
PERJUANGAN
⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛
Selamat membaca...
⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛
“Tapi kamu yang pergi Vi, aku selalu bilang, kan?. Aku ga akan kemana – mana... tapi kamu pergi ... disaat kita...”
“Kita ... – udah ga ada Jo .. sejak kamu memberikan aku obat penggugur kandungan, hari itu ‘kita’ sudah selesai”
Usai.
Bagi Nathan Kevia adalah pengharapan dari sejak empat tahun lalu hingga ke masa depan.
Tapi bagi Kevia, kisahnya dan Jonathan telah usai.
“Baiklah semua, aku permisi. Terima kasih sudah menerimaku dengan baik disini. Maaf, jika diantara kata – kataku pada kalian semua tadi ada yang tidak mengenakkan hati”
Kevia sudah berdiri dari duduknya. Berkata sembari bersikap dan memandang sopan pada semua anggota
Keluarga Adjieran Smith yang ada disana.
Senyuman adalah jawaban dari semua pada gadis yang menjadi tamu terindahnya Nathan.
“Kami yang seharusnya berterima kasih pada kamu, Kevia”
Itu Mama Jihan yang berbicara mewakili semua. Ia sudah mendekati Kevia, menyuguhkan senyum kasih sayangnya pada gadis yang pernah dikecewakan putranya.
“Sekali lagi Mama minta maaf, atas nama Jonathan, atas nama keluarga dan atas nama kami, orang tua Jonathan”
Mama Jihan menyentuh wajah Kevia pelan penuh kelembutan, dengan matanya yang kembali berkaca – kaca. Seperti saat pertama tadi Mama Jihan melihat dan bertatap muka dengan Kevia untuk yang pertama kalinya.
“Tante tidak perlu meminta maaf, tolong jangan membuat aku jadi merasa tidak enak. Ini murni kesalahan aku dan Jo dimasa lalu”
Oh, Kevia. Membuat Mama Jihan tak kuasa untuk memeluknya kembali.
“Kamu gadis yang baik Kevia ... maaf ya, karena kamu harus berurusan dengan anak Mama yang pengecut itu”
Mama Jihan melirik Nathan yang menyunggingkan senyum tipis segaris namun miris.
“Tante ..”
“Mama” Ralat Mama Jihan pada Kevia. “Panggil Mama ya? Mama mohon...?” Mama Jihan menempelkan kedua telapak tangannya yang langsung disambar Kevia.
“Jangan begini ....” Ucap Kevia pada Mama Jihan yang nampak mengiba. “Tan- Eum .. Ma, jangan begini ya?. Iya aku ... aku akan panggil Tante dengan sebutan Mama”
Kevia nampak canggung namun menampakkan senyum.
“Makasih ya Kevia?”
“Sama – sama Tan – Eum .. Ma ...” Ucap Kevia. “Ma-ma bisa panggil aku dengan Via saja kalau begitu”
Mama Jihan mengangguk sambil tersenyum. Nathan pun memperhatikan, juga menampakkan senyum, sama seperti keluarganya yang lain termasuk juga Rendy yang terenyuh dengan interaksi Mama Jihan dan Kevia.
“Ya sudah, kalau begitu Via pamit ya?. Sekali lagi terima kasih semua”
Kevia sekali lagi berpamitan, diikuti Rendy yang juga ikut berpamitan pada keluarga sahabatnya itu.
“Aku permisi ya Jo” Kevia memalingkan tatapannya pada Jonathan yang memandangnya penuh pengharapan. Saat Kevia dan Rendy sudah mencapai halaman depan. Namun Nathan diam saja, matanya memandangi Kevia, nampak terluka.
“Vi ..” Panggil Nathan pelan pada Kevia.
“Ya?” Jawab Kevia dengan santainya.
“Maafin aku sekali lagi”
Kevia menganggukkan kepalanya pada Nathan. “Iya, kan dibilang tadi, kalau kamu udah aku maafin”
Nathan berdiri lebih dekat pada Kevia yang sudah berada disisi pintu mobil Rendy yang orangnya sedang berbicara
dengan Varen sembari menunggu Kevia masuk mobil.
