
# PEDULI #
Selamat membaca ......
***************************
“Little Star..”
Varen dan Andrea sudah berada di dalam mobil mereka untuk kembali ke Jakarta. Varen menarik Andrea dalam
dekapannya yang nampak termenung saja sejak masuk ke dalam mobil dan membuang pandangannya ke arah luar jendela.
Andrea yang pinggangnya dirangkul sembari ditarik pelan oleh Varen untuk didekapnya itu tersenyum pada
Varen dan menempelkan kepalanya di dada suaminya itu.
“Apa ada yang sakit?”
Andrea menggeleng saat Varen mengangkat dan memeriksa lagi tangan Andrea.
“Apa mereka sempat menyakiti kamu?”
“Engga”
“Benar?”
“Iya” Sahut Andrea. “Mereka tidak sempat apa – apakan aku. Abang tanya saja pada Ammar dan Niki”
“Ya sudah”
Varen mengecup pucuk kepala Andrea lalu membelai rambutnya. Sejenak saling diam selama perjalanan menuju
Jakarta. Untung saja Andrea tidak sempat mendapat penyerangan. Jadi Varen tidak perlu menyuruh Niki untuk putar balik ke rumah Peter Alexander.
****
“Abang..” Panggil Andrea.
“Iya, Little Star?” Sahut Varen lembut.
“Jadi seharusnya Drea itu punya kakak kandung ya?” Tanya Andrea.
“Iya ..” Jawab Varen. “Setelah aku berusia beberapa bulan dalam kandungan Mommy Ara, tak lama Momma pun mengandung. Tapi keguguran, karena Momma menolong Mom yang ingin disakiti oleh ibunya Tara. Dad begitu murka saat itu. Selain sudah memang murka pada kakek Peter, ditambah lagi dua anaknya itu mencari gara – gara”
“.....”
“Setelah Dad berhasil mengambil kembali beberapa aset nenek Rina dan keluarga Aditama dari tangan kakek Peter, otomatis mereka banyak kehilangan kemewahan fasilitas yang sebelumnya mereka nikmati”
“......”
“Kakek sudah beberapa kali mengancam Dad. Tapi kakek tak tahu, Dad yang kala itu ia ancam, bukanlah Dad yang
dulu saat nenek Rina masih hidup, yang selalu menahan dirinya karena nenek Rina yang meminta. Tapi sejak nenek Rina meninggal, Dad sudah benar – benar mati rasa pada kakek Peter”
“......”
“Lalu kakek Peter dan keluarganya itu merasa murka pada Momma, karena beberapa aset yang diambil kembali oleh Dad, diberikan ke Momma. Lalu kedua saudara tiri Dad itu mulai mengincar Momma dari menghasut nya dan sebagainya”
“.....”
“Saat tidak berhasil, mereka menyambangi Mom yang kebetulan hari itu datang bersama Momma ke Perusahaan
utama kita yang di London. Yah, lalu terjadilah keributan hingga Momma keguguran. Dad semakin murka karena merasa bersalah pada Momma dan Poppa. Hingga akhirnya Dad menggila dan memukuli saudara tirinya dengan membabi buta hingga laki – laki itu koma dalam waktu yang lama, dan tidak pernah lagi membuka mata setelahnya”
“.....”
“Poppa bahkan tidak diberi kesempatan untuk memberi pelajaran pada dua adik tiri Dad, karena Dad sudah lebih dulu membereskan nya. Tadinya mereka memang sempat hidup melarat. Bahkan ibunya Tara itu sempat dikirim Dad ke sebuah tempat prostitusi di Rusia”
Andrea membulatkan matanya.
Varen terkekeh kecil.
“Dad segila itu memang. Sama seperti Poppa jika sudah murka. Tak berbelas kasih pada musuh – musuhnya”
“........”
“Tapi kemudian Gappa memohon padanya untuk kakek Peter dan keluarganya. Seperti yang kamu lihat, mereka
hidup dengan baik dan layak. Tetapi istri kakek dan ibunya Tara itu tak belajar dari kesalahan mereka. Ingin rasanya aku seret ibunya Tara itu ke kaki Momma dan memerintahkannya untuk bersujud di bawah kaki Momma”
“.........”
