THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 276


__ADS_3

UJIAN


********


Selamat membaca ....


*************************


Telah diutarakan Nathan panjang lebar segala hal yang ada dihatinya pada Kevia. Berharap sang pujaan hati, akan melembut hatinya untuk memikirkan lagi apa yang sudah Nathan utarakan.


Namun Kevia yang saat ini Nathan hadapi, sifatnya sama seperti dahulu. Keras dan sulit, namun stok sabar Nathan sudah diupgrade sekarang.


Meski Kevia bilang, “Jawaban aku tetap sama Jo. Tadi di rumah keluarga kamu, sekarang dan seterusnya. Kita udah selesai, dan aku tak ingin mengulang”


Namun dengan lantang Nathan katakan, “Aku terima apa yang kamu katakan barusan Vi, tapi aku tak akan gentar. Cinta aku kekamu akan aku perjuangkan”


Lalu sebaris kalimat Kevia ucapkan. “Baru sekarang?” Pertanyaan Kevia lontarkan. “Setelah lewat empat tahun, baru sekarang kamu baru mau berjuang? Kemana aja?”


Menohok memang pertanyaan Kevia, tapi Kevia tak tahu, setiap waktu Nathan selalu berharap untuk kembali


bertemu. Tapi yah begitu, perjuangan Nathan seolah tak serius karena bergerak sendirian. Lambat, karena kepengecutan yang menempel begitu lekat.


“Aku sudah mencari kamu Vi, sejak kamu pergi aku selalu berusaha menemukan kamu”


“Tapi keluarga kamu baru tahu?”


“Iya, tepat saat aku memutuskan ingin mengungkapkan semua, tapi sebelum itu mereka sudah keburu tahu” Nathan menundukkan kepalanya. “Aku memang pengecut Vi, selama empat tahun ini aku menjadi seorang pengecut dan pecundang atas apa yang sudah aku lakukan kekamu... berada dihadapan kamu saat ini pun, jujur aku malu”


“...”


“Tapi tulus Vi, aku bilang ini kekamu. Sama seperti empat tahun lalu, saat aku bilang aku sayang kamu. Sampai sekarang pun tetap seperti itu”


Nathan mengangkat lagi kepalanya, menatap Kevia dan menunjukkan segaris senyumnya dengan wajah ketulusan penuh pengharapan berikut penyesalan yang begitu nampak.


“Aku rasa ga seperti itu”


“...”


“Dulu, mungkin benar kamu sayang aku. Sekarang, aku rasa itu hanya perasaan bersalah kamu saja Jo... sudah aku bilang, lepaskan...”


“Kamu salah Vi, aku...”


“Aku mohon pergi, jangan datang lagi” Kevia berdiri dari duduknya, berjalan kemudian menuju pintu apartemen.


Yang kemudian diraih cepat oleh Nathan sebelum Kevia sempat membuka pintunya. Didekapnya Kevia, hingga punggung gadis itu menempel pada dada Nathan.


“Nikah yuk Vi?” Ucap Nathan tanpa tahu malunya.


“Gila” Kevia langsung menyambar dengan umpatan.


“Memang” Sahut Nathan tanpa keraguan. “Dari dulu sudah gila karena kamu. Makanya sampai sekarang aku ga


punya pacar” Masih mendekap Kevia dari belakang tanpa ada tanda – tanda untuk melepaskan.


“Ngibul”


“Kenyataan”


Nathan menjatuhkan pipinya pada pucuk kepala Kevia yang orangnya diam saja sekarang. Tak berontak, tapi juga tidak menunjukkan respon atas dekapan Nathan. Kevia hanya diam ditempatnya dengan kedua tangannya yang terulur kebawah disisi kanan dan kirinya. Sesaat Nathan dan Kevia sama – sama terdiam.


“Pernah memang... aku mencoba melupakan kamu Vi, tapi ga bisa ternyata. Jujur, pernah coba untuk punya gebetan, bahkan pacar. Tapi ga bisa, sulit. Kalah soal kimia juga”


“Gaje. Ga berubah dari dulu”


“Memang engga. Aku ga pernah berubah. Perasaan aku sama kamu ga pernah berubah”


“Itu hanya rasa bersalah”


Kevia menyentuh tangan Nathan.


“Jadi tolong lepaskan”


“Kalau aku ga mau?” Ucap Nathan.


“Aku teriak biar kamu dikeroyok massa” Tangan Kevia sedang berusaha melepaskan tautan tangan Nathan.


“Ya sudah lakukan”


“Nantang?”


“Iya” Nathan tak gentar.


“...”


“Kok belum teriak?”


“Sudah sana pulang”


“Selama empat tahun ini, sekali aja, pernah kangen aku?”


“Engga” Sahut Kevia cepat.


