THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 251


__ADS_3

◾  PENDAM  ◾


 


 


Selamat membaca ..


 


 


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ...


 


“Kakekmu sudah mati. Kau tidak perlu lagi berurusan dengan mereka yang pernah tinggal bersamanya” Ucap Daddy R pada sang putra sulungnya setelah mereka sampai di kediaman keluarga mereka.


Varen mengangguk, menyetujui ucapan Daddy R. “Iya, Dad. Aku mengerti”


Ayah dan anak itu kemudian saling diam, Poppa dan para Daddies lainnya duduk bersama Dad R dan Varen di ruang tamu, sementara para Mom Ara, Momma dan Andrea langsung pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian mereka.


Tadinya Varen memang ingin membuat perhitungan dengan Inggrid dan Gita karena berani menghina Momma. Tapi


atas permintaan Andrea, yang seolah tahu isi kepala dan hati Varen soal  rencananya pada dua wanita lancang itu, Varen pun mengurungkan niatnya.


Varen juga tidak membahas pada dua ayah yang diseganinya soal keributan terakhir yang terjadi antara Andrea dan dua wanita lancang tersebut. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti apa yang Dad R barusan bilang. Kakek Peter sudah tiada, Dad R juga sudah memilih untuk melupakan semua apa yang terjadi di belakang bersama ayah kandungnya.


Tapi tetap, sisa keluarga Alexander yang masih ada, tidak mau Dad R anggap ada didunia.


Varen pun mengambil langkah yang sama dengan Daddy R.


Mencoba melatih hati agar tidak terlalu sensitif.


**


Waktu bergulir


“Kamu sakit Little Star?”


Daddy Jeff memperhatikan wajah Andrea yang sedikit agak lesu. Mereka sedang berada di Kediaman Utama yang terletak di Jakarta.


“Engga Papa Bear, hanya sedikit lelah aja kayaknya” Jawab Andrea sembari memijat tengkuknya.


“Udah cek?”


“Cek apa Mama Bear?” Andrea tak paham maksud ucapan Mama Jihan barusan.


“Mual ga?”


“Engga”


“Mau makan sesuatu yang spesifik?”


“Engga juga. Kenapa sih Mama Bear tanya – tanya begitu?” Andrea sedikit heran, belum paham maksud pertanyaan – pertanyaan Mama Jihan barusan.


Mama dan Papa Bear malah cengengesan.


“Yah pertanyaan standard untuk wanita yang sudah menikah, pengantin baru yang Dad yakin syubiduppappaw nya mengalahkan waktu minum obat”


“Ih, Papa Bear sok tahu!”


“Hahaha!”


“Emang iya tapi kan?”


“Ck!”


“Ya bener yang Papa Bear bilang pertanyaan standar kalo perempuan yang udah nikah merasa ga enak badan”


“Hamil maksud kalian?”


Dua orang itu mengangguk cepat.


“Ya engga lah!” Sanggah Andrea


‘Ga mungkin kalau sekarang sih’


Andrea membatin.


“Lebih baik kamu cek” Usul Daddy Jeff. “Dirumah ini ada persediaan test pack, Mam?”


“Kurang tahu deh. Tapi sebentar aku tanya Adis”


“Ga perlu Mama Bear!”


Andrea menahan Mama Jihan yang sudah berdiri. “Kenapa emang? Kamu punya?”


“Ya engga”


“....”


“Aku yakin aku ga sedang hamil kok” Andrea menarik dua sudut bibirnya. “Jadi ga perlulah itu testpack segala”


“Ya siapa tau kan?. Kalau memang beneran hamidun kan jadi kamu bisa lebih hati – hati seandainya tahu lebih cepat” Ucap Mama Jihan lagi.


“Engga Mama Beaar aku ini tidak sedang hamil, okay?. Setidaknya saat – saat ini ya engga”


“Memang kamu lagi PMS?” Tanya Daddy Jeff.


“Engga”

__ADS_1


“Kenapa bisa yakin kalau ga hamil sementara belum dicek?” Gantian Mama Jihan bertanya.


“Yaa ga apa – apa sih..”


Andrea nampak salah tingkah membuat Daddy Jeff dan Mama Jihan sedikit heran.


“Ya udah deh, Drea kekamar dulu ya” Pamit Andrea.


“Ya sudah sana istirahat” Sahut Daddy Jeff. “Abang jadi pulang hari ini?”


“Besok katanya baru sampai Jakarta”


“Ya sudah istirahat sana” Ucap Daddy Jeff lagi.