__ADS_1
“Karena jika Momma tak men - tamengi Mom, mungkin saja aku tak pernah ada di dunia”
“Abang ..” Andrea mengeratkan pelukannya pada Varen.
Varen pun sama.
“Tapi syukurlah, meski sedikit lama, Momma dan Poppa kembali bisa sangat berbahagia dengan kehadiran kamu. Tak hanya mereka dan keluarga kita. Tapi juga aku. Sangat berbahagia hingga detik ini karena kamu, Little Star..”
“I love you Abang”
“I love you more”
**
Kediaman Utama keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
“Little Star, Abang.. kemari langsung makan” Papi John yang melihat Andrea dan Varen yang baru saja tiba itu
langsung memanggil keduanya untuk bergabung di ruang makan.
“Iyaa”
“Mba Adis, tolong bawakan air hangat dan handuk kecil untuk kompres ke kamar kami setelah kami selesai makan ya?”
“Iya Den Varen”
“Drea sakit? Apa lo Bang?”
“Tangan Drea agak bengkak”
Varen memegang tangan Andrea seraya menunjukkan pada Nathan dan yang lainnya.
“Yah, kok bisa begini Ya?!”
“Eh, iya tangan kamu bengkak begitu kenapa, Little Star?”
“Ga apa Pap. Ga sakit juga kok” Jawab Andrea.
“Ih, kompres sekarang aja! Nanti makin bengkak”
“Mami bener tuh! Kompres sekarang aja mendingan. Sini gue yang suapin makan! Aaaa ..”
**
Mereka yang berada di Kediaman Utama berkumpul seperi biasa selepas makan malam, untuk sekedar berbagi cerita. Andrea dan Varen juga sudah ikut kembali bergabung di halaman belakang setelah mereka membersihkan diri.
“Mereka menghina kamu sampai sejauh mana, hem?” Tanya Daddy Jeff pada Andrea yang satu tangannya masih
dikompress handuk itu.
Andrea menghela nafasnya. “Aku tidak mempermasalahkan penghinaan mereka padaku, Dad. Aku tidak terima
mereka yang merendahkan Momma. Wanita bernama Inggrid itu bilang kalau Momma adalah wanita rendahan dan murahan. Hati aku sakit mendengarnya”
“Berani sekali!” Daddy Jeff nampak geram.
“Kurang ajar banget! Ayo, anter Mami kesana besok! Biar Mami tambahin siram badannya pake aer se-termos!” Mami Prita lebih esmosi.
“Akan kuurus soal itu! ..”
Varen berkata datar, namun raut wajahnya seolah ia sedang memikirkan sesuatu dalam otaknya.
“Tapi sebaiknya, hal ini jangan sampai terdengar Poppa kalian terlebih lagi Daddy R”
Daddy Dewa bersuara.
“Itu sih pendapatku saja. Mengingat ini soal Momma kalian. Poppa yang tidak kesampaian menyalurkan amarahnya saat Momma kalian keguguran dulu, juga Daddy R kalian yang memang membenci mereka setengah mati, aku rasa tak lama mereka berdua akan datang kesini dan langsung menghabisi keluarga Uncle Peter tanpa pikir panjang lagi”
“Dan keluarga mereka akan habis sampai disini tanpa ada keturunan lagi” Timpal Papi.
“Humm.... dulu mereka menahan diri karena permintaan Gappa kalian. Dengan catatan, jangan sampai Uncle Peter dan keluarganya tak berulah lagi. Tapi jika hal yang terjadi hari ini sampai ke telinga Daddy R dan Poppa, entahlah mereka akan berbuat apa”
“Meskipun kali ini Uncle Peter tidak ada sangkut pautnya dengan kelakuan istri dan anak serta cucu keponakannya. Tetap saja, Dad R kurasa tidak akan melewatkan nya juga” Tambah Papi. “Termasuk dua orang yang kalian bilang sifatnya lebih baik dari ketiga orang tersebut”
Andrea dan Varen manggut – manggut.