Namun Nathan tersenyum. Dilonggarkan dan ia lepaskan dekapannya pada Kevia, namun tak membiarkan gadis


itu sempat melangkah menjauh.


“Bohong”


Tubuh Kevia sudah Nathan balikan hingga kini mereka saling berhadapan, dan manik mata saling bersinggungan. “Terserah mau percaya atau engga. Aku memang ga kangen. Jadi mendingan kamu pulang sekarang” Ucap Kevia datar.


“Engga sampai kamu mau memberikan aku kesempatan”


Kevia  pun memandangi Nathan.

__ADS_1


“Kalau begitu aku punya syarat”


“Katakan”


“Balikin anak aku”


**


Detik dimana Kevia mengajukan syaratnya, detik itu Nathan merasa tertikam.


Sesungguhnya musnah sudah semua harapan Nathan untuk merajut asa kembali bersama Kevia. Syarat Kevia


terlalu berat, tak mungkin bisa Nathan kabulkan bahkan. Syarat dari penolakan yang mutlak.


Hingga membuat Nathan kelu, tak sanggup menjawab ats syarat yang diajukan Kevia. Dan disaat itu juga, Kevia membukakan pintu apartemen yang ia tinggali saat ini.


“Kalau memang bisa, silahkan datang lagi. Mau pacaran atau menikah, jika kamu bisa mengembalikan anak aku


yang sudah kamu hilangkan, aku akan mengiyakan”


Tak punya jawaban, dengan lunglai Nathan melangkahkan kaki. “Ternyata itu yang sebenarnya ya Vi?. Kamu benci, terlalu benci sampai syarat yang mustahil kamu ajukan”


“Hati – hati di jalan”


Nathan tersenyum kemudian. “Maafkan aku, Vi” Satu kecupan Nathan daratkan di kening Kevia. “Kamu baik – baik ya?. Maaf, karena pernah datang dan menambah kekacauan hidup kamu... aku pergi... Janji, ga akan ganggu kamu lagi”


**


Sakitnya hati Nathan bukan kepalang. Persyaratan Kevia yang sangat berat itu adalah akhir dari pengharapan


Nathan.


Habis sudah asa dalam hati Nathan yang tadinya kembali terajut dengan indahnya. Satu kesempatan dari Kevia


yang bisa mendekap bahagia dalam hidupnya.


Pupus, musnah.


Karena Nathan tak mungkin mengembalikan nyawa.


“Sudah memaafkan...”


Nathan tersenyum miris.


“Mana mungkin bisa memaafkan kalau nyatanya kamu benci, Vi?” Nathan menggumam dalam ratapan. Mobil yang ia lajukan entah mengarah kemana.


Menyusuri jalanan beraspal, melewati beberapa gardu pembayaran jalan bebas hambatan. Tak tentu arah, karena


otak Nathan dipenuhi penyesalan sama seperti hatinya.


Kevia.


Wanita yang memiliki alasan untuk bisa membuatnya menangis selain sang Mama. Dan kini, membuat buram


***


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


 


“Nathan belum pulang?”


Mami Prita bertanya pada mereka yang sedang bersamanya di ruang santai keluarga. Para wanita sih.


Kalau para pria sedang berkumpul di ruang keluarga, bermain catur dan bercengkrama. Karena suara tawa terdengar dari sana.


“Belum”


Mami Prita kemudian manggut – manggut atas jawaban Gamma. Lalu menoleh pada Mama Jihan.


“Kak” Panggil Mami Prita pada Mama Jihan. Namun sepertinya yang dipanggil sedang melamun, karena tak merespon panggilan Mami Prita.


“Ji...”


Nenek Yuna menyentuh tangan putrinya yang memang nampak melamun itu.


“Huum?... Ya?..”


Mami Jihan kemudian terkesiap.


“Kenapa, Bu?”


“Bengong mikirin apa?”


“Bukan apa – apa” Ucap Mama Jihan. “Hanya rasanya ada sesuatu yang aku rasa tak enak” Sambung Mama Jihan.


“Istirahat aja kalau gitu, Mama Bear”


“Ga apa nanti ya, Drea. Mama mau nunggu Nathan”


“Hihi, iya juga sih. Drea juga nungguin dia ini. Mau tahu gimana hasilnya. Mudah – mudahan si Tan – Tan sukses membuat Kevia yakin sama kesungguhannya”


“Aamiin” Ucapan Andrea diaminkan oleh mereka yang berada didekatnya.


“Nathan belom kasih kamu kabar emang, Juleha?” Momma bertanya.


“Belum...” Sahut Andrea sembari melirik ponselnya.


“Iya sudah kita tunggu saja” Ucap Mommy Peri dan kemudian mereka melanjutkan menonton acara di televisi.


***


Para pria yang sedang berkumpul di ruang keluarga nampak asyik dengan obrolan mereka.