“Okee”


**


“Papa Bear”


“Hem?....”


Daddy Jeff menautkan jemari  tangannya pada Mama Jihan yang kemudian bersandar manja pada suaminya itu.


Kemesraan tak pernah hilang dari mereka, sama seperti pasangan lainnya.


“Ngerasa ada yang aneh ga sama Drea?”


“Anehnya?” Daddy Jeff balik bertanya pada Mama Jihan.


“Tadi saat kita ngomongin soal kehamilan”


“Huumm” Daddy Jeff mengingat – ingat. “Iya juga sih sepertinya” Ucapnya kemudian. “Heemm Little Star pernah


dibawa Fania cek kesuburan bukannya?”


Mama Jihan mengangguk.


“Iya pernah”


“Apa ada masalah?”


“Setahu aku engga”


“Abang setahu aku sih juga engga. Baik – baik aja dia. Waktu ngobrol dengan The Daddies sih Abang bilang sudah mengecek dirinya, dan tidak ada masalah soal kesuburan”


“Mereka tuh mau langsung punya anak atau menunda dulu sih?”


“Abang sih maunya langsung. Tapi dia bilang mau membicarakan dulu dengan Drea. Entah tapi mereka sudah bicara atau belum. Aku juga ga pernah bertanya lagi soal itu pada Abang” Jelas Daddy Jeff.


“Harusnya tadi kita tanya Drea ya?” Ucap Mama Jihan.


“Wah makin keliatan tua dong kamu ya Papa Bear kalau Drea dan Abang punya bayi?”


Daddy Jeff mendelik.


“Enak saja kamu bilang aku kelihatan tua!”


“Dih! Emang iya!”


“Wah!”


Syut!


“Papa Bear!”


Mama Jihan setengah memekik kala Daddy Jeff sudah mengangkat tubuhnya.


“Sembarangan mengatai aku tua. Akan aku beri hukuman!”


“Berapa ronde?”


“Ratusan!”


“Heleh! Satu ronde paling udah KO kalo sekarang mah!”


**


“Papa Beaar sudaaah ..” Ada yang terkulai lemas diatas ranjang, kala baru beberapa menit istirahat, tubuhnya sudah kembali berada dibawah kukungan pria berusia matang yang kembali mulai bergerilya di sekitar tubuhnya.


“Siapa yang tadi mengejekku hanya kuat satu ronde, heeeeeem? ...”


“Iy-aa ampuuun... ahh”


“Ga ada ampun – ampun”


“Papa Bear!!! – aahhh!! ...”


“Rasakanhhh!! ..”


Penyiksaan dalam kenikmatan diberikan si Daddy Jeff pada Mama Jihan yang sudah hampir terkulai tak berdayyah.


**


“Hey Bang kata Drea besok baru sampai Jakarta?”


Daddy Jeff yang keluar dari kamar hendak mencari sesuatu didapur karena merasa sedikit lapar akibat olahraga ranjangnya yang sampai lebih dari satu ronde dengan Mama Jihan itu menyapa Varen yang muncul  dan hendak masuk ke kamarnya dan Andrea. Hari sudah lewat tengah malam.


Varen terkekeh kecil. “Dingin tidur sendirian lama – lama Dad” Sahut Varen.


“Dammit! Dulu sok – sok an mau tunggu Drea delapan belas tahun. Sudah merasakan kehangatan dan jepitan gua,

__ADS_1


ketagihan kan?”


“Hahaha!”


Varen yang kepalanya ditoyor pelan oleh Papi itu pun spontan tergelak. Namun buru – buru menutup mulutnya karena sudah malam.


“Mandi dulu biar fresh!”


“Ck! Olahraga dulu lah baru mandi!” Sahut Varen asal, masih sedikit cekikikan.


“Halah bocah tengik!”


“Oke Dad, aku tinggal masuk dulu ya, mau ibadah!”


“Yang kreatif jangan Cuma satu gaya! Kalau tak tau tanya Papa Bear nih!” Mantan fucek boy itu nampak pongah yang membuat Varen cekikikan dan kemudian pamit masuk setelah Papi melanjutkan langkahnya untuk pergi ke dapur.


**


Varen memasuki kamarnya dan Andrea yang sudah temaram dengan perlahan. Dari membuka pintu hingga sampai


menutup dan menguncinya.


Varen menarik sudut bibirnya, memandangi Andrea yang sudah nampak pulas kala ia mendekati istri kecilnya yang begitu dan selalu menggoda iminnya itu.