“Aku sih sudah mengatakan pada Ammar dan Niki jika Dad atau Poppa menghubungi mereka dan bertanya apa yang terjadi di rumah kakek Peter hari ini. Aku menyuruh mereka untuk mengatakan bahwa tidak ada masalah. Karena aku pun berpikir kesana” Ucap Varen.
Varen kemudian menghela panjang nafasnya.
“Aku iba pada kakek Peter sebenarnya .... dia begitu menyesali perbuatannya. Aku tahu dia tulus mengucapkannya. Dia merindukan Dad teramat sangat. Berharap disisa waktunya dia bisa bertemu Dad sekali lagi meski Dad tak mau memaafkannya. Aku bingung apakah aku harus mengatakan hal itu pada Dad atau tidak”
__ADS_1
“....”
“Aku tidak ingin menyinggung perasaan Dad lagi seperti waktu aku membahas untuk bertemu dengan kakek Peter
saat aku dan Drea pulang dari berbulan madu. Tapi yah, setelah pertemuanku dengan kakek Peter kemarin. Jujur saja aku sangat iba padanya”
Varen menghela nafas dan menggeleng pelan kemudian.
“Katakan aja Abang .... kalau Dad R masih tidak mau menemui kakek Peter hingga waktunya tiba ya sudah. Yang penting Abang sudah menyampaikan keinginan terakhir kakek Peter untuk bertemu Dad R”
Andrea menyampaikan pendapatnya.
“Toh tak lama lagi kakek Peter akan ‘pergi’ ....”
“Jangan nyumpahin orang cute girl! Itu kakeknya si Abang, suami lo, kakek lo juga!”
“Yee siapa yang menyumpahi sih. Memang iya waktunya sebentar lagi. Paling – paling satu minggu”
“???”
“Kemarin aku memperhatikan mata kakek Peter saat aku berbicara dengannya. Lagipula warna kukunya juga sudah berubah”
‘Memang si Drea India? Eh Indigo?’ Batin semua orang.
“Memang Abang ga merasakan aura yang lain saat di kamar kakek Peter?”
Varen menggeleng.
“Sama persis dengan aura yang aku rasa saat Poppa dan Momma mengajak aku menjenguk Aunt Elina saat aku
memperhatikan wajahnya. Aku sudah bilang pada Poppa dan Momma, kala itu. Seperti ada orang besar sekali di kamarnya Aunt Elina, tapi mereka tidak percaya. Tak lama kemudian dia meninggal kan?”
“Okeee waktunya tidur ...”
Papi seketika berdiri dari duduknya, merinding disko tiba - tiba.
“Jangan melihat papi seperti itu Drea!”
Papi auto parno.
‘Gue jadi ngeri nih sama si anak bebek kalau dia ngeliatin gue lama – lama. Nanti kalau tahu - tahu dua bilang aura gue beda. Haduuuhhh’
**
“Dad”
“Hem?”
“Aku mau bicara tapi Dad jangan tersinggung”
“Apa pria tua itu sekarat atau sudah mati?”
Varen terkekeh kecil disebrang ponsel kala ia menghubungi Daddy R yang berada di London.
“Dad tidak bertanya apa ada kekacauan yang terjadi saat aku mengunjungi kakek Peter di rumahnya?”
“Memang ada kekacauan?. Setahuku tidak” Sahut Daddy R dan Varen terkekeh kecil lagi.
“Kupikir kau tidak perduli. Tapi mencari tahu juga? Kepo, hem?”
“Cih! Aku memastikan kalau Little Star tidak kenapa – napa. Karena aku akan langsung terbang kesana untuk
membantai mereka jika mereka cari gara – gara, terlebih menyakiti Little Star! ....” Sahut Daddy R lagi.
“Ya ya ya”
“....”
“Dad ....”
“Hem?”
“Dia merindukanmu ....”
Klik
Daddy R memutuskan hubungan telponnya dengan Varen tanpa basa basi lagi.
*
To be continue ......*
__ADS_1