“Untuk kesilapan yang kita lakukan dirumah kamu, ga perlu kamu minta maaf untuk itu. Akunya juga kan mau -
mau aja. Salah kamu dimata aku hanya satu, membuat aku kehilangan bayi kita - bayi aku .. Itu aja”
Kevia dengan senyumnya, Nathan dengan rambatan sakit dihatinya.
“Tapi sudah Jo, aku ga dendam. Hal itu pun udah maafin. Udah aku lupain. Mulai sekarang, kamu silahkan
lepaskan beban itu .. rasa bersalah kamu pada aku dan bayi... yang tak sempat lahir ke dunia itu”
Kevia menarik lagi sudut bibirnya, pada Nathan yang diam seribu kata. Namun memandang dalam pada Kevia.
“Lepasin ya?” Ucap Kevia. “Yuk, aku permisi”
Tangan Kevia yang hendak membuka pintu mobil tercekal.
“Jo!” Kevia berseru, membuat mereka yang tadinya sudah beranjak masuk ke dalam, berbalik lagi melihat ke
halaman depan.
Disana, Nathan membawa Kevia dalam dekapan.
Kevia berontak, namun tak Nathan lepaskan. Dan keluarganya pun membiarkan. Nathan mereka sedang berjuang
untuk sebuah hubungan.
Rendy dan Varen pun saling tatap dan kemudian menggeserkan diri mereka sedikit lebih jauh lagi dari Nathan dan Kevia.
“Lepas, Jo!” Kevia berusaha melepaskan diri dari dekapan Nathan. Namun Nathan kian mengeratkan dekapan.
“Aku harus apa, Vi? ...” Lirih Nathan dengan tetap mengeratkan dekapannya pada Kevia. “Aku harus apa, agar aku bisa menebus semuanya?”
Tak tahu malu, biar saja. Nathan hanya ingin Kevia tahu, betapa besar penyesalannya. Betapa ingin ia memperbaiki segalanya, bersama Kevia tentunya.
Nathan merengkuh tubuh Kevia, hingga kepala gadis itu sampai diujung hidung Nathan yang kemudian aroma
harum yang menguar dari rambut Kevia, Nathan hirup dalam – dalam. Lalu setelahnya Nathan darat kan kecupan.
“Satu aja Vi, satu ... satu kesempatan terakhir untuk aku yang tak tahu malu” Ucap Nathan lagi tanpa
mengendurkan dekapannya hingga Kevia nampak tak lagi berontak karena tenaganya seolah percuma. “Aku sayang kamu Vi ... aku cinta bahkan ... Maka tolong, beri aku kesempatan”
“Sudah basi Jo” Datar sahutan Kevia. Terdengar bak sindiran ditelinga Nathan.
Nathan terkesiap, refleks mengendurkan dekapannya atas ucapan Kevia yang tetap gigih menolaknya. Dan
dimanfaatkan Kevia untuk melepaskan dirinya dari dekapan Nathan. Hingga kemudian Kevia membuat jarak antara dirinya dan Nathan saat ini, namun tetap mata keduanya saling bertatap.
“Aku sudah melupakan, perbuatan kamu yang menghilangkan janin yang berumur dua minggu kala itu di perut aku. Termasuk, aku juga sudah melupakan, semua yang pernah ada diantara kamu dan aku. Dan kamu, juga harus lupakan itu”
Detik dimana hati Nathan patah jadi dua atas ucapan Kevia, yang kemudian masuk dengan cepat ke dalam mobil Rendy, diikuti Rendy yang kemudian ikut masuk setelah berpamitan pada Varen dan Nathan.
Varen mengangkat tangan saat Rendy membunyikan klakson berpamitan, sementara Nathan terpaku murung menatap mobil Rendy yang sudah melaju hingga mobil itu lenyap dari pandangan.
Tersayat pilu hati Nathan, penolakan Kevia yang terang – terangan terdengar menyakitkan. Harga, yang harus Nathan bayar. Atas penolakannya dulu pada janin di rahim Kevia.