“Tunggu ya, Nunu, Nana”


Varen jadi geli sendiri. Lalu ia menegakkan kembali tubuhnya yang sempat ia bungkukkan kala ia mendekati Andrea yang terbaring dengan selimut yang menutupi hingga ke perutnya. Lalu memperhatikan Andrea sebentar.


“Sepertinya terlalu tertutup”


Varen menggumam sendiri sambil memandang jahil pada Andrea yang menggunakan piyama tidur itu.


“Kasihan Nunu Nana tak terlihat”


Varen cekikikan sendiri dengan pelan, dan ide jahil muncul di kepalanya. Lalu kemudian berjalan menuju walk in closet.


*


Varen membuka lemari pakaian miliknya, lalu menanggalkan semua pakaiannya dan menarik celana pendek  rumahan. Ga usah pake daleman, biar gampang. Menurut si Abang. Lalu pergi ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri tapi tak mandi, Cuma cuci muka gosok gigi, templokin dikit kolonyet after shave* meski tak bercukur. Yang penting wangi dulu.


Si Abang kembali ke dalam walk in closet setelah selesai di kamar mandi. Melirik sebentar pada Andrea yang masih nampak pulas diatas ranjang. Kebo emang. Suara ga akan membangunkan Andrea dengan mudah, jemari nakal si Abang yang bisa cepat membuat Andrea membuka mata sekarang.


Varen sedang membuka lemari pakaian Andrea. Mencari model pakaian yang ia sangat suka jika Andrea memakainya kalau lagi berduaan dikamar. Mata Varen mencari – cari kira – kira kain tipis yang berenda atau berpita itu ada di susunan bagian mana.


“Nah!”


Varen nampak menemukan apa yang ia cari, lalu langsung menarik kain tipis yang terlipat tersebut. Namun alis Varen terangkat satu karena ada barang lain yang nampak keluar dari tempat yang sama dimana Varen mengambil gaun tidur tipis milik Andrea.


‘Obat?’


Varen yang sudah berjongkok mengernyitkan dahinya sambil membolak balik lempengan ringan yang masih tersegel dengan butiran bulat kecil berwarna pink didalamnya.


Tidak ada bungkusnya. Tidak ada tulisan juga. Pernah lihat sih obat model bentuk begini tapi belum tahu itu obat apa.


‘Little Star .. sakit... kah ...?’


Hati Varen sedikit terusik. Karena penasaran akhirnya ia membongkar satu baris baju – baju Andrea dimana obat yang ia temukan itu menyeruak keluar.


Mencari siapa tahu bungkus obat tersebut ada dalam lemari. Tapi nihil tak ada. Hanya satu lempengan itu saja.


Varen meraih ponselnya yang tadi ia letakkan dimeja rias. Ingin mencari diinternet perihal obat tersebut. Namun akhirnya urung, karena tidak ada tulisan nama obat apa itu.


‘Apa ini obat ilegal?’


Varen menduga – duga dalam hatinya.


‘Tak mungkin. Ini bukan seperti bukan obat – obatan terlarang’


Ia kemudian menekan satu nomor didaftar kontak dalam ponselnya. Menjepret obat yang ia temukan lalu ia mengirim dalam sebuah aplikasi chat.


Sesaat setelah mengirimkan pesan dalam aplikasi, ponsel Varen berdering dan ia langsung menerima panggilan dari nomor yang sama dimana ia mengirimkan foto obat yang ia temukan. “Obat apa itu?”


Varen langsung bertanya pada intinya. “Memang punya siapa itu?” Tanya seseorang yang Varen hubungi ditelpon.


“Ck! Jawab sajalah. Kepo sekali anda!”


“Hahahaha”


“Jangan ketawa! Gue lagi serius! Itu obat apa?” Tanya Varen. “Apa obat penyakit serius?” Tanyanya lagi.


“Bukan!” Sahut orang yang dihubungi Varen itu.


"Bukan obat - obatan terlarang kan?"


"Bukan"


“Jadi obat apa?”


“Gue tanya dulu itu punya siapa?” Orang disebrang telpon balik bertanya.


“Mau gue tangguhkan ijin praktek lo?”


“Ck!”


Suara decakan sebal dari sebrang telpon terdengar.


“Itu Morning after pill. Emergency Contraception. ( Pil Kontrasepsi Darurat )”


*


To be continue .....*

__ADS_1


__ADS_2