menunjukkannya padaku.”
“Apa aku perlu coba dulu ya Bang?.”
“Apa?.”
“Drea coba dulu, nanti abang tolong nilai cocok untuk aku atau aku nampak ketuaan jika memakai ini?.”
‘Apa dia bilang barusan?. Mau dia cocokkan dan perlihatkan padaku?. Apa dia ini tidak sadar sedang menanyakan pendapat soal apa?.’ Batin Abang kian bergejolak.
“Aku coba dulu deh kalau begitu. Biar aku juga tahu ini nyaman atau tidak.” Ucap Andrea lagi.
“Oh, jangan! Jangan!. Ini bagus! ini cocok sudah untuk kamu. Tidak perlu dicoba. Abang yakin kamu akan merasa nyaman memakainya!.”
Varen langsung bangkit dengan cepat menggandeng Andrea untuk ke kasir agar segera pergi dari Toko terkutuk
bagi dirinya itu.
“Cepat kau bawakan apa yang sudah dia pilih!.” Perintah Varen pada si Pramuniaga yang kemudian mengangguk
dan menanyakan pada Andrea yang mana saja yang jadi gadis itu ambil.
“Aku bayar sendiri atau Abang yang belikan?.”
“Ini!.”
Varen memberikan Andrea dompetnya.
“Cepatlah Little Staaaar.....”
Varen benar – benar ingin cepat keluar dari Toko tersebut. Karena si Abang agak – agak puyeng gimana gitu.
*****
Varen dan Andrea sudah sampai ke Kediaman Utama keluarga mereka.
“Little Star ...”
“Iya Abang ...?.” Sahut Andrea dengan manja pada Varen, kala mereka sedang menonton TV di kamar Varen. Rasanya sikap manja Andrea seperti biasanya dia bersikap manja pada Varen saat ini.
Tapi sejak kejadian tadi di Toko terkutuk bagi Varen, rasanya mata Varen sedikit sadar, Andrea yang sekarang bukan lagi Andrea kecilnya. Gadis kecil itu sudah kian tumbuh, ‘membesar’ yang jelas.
‘Haish, kenapa gue sekarang merasa sedikit ngilu mendengar suaranya begitu?.’
Si Abang membatin.
“Abang ga bisa lama – lama disini. Abang harus segera kembali ke Massachusetts. Ga apa ya?. Drea mengerti
kan?. Sebentar lagi Abang ujian, dan bisnis Abang kan juga baru dirintis disana.” Ucap Varen.
Andrea manggut – manggut.
“Ga akan ngambek kan sama Abang?.”
“Engga Abaang .....” Andrea menyahut dengan manja lagi.
‘Ngilu lagi.’ Batin si Abang.
“Kapan Abang mau kembali ke Massachusetts?.”
“Lusa atau setelahnya. Mau berkunjung ke R Corp dulu sebelum kembali ke Massachusetts.” Sahut Varen dan Andrea manggut – manggut. “Drea mau ikut kesana?.”
“Boleh.”
Andrea merebahkan dirinya dan langsung menempatkan kepalanya diatas paha si Abang.
‘Makin ngilu....’
Berharap Andrea jangan menoleh ke kanan, karena belalai si Bona takut tiba – tiba melambai.
Varen mengusap wajahnya tanpa dilihat Andrea yang matanya sedang ke Televisi, sehingga tak tahu kalau sang Abang mulai gelisah.
‘Dia bisa cepat – cepat delapan belas tahun ga sih?. Biar gue ga dibilang melecehkan anak dibawah umur......’
“Abang.”
“Hem....?.”
“Drea bobo sama Abang ya malam ini?.”
“Haaahhh?????? ....”
“Kangen dinina bobokan sama Abang, nanti kan lama lagi Drea ga ketemu Abang seperti sekarang.”
‘Haduhhhh ...’
“Tidur Drea nyenyak kalau ada Abang.”
‘Dan tidur Abang rasanya akan terancam tidak nyenyak.....Ingat Alvarend ... dia masih dibawah tujuh belas tahun.. Tahan.... Tahan .... Haish! Cepatlah kamu besar wahai Andrea Smith!!!!.’
Dan si Abang riweuh sendiri.
__ADS_1
*****
To be continue ....