**
__ADS_1
“Dia butuh waktu, Tan”
Varen sudah duduk disamping Nathan yang sepeninggal Kevia dan Rendy tidak langsung masuk kedalam Kediaman. Ia langsung terduduk lesu di tangga rendah pada teras halaman depan.
Abang menepuk – nepuk punggung Nathan yang kepalanya tertunduk dengan wajah penuh penyesalan.
Tak lama Nathan pun merasakan usapan dikepala yang seperti mengacak rambutnya pelan.
Nathan mendongak. Melihat siapa yang barusan menyentuh kepalanya. Itu Daddy R yang tersenyum kemudian
duduk disamping Nathan.
Tak hanya Daddy R yang datang menghampiri Nathan. Ada Poppa dan Dadsnya yang lain, yang kemudian
mengambil tempat disamping undakan tangga, menatap pada Nathan kemudian. “Kami takut kau frustasi lalu berpikir untuk bunuh diri, makanya kami kesini menemanimu” Ucap Daddy R yang membuat Nathan terkekeh kecil.
“Kau menyerah?”
“Entahlah” Sahut Nathan atas pertanyaan Poppa.
“Lemah!”
“Aku putus asa Pop, tak ada harapan. Via tak sudi memberiku kesempatan. Aku takut jika aku memaksanya, dia
malah makin membenciku”
“Aku tak melihat ada tatapan kebencian dimatanya padamu”
Itu Papi yang bersuara, mencoba memberi Nathan angin segar.
“Tapi dia menolakku dengan tegas, Pi” Sahut Nathan.
“Maka kejar dia dengan ketegasan”
“Maksud Dad?” Tanya Nathan.
Daddy R malah terkekeh. “Anak lo memang bodoh Jeff, Jeff ....” Celoteh Daddy R. “Bucin yang bo –doh ...” Sambungnya. Dan Daddy R kini tak terkekeh sendiri.
“Ya, maafkan aku kalau begitu. Aku kan memang bodoh ..” Nathan mende**h frustasi.
“Kau ini ..” Ucap Daddy Jeff. “Jangan kau membuat lagi malu aku sebagai ayahmu. Begitu saja kau menyerah. Kau serius tidak padanya?!”
“Masih Dad tanya... sudah melihatku se-putus asa ini, Dad masih bertanya apa aku serius pada Via atau tidak”
“Se-serius apa?”
“Aku mau menikahi Via”
“Yakin kau sanggup mengemban tanggung jawab itu?” Tanya Daddy Jeff sebagai ayah kandung Nathan.
“Yakin! Saat ini aku sudah yakin. Jika memang Via mau memberiku kesempatan, maka aku tidak akan menyiakan.
Jika niat baikku kelak ia terima, maka aku akan menyegerakan”
“Meski dengan segala konsekuensi, seandainya Keviamu itu memiliki kekurangan?” Daddy Dewa bersuara kini. Membuat Nathan langsung bertanya pada Daddy Dewa.
“Kekurangan?”
Nathan balik bertanya dan Daddy Dewa mengangguk.
“Kekurangan dalam hal apa Dad?”
“Seandainya akibat dari obat yang kau berikan padanya dulu hingga janin di rahimnya gugur, memiliki efek samping ..... dan membuatnya tak bisa mengandung lagi? Bagaimana?. Kau masih tetap mau menikahinya?”
“Jika Kevia, memang memiliki kesulitan itu. Maka itu tanggung jawabku. Tidak akan aku biarkan dia menghadapinya sendirian”
"Ya sudah berjuanglah. Menangkan kembali kepercayaan dan hati wanita idamanmu itu"
"Bulatkan tekadmu!"
"Iya!"
Para Dad dan Abang menyunggingkan senyuman. Nathan tak terlihat main – main dengan ucapannya. “Lalu,
kenapa kau masih disini?”
Mata Daddy R menelisik Nathan.
Sejenak Nathan mencerna arti tatapan dan ucapan Daddy R barusan. Setelahnya dia kemudian menoleh antusias
pada si Abang.
“Minta nomor Via Bang!”