__ADS_1


“Nathan ada hubungi kamu atau kasih kabar via chat, Bang?” Tanya Daddy Jeff pada Varen. “Tak sabar ingin tahu, sukses ga itu anak?” Ucap Daddy Jeff kemudian. Varen menggeleng.


“Masih mengobrol mungkin”


“Mau itu anak gadisnya si Mustafa menemui Nathan?”


Varen menganggukkan kepalanya.


“Mau, Rendy bertemu Marsha di Rumah Sakit. Rendy ada chat aku dan bilang kalau Nathan memang sudah sampai ke apartemennya Marsha saat Marsha akan berangkat ke Rumah Sakit” Kata si Abang menjelaskan hingga kemudian terdengar ponsel Daddy Jeff berbunyi.


Daddy Jeff pun langsung mengangkat ponselnya yang tadi ia letakkan di meja.


“Omar hubungi gue ada apa. Ndrew?” Tanya Daddy Jeff yang belum menjawab panggilan.


“Entah”


“Urusan lahan yang di Serpong sudah selesai memang?”


“Minggu depan sudah pembangunan bahkan” Sahut Poppa pada pertanyaan Daddy R barusan.


“Terus ini si Omar hubungi gue?”


“Ya tinggal lo terima, tanya. Siapa tahu ada yang mau cari gara – gara. Kebetulan gue butuh pelemasan otot selain Fania”


Cekikikan kemudian para pria yang bersama si Poppa. Daddy Jeff menggeser tombol berwarna hijau dalam


ponselnya. “Ya Omar?”


“Tuan! ..” Suara Omar terdengar dari sebrang ponsel. Suaranya menggambarkan kepanikan.


“Ada apa Omar?”


“Tuan Muda Nathan kecelakaan Tuan!”


“APA?!”


Jeff yang berteriak sembari bangkit dari duduknya membuat para pria yang bersamanya sontak saling tatap lalu ikut berdiri juga.


“Di – dimana?..” Daddy Jeff tergagap kemudian dengan matanya nampak mulai berkaca – kaca.


“Sentul Tuan ..” Sahut Omar di seberang telpon.


“La - lu.. Kon – Kondisi .. Na – than??..”


“Saya sedang menunggu kabar, tapi saya langsung menelpon Tuan dulu..” Sahut Omar. “Belum dapat kepastian soal Tuan Muda. Tapi..”


“Ta – Tapi apa Omar?? ..”


“Katanya mobil Tuan Muda Nathan terbakar”


“Oh Tuhaann.. Nathaann!!!! .."


***


“MAMA BEAAARR! ..”


Suara Mika yang berteriak dari lantai dua, bersamaan dengan derap langkahnya yang menandakan bahwa ia lari tergesa dari kamarnya membuat mereka yang ada di ruang santai keluarga sontak memegang dada mereka.


“Astagfirullah!” Ucap para wanita bersamaan juga berdiri dari tempatnya. “Kenapa Mika?!” Mom Ichel yang langsung mendekati putrinya.


“I – ini..” Mika menunjukkan ponselnya.


Mom Ichel mengernyit kemudian.


“I - ni mobilnya Kak Nathan


..”


Para wanita yang sudah mendekat pada Mika dan Mom Ichel langsung menatap sebuah gambar di laman sebuah


medsos dalam ponsel Mika. Dan bersamaan pula menutup mulut mereka, ketika gambar diperjelas oleh Mom Ichel.


“NATHAAANNNN!!..” Teriakan Mama Jihan terdengar memekikkan, saat matanya melihat sebuah mobil yang plat


nomornya ia kenal dengan sangat.


“JI!!”


“MAM!”


Para pria yang sudah muncul di ruang santai dengan wajah cemas dan panik, berikut para wanita lainnya ikut


memekik saat Mama Jihan yang hampir merosot tubuhnya itu ditangkap Mommy Ara dan Mami Prita.


“Nathaaaann Jeff!!! .. Nathaaaann!!..”


Mama Bear hilang kesadaran.


Setelah tadi dirinya melihat di laman medsos dalam ponsel Mika itu memperlihatkan sebuah mobil yang sebagian


sudah terbakar, bahkan api masih nampak berkobar di sebuah foto tersebut.


Poppa dan Daddy R langsung menyambar ponsel Mika, dan iya mereka mengenali juga mobil yang difoto nampak


sedang terbakar itu, yang diambil oleh salah seorang yang nampak mengambil foto tersebut dari dalam mobilnya


‘Kecelakaan parah di jalanan deket sentul international sircuit’


Poppa dan Daddy R lemas seketika, begitu juga yang lainnya. Plat nomor mobil yang dapat mereka besar dan dekatkan gambarnya dapat mereka baca dengan jelas, karena dalam foto hanya bagian atas mobil yang terbakar. Dan iya,  memang benar. Kalau itu..


Mobilnya Nathan..


***

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2