“Ga punya!”
“Kak Rendy kalo gitu”
“Rendy ga ganti nomor dari dulu juga!”
“Oh iya ya, kan gue punya!” Nathan cengengesan.
Nathan dengan semangat berjalan menuju garasi.
“Mandi dulu stupid!”
“Oh iya ya...”
“Kebodohan yang hakiki”
***
Nathan sudah mempersiapkan dirinya.
Fisik dan hatinya termasuk tekadnya untuk mengejar Kevia.
Berdandan rapih dan menyemprotkan parfum dibeberapa bagian tubuhnya, menebalkan hati dan mukanya jika penolakan dari Kevia lagi – lagi ia terima. Biarlah tak apa, yang penting Nathan akan mencoba.
Sampai mati rasanya Nathan akan berusaha untuk kembali mendapatkan Kevia dan menjadikan gadis itu sebagai
miliknya.
Bisa ga ya?.
“Cemungud Tan – Taan!! ...”
Itu Andrea yang bersuara, mengoarkan kalimat penyemangat untuk Nathan yang tak mau menyia – nyiakan
waktunya. Ingin dikejarnya Kevia, yang baru beberapa saat lalu meninggalkan Kediaman Utama keluarganya.
“Ma aciih ya Cute Girl”
Nathan memegang kepala Andrea dan menggoyangkannya pelan, lalu berpamitan pada mereka yang ada di
dalam Kediaman.
Senyuman dari para anggota keluarganya mengiring Nathan, yang wajah suramnya kini nampak sudah mulai perlahan nampak cerah.
Asa yang sudah Nathan genggam, usaha yang akan Nathan taburkan. Kepercayaan Kevia yang akan Nathan mulai tanam dengan menunjukkan besarnya kesungguhan, hingga bahagia untuk meraih impian bersama sang pujaan bisa Nathan tuai.
***
__ADS_1
Dan disinilah Nathan berada sekarang. Di depan pintu sebuah unit apartemen sesuai alamat yang diberikan Rendy padanya melalui Abang.
“Kamu” Seorang wanita yang kira – kira seusia Varen keluar tepat saat Nathan ingin menekan bel apartemen
dimana dia berdiri sekarang.
“Eum..”
“Adiknya Varen kan? Jonathan. Iya?”
Nathan mengangguk pada wanita yang mengenalinya itu. Nathan tahu wanita itu siapa dari apa yang Abang dan Rendy bilang, kalau wanita itu bernama Marsha, yang dulu menolong Kevia.
“Mau apa kamu kesini?!”
Marsha itu mensedekapkan tangannya, kini memandang sinis pada Nathan sambil bersandar dipintu apartemen yang tertutup dibelakangnya.
“Mau cari Via?”
“Iya, Kak ..”
“Mau ngapain?”
“Aku ingin bicara dengan Via”
“Bukannya tadi Via sudah diantar Rendy ke rumah keluarga kamu?”
“Iya, sudah. Tapi aku belum sempat berbicara panjang lebar dengannya”
“Memang apa yang mau kamu bicarakan dengan Via?”
“Banyak hal Kak” Nathan menjawab rentetan pertanyaan dari Marsha dengan sabar.
“Aku tahu apa yang sudah kamu lakukan pada Via. Kalau bukan karena aku kenal dengan kakak kamu dan
menghormatinya, aku sudah memasang foto kamu di media sosial supaya kamu dapat yang namanya sangsi sosial, tau ga?!”
“Iya Kak, aku sadar kesalahan aku begitu besar pada Via. Aku disini sekarang pun untuk itu. Aku mau menebus kesalahanku padanya Kak” Nathan berbicara dengan sabar dan gentle nya pada Marsha yang sudah rapih dengan memakai Snelli yang membungkus kemejanya. "Kalau memang Kakak ingin melakukan hal yang Kakak bilang tadi, silahkan saja Kak. Aku terima"
Marsha kemudian menghela nafasnya.
“Masuklah”
Marsha membuka kembali pintu apartemennya dan Nathan pun tersenyum padanya.
“Makasih Kak” Ucap Nathan.
Nathan pun mengekori Marsha untuk masuk ke dalam apartemen si Dokter wanita itu yang cukup luas dan rapih.
“Aku ijinkan kamu menemui Kevia dan bicara padanya. Aku tahu kamu sedang berusaha untuk mendapatkan lagi
hati Kevia. Aku hargai itu dan tolong pergunakan dengan sebaik – baiknya. Aku harus bekerja, dan berarti disini hanya ada kalian berdua. Aku harap kamu bisa bersikap layaknya seorang pria terhormat”
“Aku akan jaga kepercayaan Kakak”
“Baiklah, aku percaya padamu. Silahkan duduk, aku akan panggilkan Via”
Nathan mengangguk. “Makasih Kak” Ucap Nathan tulus. Marsha pun juga mengangguk kemudian dan berjalan menuju sebuah kamar. Nathan hendak mengambil tempat diatas sofa, namun sebuah suara membuatnya tak jadi mendudukkan dirinya.
“Loh teh? Kenapa balik lagi?. Ada yang ketinggalan” Itu Kevia yang sudah keluar dari kamarnya sebelum Marsha sampai kedepan pintu kamarnya. Kevia belum sadar atas kehadiran Nathan yang sedang memperhatikannya.
Marsha menoleh ke arah Nathan, diikuti Kevia yang juga ikut menoleh ke arah mata Marsha memandang. “Tuh,
ada yang mau ketemu kamu” Ucap Marsha dan Kevia membulatkan matanya melihat Nathan.
Kevia mau tak mau menemui Nathan yang sudah dipersilahkan masuk oleh Marsha, setelah Dokter wanita itu
berpamitan untuk pergi bekerja di Rumah Sakit karena jadwal dinasnya.
“Kak Rendy yang kasih tahu kalau aku tinggal disini?”
“Iya”
“Hm.. ada apa?”
“Mau ketemu kamu, mau bicara”
“Soal apa?. Kalau soal kita, lebih baik kamu pulang saja, Jo. Rasanya sudah jelas tadi aku katakan saat di rumah kamu, kan?” Ucap Kevia yang duduk di sofa single sedikit berjarak dari tempat Nathan duduk.
“Soal kita yang kamu bilang sudah selesai?”
“Iya”
“Tapi aku ga bilang iya”
Kevia menoleh pada Nathan, berdecih kemudian. “Yang aku bilang ke kamu dirumah kamu itu bukan pertanyaan,
tapi pernyataan, jadi aku tidak membutuhkan jawaban”
“Vi..”
“Jo, kita sudah selesai. Aku ingin kita selesai”
“Aku ga mau” Sanggah Nathan, tak perduli jika Kevia menganggapnya tak tahu diri.
“Pergilah Jo, tata hidup kamu seperti aku yang sedang menata hidup aku. Aku yakin diluar sana banyak wanita yang dengan senang hati menjadi pasangan kamu” Ucap Kevia dengan datarnya.
Nathan tersenyum segaris. “Yang aku mau kamu”
Kevia terdiam sesaat.
“Jo”
“Ya?”
“Lupain aku”
“....”
“Jo .. please, pergilah. Jalani hidup kamu seperti sebelum kita bertemu lagi. Jangan lagi terjebak dengan rasa
bersalah kamu ke aku. Sudah aku lupakan Jo. Jadi sebaiknya kamu, lupakan aku”
“Ya udah aku ke Kelurahan dulu”
“Hm?” Kevia menautkan alisnya. “Ke Kelurahan?” Tanya Kevia dan Nathan manggut – manggut dengan melipat bibirnya. “Apa hubungannya Kelurahan dengan kamu yang aku minta untuk melupakan aku?”
“Ya, ada - hubungannya” Sahut Nathan. “Kamu minta aku melupakan kamu kan?”
“Iya”
“Ya kalau kamu minta aku untuk melupakan kamu, aku harus ke Kelurahan dulu”
“...”
“Minta surat keterangan tidak mampu. Tidak mampu melupakanmu”
Eyyyaaaa..
***
To be continue ....
__ADS_1